Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 125. Enggan berpisah.


__ADS_3

Seminggu kemudian..


Sudah seminggu berlalu, tapi rupanya Dewi dan yang lain belum sampai di tanah air. Mereka terpaksa mengundur keberangkatan karena cuaca di sana buruk.


Dewi masih belum mendapatkan pemberitahuan dari pihak penerbangan, jadi dia masih tidak bisa terbang.


Sementara itu, Justin sedang kebingungan, malam ini dia sudah harus pergi tapi keluarga Qilin belum sampai, dia jadi enggan meninggalkan Qilin.


" Mommy sedang kemari sayang, tidak usah khawatir." Ujar Qilin, menenangkan Justin.


" Atau kamu tinggal di kediaman utama saja selama aku pergi, sayang?" Tanya Justin.


" Tapi mommy sudah jalan kemari, masa kita balik lagi." Ujar Qilin terkekeh.


Sebisa mungkin Qilin selalu ceria agar tidak membuat Justin khawatir, walau di dalam hatinya juga sebenarnya takut dan tidak rela Justin pergi. Mungkin bawaan hamil, dia tidak mau jauh dari Justin sedikitpun.


Tapi karena dia tahu suaminya itu bukan orang biasa yang memiliki kehidupan nyaman, dia mencoba menjadi tegar agar Justin juga tidak ikut kepikiran.


" Aku akan beri tahu Ian saja, aku tidak jadi pergi." Ujar Justin tiba - tiba.


" Sayang.. aku tidak apa apa.." Ujar Qilin.


" Tapi aku khawatir, sayang. Kamu akan sendirian nanti." Ujar Justin. Qilin memeluk Justin untuk menenangkannya, karena saat ini Justin terlihat sangat risau.


" Ada mommy bersamaku, dan ada anak buahmu yang menjagaku, Jadi kamu jangan terlalu khawatir, aku dan baby akan baik baik saja." Ujar Qilin.


Justin tampak diam, dan berpikir sangat keras saat ini. Dia benar benar dilema dan tidak ingin meninggalkan istri dan calon anaknya.


" Aku dan anak kita akan baik - baik saja." Ujar Qilin sekali lagi. Justin mengangguk, dan kembali memeluk Qilin.


" Berjanjilah kalian akan baik baik saja." Ujar Justin.


" Aku janji, kamu juga harus baik baik saja." Ujar Qilin.


Tak lama terdengar suara langkah kaki daei luar, dan muncullah Sierra dari ruang depan.


" Sayang, mommy datang." Ujar Sierra dengan senyum khas nya.


" Mom, aku titip Qilin pada mommy." Ujar Justin langsung.


" Astaga, tanpa kamu titip kan pun mommy akan menjaganya, dia itu putri kesayangan mommy." Ujar Sierra dan Qilin terkekeh.


Tapi Sierra belum tahu bahwa Qilin saat ini tengah mengandung. Qilin dan Justin benar benar merencanakan itu untuk kado Natal yang sebentar lagi tiba.


" Tuan.." Panggil Ian yang sudah siap dengan pakaian serba hitamnya.

__ADS_1


Justin menatap Ian, lalu beralih menatap Qilin dengan tatapan tidak rela. Rasanya dia enggan pergi meninggalkan Qilin dan calon anaknya.


" Aku akan baik - baik saja dengan mommy." Ujar Qilin.


Justin memeluk Qilin lagi, lalu mengecup kening Qilin di hadapan Sierra. Sierra tentu tersenyum melihatnya, dia jadi teringat dengan masa mudanya saat dirinya akan di tinggal Arthur.


" Pulanglah dengan selamat." Ujar Qilin, dan Justin mengangguk.


" Jaga dirimu, sayang." Ujar Justin. Justin lalu beralih pada Sierra, dan memeluk Sierra.


" Jaga diri baik - baik, dan segeralah pulang." Ujar Sierra.


" Iya, mom." Sahut Justin.


Akhirnya Justin pun melangkah pergi dengan berat hati. Qilin memegang bandul kalungnya kemudian, memanggil Justin.


" Sayang, tunggu." Panggil Qilin. Justin pun berhenti, Qilin langsung melepas kalung yang ada di lehernya dan kemudian memakaikannya pada Justin.


" Semoga Tuhan selalu bersamamu." Ujar Qilin, dan Justin tersenyum.


" Terimakasih, sayang." Ujar Justin.


Qilin memeluk Justin sekali lagi sebelum Justin benar - benar akan pergi. Dia ingin menyimpan kehangatan tubuh Justin.


" Aku mencintaimu." Ucap Qilin.


Dan akhirnya, setelah pekukan itu terlepas, Justin pun benar - benar pergi dan hilang di balik tembok. Qilin hanya diam berdiri menatap perginya Justin dengan air mata yang tiba tiba menetes.


