Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 78. Akhirnya bertemu.


__ADS_3

Dan setelah ber jam jam melakukan operasi, Cio kini di pindahkan di ruang perawatan. Ya.. Cio selamat dari maut setelah dengan susah payah dokter melakukan berbagai upaya, operasi Cio berjalan lancar.


'' Kak, kamu pulang saja dengan mama.. Kalian pasti lelah, aku akan menunggu Cio.'' Ujar Luca.


Bagai terkena sihir, Luca seakan menjadi baik begitu saja pada Qilin, padahal sebelumnya dia sangat ingin membunuh Qilin karena rasa iri di hatinya.


'' Niklaus, antar mamaku dan kakakku Pulang.'' Ujar Lluca pada Niklaus.


'' Baik.'' Ujar Niklaus.


'' Mari nyonya, nona.'' Ujar Niklaus pada Qilin dan Dewi.


'' Antar saja Qilin, saya akan menunggu Cio di sini.'' Ujar Dewi menolak.


Qilin berpikir, mungkin itu adalah momen yang pas untuk Dewi membuat Luca semakin yakin bahwa kasih sayang Dewi tidaklah sepihak, Qilin pun memberi Dewi dan Luca ruang untuk saling bicara, agar kesalahpahaman dianta mereka benar benar hilang.


'' Kalau begitu, aku pulang dulu.'' Ujar Qilin.


Qilin berbalik badan dan hendak keluar dari pintu kamar rawat Cio, tapi tiba tiba langkahnya terhenti dan berbalik menatap Luca. Qilin berjalan menghampiri Luca, lalu memeluknya.


'' Maaf karena aku berniat menghabisimu sebelumnya, sebagai seorang kakak.. aku sangat menyayangi keluargaku, semuanya. Aku senang karena untuk pertama kalinya dalam hidup, aku memiliki keluarga yang sesungguhnya.'' Ujar Qilin.


'' Aku pulang.'' Ujar Qilin, lalu menepuk bahu Luca. Setelah Qilin menghilang di balik pintu, Luca tersenyum..


'' Dia gadis yang keren, kakak yang keren. '' Gumam Luca sambil tersenyum.


'' Tapi.. apakah wajah aslinya memang seperti itu?'' Tanya Luca pada Dewi.


'' Hanya berbeda gaya rambutnya saja, memangnya kamu belum pernah melihatnya?'' Tanya Dewi.


'' Aku.. aku tidak pernah bertemu dengannya dan aku juga tidak melihat foto fotonya, karena tadinya dia adalah musuhku.'' Ujar Luca merasa canggung.


'' Warna rambutnya sama seperti mama.'' Ujar Dewi, sambil tersenyum.


'' Tapi kenapa dia bisa sama persis dengan Mia?'' Gumam Luca.


'' Untuk itu, kamu bisa tanyakan pada adikmu saat dia sudah sadar nanti.'' Ujar Dewi.


Perang yang konyol akhirnya berakhir dengan damai, meski memakan korban yaitu Cio.. tapi berharaplah Cio akan sembuh agar keluarga itu benar benat utuh kembali. Keluarga tiri pun bisa menjadi sebuah keluarga bahagia yang harmonis jika mereka bisa saling mendukung dan melengkapi satu sama lain.


Sementara itu, Qilin sampai di rumahnya. Dia berjalan menuju lemari es dan mengambil sebotol air dingin dan meminumnya.


'' Huft..'' Qilin menghela nafasnya.

__ADS_1


' Tuhan, inikah rencana yang engkau persiapkan untukku.. Aku merasa konyol, tapi aku juga berterimakasih kepadamu, karena engkau sudah membuka hati beku Luca. ' Batin Qilin.


' Aku memiliki keluargaku sendiri..' Batin Qilin lagi dan Qilin tersenyum. Qilin pun naik ke lantai dua dan langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Dan di tempat lain, Justin sedang dalam perjalanan dengan mobilnya. Dia tidak bisa berhenti tersenyum seoanjang perjalanan itu dan terus meminta supirnya untuk lebih cepat.


'' Lebih cepat lagi, tolong.'' Ujar Justin.


'' Baik tuan.'' ujar anak buah Justin.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan sampailah dia di sebuah halaman, Justin turun dan langsung berlari masuk kedalam lalu mengetuk pintu rumah itu berkali kali.


'' Qilin, sayang.. ini aku.'' Ujar Justin.


Ya.. Justin langsung datang ke rumah Qilin setelah dia mendapatkan email dari akun tidak di kenal yang mengatakan bahwa pengirim itu adalah anak buah Cio dan memberikan sebuah alamat rumah pada Justin, pengirim mengatakan bahwa itu adalah alamat rumah Qilin.


Tanpa banyak acara lagi, Justin langsung tancap gas dan datang ke rumah Qilin dengan perasaan bahagia dan kerinduannya yang sudah sangat menyesakkan dada.


' Kenapa dia tidak membuka pintunya, apa jangan jangan terjadi sesuatu padanya.' Batin Justin. Justin pun melihat sekitaran rumah itu untuk mencari jalan agar bisa masuk kedalam.


