
Malam harinya...
Justin dan semua timnya sudah bersiap. Ian, Ben dan yang lainnya juga sudah bersiap.
"Tuan, semua sudah siap Clins juga masih berada di rumah lama keluarga Wijaya." Ujar Ian.
"Ayo berangkat." Ujar Justin dan semua orang mengangguk.
Sebagai seorang Lucifer, dia yang harus bertanggung jawab lebih atas tim nya. Justin masuk kedalam mobil, dan mereka semua pergi menuju ke rumah lama keluarga Wijaya.
Justin membuka ponselnya dan menatap foto Qilin yang sedang tersenyum sangat manis.
'Tunggu aku datang, sayang.. kita akan kembali bersama lagi. Aku, kamu dan anak kita.' Batin Justin.
Singkat cerita, akhirnya mereka sampai di sekitaran rumah lama keluaraga Wijaya. Sulitnya adalah, rumah itu berada di perumahan yang mayoritas berpenghuni.
"Cctv sudah di retas, di dalam hanya ada beberapa anak buah Clins." Ujar Ben.
"Ayo." Ujar Ian pada anak buah Justin.
Mereka menyebar dan Ian membawa kotak dus berukuran kecil lalu turun dari mobilnya, ia melihat ke sekitar untuk memastikan bahwa di sekitaran sana sepi.
'Bagus, dia mungkin tidak membawa banyak anak buahnya kemari.' Batin Ian.
"Malam, paket." Ucap Ian pada penjaga rumah Clins, ia berpura - pura mengantar paket.
"Ya, terimakas..ukh!" Ian menusuk perut penjaga itu menggunakan belati yang dia sembunyikan di balik dus paket yang dia bawa.
Ian menyeret penjaga itu, dan seorang dari anak buah Justin menggantikannya.
Justin turun dan masuk kedalam, ia dan beberapa anak buahnya berjalan mengendap - endap ke dalam. Beberapa anak buah Clins di lumpuhkan tapi Justin masih belum melihat keberadaan Clins.
"Dimana Clins?" Tanya Justin pada Ben yang memantau cctv lewat ear piece.
"Belum terlihat dimana pun, tuan. Sepertinya ada ruangan yang tidak di pasangi cctv." Sahut Ben.
Justin masuk dengan cantik, tanpa membuat keributan dia dan anak buahnya sudah menghabisi banyak anak buah Clins, dan di gantikan oleh anak buah Justin.
Justin naik ke lantai dua, dan terdengar suara yang sangat menjijikan. Antara suara kenikmatan pria dan suara kesakitan seorang wanita sedang saling berpaut dari sebuah ruangan yang tidak sepenuhnya tertutup.
"Aarrgghhh.." Erangnya.
Justin bahkan bisa melihat apa yang sedang Clins lakukan di dalam sana. Dan yang membuat Justin mengernyit adalah, Clins melakukannya dengan di lihat oleh anak buahnya sendiri.
'Memang psikopat gila.' Batin Justin.
"Kau, kemari." Perintah Clins, dan seorang pria muda bertubuh kurus menghampiri Clins dengan hanya menggunakan celana pendek tanpa atasan.
__ADS_1
"Lakukan." Perintah Clins pada pemuda itu, dan Justin bisa melihat pemuda itu berjongkok di depan Clins yang tidak menggunakan pakaian, lalu melakukan aktivitas oral s*x.
Justin sampai merasa jijik melihatnya.
'Dia dan ayahnya sama saja, ped*fil dan tidak waras.' Batin Justin.
Justin bingung bagaimana caranya membunuh Clins tanpa membuat keributan, karena di sana adalah komplek perumahan yang padat.
Justin mengeluarkan bom asap, lalu dia melemparkannya kedalam. Seketika semua orang di dalam riuh dan berlari keluar.
Dan saat itu anak buah Justin langsung menyerang anak buah Clins, lalu Justin sendiri langsung melumpuhkan Clins dengan sekali pukul menggunakan gagang senapan.
"Bawa dia ke mobil." Perintah Justin pada anak buahnya.
Clins berhasil di culik, anak buah Justin menyeret begitu saja tubuh Clins yang tidak menggunakan apapun itu lalu melemparkannya langsung kedalam bagasi mobil, dan mobil pun melaju keluar dari rumah itu.
"Ke markas." Ujar Justin, dan semuanya pergi dari kediaman Clins tanpa mengundang kecurigaan petugas keamanan yang berpatroli di sana.
Singkat cerita, Justin sudah sampai di markas. Clins saat ini di letakan di ruang hampa, ruangan serba putih dan bagian bawah tubuhnya hanya di tutupi kain saja.
Hingga beberapa hari kemudian..
Perlahan Clins membuka matanya dan dia melihat kesana kemari, lalu ia memukul kepalanya yang merasakan pusing.
"Dimana aku?" Gumamnya. Ia bangun dan duduk lalu melihat kesana kemari dan bingung dengan ruangan serba putih itu.
"Kau sudah bangun?" Ujar sebuah suara yang mengejutkan Clins sampai dia terjingkat kaget.
