
Qilin sudah di letakan di UGD, dan langsung di lakukan tindakan. Semua sudah di cek dan suhu tubuhnya normal, hanya Qilin selalu mengerang kesakitan.
Dokter akhirnya memberanikan diri bertanya tanya kepada Justin apa saja yang sebelumnya Qilin makan, dan Justin menjawabnya.
" Dia makan banyak makanan siang ini." Ujar Justin.
Dan terjawab sudah apa penyebab sakitnya perut Qilin. Qilin kekenyangan dan membuat perutnya begah hingga berakhir kesakitan.
" Nona Qilin hanya kekenyangan, tuan." Ujar Dokter.
" Dia kesakitan begitu, dan kau hanya mengatakan dia kekenyangan?" Ujar Justin tidak percaya.
" Iya, tuan." sahut Dokter.
" Periksa lagi lebih teliti." Ujar Justin.
Dokter itu mengangguk, barang kali memang pemeriksaan nya kurang jeli, tapi memang kenyataan nya Qilin kekenyangan.
" Nona Qilin memang hanya kekenyangan, tuan." Ujar Dokter.
" Yang benar saja." Gumam Justin.
' Lalu apa yang harus saya katakan, tuan.. ' Batin dokter itu frustasi.
" Maka berikan dia obat untuk meredakan rasa sakitnya, dia begitu menderita." Ujar Justin.
" Nona Qilin tidak perlu di beri obat, tuan. Nona Qilin hanya perlu di bawa berjalan jalan saja untuk menurunkan makanan di perutnya." Ujar Dokter.
" Kau niat tidak menjadi Dokter! Dia begitu kesakitan bagaimana mungkin dia bisa jalan?! " Ujar Justin marah.
" Baik tuan, saya akan berikan obat pada nona Qilin. " Ujar Dokter itu akhirnya.
Dokter itu pun akhirnya memberikan obat pada Qilin, dan akhirnya setelah beberapa saat Qilin pun di pindahkan di ruang rawat. Qilin bahkan dudah tidak sadarkan diri karena sakit perutnya.
Pelajaran berharga bagi kita, jangan makan berlebihan. Makanlah secukupnya, jangan kekenyangan dan jangan kelaparan. Makan sedikit namun sering, itu akan lebih baik,
dari pada nanti berakhir seperti yang di alami Qilin.
" Tuan, gerakan mengusap perut bisa meredakan sakit perut dengan lebih baik. Mungkin itu akan berpengaruh untuk nona Qilin." Ujar Dokter.
Dan Justin langsung terdiam, mengusap perut.. mengusap perut.. Kata kata itu terngiang di kepalanya, bahkan sampai dokter yang mennagani Qilin sudah pergi.
Justin pun duduk di sebelah Qilin, dan tatapannya saat ini menuju ke perut Qilin yang tertutup selimut. Justin tidak yakin bisa melakukan hal sejauh itu, karena sejauh ini dia hanya memeluk dan mencium, tidak pernah sampai melakukan lebih dari itu.
Tapi tiba tiba wajah Justin merah merona, karena dia mengingat dengan kejadian saat dirinya masih idiot, dia melihat bagian tubuh Qilin yang polos.
' Astaga Justin, dasar kau penjahat.' Batin Justin, mengutuk dirinya sendiri.
Tiba tiba Qilin membuka matanya, dan dia melihat Justin yang menghela nafas dengan begitu kasar, wajah Justin juga terlihat sangat merah.
" Justin." Gumam Qilin, dan itu mengejutkan Justin.
" Sayang, kamu sudah sadar? Bagaimana keadaanmu, apakah masih sakit?" Tanya Justin beruntun sambil mengusap tangan Qilin.
__ADS_1
" Sudah tidak sakit seperti tadi." Ujar Qilin.
" Sukurlah.." Ujar Justin lega.
" Aku kenapa?" Tanya Qilin.
" Kamu baik baik saja, hanya saja kamu kekenyangan hingga membuat perutmu begah." Ujar Justin.
Qilin menjadi malu sendiri, dia seolah begitu rakus, sampai sampai bisa kekenyangan dan begah hingga perutnta kesakitan.
" Bolehkah kita pulang saja? Aku sudah tidak apa apa." Ujar Qilin.
" Bukankah kamu masih sakit?" Tanya Justin.
" Aku tidak apa apa, kita pulang saja." Ujar Qilin.
" Baiklah, aku panggil dokter sebentar." Ujar Justin dan Qilin mengangguk.
Tak lama, dokter pun tiba dan langsung mengecek kondisi Qilin. Dan setelah di pastikan Qilin sudah baik baik saja, dokter pun mengizinkan Qilin pulang.
" Bzzz.." Bunyi getar ponsel Justin.
Justin melihat layar, dan rupanya ibunya yang menghubunginya.
" Halo, mom.." Ujar Justin.
" Apakah Qilin baik baik saja?" Tanya Sierra dengan nada khawatir.
" Dia baik baik saja, mom. Kami sudah mau pulang." Ujar Justin, menatap ke arah Qilin yang juga menatapnya.
Sierra tidak tahu bahwa Qilin sakit perut dan sampai masuk ke rumah sakit.
" Tidak, kami baru mau pulang. Mommy jangan khawatir, Qilin baik baik saja." Ujar Justin.
