Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 62. Melatih diri.


__ADS_3

Hari berikutnya, Qilin kembali terkejut ketika dia melihat pria yang kemarin mengantarkan makanan untuknya kembali datang dengan makanan di tangannya.


" Morning.." Ujar pria itu.


Qilin sedikit heran, karena wajah pria itu bukan wajah wajah orang Indonesia, tapi kemarin pria itu berbicara dengan bahasa Indonesia dengan sangat fasih, dan hari ini juga.


" Kamu kenapa selalu diam saat aku datang? Aku tidak akan menyakitimu." Ujar pria itu.


'' Siapa kamu?'' Tanya Qilin.


'' Kamu mau aku menjadi siapa? '' Ujar pria itu, aneh. Qilin tentu mengernyitkan keningnya mendengar pria itu berbicara demikian.


'' Apa kamu juga di tahan di sini?'' Tanya Qilin.


'' Tidak, aku datang untuk memberikan kamu makanan.'' Ujar pria itu.


'' Jadi kamu adalah anak buah pria yang menculik ibuku?'' Tanya Qilin lagi.


'' Bukan juga..'' Ujar pria itu.


Qilin semakin di buat bingung dengan jawaban ambigu dari pria itu, terlihat pria itu berjalan menuju ke meja makan dan meletakan makanan Qilin di sana. Pria itu kemudian berjalan menuju ke kamar yang di tempati Qilin.


'' Hey! kau mau apa?'' Ujar Qilin.


Pria itu hanya tersenyum lalu masuk kedalam kamar Qilin, namun dia hanya menekan sebuat tuas dan kemudian dia menyalakan remot ac yang terdapat di kamar Qilin.


'' Ibumu semakin patuh, jadi fasilitas yang kamu dapat semakin banyak.'' Ujar pria itu dan berjalan keluar dari kamar Qilin.


'' Hey! sebenarnya kau siapa? jika kau bukan anak buah dari pria yang menculik ibuku, lalu kau siapa?'' Tanya Qilin, sambil mengekori kemana pria itu pergi namun dari jarak yang tidak terlalu dekat.


Tiba tiba pria itu berhenti mendadak dan membuat Qiliin langsung ikut mengerem kakinya dan nyaris terjatuh. Pria itu tersenyum melihat kekonyolan Qilin, lalu mendekat kearah Qilin, tapi tidak begitu dekat karena dia tau Qilin masih takut kepadanya.


'' Pertama, namaku bukan hey.. aku punya nama. Namaku Lucio, kamu bisa panggil aku Cio.. '' Ujar pria itu.


'' Oke, maaf.. C- Cio.'' Ujar Qilin masih mundur mundur ketakutan.


'' Aku bisa menjadi apapun yang kamu mau, jika kamu butuh bantuan, katakan saja..'' Ujar Cio ramah, lalu duduk di meja makan yang terdapat makanan Qilin.


'' Bisakah kamu bawa aku keluar dari sini?'' Tanya Qilin langsung, dan duduk di seberang Cio.


'' Kalau untuk hal itu, aku tidak memiliki wewenang sama sekali, jadi maaf aku tidak bisa membantumu.'' Ujar Cio. Qilin pun langsung sendu, yang dia mau dan dia butuhkan adalah keluar dari pulau tak berpenghuni itu.


'' Tapi jika kamu mau keluar dari sini, aku punya caranya..'' Ujar Cio dan Qilin langsung berbinar.


'' Bagaimana??'' Tanya Qilin langsung.


'' Berlatih untuk menjadi kuat, agar tidak seorang pun bisa menghalangimu dan mengalahkan kamu. Aku bisa mengajarimu itu..'' Ujar Cio.


'' Berlatih apa?'' Tanya Qilin.

__ADS_1


Cio menarik makanan Qilin dan menyodorkan nya ke hadapan Qilin, sambil menganggukan kepalanya.


