Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 85. Memberi Agra kesempatan.


__ADS_3

Agra di dorong oleh Luca dengan kursi rodanya dan Qilin mundur selangkah. Tapi Justin merangkul Qilin dan tersenyum kearah Qilin.


" Ada aku, sayang." Ujar Justin.


Seperti sebuah trauma tersendiri bagi Qilin, apalagi ketika mengingat wajah Agra saat di dalam mobil, saat pertama kali dia di culik bersama Dewi.


" Qilin.." Ujar Agra lagi.


Namun kali ini Justin yang menatap Agra dengan tatapan serius.


" Apa yang ingin anda lakukan, jangan membuatnya takut. " Ujar Justin.


" Kak, papa hanya ingin meminta maaf padamu." Ujar Luca pada Qilin.


Qilin tentu terkejut mendengarnya, juga Justin.


" Tapi papa tidak bisa mendengar, dia bisa bicara tapi jika kakak ingin menyahutinya, kakak bisa menuliskan nya di kertas." Ujar Luca lagi. Dan itu lebih membuat Qilin terkejut.


Dewi pun melangkah menghampiri Qilin dan merangkul Qilin.


" Dia sudah menyadari kesalahannya sayang, maukah kamu memberinya kesempatan?" Ujar Dewi.


Qilin terdiam, memang dia juga pernah mengatakan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah, dan dia juga ingin memberi kesempatan untuk Agra.


" Mama, dia sudah banyak menyakitimu." Ujar Justin.


" Qilin, saya tidak tahu harus memulainya dari mana, di awal pertemuan kita, saya sudah membuat kesan paling buruk sebagai seorang papa tiri padamu." Ujar Agra tiba tiba.


" Saya tahu, saya tidak pantas meminta maaf padamu atau mendapat maaf daeimu, karena apa yang sudah saya perbuat sudah sangat keterlaluan. Bahkan saya secara terang terangan pernah mengatakan akan membunuhmu." Ujar Agra lagi.


" Tapi, nak.. Tolong berikan saya kesempatan untuk menebus kesalahan saya padamu, apakah kamu berkenan?" Ujar Agra.


Qilin melepas tangannya dari Justin kemudian menghampiri Agra. Agra meraih tangan Qilin, dan menggenggamnya erat.


" Maukah kamu memberikan kesempatan saya memperbaiki kesalahan saya padamu, dan ibumu?" Ujar Agra lagi.


Qilin pun mengangguk, Dan Agra langsung menangis haru dan memeluk Qilin.


" Terimakasih, nak.. Terimakasih." Ujar Agra.


Luca yang ikut tersentuh dengan pemabdangan di hadapannya pun mencoba menahan air matanya, lalu dia berjalan dan memeluk Qilin dan Agra, dan di susul Dewi.


" Astaga, aku tidak di ajak." Gumam Cio.


Justin hanya bisa mengikuti apa yang Qilin pilih, dia tahu.. bagaimanapun Qilin adalah gadis baik hati yang lembut. Qilin bahkan tidak membalas apa yang di lakukan ibu asuhnya kepadanya.


Semua orang pun melerai pelukan mereka, lalu menyeka air mata mereka masing masing.


Tiba tiba Qilin berjalan melewati mereka semua dan menuju kearah Cio yang hanya bisa duduk di ranjang. Cio tersenyum dan merentangkan kedua tangannya berharap mendapat pelukan dari Qilin.


" Bagaimana keadaanmu?" Tanya Qilin.


" Seperti yang kamu lihat, aku baik baik saja." Ujar Cio, masih merentangkan tangannya, tapi Qilin tidak memeluknya.

__ADS_1


" Jadi kau mengorbankan nyawa untuk membuat mereka sadar?" Ujar Qilin dan Cio mengangguk.


Tapi Qilin tiba tiba menjitak kepala Cio sampai Cio mengaduh.


" Kenapa aku di jitak.." Ujar Cio pada Qilin.


Tapi yang di protes malah sibuk menulis di lembar kertas. Rupanya kertas itu berada di sisi Cio, jadi Qilin menghampiri Cio.


" Berilah papa kesempatan, kak." Bisik Cio.


" Aku belum menghitung atas semua penipuan yang kau lakukan, ingat itu." Ujar Qilin.


" Pe- penipuan apa? Aku tidak menipu." Ujar Cio, tapi Qilin berjalan menjauh dan kembali ke sisi Justin.


Qilin memberikan catatan yang dia tulis pada Agra, dan Agra membacanya.


" Kamu mau menikah, nak??" Ujar Agra, dan Qilin mengangguk sambil tersenyum.


Semua orang disana pun ikut terkejut, tiba tiba sekali Qilin akan menikah.


" Kamu mau menikah, sayang?" Tanya Dewi.


" Iya , ma.. " Ujar Qilin.


" Astaga.. Bahkan kita belum sempat berkumpul dan tinggal bersama, kamu sudah mau menikah saja." Ujar Luca.


" Masih beberapa bulan lagi." Ujar Qilin.


" Mama ikut bahagia untukmu, sayang." Ujar Dewi.


Dan setelah pertemuan itu, Agra dan Dewi pun pulang bersama Luca, dan kini hanya ada Cio, Qilin dan Justin di ruangan Cio.


Cio bagai berada di ruang interogasi saat ini, karena Qilin menatap kepadanya tapi tidak berkata apapun.


