
Hingga pagi tiba, Justin tidak sedikitpun meninggalkan cafe tempat Qilin bekerja. Rekan rekan Qilin pun bertanya tanya pada Qilin, tentang siapa pria yang duduk menunggu Qilin semalaman.
" Qilin, siapa pria yang duduk di meja tadi? Apa dia kekasihmu, dia sangat misterius sekali." Ujar Rekan Qilin.
" Kak Fendy bilang dia kakakmu, benarkah?" Ujar yang lain.
" Aku tebak pasti dia sangat tampan, suaranya sangat maskulin, tubuh tinggi dan penyayang. Qilin, boleh aku daftar jadi calon kakak iparmu?" Ujar Rekan Qilin.
Qilin yang di serang banyak pertanyaan menjadi bingung sekaligus kesal, entah mengapa di dalam hati Qilin ada rasa tidak Rela Justin di kagumi banyak wanita.
" Aku harus pulang." Ujar Qilin tersenyum, dan berjalan keluar.
Qilin keluar, dan terlihat Justin juga ikut bangun. Justin berjalan dan menghampiri Qilin, lalu memeluk Qilin dengan penuh kasih sayang.
" Kamu sudah selesai?" Tanya Justin dan Qilin mengangguk.
' Ada apa denganku? Aku kesal ketika teman temanku menginginkan Justin.' Batin Qilin.
Fendy semakin merasa aneh dengan sikap kakak Qilin yang menurutnya terlalu berlebihan dan terlalu dekat. Mereka tidak seperti kakak adik, tapi lebih seperti sepasang kekasih.
" Bukankah sikap anda terhadap Qilin terlalu berlebihan jika untuk seorang kakak?" Ujar Fendy tiba tiba.
Justin melepas pelukannya dari Qilin, namun menggenggam erat tangan Qilin, dan Fendy melihat itu.
" Anda tidak berencana merusak adik anda sendiri, bukan?" Ujar Fendy lagi.
Justin merangkul Qilin, dan Qilin mendongak menatap Justin.
" Sejak kapan saya menjadi kakaknya? Saya bukan kakaknya, saya calon suaminya." Ujar Justin dan itu membuat semua orang terkejut, terutama Qilin.
" Justin.." Gumam Qilin.
" Dan membicarakan merusak, bukankah anda lebih tahu siapa di sini yang perusak? Hotel Galaxy." Ujar Justin dan Fendy pias mendengarnya.
" Justin." Ujar Qilin lagi.
" Tidak apa apa, sayang.." Ujar Justin dan mengusap kepala Qilin dengan sayang.
" Ayo kita pulang, kamu pasti mengantuk." Ujar Justin, dan menggandeng tangan Qilin pergi.
Fendy yang masih terkejut itu hanya bisa melihat kepergian Qilin. Fendy juga menjadi bertanya tanya dengan identitas Justin.
__ADS_1
' Siapa dia, kenapa dia bisa tahu hal itu, apa dia menyelidikuku? ' Batin Fendy.
Sementara itu, Justin masuk ke dalam gang, tetapi di sana ada sebuah mobil mewah yang terparkir. Justin pun membuka pintu mobil itu.
" Kita mau kemana?" Tanya Qilin.
" Pulang.." Ujar Justin.
" Rumahku bahkan terlihat dari sini, kenapa kita pakai mobil?" Tanya Qilin.
" Naik dulu, sayang." Ujar Justin dan memasukan Qilin ke dalam mobil.
Qilin yang bingung itu pun masuk ke dalam mobil, dan duduk. Justin memutari mobil dan duduk di balik kemudi.
" Sebentar ya.." Ujar Justin lembut, dan memasangkan sabuk pengaman pada Qilin.
Mobil menyala, dan perlahan keluar dari gang, Qilin semakin bingung karena Justin membawanya pergi, bukan pulang ke rumahnya.
" Jika kamu mengantuk, kamu tidur saja sayang." Ujar Justin sambil melepas maskernya.
Terlihatlah wajah tampan Justin dan senyum manisnya yang membuat siapapun mabuk kepayang saat melihatnya, sayangnya tidak banyak yang bisa melihat senyum manis itu.
" Justin, kenapa kamu mengatakan pada kak Fendy bahwa kamu calon suamiku? " Tanya Qilin.
Qilin pun terdiam, tapi dia terus menatap Justin dengan pandangan bertanya tanya. Justin yang menyadari tatapan Qilin pun menepikan mobilnya.
