Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 69. Perangmu tiba, Qilin..


__ADS_3

Ke esokan harinya, Cio datang dan melihat Qilin yang tampak sedang berdiam diri menatap lautan lepas, rupanya selama ini Cio datang dengan speedboat yang selalu ia parkirkan di bagian lain pulau itu.


'' Kamu tidak berlatih?'' Tanya Cio pada Qilin. Namun Qilin menatap Cio tanpa berkata apa apa dan membuat Cio bingung.


'' Ada apa?'' Tanya Cio.


'' Semalam, pria itu mengutus anak buahnya untuk membunuhku.'' Ujar Qilin, dan tampak Cio yang terkejut tapi Cio masih mengendalikan dirinya agar tidak terlihat terkejut.


'' Aku sudah menjadi seorang pembunuh, Cio. Aku sudah mengambil nyawa sesamaku, sesama manusia.'' Ujar Qilin.


Cio tahu saat ini pasti Qilin sedang merasa bersalah dan kecewa kepada dirinya sendiri, Tapi Cio tidak menunjukan rasa ibanya, melainkan ia tersenyum mendengar Qilin berkata demikian.


'' Yang kamu lakukan itu bukan membunuh, kamu melindungi dirimu sendiri. Tidak apa apa.. selamat datang di peperangan dunia nyata Qilin, perang kehidupan di dunia yang sebenarnya.'' Ujar Cio.


'' Apa maksudmu perang di dunia nyata?'' Ujar Qilin bingung.


'' Kita di dunia saling memburu, itu kenyataan nya. Yang kuat akan berkuasa dan bisa bersikap seenaknya dan yang lemah hanya akan terus di injak di bawah kaki yang kuat, realita kehidupan. '' Ujar Cio.


'' Jangan terbelenggu dengan apa yang sudah terjadi, yang kamu lakukan sudah benar. Kamu sudah mengambil langkah perlawanan.. maka teruskanlah.'' Ujar Cio lagi.


'' Dia.. masih berdiri di atas sana dan akan mengutuskan puluhan bahkan ribuan pasukannya untuk membunuhmu, jadi terimalah jalan hidupmu yang sekarang.'' Ujar Cio.


Tatapan Qilin menerawang jauh dengan tajam, di bayangannya saat ini terlintas wajah bengis Agra yang seakan hendak memakannya hidup hidup.


'' Aku akan menyelamatkan mama.'' Gumam Qilin sambil mengepalkan tangan nya.


Begitu juga dengan Cio yang entah mengapa wajahnya menjadi sendu dan menatap kearah lautan lepas sembari memasukan kedua tangan nya di saku celana.


' Yang harus terjadi.. maka akan terjadi.' Batin Cio.


'' Qilin.. sepertinya hari ini adalah hari terakhirku datang kemari menemuimu.'' Ujar Cio tiba tiba dan itu membuat Qilin terkejut.


'' Kenapa?'' Tanya Qilin.


'' Perangmu sudah datang, dan aku tidak bisa ikut campur lagi di dalam perangmu. Seperti yang aku katakan kepadamu di awal .. aku bisa membantumu menjadi kuat agar kamu bisa keluar sendiri dari tempat ini." Ujar Cio.


Qilin meraih tangan Cio, dia tentu masih takut.. meski dia sudah bisa melawan musuh, tapi dia belum sempurna.


" Bisakah kamu bantu aku? Aku tidak yakin mampu melawan mereka semua." Ujar Qilin.


Cio senang Qilin sudah tidak takut lagi kepadanya, dia kemudian mengusap kepala Qilin lalu tersenyum.


" Aku tidak bisa, Qilin.. " Ujar Cio sambil menggelengkan kepalanya.


" Bukankah kamu bilang padaku aku bisa menganggapmu apapun yang aku mau? Kamu temanku.. tolong bantulah aku, Cio." Ujar Qilin.

__ADS_1


Cio tersenyum mendengar Qilin menganggapnya seorang teman, tapi tetap saja.. Cio menggelengkan kepalanya lagi.


" Ini perangmu, janjiku hanya melatihmu untuk menjadi kuat. " Ujar Cio, dan Qilin menjadi diam berkaca kaca.


" Jangan sedih, apa yang aku ajarkan kepadamu, mampu menumbangkan pasukan musuh, bahkan jika kamu sendirian. Kamu hanya harus percaya pada dirimu sendiri dan kemampuanmu." Ujar Cio lagi.


Saat ini, Qilin berada dalam ketakutan, keraguan dan tidak percaya pada dirinya sendiri jika dia mampu melawan musuh. Qilin yakin Agra mungkin akan mengirim lusinan bahkan lebih banyak lagi orang.


" Ini.. makanan formula untukmu." Ujar Cio sembari memberikan sekotak besar lagi makanan formula untuk Qilin.


" Aku percaya kamu bisa melewatinya dan melawan mereka." Ujar Cio sembari menyentuh kedua pundak Qilin.


" Aku pergi.." Ujar Cio.


Qilin akhirnyabmasuk kedalam pelukan Cio, dan hal itu membuat Cio terkejut namun akhirnya dia tersenyum.


" Terimaksih sudah melatihku, Cio.. Jika aku tidak bertemu denganmu, aku pasti sudah menjadi seonggok mayat yang mati menyedihkan di sini." Ujar Qilin.


