Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 42. Mencari identitas Qilin


__ADS_3

Saat ini Qilin masih jatuh terduduk sambil memegang jantungnya yang berdebar karena terkejut melihat sosok yang berdiri di balkon nya.


" Astaga, Justin.." Gumam Qilin ketika mengenali siapa yang berdiri di sana.


Justin langsung menghampiri Qilin dan membantu Qilin sambil terkekeh kecil.


" Maaf, sayang." Ujar Justin.


" Bagaimana jika jantungku copot?" Ujar Qilin sedikit kesal.


" Maka aku akan memberikan jantungku untukmu." Ujar Justin.


" Ish.. Kenapa kamu selalu datang dari jendela? Pintu masuk rumahku ada di bawah sana." Ujar Qilin.


Justin yang gemas dengan Qilin yang sedang marah marah itu langsung mengecup bibir Qilin dan Qilin langsung terdiam. Justin tersenyum lalu menggendong Qilin ala pengantin.


" Maaf, ya.. aku tidak bermaksud mengejutkanmu, aku sudah mengetuk pintu gerbang, tapi kamu tidak keluar. Aku khawatir terjadi apa apa padamu, jadi aku lewat jendela saja." Ujar Justin menjelaskan.


Justin membawa Qilin turun dari lantai dua ke bawah, dan kini Qilin di dudukan di meja makan.


" Masalahnya adalah itu lantai dua, jika dari jendela lantai bawah mungkin aku tidak masalah." Ujar Qilin manyun.


" Eh, tunggu. Bagaimana caranya kamu naik ke lantai dua?" Tanya Qilin.


Justin tersenyum, lalu menggunakan jarinya membuat gerakan melompat ke atas.


" Masa?? Itu tinggi, tidak mungkin bisa manusia lompat dari dasar ke atas." Ujar Qilin tidak percaya.


" Bagiku mudah, sayang. Kamu sudah sarapan?" Tanya Justin.


" Sudah, kenapa kamu pagi pagi kemari? Kamu tidak bekerja?" Tanya Qilin.


" Aku kemari untuk mengambil sarapanku." Ujar Justin.


" Eeee... tapi semua makanannya habis." Ujar Qilin tersenyum kaku.


" Akan aku belikan, tunggu sebentar." Ujar Qilin dan hendak berlari tapi Justin mencekal tangannya.


" Aku tidak mau sarapan makanan." Ujar Justin.


" Lalu?? Oh.. apa kamu mau kopi?" Tanya Qilin, dan Justin menggeleng.

__ADS_1


" Aku mau ini.." Ujar Justin memegang bibir Qilin, lalu menciumnya sampai Qilin sedikit terkejut.


Mereka belum mahir dalam berciuman, tapi mereka saling membiasakan diri. Ciuman manis di pagi hari itu membuat Qilin linglung seketika.


" Manis." Ujar Justin.


" Aku pergi kerja dulu, ya? Jangan nakal, sayang." Ujar Justin, dan Qilin mengangguk patuh.


Justin memeluk Qilin lalu mengecup kening Qilin, setelah itu Justin pun pergi dari rumah Qilin sambil tersenyum senang meninggalkan Qilin yang linglung.


" Justin, bisa bisa nya dia datang jauh jauh dari rumahnya kemari hanya untuk sebuah ciuman, senang sekali membuat orang jantungan. " Gumam Qilin.


Qilin menyentuh bibirnya yang masih begitu terasa bekas bibir Justin di bibirnya, lalu tersenyum. Akhirnya Qilin mulai meregangkan otot ototnya, dia akan membereskan rumah yang sudah beberapa hari tidak dia bersihkan.


" Semamgat." Gumam Qilin.


Sementara itu, Justin menuju ke perusahaannya, dan tak lama dia pun sampai di sana. Justin masuk kedalam ruangannya, dan terlihat seseorang yang duduk di ruangannya.


" Lama tidak jumpa, tuan muda Justin." Ujar pria itu.


Pria tampan yang berpawakan sama seperti Justin, tinggi dan berotot, namun terlihat kumal.


" Astaga, ini sudah penampilanku yang paling rapi, lho.." Ujar pria itu.


" Kau tidak mencerminkan anak paman Malvin sama sekali." Ujar Justin.


" Eeihh.. uau tidak berperasaan sekali, kak" Ujar pria itu.


Ya, pria tinggi dan kumal itu adalah putra Malvin dengan Andra. Masih ingat Andra bukan? Malvin menikah dua tahun setelah Andra sembuh, dan memiliki seorang putra yang mereka beri nama Adrian atau lebih akrab di panggil Ian.


" Aku tinggal di daerah terpencil, kau tahu sendiri bagaimana panasnya di sana dan susahnya air di sana, bukan? Jadi jangan komplain." Ujar Ian.


