Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 46. Hal sederhana yang membuat Qilin senang.


__ADS_3

Sementara itu, Justin masih ada di perusahaan nya. Dia membereskan semua pekerjaanny di meja, lalu menyambar jas nya dan berjalan keluar.


" Ayo." Ujar Justin pada Ian.


" Baik tuan." Ujar Ian profesional.


Ian sudah benar benar terlihat sangat berbeda dengan sebelumnya, dia sudah menjadi laki laki tampan yang stylish. Rambutnya di rapikan, berpalaian formal, dengan tinggi badan dan bentuk badan yang bagus.


Keduanya berjalan pergi dari perusahaan, saat ini Ian akan menjadi asisten yang akan mengurus semua kebutuhan Justin, seperti Malvin yang mengurusi Arthur sejak dulu sampai sekarang.


" Antar aku ke jl. Xx.. " Ujar Justin.


" Baik." Ujar Ian, dan langsung menyetel maps yang ada di layar bashboard mobil.


Mobil pun melaju pergi, dan sepanjang perjalanan itu juga Justin selalu memandangi layar ponselnya, dia bekerja dengan ponselnya. Dan setelah beberapa saat, mereka pun tiba di depan rumah Qilin.


" Kau boleh pergi, aku akan menghubungimu lagi nanti." Ujar Justin.


" Oke, aku boleh ke cafe?" Tanya Ian, tidak formal.


" Hm.." sahut Justin, dan Justin pun turun.


Justin sudah mendapat laporan dari anak buahnya yang berjaga di sekitar rumah Qilin, bahwa Qilin tidak berangkat kerja. Justin berdiri di depan rumah Qilin, dan mengetuk pagar rumah Qilin, tak lama Qilin pun keluar.


" Justin.." Ujar Qilin dan tersenyum.


Qilin membuka pintu dan Justin langsung memeluk Qilin begitu saja seolah mereka sudah berpisah bertahun tahun lamanya.


" Hmm.. aku merindukan Qilinku." Ujar Justin dan Qilin terkekeh.


Dari dalam mobil, ada yang meranga melihat pemandangan di depannya. Ian, ia membuka mulutnya lebar lebar hingga ia kesulitan menelan ludahnya sendiri melihat Justin memeluk seorang gadis.


" Hah?? apa aku tidak salah lihat?" Gumam Ian.


Ian sangat tahu watak dan kepribadian Justin yang sangat lain dari yang lain, dia tahu Justin hilang dan sempat hilang ingatan, tapi dia tidak tahu bahwa Justin menjadi memiliki kepribadian lain setelah hilang ingatan.


Itu adalah pertama kalinya Ian melihat Justin memeluk wanita lain selain Sierra dan neneknya.


" Wooah.. Aku yang ketinggalan informasi atau bagaimana? Sejak kapan tuan menjadi ulat bulu?" Gumam Ian lagi.


Sifat Ian tidak seperti Malvin yang dingin dan anti wanita, dia seperti Andra yang ceria dan tukang melucu, tapi jika sudah mengenai pekerjaan, Ian juga akan totalitas seperti Andra dan Malvin.


Kembali ke sisi Justin dan Qilin, Justin saat ini sedang duduk di meja makan dan memperhatikan Qilin yang sedang menuang mie instan ke dalam mangkok.


" Jadi kamu selalu makan makanan tidak setelah aku pergi, hum? " Ujar Justin, dan Qilin hanya meringis.


" Hehe.. aku sudah lama tidak makan mie instan, kok.. Rena pergi, dan aku pikir kamu tidak jadi datang, jadi aku buat mie instan saja." Ujar Qilin.


" Anak nakal." Ujar Justin.


Justin bangun dan membuka kulkas, tidak ada bahan makanan sama sekali di dalamnya, hanya ada buah dan minum minuman yang bertengver di kulkas.


" Kalian tidak masak?" Tanya Justin.


" Rena bilang lebih baik beli, masak merepotkan. Dan aku kan selalu di culik olehmu, bagaimana bisa aku belanja dan masak." Ujar Qilin, dan Justin terkekeh.

__ADS_1


Justin pun memeluk Qilin dari belakang dan menciumi pipi Qilin yang sedang meniup kuah mie instannya.


" Hey, aku mau makan, nanti mie nya mengembang." Ujar Qilin.


" Jangan makan mie instan, sayang.. ayo kita pergi makan di luar." Ujar Justin.


" Tapi mie ku kasihan.." Ujar Qilin sedih.


Bagi Qilin, makanan adalah berkah yang Tuhan beri, dia tidak suka membuang makanan.


" Kalau begitu buatlan aku satu." Ujar Justin, dan Qilin tersenyum mendengarnya.


" Oke.." Sahut Qilin.


Qilin langsung dengan senang membuatkan mie untuk Justin, melihat Qilin yang bahagia hanya karena hal kecil benar benar membuat hati Justin senang. Justin semakin merasa bahwa dia menemukan gadis yang pas dengan dirinya.


Gadis yang benar benar lain dari yang lain, yang tidak memandang materi dan rupa, Qilin.. adalah harta tak ternilai bagi Justin.


Justin menyingsingkan lengan kemejanya, lalu ikun membantu Qilin memasak.


" Hei, nanti tanganmu terkena panci panas." Ujar Qilin khawatir, Justin pun terkekeh mendengarnya.