" Baiklah, nak.. kabari mommy jika ada apa apa dengan Qilin, mentalnya bisa terluka karena ulah ibu adopsinya itu. Jangan biarkan dia sendirian, nak.. karena jika dia sendirian, dia akan memikirkan hal yang tidak tidak." Ujar Sierra.
" Iya, mom. Ya sudah, aku matikan dulu." Ujar Justin.
Setelah di iyakan oleh Sierra, Justin pun mematikan sambungan teleponnya, dan kembaki menghampiri Qilin yang saat ini menatap Justin dengan bertanya tanya.
" Mommy??" Tanya Qilin.
" Hm.. Mommy datang ke restoran dan ikut memarahi nenek lampir itu." Ujar Justin, dan Qilin terperanga mendengarnya.
" Mommy datang ke sana? Astaga.. " Gumam Qilintidak percaya.
" Mommy sangat sayang kepadamu, sayang.. seperti aku juga yang sangat menyayangimu, tapi aku lebih besar." Ujar Justin, dan Qilin terkekeh.
Tidak pernah Qilin sangka dalam hidupnya, bertemu dengan orang orang baik yang menyayanginya dan mencintainya. Keluarga Justin adalah keluarga yang sangat baik yang pernah Qilin temui.
' Aku sangat berterimakasih kepadamu, Tuhan.. Engkau mempertemukan aku dengan orang orang baik yang sayang kepadaku.' Batin Qilin.
" Sudah siap pulang?" Tanya Justin dan Qilin mengangguk antusias.
__ADS_1
Justin pun membuka selimut Qilin, lalu menggendongnya. Qilin tidak protes atau apapun, karena sebenarnya perutnya masih sakit, hanya saja dia malu jika harus di rawat di rumah sakit karena kekenyangan.
Terlihat Ian yang sudah siaga di depan pintu, dan dia yang akan mengawal Justin dan Qilin untuk keluar dari rumah sakit. Dan akhirnya mereka berhasil masuk ke dalam mobil.
Sepanhang jalan, Qilin hanya diam saja di pelukan Justin, Justin pun mengusap usap kepala Qilin dengan sayang, hingga akhirnya mereka sampai di rumah Justin.
" Kenapa kita ke rumahmu?" Tanya Qilin.
" Hm.. suoaya aku bisa memantau kamu dua puluh empat jam." Ujar Justin, dan Qilin meranga mendengarnya.
Pintu mobil di buka, lalu Justin pun menggendong Qilin masuk kedalam rumahmya. Qilin di bawa langsung masuk ke dalam kamar, dan di rebahkan di ranjang Justin.
" Istirahatlah, atau kamu mau makan sesuatu?" Tanya Justin dan Qilin menggeleng.
Bagaimana mungkin dia bisa makan sesuatu, dia bahkan masih merasa kekenyangan.
" Aku mandi dulu, hum?" Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.
" Jangan berpikir yang tidak tidak lagi, oke? Kamu punya aku, mommy, daddy yang sayang padamu." Ujar Justin.
" Iya.." Sahut Qilin, sambil tersenyum.
Justin pun mengecup kening Qilin sebelum akhirnya dia pergi ke kemar mandi. Kenapa Justin membawa Qilin ke rumahnya, karena yang di katakan Sierra sebelumnya itu benar, Mental Qilin bisa saja terluka.
Meski Qilin selama ini melaluinya sendirian sejak dia kecil, tapi Justin tidak mau Qilin tenggelam kembali ke masalalunya. Dan benar saja.. Qilin menangis tanpa suara setelah Justin masuk ke dalam kamar mandi.
Selama ini hanya itu yang bisa Qilin lakukan, sedih sendirian dan menangis sendirian ketika ia mendapatkan perlakuan kasar atau perkataan yang menyakitkan dari ibu adopsinya.
Hingga setelah terdengar bunyi pintu kamar mandi, Qilin langsung menghapus air matanya dan berbalik badan lalu berpura pura tidur.
" Sayang.." Panggil Justin, namun Qilin tidak menyahut.
Justin mendekat dan melihat mata Qilin yang basah karena menangis. Justin berpikir perut Qilin kesakitan lagi, karena Qilin memegangi perutnya.
" Apa perutnya masih sakit?" Gumam Justin.
Justin tiba tiba teringat dengan perkataan dokter yang mengatakan bahwa usapan tangan bisa meringankan sakit perut.
Justin ragu ragu, tapi dia juga tidak tega melihat Qilin kesakitan terus terusan. Dia pun berbaring di belakang Qilin lalu mengusap perut Qilin yang masih terhalang baju Qilin.
Qilin membuka matanya karena sentuhan Justin, dan Justin tetap melanjutkan usapannya di perut Qilin.
" Apa perutmu masih sakit, sayang?" Tanya Justin, dan Qilin mengangguk.
" Kata dokter, usapan perut bisa membuat sakit perut reda, jadi aku mengusap usap perutmu." Ujar Justin.
" Justin.." Gumam Qilin karena merasa tidak nyaman.
" Ada apa sayang? " Tanya Justin.
Justin tidak menyadari bahwa wajah Qilin merah, hingga tatapan keduanya bertemu dan Justin pun mencium bibir Qilin untuk menghilangkan rasa grogi Qilin.
Tangan Justin kemudian menyelusup ke balik baju Qilin, lalu mengusap perut Qilin secara langsung tanpa penghalang baju lagi. Tapi kini Justinlah yang merasakan tidak nyaman..
__ADS_1
' S*al, dia bangun..' Batin Justin.
TO BE CONTINUED...