
Qilin masih duduk menatap makhluk ciptaan Tuhan yang begitu sempurna di hadapannya itu, Justin. Begitu juga dengan Justin yang juga menatap Qilin sambil tersenyum.
Tangan Justin terulur untuk membenarkan rambut Qilin yang sedikit berantakan.
" Tinggalah di sini denganku, hm? Aku tidak tega melihat kamu kerja begitu keras, kamu pasti sangat lelah." Ujar Justin.
Qilin terkekeh mendengarnya, padahal hidupnya sekarang justru bisa di katakan lebih baik. Sekarang Qilin bisa menghasilkan uang dengan pekerjaan yang lebih pasti, dengan bekerja di cafe.
Dia juga sudah memiliki rumah yang layak di huni, tidak lagi menjadi badut penjual bunga di lampu merah jalan raya dan tidak lagi mencari buah buahan di hutan untuk mengganjal perut laparnya.
" Aku baik - baik saja.. lelah itu hal yang wajar, karena semua pekerjaan pasti melelahkan." Ujar Qilin.
" Dan lagi, jika aku tinggal di sini, apa kata orang tentang kita nanti? Aku tidak mau di pukuli warga karena kita di kira kumpul kebo." Ujar Qilin, dan Justin terkekeh di buatnya.
Siapa yang berani memukuli seorang Justin Xander Edward? Ketua mafia TITANES, juga pengusaha muda yang sukses yang di gadang gadang oleh banyak kaum wanita.
" Tidak akan, sayang.." Ujar Justin.
" Mana mungkin, aku pernah melihatnya sendiri saat aku masih di Bogor, pasangan muda mudi tinggal satu kost, rupanya mereka bukan pasangan. Mereka pun di arak warga sambil di pukuli." Ujar Qilin dan Justin semakin terkekeh.
" Aku bahkan ketar ketir saat masih tinggal satu malam di kost denganmu, takut pemilik kostnya tahu bahwa kita bukan kakak beradik, takut di arak." Ujar Qilin lagi.
" Untungnya aku bisa dapat tempat tinggal lain, dan itu aman dari tetangga." Ujar Qilin lagi.
" Astaga.. " Ujar Justin menahan tawanya.
" Dengar, sayang.. kita tidak akan di arak siapapun, tidak akan ada orang yang berani melakukan itu pada kita, tidak seorangpun." Ujar Justin.
" Kenapa bisa begitu? Apa bedanya kita dengan pasangan di luar sana. " Tanya Qilin.
" Karena aku adalah Justin, semua orang mengenalku." Ujar Justin.
Qilin terdiam, benar juga.. di hadapannya ini adalah Justin, meski sejujurnya Qilin tidak tahu menahu latar belakang Justin, tapi ketika mendengarkan Rena bercerita tentangnya, sudah terlihat bagaimana hebatnya Justin.
Tiba tiba terlintas di kepala Qilin, jika mereka bersama. Justin akan di tertawakan semua orang karena menjalin hunungan dengan gadis miskin yang minim pengetahuan sepertinya.
" Kenapa kamu diam, hum?" Tanya Justin.
" Tuan, makan siang sudah siap." Ujar pelayan pria yang menyajikan makanan.
" Hm, terimakasih." Ujar Justin, dan pelayan itu mengangguk.
" Ayo, sayang." Ujar Justin.
__ADS_1
Justin menggandeng tangan Qilin dan berjalan ke meja makan yang begitu besar. Satu meja itu sudah terisi dengan semua jenis sushi yang terkenal dengan kelezatannya.
Qilin sampai terperanga melihatnya, karena saking banyaknya sushi di sana.
" Banyaknya ." Gumam Qilin.
" Spesial untuk menyambut kedatanganmu di rumah ini." Ujar Justin, sambil menarik kursi untuk Qilin.
" Tapi aku tidak mungkin bisa menghabiskan semuanya, apa aku boleh bawa untuk Rena?" Tanya Qilin, dan Justin mengangguk.
" Boleh, sayang nanti aku kirim orang untuk mengantarkan makanan untuk temanmu." Ujar Justin.
" Kenapa kirim orang? Aku kan nanti pulang." Ujar Qilin.
" Kamu sungguh tidak mau tinggal di sini denganku?" Tanya Justin.
" Aku sungguhan takut di pukuli warga." Ujar Qilin polos, dan Justin terkekeh lagi.
" Kalau begitu, menikahlah denganku.." Ujar Justin.
Qilin terdiam, menikah.. apakah harus secepat itu? Qilin bahkan masih merasa sangat tidak pantas jika bersanding dengan Justin.
" Justin, aku tidak menolak menikah denganmu, tapi apakah ini tidak terlalu cepat?" Ujar Qilin.
" Bagaimana dengan kedua orang tuamu nanti?" Tanya Qilin.
" Mereka tidak pernah menghalangi apa yang jadi keinginan anaknya, mereka tidak keberatan." Ujar Justin.
