
Ke esokan harinya..
Justin sudah siap dengan stelan jas formalnya, dia sudah akan kembali beraktivitas seperti biasanya, yaitu ke kantor.
Justin tersenyum ketika melihat istrinya yang masih tidur dengan nyenyaknya, dia pun berjalan ke ranjang dan mencium kepala Qilin.
" Mm.." Qilin bergumam.
" Sudah bangun, sayang?" Bisik Justin di telinga Qilin.
Qilin membuka matanya dan terkejut ketika melihat Justin yang sudah rapi dengan pakaian formal.
" Kamu sudah mau pergi ke kantor?" Tanya Qilin.
" Hm. " Sahut Justin, kemudian mencium kening Qilin.
" Astaga, aku bangun kesiangan." Ujar Qilin dan bangun dengan panik.
" Sayang, jangan panik.. aku sudah terbiasa bersiap dari pagi. Kamu lanjutkan saja tidurmu, nanti saat kamu lapar, kamu katakan saja pada kepala pelayan." Ujar Justin.
" Lalu bagaimana dengan kamu?" Tanya Qilin.
" Aku sudah harus pergi, jadi maafkan aku untuk pagi ini aku tidak menemanimu sarapan. " Sahut Justin.
" Sebentar." Ujar Qilin dan turun dari ranjang dengan tergesa.
Qilin masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya, lalu kemudian dia kembali keluar.
" Sayang, jangan lari - lari, nanti jatuh." Ujar Justin.
" Tidak akan.." Ucap Qilin.
Qilin merapihkan dirinya lalu membuka pintu dan keluar dari kamar. Justin langsung panik dan ikut berlari mengikuti Qilin yang turun terburu buru dari lantai dua yang rupanya Qilin langsung masuk ke dapur bersih.
" Selamat pagi, nyonya." Sapa pelayan.
" Selamat pagi." Sahut Qilin.
" Selamat pagi, tuan." Sapa pelayan pada Justin. Dan Justin mengibaskan tangannya menyuruh pelayan itu pergi daei sana.
Siapapun tahu jika Justin tidak suka dekat dengan wanita selain orang orang terkasihnya, seperti Qilin, Sierra dan Sahara. Jadi pelayan itu pun menunduk dan pergi dari sana.
Kenapa ada pelayan wanita di rumah? Karena sekarang sudah ada Qilin di sana. Jadi Justin mempekerjakan beberapa pelayan wanita, khusus untuk melayani Qilin.
" Sayang, kamu mencari apa?" Tanya Justin ketika melihat Qilin membuka kulkas.
" Ini.." Sahut Qilin, menunjukan kotak susu.
Qilin mengambil gelas, lalu kemudian menuangkan susu itu ke gelas, dan menyodorkannya pada Justin.
" Maaf, aku hanya bisa menyiapkan ini di hari pertama kita berada di rumah." Ujar Qilin merasa bersalah.
Sementara Justin sendiri justru tersenyum melihat tindakan manis istrinya itu.
" Jadi kamu lari - lari dari atas hanya untuk ini?" Tanya Justin, dan Qilin mengangguk.
" Terimakasih, sayang.. " Ujar Justin, dan Qilin tersenyum senang.
" Aku minum, ya?" Ujar Justin, dan Qilin mengangguk antusias.
Justin pun meminun susu yang Qilin siapkan, sebenarnya Justin bukan penikmat susu di pagi hari, dia akan meminum kopi saat pagi. Tapi karena itu adalah tindakan baik Qilin, jadi Justin menghargainya.
Dan rupanya, kejadian itu di lihat oleh Ian yang saat ini sedang berdiri di ambang pintu karena tidak berani masuk dan bergabung dengan pengantin baru yang sudah tidak baru lagi itu.
__ADS_1
" Ya ampun, bisa - bisanya tuan sangat patuh begitu, sepertinya tahta tertinggi Titanes saat ini adalah nona Qilin." Gumam Ian.
" Eh, salah. Nyonya Qilin." Gumam Ian lagi membenarkan ucapannya sendiri.
Justin meneguknya hingga habis, lalu menunjukan gelasnya pada Qilin.
" Habis." Ujar Justin, dan Qilin terlihat senang.
" Aku berangkat kerja dulu, hum? Nanti siang aku akan pulang dan menjemputmu untuk makan siang." Ujar Justin.
" Oke." Sahut Qilin.
Justin mengusap kepala Qilin lalu mencium kening Qilin, dan memeluknya.
" Bagaimana ini sayang, rasanya aku tidak mau berpisah darimu." Ujar Justin dengan nada manja.
Ian yang mendengar itu langsung berbalik dan pergi, menggelikan pikirnya.
" Bukankah tadi kamu yang bilang, nanti siang kamu akan pulang menjemputku, kok sudah merengek manja begini." Ujar Qilin terkekeh.
" Aku belum pergi, tapi aku sudah merindukanmu." Ujar Justin, dan Qilin terbahak.
" Astaga, manjanya suamiku." Kekeh Qilin.
" Ayo aku antar kamu sampai depan." Ujar Qilin.
" No!" Ujar Justin tegas.
" Kenapa?" Tanya Qilin bingung.
" Jika kamu berpakaian dengan benar, baru boleh mengantar aku kedepan. Tapi kamu yang seperti ini, hanya aku yang boleh melihatnya." Ujar Justin
Qilin melotot tidak percaya mendengarnya, overprotektif sekali Justinnya itu.
" Aku pergi dulu, sayang.. jangan nakal, oke." Ujar Justin, dan langsung mencium bibir Qilin singkat, lalu pergi.