'' Makan dulu makananmu, baru aku akan memberitahumu.'' Ujar Cio, Qilin menatap mata Cio dan akhirnya Qilin mengangguk.


Qilin pun memakan makanannya dengan Cio yang berada di hadapannya menatap Qilin makan. Qilin tidak curiga sedikitpun jika di makanan itu ada racun atau tidak, yang dia pikirkan adalah dia ingin segera keluar dari sana. Dan setelah makanan itu habis, Cio memberikan sebuah buku kepada Qilin.


'' Itu adalah buku untuk melatih pernafasanmu, aku beri kamu waktu satu minggu untuk kamu mengatur pernafasanmu terlebih dahulu. Dan setelah seminggu, aku akan datang lagi kemari untuk mengecek apakah kamu sudah berhasil atau belum.'' Ujar Cio.


'' Lama sekali, apa tidak bisa hari ini saja?'' Ujar Qilin.


'' Ikuti prosesnya jika kamu ingin hasil yang terbaik. Ingat.. nasibmu tergantung dengan tindakan ibumu.'' Ujar Cio, dan Qilin terdiam.


'' Dan ya.. jangan sampai buku itu di temukan oleh anak buah pria yang menculik ibumu, atau kamu akan kehilangan nyawamu, juga dengan ibumu. Qilin.. nyawamu dan nyawa ibumu, ada di tanganmu. Kekuatanmu.. yang akan membawamu pergi bebas bersama ibumu.'' Ujar Cio dengan sungguh sungguh.


Tapi kemudian Cio tersenyum dan bangun lalu mengusap kepala Qilin, Qilin tentu mundur ketakutan.. tapi kemudian Cio pun melangkah pergi.


'' Ingat Qilin, satu minggu lagi aku akan datang untuk melihat perkembanganmu.'' Ujar Cio sebelum hilang di balik tembok.


Qilin melihat buku itu dengan begitu seksama, lalu membukanya.. Rupanya ada beberapa pelatihan mengatur nafas, yang tentu saja tidak akan selesai jika di pelajari dengan waktu singkat, bahkan satu hari.


'' Mama.. aku akan berlatih, agar menjadi kuat. Justin.. aku akan pulang.'' Gumam Qilin.


Qilin mulai membuka lembar pertama dan mulai berlatih pernafasan yang di tuliskan di sana, rupanya memang sedikit sulit untuk orang yang tidak pernah menyentuh hal hal berbau pelatihan diri.


Beberapa hari berlalu..


Hingga beberapa hari, Qilin semakin jauh berlatih, hari ini dia sedang lari pagi mengelilingi hamparan pantai di pulau itu, rambut peraknya di kuncir kuda dan dia berlari dengan semangatnya.


Masalahnya di sana air minum Qilin begitu minim, hingga dia harus manahan haus ketika berlatih, dan hanya akan minum ketika pelatihan itu selesai.


" Semangat Qilin, kamu bisa." Ujar Qilin dan dia kemudian kembali berlari.


Dan setelah beberapa putaran, dia akhirnya menguasai tekhnik pernafasan agar tidak mengalami sakit perut ketika berlari. Hingga tiba tiba Qilin mendengar sebuah suara heli kopter.


Sebuah heli kopter tampak datang, dan seperti hari hari sebelumnya, orang orang dari heli kopter itu hanya meninggalkan barang barang yang di persiapkan untuk Qilin di landasan helikopter, lalu pergi lagi.


Qilin berlari menuju landasan helikopter dan mebgernyit bungung ketika melihat banyaknya barang yang di tinggal untuknya di sana. Tapi bukannya senang Qikin justru sedih.


" Mama, mama pasti sangat tersiksa berpura pura menjadi baik, tunggu Qilin, ma.. Qilin akan giat berlatih agar Qilin bisa kuat melawan mereka."Gumam Qilin.


Terdapat makanan, air minum kemasan sekitar dua dus, dan satu koper yang entah berisi apa. Qilin pun membawanya dengan air mata yang kembali berlinang.


