
Ke esokan harinya..
Qilin tidak terlihat dimanapun di bagian rumah itu, tidak di rumah itu, tidak juga di pantai biasa Qilin berlari. Qita hanya di perlihatkan dengan pemandangan yang begitu indah dari air lautan yang begitu tenang di siang hari.
Hingga tiba tiba Qilin muncul dari dalam air dengan rambut peraknya yang basah. Dengan sebelah tangan nya Qilin mengusap air dari wajahnya, lalu bernafas terengah engah. Rupanya Qilin belajar menahan nafas di dalam air.
'' Huft.. huft.. huft..'' Qilin terengah - engah.
Qilin berjalan menuju ke tepian pantai, lalu dia melihat jam yang terpasang di luaran dinding rumahnya, sebagai patokan berapa lama Qilin sudah berada di dalam air.
'' Baru lima menit.. masih belum cukup lama. Tapi sebentar lagi air akan pasang, dan ombaknya akan besar, aku akan terseret air jika melanjutkannya.'' Ujar Qilin.
Masalahnya hanya satu, Qilin tidak bisa berenang. Qilin bahkan berada di dalam air dengan was - was, takut jika ombak laut akan menyeret dan menghanyutkannya. Kini Qilin tahu, yang di katakan oleh Justin bahwa penting untuk seseorang bisa berenang.
'' Sekali lagi..'' Ujar Qilin, dan akhirnya dia kembali masuk kedalam air dan dengan yakin.. dia menenggelamkan dirinya lagi kedalam air.
Tiba tiba angin besar datang setelah baru saja Qilin masuk kedalam air, rupanya angin itu membawa gulungan awan hitam yang tampaknya membawa hujan badai. Dan benar saja, seketika langit menjadi gelap seluruhnya, ombak lait juga menjadi besar.
Di dalam air, Qilin merasakan keanehan ketika merasa tubuhnya teguncang guncang oleh air laut dari dalam, Qilin yakin ada yang tidak beres, dia pun mencoba untuk bangun dan Qilin terkejut ketika melihat suasana yang sebelumnya begitu terang, kini menjadi begitu gelap.
'' Gawat, hujan badai.'' Ujar Qilin dan dia berjalan dengan terburu buru untuk menepi, namun ombak besar dari belakang Qilin menghantam tubuh Qilin hingga Qilin tersungkur.
Qiliin menjadi begitu panik ketika merasakan tubuhnya terseret ombak air laut, ia mencoba meraih tepian tapi nihil.. dia terseret ombak.
'' Tolong..'' Teriak Qilin ketika dia semakin terseret lebih dalam.
Tapi siapa yang bisa datang menolongnya, itu hanya sebuah Pulau yang tidak memiliki penghuni lain selain Qilin.
Qilin tenggelam, namun dia mencoba sebisa mungkin muntuk bergerak secara asal dengan panik. Hujan besar turun dan itu semakin menambah ketakiytan Qilin.
Suara petir yang sangat Qilin takutkan terdengar begitu kerasnya. Qilin hanya bisa menangis ketakutan, takut petir dan takut tenggelam. Qilin takut mati sebelum dia bisa membawa pergi ibunya bersamanya.
' Justin.. aku takut.' Batin Qilin di tengah keputus asaannya. Qilin pun semakin tidak bisa merasakan tubuhnya lagi, dan tenggelam..
Di dalam air laut yang begitu kerasnya megombang ambing tubuh Qilin, Qilin hilang kesadaran. Di otak Qilin memutar banyak kenangan manis dirinya dengan Justin yang telah mereka lewati bersama.
__ADS_1
' Sayang, aku mencintaimu..' Kata kata yang pernah Justin ucapkan bahkan terngiang jelas di otak Qilin.
' Sayang, mama menyayangimu.' terngiang suara Dewi di pikiran Qilin.
' Aku selalu mencintai kamu, dan akan mencintai kamu.' Kembali suara Justin menggema di pikiran Qilin.
Tiba tiba Qilin membuka matanya dan dengan gerakan asal dia mencoba keluar dari air.
' Aku harus hidup, aku harus hidup.' Batin Qilin saat ini.
Qilin mencoba berenang menuju permukaan air, sambil dia berlatih menahan nafasnya. Dan akhirnya Qilin berhasil muncul di permukaan.
Dengan susah payah, Qilin berenang dengan asal menuju ke batu karang, dan dengan bantuan dorongan ombak, tubuhnya lebih cepat terhampas dan sampai di bebatuan karang.
