
Dustin langsung di tangani dokter rumah sakit, namun dokter itu menjadi bingung ketika melihat Justin yang baik - baik saja, padahal Dustin sebelumnya menghubungi pihak rumah sakit dan mengatakan untuk menyiapkan operasi donor jantung untuk Justin.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Justin pada Ben. Ben menggeleng, karena sebenarnya dia sendiri juga tidak tahu menahu dengan apa yang Dustin rencanakan.
"Saya tidak tahu, tuan. Tuan Dustin pergi begitu saja dari rumah tanpa memberi tahu kami, kami bahkan mengikutinya diam - diam." Ujar Ben menjelaskan.
"Clins telah melakukan banyak hal tuan. Selama tuan tidak sadarkan diri, dia membuat banyak kegaduhan. Nyonya besar, tuan besar dan nyonya Qilin serta yang lainnya sudah di terbangkan ke Swiss untuk bersembunyi." Ujar Ben lagi.
Ben menceritakan apapun yang sudah terjadi kepada Justin selama Justin tidak sadarkan diri. Ben juga memberi tahu bahwa sistem TITANES di bobol Clins namun sudah di perbaiki oleh Dustin.
"Begitu banyak yang terjadi." Gumam Justin.
Singkat cerita, Dustin sudah di pindahkan keruang perawatan, namun belum sadar setelah melakukan operasi. Hingga hari menjelang pagi Justin sama sekali tidak beristirahat dan masih menunggu hasil dari pemeriksaan kandungan dari racun yang terdapat di belati milik Clins
" Tuan, hasil labnya sudah keluar." Ujar Ben. Justin pun langsung bergegas menghampiri dokter yang melakukan pemeriksaan pada kandungan racun yang terdapat dari belati.
"Bagaimana?" Tanya Justin. Dokter langsung memperlihatkan hasil penelitiannya.
"Ini sejenis Arsenik, namun dia memncampurkannya dengan racun lain. Tapi saya sungguh tidak habis pikir dengan pembuatnya, seharusnya dia bisa saja tewas jika sampai terpapar dari radiasi polonium yang terkandung dari racun itu, dia pasti orang yang sakit jiwa." Ujar Dokter.
"Dia bukan sakit jiwa, tapi seorang psikopat gila." Ujar Justin.
"Ya, anda benar, tuan. Belati ini sudah jelas di rendam dengan racun dengan sangat lama, karena kadar racunnya benar benar meresap kedalam lapisan belati itu sendiri, hanya psikopat yang mampu melakukan hal sedemikian rupa." Ujar Dokter.
"Racunnya tidak akan hilang, dia akan meresap kedalam tubuh dan menggerogoti dari dalam lalu membunuh dengan cara perlahan dalam hitungan hari. Dan sejauh ini, beluma ada penawar yang bisa menghilangkan efek racun jenis ini." Ujar dokter lagi.
"Berikan padaku, aku membutuhkannya." Ujar Justin.
"Tapi sangat berbahaya, tuan. Jika anda ingin menggunakannya, saya sarankan agar tidak terkena kulit anda langsung." Ujar Dokter, dan Justin mengangguk.
Pagi itu setelah Justin mengetahui kandungan racun yang terdapat dari belati milik Clins, dia langsung pergi ke markasnya untuk menyerahkan belati itu kepada anak buahnya yang ahli dalam pembuatan senjata. Justin menatap matahari yang terbit dengan sangat cerah, dan dia juga melihat banyaknya orang yang berlalu lalang dengan senyum cerah di wajah mereka.
Justin melihat sebuah keluarga kecil yang bahagia, dimana sepasang suami istri menggandeng tangan kedua tangan anaknya dari sisi kanan dan kiri anaknya. Ia iri melihat hal itu, dia juga ingin meresakan seperti orang - orang di luar itu bersama Qilin dan anaknya kelak.
'Bukankan sangat nyaman menjalani kehidupan yang damai tanpa harus terlibat dengan dunia gelap? Setelah ini.. setelah aku mengakhiri semuanya.. aku akan menjalani kehidupan yang sederhana dengan Qilin dan anak kami. Aku tidak akan membiarkan mereka berada dalam bahaya, hanya menjadi sebuah keluarga yang sederhana dan bahagia.' Batin Justin.
__ADS_1
"Aku tidak akan menyia - nyiakan kesempatan hidup yang sudah Tuhan berikan kepadaku, kali ini.. aku akan membawa keluarga kecilku pada kedamaian, tanpa anak - anakku harus merasakan apa yang aku rasakan." Gumam Justin
Singkat cerita, Justin pun sampai di markasnya dan semua orang yang belum tahu bahwa Justin sudah sadar, langsung terkejut seperti melihat hantu ketika Justin berjalan masuk.
"T-tuan.." Ujar anak buah Justin dengan berkaca - kaca karena pemimpin mereka telah kembali.
"Terimakasih untuk kalian semua yang selalu setia berdiri di sisiku, aku tidak akan melupakan apa yang telah kalian lakukan untukku. Pengorbanan kalian, perjuangan kalian dan kesabaran kalian yang tebal dalam menghadapi aku." Ujar Justin, dan semua orang menangis mendengarnya.
"TITANES.. sedang dalam masalah yang sangat besar, beberapa mungkin telah memilih jalan mereka sendiri, tapi kalian semua.. selalu berada di sisiku, terimakasih." Ujar Justin lagi, dan menatap satu persatu dari mereka.
"Mari akhiri perang ini.. kita akan berperang satu kali lagi untuk membunuh Clins. Setelah peran ini berakhir, aku akan melepaskan kalian semua..'' Ujar Justin dan anak buah Justin langsung terkejut mendengarnya.
