
Qilin masih berada di ruang tengah, ia terlalu larut dengan buku novel yang dia baca sampai tidak sadar dengan waktu yang sudah tengah malam.
" Hoamm.." Qilin menguap. Ia meletakan bukunya dan meregangkan tubuhnya.
" Astaga, sudah malam." Gumam Qilin.
Qilin bangun dan mengambil air minum untuk dia bawa ke atas, tapi lagi lagi dia mendengar suara di atas.
Qilin pun berjalan ke atas, dan kali ini dia membawa senter untuk berjaga jaga kalau kalau mati lampu seperti kemarin.
" Kenapa jendela balkon terbuka." Gumam Qilin dan berjalan untuk menutupnya.
Setelah menutup pintu balkon, Qilin pun masuk ke dalam kamar Justin dan menyiapkan dirinya untuk tidur. Qilin mematikan lampu, dan menggantinya ke lampu tidur.
Qilin merebahkan dirinya yang sudah sangat mengantuk itu ke ranjang dan mulai memejamkan mata. Tiba tiba seorang pria dengan pakaian serba hitam mendekat kearah Qilin.
Entah dari mana munculnya pria itu, tiba tiba saja dia ada di dalam kamar Qilin. Pria itu duduk di tepi ranjang Qilin dan perlahan tangannya terulur membelai wajah Qilin.
Qilin membuka matanya dan tersenyum..
" Justin, kita bertemu lagi dalam mimpiku. Apakah karena aku merindukanmu?" Gumam Qilin dengan mata terkantuk kantuk.
Ya, pria itu adalah Justin. Justin yang saat ini menatap dalam Qilin sambil tersenyum manis pun menganggukan kepalanya.
" Sudah sebulan lamanya kita tidak bertemu, kamu sudah bahagia dengan hidupmu, pasti kamu lupa denganku. " Gumam Qilin, lalu air matanya meleleh.
" Tidak, Justin tidak pernah melupakan Qilin." Ujar Justin, lalu mengecup kening Qilin.
" Iya, kah? akan sangat bagus jika itu sungguh nyata." Gumam Qilin dan kembali terlelap sambil menangis.
Justin merebahkan dirinya di sisi Qilin, dan mendekap Qilin ke dalam pelukannya.
" Maafkan aku, sayang.." Gumam Justin sambil mengecup kening Qilin berulang kali.
" Mulai hari ini, aku tidak akan membiarkan kamu mengeluarkan air matamu lagi." Gumam Justin.
Ke esokan harinya..
Rena bangun dan belum mendapati Qilin di luar kamar padahal hari sudah lumayan siang. Bahkan Rena sudah memesan makanan untuk dia dan Qilin sarapan.
" Qilin kenapa belum bangun juga?" Gumam Rena.
Rena akhirnya naik ke atas, dia melihat ruangan lantai dua juga menjadi sangat rapi dan tertata. Dia pun membuka kamar Qilin tapi dia langsung melototkan matanya dan menutup mulut.
Rena langsung berbalik badan dan menutup pintu kamar Qilin pelan pelan.
" Astaga, Qilin tidur dengan siapa? Bukankah Qilin bilang dia tinggal sendirian?" Gumam Rena.
Rena kembali turun ke bawah dengan otak yang di penuhi tanda tanya.
__ADS_1
Qilin perlahan membuka matanya dan ia terkejut karena melihat Justin tidur di hadapannya. Wajah terlelap Justin tanpa sedikitpun goresan luka di wajahnya.
' Apa aku masih bermimpi?' Batin Qilin.
Melihat sosok yang sangat dia rindukan, membuatnya merasa bahagia. Perlahan Qilin mengulurkan tangannya untuk meraba wajah Justin.
' Bahkan mimpiku terasa seperti nyata.' Batin Qilin.
Justin membuka matanya karena merasakan sentuhan tangan Qilin.
" Selamat pagi." Ujar Justin dengan suara khas bangun tidurnya.
Qilin menjadi berkedip kedip lucu, dia terkejut karena suara Justin terasa begitu nyata. Justin tersenyum melihat Qilin yang terkejut, dia pun iseng mengecup bibir Qilin sekilas.
" HUAA!!!" Teriak Qilin dan langsung bangun terduduk.
Justin sampai bingung malihat aksi Qilin yang terkejut begitu.
" Siapa kau?" Ujar Qilin dengan tatapan lucu.
Justin terkekeh melihat Qilin yang begitu menggemaskan itu. Justin pun bangun dan duduk di hadapan Qilin.
" Apa sekarang jadi kamu yang amnesia, Qilin?" Ujar Justin.
" J- Justin, kamu sungguhan Justin?" Ujar Qilin, dan Justin mengangguk.
Tiba tiba saja air mata Qilin mengalir dan dia menangis, dan tiba tiba juga Rena masuk kedalam kamar Qilin.