Jangankan panci panas, timah panas bahkan pernah menembus bagian tubuhnya, dan Justin masih baik baik saja.


" Tidak, sayang.." Ujar Justin.


Tak lama, semangkuk mie pun jadi, kini keduanya duduk berhadapan di meja makan kecil yang menurut Justin membuat kesan romantis tersendiri.


" Bagaimana, enak?" Tanya Qilin, dan Justin mengangguk antusias.


" Justin, aku sudah memikirkannya.." Ucap Qilin setelah mie nya habis.


" Memikirkan apa?" Tanya Justin.


" Mm.. untuk berhenti bekerja.." Ujar Qilin.


Justin tersenyum mendengarnya, ia pun mengulurkan tangannya dan mengusap kepala Qilin dengan sayang.


" Patuhnya Qilinku.." Ujar Justin, sambil mengusap kepala Qilin.


" Tapi, aku akan kerja siang hari saja, boleh?" Ujar Qilin lagi.


" Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, saat ini mungkin kamu mencintai aku dan menyayangiku. Tapi tidak tahu dengan kedepannya, aku harus memiliki penghasilan sendiri, setidaknya untuk berjaga jaga jika kamu meninggalkan.. "


" Tidak akan, sayang." Ujar Justin memotong ucapan Qilin sambil menutup mulut Qilin dengan jarinya.


" Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, aku tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, dan kamu adalah gadis pertama yang aku cintai." Ujar Justin.


" Hati manusia.. siapa yang tahu, bukan?" Ujar Qilin.


" Tapi kamu bisa pegang ucapanku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, apapun yang terjadi. Aku sangat mencintai kamu, sayang.." Ujar Justin.


" Oke.. tapi bolehkah aku tetap bekerja? Di siang hari saja." Ujar Qilin.


Justin memutar otaknya, Qilin mungkin takut di tinggalkan, bagaimanapun tidak pernah ada yang mencintai Qilin sedalam itu. Akhirnya Justin mengangguk, dan Qilin pun tersenyum.

__ADS_1


" Terimakasih.. aku akan mencari pekerjaan baru nanti." Ujar Qilin.


" Kamu ingin mencari pekerjaan di bidang apa, sayang?" Tanya Justin.


" Mmm.. entahlah.. aku hanya tamatan SMA, sulit dapat pekerjaan yang bagus." Ujar Qilin.


" Tidak apa apa, nanti juga dapat pekerjaan. Yang penting kamu jangan terlalu lelah, juga jangan pekerjaan malam hari." Ujar Justin, dan Qilin mengangguk senang.


" Ini sudah malam, apa kamu tidak mau pulang?" Tanya Qilin.


" Aku di usir?" Ujar Justin, dan Qilin terkekeh.


" Mana ada aku mengusir, aku hanya bertanya.." Ujar Qilin.


Justin bangun dari duduknya dan memutari meja lalu menggendong Qilin ala koala. Justin menciumi Qilin bertubi tubi hingga membuat Qilin tertawa karena merasa geli.


" Hahaha.. Justin hentikan." Ujar Qilin kegelian.


" Tidak mau, kamu sudah mengusirku." Ujar Justin.


" Hahaha.. geli, Justin aku mohon." Ujar Qilin meronta kegelian.


Justin merebahkan Qilin di sofa dan mengunkungnya, Justin melihat wajah Qilin yang merah karena tertawa, nafas Qilin bahkan terengah engah saat ini.


Justin dan Qilin saling tatap, lalu Justin mendekatkan wajahnya ke wajah Qilin hendak mencium Qilin, tapi tiba tiba..


" Qilin aku pu.. o'oh.." Ujar Rena dan Qilin langsung bangun hingga keningnya terkantup kening Justin.


" Aduh." Ujar Qilin, dan menyentuh keningnya.


" Maaf, aku tidak lihat." Ujar Rena dan langsung masuk kedalam kamar.


Justin pun duduk dan melihat kening Qilin dengan khawatir.


" Kenapa kamu langsung bangun begitu saja, sayang.." Ujar Justin dan mengusap usap kening Qilin.


" Rena melihat kita." Ujar Qilin.


Justin bangun dan menggendong Qilin dan naik ke lantai dua, menuju kamar Qilin. Justin merebahkan Qilin di ranjang, lalu kembali turun ke bawah untuk mengambil es di lemari pendingin.


Tak lama Justin kembali, dan mengompres Qilin dengan es batu.


" Masih sakit?" Tanya Justin, dan Qilin menggeleng.


Justin pun mencium kening Qilin, lalu menyelimuti Qilin.


" Tidurlah, sudah malam Aku pulang dulu, hm?" Ujar Justin.


" Aku antar kamu.." Ujar Qilin hendak kembali bangun.


" Stt.. tidak perlu sayang, kamu tidur saja." Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.


Justin mencium bibir Qilin singkat, lalu kemudian dia bangun dan pergi. Wajah Qilin merona mendapat perlakuan begitu manis setiap bersama Justin. Hal hal sederhana itu lebih mampu membuat Qilin berbunga, dari pada barang mewah.


" Ssshh.. tapi kenapa kepalanya seperti batu, keras sekali." Gumam Qilin dan mengusap keningnya.

__ADS_1


TO BE CONTINUED...


__ADS_2