Sejak tadi Qilin mencoba tegar dan tidak sedikitpun menunjukan wajah sendu agar Justin tidak khawatir, dan kini air matanya berlinangan membasahi pipi.


Sierra mengusap pundak Qilin dari belakang, untuk menguatkan Qilin.


" Justin akan kembali dengan cepat, sayang." Ujar Sierra dan Qilin mengangguk.


" Ayo kita beristirahat, ini sudah larut." Ujar Sierra.


" Mommy tidur denganku, kan?" Tanya Qilin.


" Kamu mau tidur dengan mommy?" Tanya Sierra, dan Qilin mengangguk.


" Baiklah, ayo." Ajak Sierra dan Qilin pun berjalan pergi dari sana. Sesekali Qilin kembali melihat ke belakang, kalau kalau Justin tiba - tiba kembali lagi.


Sementara itu Justin dan Ian saat ini sedang mengendarai mobil menuju ke markas utama mereka. Pelatihan yang di lakukan selama setahun sekali itu biasanya di lakukan di tengah hutan belantara, dan biasanya mereka tidak akan membawa ponsel, karena di tengah hutan tidak ada sinyal.


" Apakah anak buah yang berjaga di rumah sudah kau atur?" Tanya Justin pada Ian.

__ADS_1


" Sudah, mereka ada di beberapa titik. Aku juga menempatkan penembak jitu sebanyak tiga orang untuk berjaga - jaga jika musuh datang." Ujar Ian.


" Bagus." Ujar Justin.


Dan setelah beberapa jam melakukan perjalanan, akhirnya Justin dan Ian pun sampai.


Saat Justin tiba, Justin menyempatkan diri untuk melihat kondisi Desi, mantan ibu angkat Qilin yang di tahan di ruang hampa. Desi terlihat berantakan dan menjadi seperti orang gila.


" Apakah selama ini dia hanya begitu?" Tanya Justin pada anak buahnya.


" Ya, tuan. Semua hukuman yang tuan sebutkan sudah kami berikan kepadanya, dan saat ini setiap hari dia menonton video suami dan anaknya yang sedang bersetubuh." Ujar anak buah Justin.


Justin mengangguk lalu kemudian menyalakan sebuah tombol.


" Kau masih hidup rupanya, nyonya Desi." Ujar Justin. Rupanya Justin menyalakan speaker yang terhubung keruangan hampa itu.


Desi terlihat terkejut dan melihat ke sekelilingnya dengan bingung, Desi tidak bisa melihat apa - apa kecuali dinding putih. Tapi Justin bisa melihat Desi dari luar.


" Siapa kau!" Ujar Desi menjadi panik dengan tatapan kesegala arah.


" Hmm.. Anda terlihat baik baik saja. Oh, saya bawa kabar bagus, putri anda saat ini sedang mengandung anak suami anda." Ujar Justin, dan Desi menjadi langsung tersulut emosi.


" AAARRHH!!!! Diam! Siapa kau?! Kenapa kau mengurungku di sini?!" Teriak Desi.


Justin senang melihat emosi Desi yang meluap luap, dia masih saja tidak terima Desi pernah memperlakukan Qilin dengan sangat buruk, dulu.


Justin jadi semakin ingin membuat Desi menjadi stress, walau sebenarnya Desi memang sudah stress karena di kurung di sana berbulan bulan. Desi bahkan tidak tahu kapan siang dan kapan malam.


" Bagaimana anda akan memanggil cucumu nanti? " Ujar Justin dengan nada di buat - buat bingung. "Oh tidak, dia bukan cucumu, tapi anak tirimu bukan?" Ujar Justin


Nafas Desi memburu, dia benar benar emosi saat ini, tapi dia tidak bisa meluapkannya dengan benda - benda, karena di ruangan itu kosong.


" Aargghh!! Diam!!" Teriak Desi dengan histeris.


Bukannya Justin tidak menghormati perempuan yang lebih tua darinya, hanya saja apa yang Desi lakukan sangat sulit di maafkan.


" Dia hidup di jalan saat ini, dengan perut besar dan pakaian rumah sakit. Dia meminta minta dan terlunta lunta, nyonya." Ujar Justin.


" Aku tidak peduli." teriak Desi marah.


Justin tersenyum sinis melihatnya, dan mematikan speaker yang menghubungkan suaranya dengan ruangan itu.


" Eksekusi saja dia, sudah tidak ada gunanya dia hidup. " Ujar Justin.


" Baik, tuan." Sahut anak buah Justin.

__ADS_1


Justin pun pergi menuju ke ruangannya, dan anak buahnya langsung melakukan tindakan terhadap Desi.


TO BE CONTINUED..


__ADS_2