"Apa kau mendapatkan apa yang aku minta carikan?" Tanya Justin.


" Oh, pasti.. Ini." Ujar Ian memberikan map besar dan tebal kepada Justin.


" Tebal sekali." Ujar Justin.


" Ya, bagaimana lagi.. itu adalah penyelidikan sejak dia bayi hingga sekarang." Ujar Ian.


" Ya sudah, kau akan menjadi asistenku, jadi tidak perlu kembali ke sana, menetaplah di sini. Lalu ini, bawalah.. dan ubah penampilanmu, nanti siang harus sudah terlihat seperti manusia." Ujar Justin sambil memberikan kartu hitamnya.

__ADS_1


Ian tentu senang mendengarnya, itu yang dia tunggu tunggu sejak dulu, menjadi asisten kakak tidak sedarahnya itu. Ian sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Justin, dia tahu Justin seperti apa.


" Siap! Terimakasih..." Ujar Ian dengan senyum yang sangat lebar dan menaik turunkan alisnya.


" Jangan perlihatkan padaku wajah bodoh itu, pergi kau." Ujar Justin, dan Ian terbahak.


" Kakak tenang saja, aku akan kembali dengan wujud tersembunyiku." Ujar Ian, lalu memberi hormat seperti kepada komandan.


Ian pun pergi, dan setelah Ian pergi Justin hanya bisa menggelengkan kepalanya. Adrian tidak seperti Malvin yang sangat memperhatikan penampilan.


Ian terkesan cuek, cuek dalam segala hal yang berkaitan dengan penampilan, tapi tidak dengan pekerjaan. Bagai garda paling depan, Ian selalu sigap berdiri di sisi Justin dan Dustin.


Setelah Ian pergi, Justin membuka map besar yang rupanya berisi tentang identitas Qilin. Semuanya berisi tentang Qilin sejak bayi hingga di adopsi oleh keluarga angkatnya di Bogor hingga yang baru baru ini.


Menurut penyelidikan Ian, Qilin di titipkan di panti asuhan pada tanggal 20 bulan Oktober tahun 2002 oleh seorang wanita yang memakai mobil mewah. Suster penjaga panti sendiri yang mengatakannya.


Dan dua tahun berikutnya Qilin di jemput oleh seorang pria bernama Zheri Arawan, dan di adopsi oleh pria itu. Zheri Arawan memperlakukan Qilin dengan sangat baik dan penuk kasih sayang, tapi tidak dengan istirnya.


Di catatan tertulis, Istri Zheri sering menghukum Qilin tanpa sebab yang pasti, Qilin pernah di tinggal di luar rumah saat hujan badai, pernah juga tidak di beri makan selama dua hari hingga Qilin mencari buah buahan di hutan.


"Jadi Qilin tidak di tinggalkan, tapi di titipkan di panti, dan siapa Zheri Arawan ini? Dia pasti tahu orang tua kandung Qilin." Gumam Justin.


Lalu Justin membaca catatan yang menuliskan sejak Zheri Arawan meninggal, ibu angkat Qilin menelantarkan Qilin dan mengusirnya dari rumah utama ke gubuk kecil yang tak jauh dari rumah utama itu.


Ibu angkatnya tidak peduli Qilin makan atau tidak, dia bahkan tidak memberi Qilin uang, dan menyimpan semua identitas Qilin.


Justin ingat dengan masa masa dia tinggal di gubuk kecil itu, begitu kecil dan sempit.


" Dia pasti sa gat menderita, dia tidak pernah bercerita kepadaku apa yang dia lalui selama ini begitu pahit." Batin Justin.


" Tanggal lahirnya di ganti belum lama ini, itu artinya tanggal lahirnya yang sekarang bukan yang asli. Ibu angkat Qilin pasti mengetahui sesuatu." Gumam Justin.


" Aku harus mencari orang tua kandung Qilin, jika mereka masih ada di dunia ini, pasti bisa aku temukan. Dan untuk ibu angkat dan saudari angkat Qilin, beraninya dia menyiksa Qilinku."


" Aku akan beri kalian berdua hukuman yang pantas, karena sudah menyiksa Qilinku selama bertahun tahun ini, tunggu saja.." Gumam Justin.


Justin pikir Qilin berasal dari keluarga biasa saja, tapi siapa sangka rupanya identitas Qilin begitu misterius. Tapi tak masalah, Justin akan mencarinya.


Sekarang tugas Justin adalah mencari tahu siapa wanita dengan mobil mewah yang menitipkan Qilin di panti asuhan. Sebelum itu, dia harus memberi hukuman pada ibu dan saudari angkat Qilin.


TO BE CONTINUED..

__ADS_1


__ADS_2