" Qilin! Ada apa, Apakah ada maling??" Uajr Rena yang muncul dari luar sambil membawa sapu.
" Siapa kau! Berani beraninya masuk kamar Qilin dan membuatnya menangis!" Ujar Rena pada Justin dan langsung melanyangkan sapu pada Justin.
" Re- Rena, jangan.. " Ujar Qilin menghalangi sambil memeluk Justin.
" Kamu mengenalnya?" Tanya Rena, dan Qilin mengangguk.
Dan setelah kejadian awkward itu, kini ketiganya duduk di meja makan. Qilin duduk di sebelah Rena, dan Justin duduk sendiri berseberangan dengan Qilin.
" Sekali lagi saya minta maaf tuan, saya tidak mengenali anda." Ujar Rena.
Siapa yang tidak mengenal Justin Xander Edward, pria muda yang sangat sukses, putra pertama pasanganArthur Edward dan Sierra Leona yang di nyatakan hilang beberapa bulan lalu, kini Rena duduk berhadapan dengannya.
Entah mimpi apa dia semalam, bisa bertemu dengan sosok pria sehebat Justin itu. Rena juga salah satu penggemar Justin, penggemar dalam kehebatan Justin yang mampu membangun sendiri perusahaan nya tanpa batuan ayahnya.
" Jadi kau teman Qilin?" Tanya Justin dengan nada dinginnya, dan Rena mengangguk.
Qilin sungguh merasa asing dengan Justin yang saat ini ada di hadapannya, nada bicaranya berubah, sikapnya tidak lagi seperti anak kecil, dan juga wajah Justin sudah tidak memiliki luka.
" Qilin, maaf aku tidak tahu bahwa kamu tinggal dengan tuan Justin, aku akan pindah cari kost kostan saja." Ujar Rena.
__ADS_1
" Eh, jangan.. kamu tetap tinggal di sini saja." Ujar Qilin memegang tangan Rena.
" Tapi.." Ucapan rena menggantung, selain di kenal sukses, Justin juga di kenal anti wanita.
Rena juga tidak mau mengganggu kebersamaan keduanya dan menjadi kambing congek.
" Kamu tetap tinggal di sini, jangan kemana mana." Ujar Qilin lagi.
Rena mencuri pandang ke arah Justin dan saat ini Justin sedang menatap datar dirinya, Rena jadi bingung sendiri harus bagaimana.
" Tidak apa apa Qilin, aku cari kostan saja." Ujar Rena.
" Tidak, kamu temanku, bukan? Sebagai teman, aku memerintahkan kamu untuk tinggal disini denganku." Ujar Qilin.
' Aduh, bisa mati jadi ayam gprek aku, kenapa Qilin tidak peka bahwa tuan Justin saat ini sedang dalam mode cemburu.' Batin Rena.
" Kau tinggal saja di sini, ikuti kata Qilin." Ujar Justin dengan nada dingin.
Rena tersenyum kaku dan menganggukan kepalanya.
" Baik, tuan." Ujar Rena.
" Sayang, aku pergi dulu, nanti aku datang lagi kemari." Ujar Justin langsung berubah menjadi lembut ketika bicara dengan Qilin.
Qilin agak terkejut mendengar Justin memanggilnya sayang, tapi akhirnya dia mengangguk lucu, Justin pun tersenyum lalu mengusap kepala Qilin dan mencium kening Qilin, lalu pergi.
Bagai raga yang terpisah dari nyawanya, Rena mleyot melihat adegan itu. Dia tidak menyangka teman nya rupanya adalah kekasih dari tuan muda nomor satu incaran para wanita.
" Qilin.... kamu hutang penjelasan padaku." Ujar Rena dengan wajah masih tidak menyangka.
" Bagaimana aku menjelaskannya?" Ujar Qilin polos.
" Astaga anak ini, sejak kapan kamu jadi kekasih tuan Justin? " Tanya Rena.
" Aku bukan kekasih Justin." Ujar Qilin polos, memang nyatanya Justin tidak mengatakan bahwa Justin mencintainya.
" Oh my God, kamu bahkan memanggilnya langsung dengan namanya. Aku pernah melihat sikat gigi di kamar mandi yang sampai sekarang juga masih ada di sana, aku pikir itu milik kekasihmu, atau saudaramu." Ujar Rena.
" Tapi setiap aku bertanya padamu, kamu selalu bilang tinggal sendirian, rupanya karena kamu menyembunyikan hubungan kalian dari publik?? Ya ampun, manisnya.." Ujar Rena.
" Ha??" Qilin bingung.
" Aku menjadi pendukung nomor satu kalian, no debat." Ujar Rena.
" Tapi kami memang tidak pacaran." Ujar Qilin.
" Tapi dia memanggilmu sayang." Ujar Rena, dan Qilin mengangkat kedua bahunya, tidak tahu.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1