Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 152. Penjelasan.


__ADS_3

Justin masuk ke dalam kamar yang di tempati Sierra dan Arthur, lalu mereka langsung duduk di sofa yang tersedia di kamar itu. Kamar itu sangat luas, hingga terdapat sofa dan meja di dalamnya.


"Kamu bilang apa tadi, nak?" Tanya Sierra dengan wajah terkejut.


"Kebangkitan dari kematian, mom. Apakah benar mommy dulu.. pernah meninggal dan kembali hidup?" Tanya Justin.


"Dari mana kamu tahu??" Tanya Sierra. Tentang kematiannya dulu, tidak ada seorangpun selain Arthur yang tahu. Lalu dari mana Justin bisa tahu, pikirnya.


"Karena aku pun demikian.." Ujar Justin.


DEG!!


Sierra saling tatap dengan Arthur, kemudian Sierra langsung menggenggam tangan putra sulungnya itu.


"Kamu.. sudah meninggal?" Tanya Sierra, dan Justin mengangguk.


"Seharusnya iya, mom. Clins menancapkan belati ke bahuku, dan belati itu beracun. Racunnya tidak terdeteksi sampai dokter baru menyadarinya ketika aku sudsh berada di ambang kematian." Ujar Justin.


"Dustin bahkan sampai hampir mendonorkan jantungnya padaku, untuk menyelamatkan aku." Ujar Justin bercerita.


Sierra langsung berlinang air mata mendengarnya, tubuhnya gemetar hebat.


"Sayang, kendalikan dirimu." Ujar Arthur.


"Kenapa ini bisa terjadi, dad? Apa sebenarnya yang terjadi padaku, aku pikir kejadian seperti itu hanya keajaiban yang terjadi, tapi ini menurun pada Justin." Ujar Sierra khawatir.


"Aku takut hal seperti ini akan membahayakan." Ujar Sierra lagi.


"Buktinya kamu selalu baik - baik saja, sayang. Tuhan sayang padamu, pada Justin, pada kita semua. Anggap saja begitu.." Ujar Arthur.


"Suara itu dengan jelas mengatakan bahwa aku memiliki keberuntungan yang sama seperti mommy." Ujar Justin mencoba membuat Sierra tenang.


"Dan setidaknya, hal itu juga yang membuat aku bisa kembali lagi berkumpul dengan kalian, dengan istri dan anakku juga." Ujar Justin.


"Hiks.. Hiks." Sierra masih saja menangis.


"Ya, dulu mommy mu pernah mati, tidak.. mommy seharusnya sudah mati menyandang predikat sebagai kriminal. Tapi Tuhan memberinya kesempatan hidup dan kembali pada masa saat dia masih berusia dua puluh tahun." Ujar Arthur menjelaskan.


Justin tentu terkejut mendengarnya, dia tidak pernah tahu kisah yang sama sekali tidak masuk di akal itu dari ibunya.


"Mommy terlahir kembali, untuk membalas dendam pada semua orang yang berbuat jahat padanya, pada orang - orang yang sudah memfitnah mommy." Lanjut Arthur.


"Hingga akhirnya mommy bertemu dengan daddymu." Potong Sierra.


"Jadi hal seperti itu adalah nyata?" Tanya Justin, dan kedua orang tuanya mengangguk.


"Mommy senang kamu masih baik - baik saja, nak." Ujar Sierra lalu memeluk putra sulungnya itu.


"Aku sudah di beri kesempatan kedua untuk hidup, maka aku tidak akan menyia - nyiakannya." Ujar Justin, sambil mengusap bahu ibunya.


"Aku akan mudur dari TITANES, dad." Lanjut Justin.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Arthur tertegun.


"Aku tidak mau keluargaku dalam bahaya, bukankah hidup biasa saja akan lebih damai dan tentram? Lagi pula ada Dustin, Dia akan memimpin TITANES kedepannya." Ujar Justin.


"Bagaimana dengan Dustin sendiri?" Tanya Arthur.


"Dia pasti mau. Aku ingin hidup damai dengan keluarga kecilku, sudah cukup banyak darah musuh yang bersimbah di tanganku, dad." Ujar Justin.


"Keputusan ada di tanganmu, nak." Ujar Arthur, dia menepuk bahu putranya itu.


"Dan ngomong - ngomong soal Dustin, sepertinya kalian harus menyiapkan diri agar tidak terkejut." Ujar Justin.


"Ada apa dengan adikmu?" Tanya Sierra.


"Mommy akan tahu saat kita sudah kembali ke tanah air nanti." Sahut Justin.


"Aku kembali ke kamar dulu, mom, dad. Qilin sendirian." Ujar Justin lagi, Sierra dan Arthur pun mengangguk.


Justin pun pergi dari kamar orang tuanya itu dan kembali masuk ke kamar Qilin yang saat ini masih terlelap. Justin tersenyum dan di dalam hatinya ia tak henti hentinya bersukur pada Tuhan, karena dia masih di beri kesempatan hidup.


'Aku tidak tahu lagi bagaimana caraku untuk berterimakasih kepadamu Tuhan, aku akui aku tidak terlalu dekat denganmu, tapi kasih sayangmu padaku begitu besarnya.'


'Aku sangat berterimakasih kepadamu, karena engkau masih memberiku kesempatan untuk tetap hidup bersama istriku, Qilin.'