"Sialan! Siapa kau?" Clins berteriak dan menatap kesana kemari karena terkejut.
Clins tentu tidak bisa melihat siapapun, yang dia lihat hanya ruangan kosong. Dia tidak tahu bahwa Justin sedang memperhatikannya dari balik dinding itu.
"Menururmu??" Ucap Justin, Clins mengernyit dan mengingat - ingat, kamudian ia teringat dengan Justin.
"Justin?? Atau Dustin??" Ucap Clins sambil tersenyum smirk.
"Aduh, kau keterlaluan sekali, masa menculiku dengan kondisi seperti ini." Celoteh Clins, lalu berdiri.
Dia berjalan kesana kemari, sembari tatapan matanya menyusuri tiap - tiap sisi dinding. Justin yang melihat itu pun hanya tersenyum smirk.
"Haih.. sepertinya aku tidak memiliki jalan keluar, semua di markas TITANES adalah teknologi canggih." Ujar Clins dan akhirnya kembali duduk.
"Apakah ini ajalku, Justin Edward?" Tanya Clins dengan senyum anehnya.
Ia duduk selonjor dengan kaki kanannya di tumpuk ke kaki kiri, lalu ia goyang - gotangkan. Persis seperti orang yang sedang bersantai.
"Jika kau tahu, maka bagus." Sahut Justin.
__ADS_1
"Haih, tidak seru. Padahal aku belum mengebom markas - markasmu, belum membunuh satu persatu keluargamu, dan belum.." Ucap Clins menggantung, kemudian ia tersenyum smirk.
"Aku belum menikmati tubuh istrimu, hmm... Sepertinya akan enak bercinta dengan wanita hamil." Ujar Clins, dan darah Justin langsung mendidih mendengarnya.
"Mulut kotormu itu, akan segera aku robek, Clins Wijaya." Ujar Justin.
"Karena dia cantik.. dia sangat menarik, tubuhnya, lenguhan suaranya, aku yakin aku akAAARRRGGHH!!!" Teriak Clins ketika Justin menyetrum Clins.
Justin dengan wajah gelap penuh amarah menekan tombol dengan tegangan listrik lumayan besar.
"Aku tidak akan menyiksamu lebih lama, karena itu hanya membuang waktuku. Aku akan segera membunuhmu." Ujar Justin.
Clins kesakitan, tubuhnya bergetar hebat karena sengatan listrik tadi sudah membuatnya lemas.
"Kau yakin??" Ujar Clins dengan sisa tenaganya.
"Aku tidak sendirian, Justin Edward. Jika pun aku mati, masih ada aku yang lain." Ujar Clins dengan senyum anehnya.
"Kau tidak dengar sebelumnya aku bilang apa? Aku belum mengebom markasmu." Ujar Clins dan dia menekan lengan kirinya.
Clins terdiam karena tidak terjadi apa - apa pada markas Justin, Justin pun tersenyum smirk melihatnya.
"Kau mencari remot yang tertanam di lenganmu??" Tanya Justin dan Clins tertegun.
Rupanya Justin sedari tadi memegangi remot yang seharusnya tertanam di lengan Clins. Justin kemudian merubah dinding putih itu menjadi transparan, dan kini Clins bisa melihatnya.
"Kau mencari ini?" Tanya Justin dan menunjukan remot kecil. Clins melihatnya dengan tatapan emosi.
"Haih.. Kau tidak adil sekali, masa aku tidak di beri kesempatan untuk balas dendam." Ujar Clins menghela nafas.
Tidak ada raut kepanikan sama sekali di wajahnya, emosi Clins tidak bisa di baca. Dia hanya tertegun sesaat lalu kembali menyeleneh seperti semula.
"Ayahmu mati bukan karena ayahku, tapi karena dia sudah terlalu banyak berbuat dosa, seperti dirimu." Ujar Justin.
"Seolah kau adalah ahli surga." Ujar Clins sembari meniup kukunya.
"Kau tidak tahu apapun lalu datang membalas dendam untuk pria yang sama sekali tidak pernah merawat atau bahkan tahu bahwa dia memiliki putra sepertimu, apakah dia pantas mendapatkannya, Clins?" Ujar Justin.
"Dia adalah seorang h*m*se*ual yang tidak tertolong, mana mungkin dia mengakuimu sebagai anaknya." Ujar Justin lagi.
"Masuk akal memang." Sahut Clins. Justin mengernyitkan keningnya melihat betapa tenangnya Clin berbicara.
"Tapi setidaknya aku tahu bahwa aku emmiliki ayah. Dan sebelum aku bisa menemuinya, ayahmu sudah lebih dulu membunuhnya. Ayahmu merenggut satu - satunya harapanku." Ujar Clins.
Raut wajahnya sedikit menyendu, lalu kemudian dia kembali tersenyum menatap Justin.
"Jangan berpikir macam - macam, Clins. Semua yang kau tanamkan dalam tubuhmu sudah aku angkat." Ujar Justin dan Clins kembali tertegun.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..