"Tuan membuang kami? A- apakah karena beberapa tim kami ada yang berkhianat?" Tanya seorang anak buah Justin dengan takut. Justin menggeleng dan tersenyum mendengar itu.
"Lihatlah keluar.." Ujar Justin, dan semua orang melihat keluar.
"Tidakkah kalian ingin hidup bebas dan damai bersama keluarga kalian sendiri? melihat tumbuh kembang anak - anak kalian, bermain dengan mereka. Itu maksudku.." Ujar Justin. Tapi semua orang justru menatap kembali kearah Justin, seakan mereka tidak rela.
"Kami ada.. karena tuan, kami akan selalu menjadi milik tuan." Ujar anak buah Justin.
Justin tersenyum, lalu memberikan hormat juga pada anak buahnya. Setelah itu, Justin mendatangi bagian dari belakang markasnya, dimana di sanalah TITANES memproduksi senjata mereka.
"Tuan, anda sudah baik - baik saja?'' Ujar si ahli pembuat senjata.
"Tidak ada yang akan terjadi kepadaku, saat aku memiliki kalian semua bersamaku." Ujar Justin, dan pria itu tersenyum.
"Ini adalah racun, aku minta kamu untuk meleburnya dan menjadikannya peluru. Racunnya sangat mematikan dan tidak memiliki penawar, berhati - hatilah." Ujar Justin, pria itu menerima belati yang berada di dalam kantong pelastik dan menatapnya lamat - lamat.
"Ini... belati?" Tanya si pembuat senjata.
"Ya, belati yang sangat beracun. Aku sangat bergantung kepadamu agar berhasil membuatnya menjadi sebuah peluru." Ujar Justin. Pria itu terdiam sesaat, tapi kemudian dia tersenyum dan mengangguk.
"Baik tuan." Ujarnya.
"Malam ini, aku membutuhkannya." Ujar Justin lagi dan pria itu pun mengangguk.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain..
Clins sedang duduk di kursi santai yang terbuat dari rotan dan di suapi oleh pelayannya yang menggunakan pakaian minim, tangannya yang tertembak semalam sudah di balut perban. Meski terluka, tapi dia tetap saja masih bisa melakukan hal gila.
"Kau bisa menembak?" Tanya Clins pada pelayannya. Pelayan yang saat ini berada di hadapannya pun mengangguk.
"Ya tuan, saya mantan anggota militer." Ujarnya. Clins tersenyum mendengarnya lalu dia mengeluarkan senjata apinya dan memberikannya pada pelayannya.
"Tembak burung itu, sangat berisik." Ujar Clins melirik burung yang sedang berada di atas pohon. Pelayan itu pun tertegun, meski dia anggota militer, menembak burung yang sedang bergerak bebas bukanlah hal yang mudah.
"Baik tuan.." Ujarnya, dari pada dia mendapat hukuman seperti pelayan yang sebelumnya. Pelayan itu pun langsung berdiri dan membidik burung yang sedang lompat kesana kemari.
"Dor!" Burung itu terjatuh, Clins senang melihatnya dia pun menepuk pahanya dan menyuruh pelayannya untuk duduk diatas pangkuannya.
"Keluarkan itu mu, aku ingin memainkannya." Ujar Clins melirik dua bagian menonjol di dada pelayan tadi, Pelayan itu melihat kesekitarnya karena di sana terdapat setidaknya ada delapan orang anak buah Clins yang sedang berdiri menjaga Clins.
"Kau keberatan?" Ujar Clins, pelayan itu langsung menggeleng kuat.
"Tidak tuan, saya senang melayani anda." Ujarnya dan Clins terkekeh mendengarnya. Dengan terpaksa pelayan itu membuka bajunya dan membuka penutup buah dadanya, Terlihatlah pemandangan yang Clins ingin lihat.
Clins tersenyum senang melihatnya, tiba - tiba matanya melirik kekanan dan kekiri lalu dia berkata.. "Buka semua pakaianmu." Ujar Clins dan pelayan itu tertegun.
Pelayan itu pun mengangguk dan mulai menanggalkan satu demi satu pakaiannya, Clins menikmati pemandangan itu hingga pelayan itu sudah sepenuhnya bertelanj*ng.
"Rebahan di sana." Perintah Clins, menunjuk rumput taman yang berada tak jauh darinya. Pelayan itu mengangguk lalu dia pun merebahkan dirinya di rumput.
Clin bangun dan merentangkan tangannya, kedua bawahannya membantunya membuka kimono yang sedang dia gunakan dan kini dirinya tidak menggunakan apapun lagi. " Hadap ke belakang." Perintahnya lepada anak buahnya, dan semua anak buahnya pun mengangguk dengan patuh.
Bagai bintatang liar, Clins melakukannya di rerumputan dengan pelayannya. Berbagai gaya dia lakukan, hingga Pelayan itu lemas. Clins menyudahinya karena dia kecewa dengan pelayanan pelayan itu, tiba - yiba dia nangun dengan marah.
"Kalian semua, buat dia mendes*h lagi." Perintah Clins pada anak buahnya yang berdiri tak jauh dari sana. Anak buahnya yang sudah sama psikopatnya juga dengan Clins pun langsung mengangguk.
"Tidak! tuan, aku tidak mau." Ujar pelayan itu, delapan pria sekaligus, bagaimana bisa dia mengimbanginya? Tapi tidak ada kata ampun bagi Clins.
Mereka berdua langsung menghampiri pelayan tadi dan langsung menikmati tubuh indah pelayan itu, menghujamnya dengan brutal hingga terdengar teriakan kesakitan dari pelayan tadi.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..