Justin membatin sambil menatap wajah damai istrinya yang terlelap tidur.


"Tidak akan aku sia - siakan kesempatan ini, aku akan menjaga istriku dan anak - anakku kelak." Gumam Justin lalu mencium kening Qilin.


"Kenapa bangun, sayang?" Tanya Justin. Qilin tidak menjawab, tapi dia merentangkan kedua tangannya.


Justin terkekeh melihat itu, dia pun langsung memeluk Qilin dan membawanya kedalam dekapannya.


"Tidur mama.." Bisik Justin di telinga Qilin.


"Hmm.." Gumam Qilin. Tapi bukannya tidur, Qilin justru menjadi nakal.


Qilin membuka matanya dan tatapannya bertemu dengan Justin. Justin pun tersenyum lalu mengecup singkat bibir Qilin.


"Kenapa malah melek, hum?" Tanya Justin.


"Aku sedang merindukan bau wangimu." Celetuk Qilin, Qilin menggesek - gesekan wajahnya ke ketiak Justin sambil mengendus, sampai Justin terkekeh.


"Ah.. aku suka wangi tubuhmu." Ujar Qilin, ketika puas menghirup wangi tubuh Justin.


"Kenapa jadi nakal begini, hum? Ini sudah malam, sayang." Ujar Justin.


"Aku merindukan wangi yang sempat hilang beberapa hari ini dariku, aku sangat merindukanmu Justin." Ujar Qilin dengan wajah sedih.


"Maaf, ya.. aku tidak bermaksud begitu. Aku juga sangat merindukanmu, sayang." Ujar Justin, kemudian mencium Qilin.


Ciuman ringan itu berubah menjadi ciuman panas ketika hasrat keduanya sama - sama memuncak. Justin yang sebelumnya mampu mengendalikan dirinya, kini tidak lagi bisa menahan kerinduannya.

__ADS_1


" Bolehkah aku menengok si bulat, sayang?" Tanya Justin, Qilin pun mengangguk, karena memang dirinya juga menginginkannya.


Tak butuh waktu lama, Justin pun langsung melancarkan aksinya. Ia melepaskan kerinduan yang sudah sangat memuncak di ubun - ubun itu pada istri tercintanya.


Beberapa hari kemudian..


Dan setelah semuanya sudah di urus, Justin membawa Qilin dan yang lain kembali ke tanah air.


Dustin terlihat menyambut kedatangan keluarganya itu di bandara bersama J. Ya J, sebagai istri pura - pura Dustin, dia juga harus ada di sana untuk menyambut kedatangan Sierra dan Arthur.


Sierra sempat mengernyit bingung melihat seorang wanita berwajah blasteran yang sangat cantik dengan senyum se cerah matahari berdiri di sisi Dustin.


"Mom, dad, kakak ipar, selamat datang." Ujar Dustin menyambut keluarganya itu.


"Siapa dia, nak?" Tanya Sierra.


"Halo mom, aku Jade Dailyn, istri Dustin." Ujar J, memperkenalkan diri.


Sierra tentu tertegun, begitu juga dengan Arthur dan Qilin. Dustin langsung berdehem untuk mencairkan suasana.


"Mom, dad. Ada yan harus aku sampaikan pada kalian." Ujar Dustin.


"Ya, kau memang harus menjelaskan ini, Dustin." Ujar Sierra. Sementara J hanya tersenyum manis.


'Jadi namanya Jade, kenapa dia hanya memperkenalkan dirinya padaku sebagai J?' Batin Dustin.


Dan setelah beberapa saat, kini semua orang sudah sampai di hotel milik keluarga Edward dan mereka saat ini sedang duduk berkumpul untuk mendengar penjelasan dari Dustin.


"Katakan, nak. Apa maksudnya ini?" Tanya Arthur.


"Dad, mom, dia memang istriku. Maaf tidak memberi tahu kalian, karena waktunya tidak pas. Tapi kami memang saling mencintai dan memutuskan menikah dadakan di luar negeri." Ujar Dustin.


Sierra dan Arthur pun saling pandang, bukan apa - apa, mereka berdua tahu bahwa Dustin mencintai Qilin, sampai Dustin harus mengasingkan diri di luar Negeri. Lalu dari mana datangnya wanita yang Dustin kenalkan sebagai istrinya itu?


"Siapa namamu tadi, nak?" Tanya Sierra pada J.


"Jade, mom." Sahut Jade.


"Maafkan Dustin karena baru memperkenalkan kamu pada kami, nak. Selamat datang di keluarga ini, keluarga Edward." Ucap Sierra, Jade pun tersenyum senang.


"Mommy dan daddy tidak marah?" Tanya Dustin terkejut.


"Kamu sudah memilihnya, untuk apa kami marah. Jaga dan cintai istrimu, nak.. Laki - laki yang baik akan melindungi wanitanya." Ucap Arthur.


"Seperti daddymu mencintai dan melindungi mommy." Timpal Sierra.


Dustin pun mengangguk, tapi di anggukannya itu, dia berpikir keras. Pernikahannya hanya pura - pura, dan dia sama sekali tidak mencintai gadis bar - bar bernama Jade itu.


"Terimakssih, mommy Sierra." Ucap Jade, lalu memeluk Sierra.


TO BE CONTINUED..

__ADS_1


__ADS_2