Ibunya sudah pasti lebih tersiksa bersama pria itu, dia harus menahan sikap dan bahkan tidak boleh bersedih agar Qilin tetap bisa makan dan hidup dengan baik di pulau tidak berpenghuni itu.


Qilin membuka koper tadi, rupanya di dalamnya terdapat banyak pakaian ganti untuk Qilin.


Qilin merebahkan dirinya di lantai, dan kemudian memejamkan matanya sambil dia memegang dadanya, dia merindukan kebebasan, dia merindukan Justinnya.


' Justin..' Batin Qilin, dan sebutir air mata lolos dari mata Qilin yang terpejam.

__ADS_1


Rasanya lebih sesak dari pada saat dulu dia di tinggal justin untuk operasi. Dulu dia bisa hidup dengan bebas, tapi kini dia di sangkar di sebuah pulau yang bahkan dia tidak tahu dimana itu.


Dan di tanah air..


Justin sedang berada di sebuah dermaga di tengah malam. Ia tampak sedang menunggu seseorang, di sana bersama Ian.


" Apa orangnya sudah datang?" Tanya Justin.


" Seharusnya sudah, itu mereka." Ujar Ian.


Anak buah Justin menyeret seorang pria yang baru di tangkapnya, mata pria itu di tutup dan kedua tangannya di ikat dengan sangat erat.


" Joe Simons.." Ujar Justin.


Ya, Joe Simons, adik dari Carol Simons, yang juga adalah kakak tiri dari Dewi, ibu kandung Qilin.


" L- lucifer.. kenapa kau menangkapku? Aku tidak menyinggungmu." Ujar Simons kerakutan.


Sejak kematian kakaknya dulu, Joe Simons sama sekali tidak berani mengusik Titanes, Joe mengenali suara Justin sebagai Lucifer, karena Justin pernah bertemu dengan Joe dulunya.


" Kau tahu, kau adalah orang yang beruntung karena bisa bertemu dengan Lucifer dua kali. Biasanya, orang yang sudah bertemu lucifer akan mati, seperti kakakmu, Carol." Ujar Ian.


" Ya, tapi aku tidak menyinggung Titanes.." Ujar Joe.


" Kau memang tidak menyinggung, aku hanya ingin bertanya kepadamu." Ujar Justin.


" Bertanya apa?" Tanya Joe.


" Kau ingat dengan Dewi??" Tanya Justin, dan Joe terdiam.


" Dengan siapa ayahmu menikahkan Dewi? Dan dimana dia tinggal?" Tanya Justin.


" A- aku tidak tahu." Ujar Joe.


" CTTAS!! "


" Aarrghhh" Joe berteriak kesakitan karena tubuhnya di cambuk oleh Ian.


" Cambuk ini akan terus memukulmu, sampai kau jujur pada kami." Ujar Ian.


" Aku tidak.. Aarrgghh!!!" Teriak Joe lagi ketika Ian kembali mencambuknya dengan keras.


" AARRGGH!!! Aku tidak berbohong, aku tidak tahu wanita itu di bawa kemana, setelah menikah, dia tidak ada kaitannya dengan keluarga Simons lagi." Ujar Joe.


" Cukup, bawa saja dia ke markas." Ujar Justin, dan Ian mengangguk.


Justin menatap jauh langit malam di hadapannya itu, identitas suami Dewi sangat misterius dan tidak mudah di temukan. Tempat tinggalnya yang tercatat dlaam penyelidikan Ian, itu hanya sebuah rumah lama yabg sudah tidak di tinggali.


" Jika mereka masih tinggal di negara yang sama, pasti aku bisa menemukannya, tapi kenapa sulit.. Dimana sebenarnya dia tinggal dan menyembunyikan Qilin dan ibunya.." Gumam Justin.

__ADS_1


" Tuan, ayo." Ujar Ian, Justin mengangguk lalu pergi dari sana.


TO BE CONTINUED..


__ADS_2