" Bisakah kamu katakan sesuatu, kamu terus diam menatapku begitu, aku jadi merasa seperti sedang di tatap hantu." Ujar Lucio.


Sementara Justin hanya sibuk dengan ponselnya, mungkin dia sedang mengurusi pekerjaannya di tanah air.


" Jelaskan padaku, apakah sejak awal kau sudah tahu aku ini kakakmu?" Ujar Qilin.


" Ekhem! Hm.. " Cio sembari melihat kearah lain.


" Jawab yang benar." Ujar Qilin sambil mencabut bulu kaki Cio.


" Aduh!! sakit.." Teriak Cio kesakitan.


" Katakan selengkapnya, sejelas jelasnya, aku ingin tahu niat awalmu menemuiku dan melatihku di pulau itu." Ujar Qilin.


" Itu..." Ujar Cio menggantung. Qilin hendak mencabut bulu kaki Cio dan Cio langsung menghindarkan kakinya.


" Iya! Iya! Iya! Aku cerita.. aku cerita.. " Ujar Cio ketakutan.


" Kamu tidak berperasaan sekali, aku ini pasien, lho." Ujar Cio, tapi Qilin hanya menatap diam Lucio.

__ADS_1


" Itu.. Awalnya aku ingin kamu memusnahkan keangkuhan papa." Ujar Lucio akhirnya bercerita.


" Dengan aku melatihmu dan menjadikan kamu kuat, dan menanam benih kebencian dengan ancaman - ancaman papa sebagai pematik semangatmu. Aku yakin kamu bisa melawan papa dan menghancurkannya." Ujar Cio.


" Kau ingin aku membunuh papamu?" Ujar Qilin.


" Hmm.. karena aku tidak tega melihat mama yang di siksa, di tambah lagi papa membawa dan mengurungmu di pulau terpencil itu, menyiksamu perlahan." Ujar Cio menyendu.


" Aku adalah pendengar mama, dia bilang padaku bahwa aku memiliki seorang kakak perempuan tapi di negara lain. Dari cerita mama, aku tahu kamu pasti sangat menderita karena sejak bayi harus di titipkan di panti asuhan. " Ujar Cio.


" Rasanya tidak adil saja.. melihat orang orang baik di sakiti oleh papa. Lebih baik aku menyingkirkan papa saja, dari pada kalian berdua yang mati di tangan papa." Ujar Cio lagi.


" Itu awalnya.. Tapi rencana nya tidak berjalan sesuai dengan apa yang aku susun, setelah..." Ujar Cio dan menatap kearah Justin yang masih sibuk dengan ponselnya.


" Lalu kenapa kau masih saja mempergunakan aku menjadi sosok kekasih Luca? " Ujar Qilin.


" Karena awalnya aku juga ingin menyingkirkan kakak.. Papa dan kakak adalah dua orang yang sakit." Ujar Cio.


" Aku ingin membuatnya sadar bahwa apa yang dia inginkan tidak harus dia dapatkan dengan semena mena, kakak membunuh kedua orang tua Mia di hadapan Mia, kamu bisa bayangkan itu??" Ujar Cio sendu.


Qilin pun menjadi mengerti, Cio yang paling kecil justru memikirkan segalanya, walau cara yang Cio lakukan sangat di luar Nalar, tapi Qilin bisa mengerti.


" Saat dia mengatakan bahwa dia menyayangiku, mama dan papa.. aku menjadi ragu untuk menyingkirkan kak Luca. Setidaknya, dia masih memiliki rasa sayang pada anggota keluarganya." Ujar Cio.


" Sudah.. Sudah.. Kakak mengerti." Ujar Qilin.


" Terimakasih karena kamu peduli denganku dan mama." Ujar Qilin tersenyum.


" Kamu belum memberiku pelukan." Ujar Cio tiba tiba, dan saat itu Juga Justin melirik kearah Cio dengan tatapan setajam elang.


" Kau peluk saja bantal rumah sakit." Ujar Justin dan bangun dari duduknya lalu menghampiri Qilin.


" Ayo, sayang.. di luar terlalu dingin, kita pulang saja." Ujar Justin merangkul Qilin.


" Tapi Cio sendirian, Niklaus sedang mengantar mama dan yang lain." Ujar Qilin.


" Anak buahku akan menjaganya, kamu jangan khawatir. " Ujar Justin.


" Kakak pulang saja, jangan khawatirkan aku. Tapi aku minta peluk.." Ujar Cio, menyengir.


" Jangan dengarkan dia, sayang. Ayo kita pergi." Ujar Justin dan langsung menarik Qilin pergi meninggalkan Cio.


" Hey.. aku belum di peluk." Teriak Cio, tapi Justin tetap membawa Qilin keluar.


" Ck! Dasar.. " Gumam Cio.


Tapi tiba tiba Cio tersenyum, dia teringat dengan sosok yang mirip dengan Qilin, Mia.


' Mia, aku tahu apa yang aku lakukan ini tidak memberimu keadilan sama sekali, tapi aku harap kamu mengerti dengan keadaan nya. Beristirahatlah dengan tenang, Mia.. kamu tetap menjadi salah satu orang yang penting di hidupku.' Batin Cio sambil tersenyum.


" Eih, jangan sampai lama lama aku menganggap kakak ku sendiri sebagai Mia, kak Qilin harus kembali mengubah warna rambutnya menjadi perak." Gumam Cio tiba tiba.


TO BE CONTINUED..

__ADS_1


__ADS_2