Mendengar itu Qilin lega, hanya saja dia masih memikirkan bagaimana dengan Justin jika dia menikah dengan gadis biasa yang bahkan tidak memiliki keluarga.
" Jangan banyak berpikir, sayang.. makan dulu makananmu." Ujar Justin dan Qilin mengangguk.
Tetapi meski Qilin makan dengan tersenyum, di dalam hati Qilin saat ini masih memikirkan dilemanya. Hingga akhirnya makan siang itu selesai, dan justin sungguhan mengutus orang untuk mengirimkan makanan untuk Rena.
Saat ini, Justin dan Qilin sedang duduk di taman belakang kediaman Justin. Di sana kita bisa melihat pemandangan alam yang bagus, karena Justin suka dengan alam, jadi rumahnya juga hijau.
Qilin juga sudah menggunakan pakaian yang normal, Justin meminta seorang dari anak buahnya untuk membelikan pakaian untuk Qilin.
" Suka dengan tempat ini?" Tanya Justin.
" Hm, sangat.. aku suka dengan tempat hening yang jauh dari hingar bingar keramaian." Ujar Qilin.
Justin mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya, lalu memperlihatkannya pada Qilin.
__ADS_1
" Kamu masih menyimpannya?" Tanya Qilin.
" Ini adalah benda yang paling berharga bagiku, dan kamu adalah orang yang paling berharga setelah ibuku." Ujar Justin, dan Qilin terkekeh.
Justin pun memakaikan jepit rambut itu di rambut Qilin, dan terlihat sangat indah.
" Indah.." Ujar Justin.
" Kamu tahu? Saat aku selesai operasi, aku tidak mengingatmu sama sekali. Bahkan aku tidak ingat bahwa aku hilang ingatan dan idiot sebelumnya." Ujar Justin mulai bercerita.
" Sampai saat aku hendak berganti pakaian, aku merasakan sesuatu di kantong baju rumah sakit, aku melihat jepit ini." Ujar Justin.
" Aku terheran heran mengapa aku mengantongi jepitan ini. Berhari hari aku selalu merenung dan memikirkannya, aku merasa ada sesuatu yang aku lupakan." Ujar Justin.
" Sampai setelah satu minggu, aku bermimpi hal hal yang menurutku mustahil aku lakukan. Aku bermimpi tentang semua kenangan kita saat aku masih menjadi idiot. " Ujar Justin sambil terkekeh.
" Rupanya itu bukan mimpi, melainkan memory tentangmu yang begitu kuatnya muncul di otakku, aku sendiri sempat tidak percaya bahwa aku.. bisa dekat dengan seorang gadis." Ujar Justin
" Senyum indahmu, suaramu, gerak gerikmu, terekam dengan sangat jelas dengan indah di otakku, dan aku jatuh cinta dengan gadis yang sudah dengan sangat sabar menghadapi aku yang idiot itu." Ujar Justin, lalu menatap Qilin lamat lamat.
" Aku meminta orang orangku untuk memantau keadaanmu, dan aku tahu kamu begitu tersiksa sendirian karena merindukan aku, aku pun merasakan hal yang sama. Aku pun meminta pada orang tuaku untuk segera kembali, satu bulan sudah membuat hatiku ketar ketir karena aku takut kamu melupakan aku." Ujar Justin lagi.
" Tapi aku salah, kamu bahkan tetap menangis dalam tidurmu karena merindukan aku." Ujar Justin, dan sebutir air mata lolos dari pelupuk mata Qilin.
Qilin langsung menghapus air matanya, ia masih ingat bagaimana tersiksanya dia merindukan Justin yang entah ingat atau tidak padanya.
" Bagaimana kamu tahu?" Tanya Qilin bingung.
" Karena aku datang padamu, saat malam hujan berpetir." Ujar Justin.
" Jadi itu nyata??" Ujar Qilin melongo, dan Justin terkekeh sambil mengangguk.
" Astaga, dari mana kamu bisa naik ke lantai dua? Bahkan balkon di sana sangat kecil." ujar Qilin.
" Kalau itu aku sulit menjelaskannya, intinya aku kembali, karena hatiku tertinggal di sana." Ujar Justin.
Qilin tidak tahu, rupanya hari hari yang ia lalui bersama Justin begitu kuatnya terpahat di otak Justin, bahkan sampai Sammy yang seorang dokter sudah mengatakan bahwa Justin tidak akan ingatpun, nyatanya mampu mengingat kembali Qilinnya.
Qilinnya yang selalu memeluk dengan sayang, yang selalu mengusap kepalanya, yang selalu pulamg pergi membawa makanan untiknya dan melakukan hal hal manis dengannya.
" Aku mencintaimu, Qilin.. sangat." Ujar Justin lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Qilin, dan mencium bibir Qilin.
Qilin menyambut ciuman itu sambil berlinang air mata, dia begitu terharu karena rupanya Justin tidak melupakannya sama sekali, bahkan cintanya kini terbalas.
__ADS_1
TO BE CONTINUED...