Justin menghadap Qilin yang saat ini masih menatapnya, Justin pun kembali tersenyum karena bisa melihat wajah lucu Qilin.
" Kenapa sayang, apa kamu tidak mau menikah denganku?" Tanya Justin.
" Kita bukan sepasang kekasih." Ujar Qilin, dan Justin terkekeh mendengarnya.
" Menikah tidak harus menjadi sepasang kekasih, bukan?" Ujar Justin.
" Tapi kamu tidak mencintaiku.." Gumam Qilin.
Kali ini Justin menjadi serius, memang dia belum mengungkapkan perasaannya kepada Qilin, dia hanya memanggil Qilin dengan sayang, dan mungkin Qilin bingung dengan ketidak pastian itu.
" Maaf karena aku sudah membuatmu bingung, sayang. Aku mencintaimu.. sangat." Ujar Justin.
Qilin menjadi berkaca kaca mendengarnya, entah mengapa seperti ada perasaan lega dan senang mendengarnya.
__ADS_1
" Hei.. kenapa menangis?" Ujar Justin panik.
Qilin justru semakin menangis semakin keras, Justin pun terkekeh dan memeluk Qilin.
" Ssshh.. jangan menangis, sayang. Aku sudah berjanji pada diriku untuk tidak membuatmu menangis." Ujar Justin, dan tangisan Qilin mereda.
" Aku mencintaimu, bahkan saat aku masih idiot. Terimakasih sudah memberikan kasih sayang yang tulus untukku, meskipun hidupmu sendiri sulit." Ujar Justin.
Tapi tidak ada sahutan apapun dari Qilin, Justin melerai pelukannya dan melihat Qilin di pelukannya yang hanya diam.
Entah saking nyamannya pelukan Justin atau memang Qilin yang sudah mengantuk berat, Qilin tertidur di tengah tengah momen romantis itu, Justin pun terkekeh di buatnya.
' Bisa bisanya dia tidur saat aku sedang mengungkapkan perasaanku, dasar kucing tukang tidur.' Batin Justin.
Justin menyenderkan tubuh Qilin ke jok, dan merebahkan jok itu, tak lupa Justin juga memasangkan sabuk pengaman pada Qilin agar Qilin tetap aman. Setelah memastikan Qilin aman dan nyaman, Justin pun kembali melajukan lagi mobilnya sambil tangannya menggenggam tangan Qilin.
Tidak pernah sekalipun dalam hidup Justin merasakan jatuh cinta, selama ini dia adalah pria yang dingin dan tak tersentuh oleh wanita. Tapi tampaknya sekali dia jatuh cinta demgan seseorang, maka dia akan cinta mati pada orang itu.
Pada Qilin contohnya, Justin akan melakukan apapun agar Qilinnya tetap bersamanya dan hidup bahagia. Justin tidak lupa sama sekali dengan masa masa dirinya menjadi idiot, kekuatan cintanya lebih besar dari pada amnesianya.
Setelah beberapa saat, mobil mewah Justin memasuki sebuah pekarangan rumah yang mewah, tapi bukan kediaman Arthur dan Sierra.
Rumah dengan desain 80% kaca itu berdiri dengan megah tanpa adanya rumah tetangga di sekelilingnya. Ketika masuk pun semua anak buah Justin langsung menyambut Justin.
" Selamat datang tuan." Ujar anak buah Justin, dan Justin mengangguk dari dalam mobil.
Mobil pun terparkir di depan rumah Justin, dan Justin pun turun. Justin menggendong Qilin dengan hati hati, lalu membawa Qilin masuk ke dalam rumahnya.
Perlahan Justin pun merebahkan Qilin di atas ranjang yang berukuran sangat besar.
' Dia pasti kelelahan, sampai sampai aku menggendongnya pun dia tidak bangun.' Batin Justin.
Justin mengecup kening Qilin lalu menyelimutinya, setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai, Justin masuk ke ruang bacanya yang masih berada di dalam ruangan yang sama dengan kamar itu, hanya saja di sana terdapat dinding kaca pembatas.
Dari luar, tidak akan ada yang tahu bahwa di balik dinding kaca itu ada ruang kerja Justin, tapi Justin bisa mengawasi Qilin dari ruang kerjanya karena kaca itu kaca dua arah.
" Sepertinya yang daddy katakan benar, aku butuh seorang asisten seperti paman Malvin." Gumam Justin.
Justin pun berkutat dengan setumpuk pekerjaannya, sambil sesekali dia melihat kearah Qilin yang masih tertidur dengan cantik.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..