" AARGH!!" Qilin kesakitan karena tubuhnya menabrak batu karang.
Dengan erat, Qilin berpegangan dengan batu karang itu sambil menahan serangan dan hantaman ombak air laut.
Qilin tidak lagi menangis ketakutan karena suara petir, fokusnya adalah agar tubuhnya tidak hanyut terbawa air ombak yang begitu besar yang terus menerjangnya.
" Kuatlah Qilin.. kamu kuat." Gumam Qilin sambil kedinginan.
Ke esokan harinya..
Qilin membuka matanya perlahan karena silau matahari pagi menerpa wajahnya.
' Sudah pagi.' Batin Qilin.
Qilin mencoba bangun, namun ia merasakan sakit yang teramat sangat di kakinya, rupanya kaki dan tubuhnya terluka karena hantaman air yang membuatnya menabrak batu karang.
Qilin dengan susah payah bangun dan merangkak naik dari batu karang itu menuju ke atas.
" Aw! Shhh... " Tangan Qilin berdarah karena batu karang tajam yang menggores telapak tangannya.
Namun Qilin tidak menyerah, dia kembali merangkak naik, hingga akhirnya dia sampai di permukaan.
__ADS_1
" Huft.. Akhirnya." Gumam Qilin.
Beruntungnya, batu karang besar itu masih menempel dengan bibir pantai pulau tempat tinggal Qilin. Qilin pun berjalan di atas batu karang dengan kaki telanjangnya menuju ke tepian.
Lukanya tidak lagi dia rasakan dan pedulikan, fokusnya adalah agar dia cepat sampai di tepian dengan selamat.
Dan ya.. akhirnya, Qilin sampai di pantai. Qilin melihat bekas jejak hujan yang membuat sekitaran pantai itu menjadi kotor, dia pun berjalan masuk kedalam rumah.
Qilin langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, agar dia bisa dengan cepat mengobati lukanya.
'Obat.. apa di sini ada P3K?' Batin Qilin, ketika baru ingat dengan obat obatan.
Tapi dia tetapa lanjut ke kamar mandi dan membersihkan dirinya, setelah sudah bebas dari bahaya, barulah terasa begitu perihnya luka luka di sekujur tubuh Qilin.
Dan setelah selesai mandi, Qilin pun mencari cari kotak obat yang mungkin ada di rumah itu, dan beruntungnya ada. Qilin pun langsung mengobati lukanya sendiri, meski dia harus menahan sakit yang teramat sangat, karena luka luka nya besar dan sedikit terbuka. Dan setelah selesai, Qilin pun merebahkan dirinya di sofa, lalu kembali tertidur.
Sementara itu, di tanah air..
Justin sedang berdiri di tepian kolam renang, ingatanya memutar semua kenangan manis yang dia dan Qilin lalui selama tiga hari saat Qilin tinggal di sana.
'' Kamu merindukannya, kak?'' Tanya Dustin yang tiba tiba saja muncul dan membuyarkan lamunan Justin.
'' Aku merasa gagal menjaga wanita yang aku cintai, aku tidak bisa menemukannya di manapun.'' Gumam Justin.
'' Aku mendapatkan informasi, meski minim tapi setidaknya itu bisa membuat titik pencarian kita terhadap Qilin lebih pasti.'' Ujar Dustin, dan Justin langsung menatap kearah Dustin.
'' Aku meminta bantuan pada seorang teman, dan dia mendapatkan info bahwa suami dari ibu kandung Qilin yang sekarang tinggal di Swiss. Namun tidak di ketahui di bagian mana dia tinggal, informasi tentangnya begitu minim dan nyaris tidak bisa kita cari.'' Ujar Dustin.
'' Jika demikian, berarti ayah tiri Qilin memiliki posisi atau mungkin dia seorang yang tinggi.'' Ujar Justin.
'' Jadi.. mari kita terbang ke Swiss, untuk mencari Qilin sampai kita menemukannya.'' Ujar Dustin sambil mengulurkan tangan nya, dan Dustin pun menyambutnya.
'' Terimakasih sudah membantu kakak.'' Ujar Justin dan Dustin pun memeluk Justin.
'' Itu tugas seorang adik.'' Ujar Dustin dan menepuk punggung Justin.
__ADS_1
Lebih dari itu juga, Dustin khawatir dengan Qilin. Dustin sampai mencari seorang informan ilegal yang bekerja di dunia gelap dan menjual informasi untuk mencari keberadaan Qilin.
TO BE CONTINUED...