" Astaga.. " Gumam Qilin sembari menggelengkan kepalanya.
Setelah Justin pergi, seorang pelayan pria datang menghampiri Qilin lalu menunduk memberi hormat.
"Selamat pagi, nyonya. " Sapa pria itu, yang adalah kepala pelayan.
" Oh, pagi paman." Sahut Qilin.
" Nyonya ingin sarapan dengan menu apa? Atau dari negara mana." Ujar kepala pelayan itu.
" Jangan repot repot paman, aku akan sarapan dengan menu seperti biasanya saja." Ujar Qilin.
" Baik, nyonya. " Ucap kepala pelayan itu.
Qilin pun mekangkah pergi. Tapi belum lima langkah dia berjalan, tiba tiba kembali berbalik menghadap kepala pelayan.
" Mm.. paman, apakah paman bisa membuatkan aku satu makanan?" Tanyan Qilin.
" Tentu nyonya, katakan saja apa yang nyonya ingin makan." Ujar kepala pelayan.
" Sebenarnya membuatnya bukan hal yang sulit, tapi saya tidak yakin paman tahu makanan jenis apa yang aku maksud ini." Ucap Qilin.
" Tidak mungkin, nyonya.. saya sudah terlatih dan tahu semua jenis makanan dari berbagai belahan dunia. Apakah makanan yang nyonya mau ini adlaah menu dari luar negeri? " Tanya kepala pelayan.
" E'eh.." Ucap Qilin dan menggelengkan kepalanya.
" Jadi dari dalam negeri?" Tanya kepala pelayan.
__ADS_1
" Betul, namanya asinan Bogor." Ujar Qilin.
" Asinan.. Bogor??" Tanya kepala pelayan dengan nada kebingungan.
" Terbuat dari berbagai macam campuran buah, seperti mentimun, nanas, salak, kedondong, dan bengkoang. Lalu di beri kuah segar dengan rasa pedas manis." Ujar Qilin.
Kepala pelayan terlihat kebingungan, dalam sepanjang dia belajar menghafal semua jenis makanan yang di konsumsi orang kaya, menu satu ini tidak pernah dia dengar.
" Paman tidak tahu?" Tanya Qilin.
" Ah, maaf nyonya, saya tidak tahu dengan menu yang satu ini. Sepertinya saya kurang luas belajar, saya akan mempelajari menu yang satu ini." Ujar kepala pelayan.
" Tidak apa - apa, paman. Jika tidak tahu, aku akan membelinya dari luar saja, biasanya di pinggiran jalan ada yang menjual itu." Ujar Qilin.
" Jangan, nyonya.. makanan dari luar tidak higenis." Ujar kepala pelayan dengan panik.
Tapi kemudian kepala pelayan menutup mulutnya, dia lupa bahwa Qilin tumbuh di luar sejak kecil. Qilin pun terkekeh mendengarnya.
" Aku bukan Justin, paman. Peritku ini sudah kebal dengan jenis makanan apapun." Ujar Qilin.
" Maaf, nyonya. Tapi lebih baik saya belajar saja untuk membuatnya, saya akan bertanya pada para chef di dapur apakah mereka tahu asin... asinan.." Ujar kepala pelayan.
" Asinan bogor, paman." Ujar Qilin.
" Ah, iya.. sebentar nyonya. " Ujar kepala pelayan lalu pergi menuju ke dapur.
Tak lama kepala pelayan kembali lagi dengan terburu buru.
" Nyonya, maaf.. para chef, tidak ada yang tahu menu asinan bogor, tapi mereka sedang mempelajarinya dari internet, dan akan membuatkannya." Ujar kepala pelayan.
" Oke, kalau begitu terimakasih paman." Ujar Qilin dengan wajah sumringah.
" Itu tugas saya." Ujar kepala pelayan.
Qilin pun pergi dari sana dan kembali naik ke lantai dua di mana kamarnya berada.
Sementara itu di tempat lain..
Justin dan Ian sudah sampai di perusahaan, Mereka berjalan dengan gagahnya berjalan menuju lift khusus. Banyak dari karyawan Justin yang mencuri pandang pada Justin, dengan tatapan kagum.
Sebagai CEO yang banyak di idolakan para wanita, saat ini banyak dari karyawan Justin yang patah hati.
" Tidak ada lagi kesempatan menjadi istri dadi CEO kita, dia sudah menikah." Ujar seorang karyawan wanita, setelah Justin masuk lift.
" Istrinya sangat cantik, dan merupakan nona muda keluarga kaya, tentu saja mereka sebanding." Ujar yang lainnya.
" Jadi pelakor bisa tidak, ya?" Gumam yang lain sembari terkekeh.
" Kau hanya akan berakhir di permalukan, kau tau sendiri CEO kita anti wanita. " Ujar wanita pertama.
" Benar.." Sahut yang lain.
" Apakah ada masalah yang terjadi selama aku libur?" Tanya Justin, ketika mereka akhirnya sampai di ruangan Justin.
" Perusahaan aman tuan, hanya saja markas.. " Ujar Ian menggantung.
" Kenapa dengan markas?" Tanya Justin.
" Dua hari yang lalu, datang seorang pria dengan beberapa anak buahnya dan mengatakan ingin membeli senjata kita, tapi kami yang lengah tidak menyadari bahwa mereka membawa pasukan lain dan mencuri persediaan senjata kita, termasuk yang baru selesai di buat." Ujar Ian.
" Siapa?" Tanya Justin.
" The Wolf." Ujar Ian, dan tatapan Justin sangat dingin sekarang.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..