Sementara Qilin baru saja selesai mandi dan dia mendengar seperti ada sesuatu yang berbunyi dari luar kamarnya, Qilin pun langsung mengambil senjatanya dan mengendap endap keluar.


Ruangan yang gelap menambah kesulitan tersendiri bagi Qilin untuk melihat, dia pun meraba raba dinding untuk mencari saklar lampu. Hingga sebuah tangan memeluknya dari belakang, Qilin pun langsung mengarahkan senjata apinya di dada orang yang memeluknya lalu menyalakan lampu.


Lebih dari Qilin yang terkejut Justin juga terkejut karena melihat Qilin menodongkan senjata api kepadanya, Qilin yang sadar langsung menurunkan senjata apinya.


'' Sayang.. maafkan aku tidak bisa menemukanmu selama ini, kamu pasti ketakutan'' Ujar Justin, memeluk Qilin.


Qilin pun menangis dan memeluk Justin erat erat, dia sangat merindukan Justinnya. Begitu juga dengan Justin yang bahkan sampai tidak pernah kembali ke tanah air hanya untuk mencari Qilin di sana.


'' Aku merindukanmu.'' Ujar Qilin.


'' Aku lebih lebih merindukanmu.'' Ujar Justin an mengecup kepala Qilin berkali kali.


Dan setelah pelukan pertemuan yang penuh haru itu, kini Justin dan Qilin sedang berada di ruang tengah kediaman itu. Justin menyalakan perapian untuk menghangatkan ruangan itu lalu duduk dan kembali memeluk Qilin, Qilin pun tidak ragu untuk memeluk Justin dan manja pada Justin.


'' Apa selama ini kamu tinggal di sini, sayang?'' Tanya Justin.


'' Tidak..'' Ujar Qilin.


'' Kamu tinggal dimana selama ini? Aku mencarimu tapi tadk pernah menemukanmu.'' Ujar Justin.


' Bagaimana aku manjelaskannya, apakah jika aku mangatakan kepada Justin bahwa aku terlibat dengan kelompok mafia dia akan membenciku.' Batin Qilin.

__ADS_1


'' Dan kenapa kamu mengubah warna rambutmu?'' Tanya Justin lagi.


'' Apakah tidak bagus?'' Tanya Qilin.


'' Qilinku selalu cantik dan selalu bagus dengan gaya rambut apapun.'' Ujar Justin lalu mengecup kening Qilin.


'' Sayang.. tadi aku melihat kamu memegang senjata api, apakah kamu tahu cara menggunakannya?'' Tanya Justin, dan Qilin semakin pias.


' Bagaimana ini Tuhan, apa aku jujur saja pada Justin?' Batin Qilin takut..


Qilin duduk di hadapan Justin dan menatap Justin dengan bersungguh sungguh, dan hal itu membuat Justin mnegernyit bingung.


'' Justin.. jika ada sesuatu yang lain dari diriku.. apa kamu masih akan tetap menerimaku?'' Ucap Qilin tiba tiba.


'' Apa yang kamu katakan, sayang.. aku mencintai dirimu dan hatimu, tentu aku akan menerima apapun kekuranganmu.'' Ujar Justin.


'' Aku akan jujurkan satu hal.'' Ujar Qilin dan Qilin pun bangun dan pergi intuk mengambil sesuatu.


Dengan ragu Qilin mengambil senjata apinya yang sebelumnya sudah dia simpan di meja, dan kini dia membawanya kembali dan menunjukannya kehadapan Justin.


Tiba tiba Qilin membongkar senjata itu menjadi beberapa bagian dan dengan cepat Qilin merakitnya kembali menjadi utuh lalu menodongkannya kearah Justin.


'' Sayang..'' Ujar Justin dengan santai tanpa sedikitpun bergeming atau menghindar dan ketakutan.


'' Aku.. sudah bukan Qilin yang dulu, aku sudah terlanjur terjun dalam dunia gelap.'' Ujar Qilin jujurm dan Justin sedikit terkejut mendengarnya.


'' Tanganku.. sudah membunuh banyak orang, Justin. Aku seorang kriminal..'' Ujar Qilin lalu menangis.


Tapi bukan marah atau kecewa respon yang Justin berikan, Justin justru langsung mengambil senjata api dari tangan Qilin lalu memeluk Qilin erat kedalam pelukannya.


'' Kamu bukan kriminal, sayang.. kamu tetap Qilinku, kekasihku.'' Ujar Justin.


'' Kamu tidak marah?'' Tanya Qilin.


'' Sama sekali tidak, karena aku pun adalah orang yang sama sepertimu.'' Ujar Justin, dan kali ini Qilin yang lebih terkejut.


" Aku tidak bermaksud untuk membohongimu selama ini, aku hanya takut kamu akan kecewa dan pergi meninggalkan aku, jadi aku belum mengatakannya kepadamu." Ujar Justin.


" Aku seorang pemimpin Mafia, sayang.." Ujar Justin, dan Qilin hanya mampu menatap Justin tanpa kata kata.


" Ha???" Hanya itu respon Qilin.


TO BE CONTINUED...

__ADS_1


__ADS_2