" Saat aku sudah keluar dari sini, semoga kita bisa bertemu lagi." Ujar Qilin lagi.


" Hm.. Maka jadilah kuat, agar kita bisa bertemu lagi." Ujar Cio, dan Qilin mengangguk.


Qilin melerai pelukannya, dan kemudian Cio pun berjalan pergi. Tapi wajah Cio tidak seperti saat bertatapan dengan Qilin, wajahnya kini menjadi sendu.


' Dan pada saat itu tiba, aku tidak yakin kamu akan bersikap sama seperti hari ini.' Batin Cio, sendu.


Beberapa hari kemudian..


Tiga hari berlalu setelah perpisahan Qilin dengan Cio yang berkata tidak akan datang kesana lagi, kini Qilin sedang berlatih bela diri sendiri, dengan menggunakan samsak tinju.


" Bak! Buk! Bak! Bugh!" Qilin menghentikan aktivitasnya ketika mendengar suara mesin speed boat dan helikopter mendekat.


' Mereka datang.' Batin Qilin.


Qilin langsung menyudahi aktivitasnya dan terburu buru mengambil senapan yang berada tak jauh dari sana dan sebuah belati lalu pergi dari ruang berlatih.


Di luar rumah itu, terlihat satu persatu pria keluar dari helikopter, dan di susul seorang pria yang turun paling akhir, Luca. Lalu di susul anak buah Luca yang lain yang mengendarai speed boat.


" Cari dan bawa gadis si*lan itu ke hadapanku." Ujar Luca pada anak buahnya.


" Baik." Sahut mereka semua dan berpencar, ada sekitar belasan orang yang berpencar mencari Qilin.


Luca begitu emosi setiap hari karena tidak juga mendapatkan kabar dari anak buahnya yang dia kirim beberapa hari lalu, ya.. Luca lah yang mengirim beberapa pria untuk membunuh Qilin beberapa hari yang lalu.


Luca juga masih emosi kerna kondisi Agra Khan begitu buruk. Agra kehilangan pendengarannya akibat suara bom yang begitu besar meledakan kediamannya saat itu.

__ADS_1


" Mama bahkan lebih memilih pergi meninggalkan kami, seharusnya aku tau bahwa mama tidak pernah mencintai kami. Karena mama tidak peduli pada kami, maka aku.. akan membunuh putrinya." Gumam Luca dengan tatapan kebencian.


" Jangan salahkan aku, ma.. " Gumam Luca lagi.


Tiba tiba terdengar suara tembakan yang berasal dari rumah yang Qilin tempati, Luca tersenyum senang mendengarnya.. hidup atau mati, asal terlihat jasad Qilin, maka dia akan senang.


" Kau kakakku, tapi siapa peduli.. cinta mama hanya tercurah kepadamu, tidak kepada kami. Bahkan setelah puluhan tahun mama tinggal dengan kami, di hatinya hanya ada kau." Gumam Luca.


' Kau adalah batu kerikil yang seharusnya aku singkirkan sejak lama, agar mama tidak memiliki kesempatan bertemu denganmu.' Batin Luca.


" Dor! Dor! Dor! " Suara tembakan semakin jelas terdengar.


Dan di dalam rumah, para pria itu kucing kucingan mencari keberadaan Qilin.


" Kesana!" Ujar seorang pria dan beberapa mengejar kearah lain rumah itu.


" Aku yakin aku sudah menembaknya, jika pun dia hidup mungkin saat ini dia terluka." Ujar seorang pria yang mengejar Qilin pada rekannya.


" Ayo car.. "


" DOR!"


" DOR!"


Qilin menembak dua pria itu tepat di jantungnya, lalu kembali sembunyi. Ya.. tidak terjadi apapun pada Qilin, justru para anak buah Luca sudah beberapa Qilin lumpuhkan.


' Rupanya mereka lebih banyak dari yang kemarin.' Batin Qilin.


Qilin mengendap endap pergi lalu masuk kedalam kamar yang ia tempati tapi rupanya di sana ada dua orang pria yang sama terkejutnya dengan Qilin.


Dua pria itu langsung mengarahkan senapan kearah Qilin namun Qilin menendangnya lebih dulu, dan membunuh satu pria dengan tendangan kaki di leher pria itu.


" Sial, kau bisa bela diri rupanya." Gumam pria yang masih hidup.


Pria itu mengeluarkan belati, dan menyerang Qilin.. Tapi Qilin juga dengan sigap melawan pria itu, lengan Qilin sedikit tergores belati, tapi dia tidak menyerah.


Qilin kembali maju dan di saat yqng tepat Qilin mengeluarkan belatinya dan menghunuskannya tepat di jantung pria itu.


" Seharusnya kau lebih berhati hati, jangan remehkan lawanmu." Ujar Qilin pada pria yang sedang sekarat itu.


Qilin mencabut belatinya lalu memutar kepala pria itu hingga tewas. Setelah itu Qilin langsung mengeluarkan sebuah tas ransel yang sudah dia siapkan untuk pelariannya, dan keluar dari jendela kamarnya.


Seorang dari anak buah Luca melihat Qilin dan langsung menembaki Qilin, beruntungnya Qilin berlari dengan sangat cepat dan tidak tertembak sedikitpun.


" Dia kesana!!" Teriak anak buah Luca dan semua orang mengejarnya.

__ADS_1


TO BE CONTINUED...


__ADS_2