
Beberapa hari kemudian...
Hari - hari manis bulan madu telah berakhir. Hari ini Qilin dan Justin akan kembali ke Jakarta setelah mereka berada di Bali selama sepuluh hari.
Tapi Justin justru malah menjadi semakin manja dan semakin malas setiap harinya, seprti saat ini.. keduanya masih berada di ayunan yang di desain seperti ranjang, yang terletak di depan kamar hotel mereka.
Dengan pemandangan alam Bali yang indah, siapapun pasti ingin berlama lama di sana.
" Bangun, sayang.. bukannya hari ini kita akan pulang ke Jakarta? " Ujar Qilin sembari mengusap - usap kepala Justin.
Saat ini Justin sedang tengkurap sembari memeluk perut Qilin, dan memejamkan matanya. Sementara Qilin duduk menyender sambil menikmati pemandangan.
" Sayang.." Panggil Qilin lagi.
" Hm.." Sahut Justin, tapi kemudian dia semakin mengeratkan pelukannya di perut Qilin.
Qilin pun terkekeh, " Kita akan terus seperti ini?" Tanya Qilin.
" Aku masih ingin lebih lama seperti ini denganmu, sayang." Sahut Justin.
" Kasihan para karyawanmu jika bosnya libur terlalu lama." Ujar Qilin.
Justin membuka matanya kemudian wajahnya langsung bertemu tatap dengan wajah Qilin.
" Jadi kamu lebih sayang pada karyawanku, hum? " Ujar Justin, dan Qilin terkekeh mendengarnya.
" Aku tentu sayang padamu, sangat sayang malah. Tapi ada ribuan karyawan yang bernaung dengan perusahaanmu, mereka hidup dari sana." Ujar Qilin.
Justin pun tersenyum dan mengecup bibir Qilin, " Istriku memang baik hati." Ujar Justin, lalu kembali mencium Qilin.
Cukup lama mereka saling berciuman, hingga akhirnya Justin melepasnya karena merasa sesuatu.
" Bolehkah, sayang?" Tanya Justin, dengan tatapan sayu.
" Bukankah kita sudah harus pergi dari sini?" Tanya Qilin.
" Telat sedikit tidak masalah." Ujar Justin, lalu langsung menggendong Qilin masuk kedalam kamar hotel.
" Haha" Tawa Qilin terdengar karena Justin tidak berhanti menciuminya.
Akhirnya mereka justru bergulat manis, dan jam terbang yang seharusnya sudah berangkat, di undur menjadi sore hari.
Dan sore harinya..
Akhirnya Qilin dan Justin benar benar melakukan penerbangan, kini keduanya sudah berada di bandara dan sedang menunggu pesawat pribadi keluarga Edward.
" Tuan, nyonya.. pesawat sudah siap." Ujar anak buah Justin.
" Hm, terimakasih." Ucap Justin.
Justin pun menggandeng tangan Qilin.
" Ayo, sayang." Ujar Justin pada Qilin, dan Qilin mengangguk.
Keduanya pun langsung pergi dari sana dan menuju ke pesawat.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain..
Rena dan Fendy saat ini sedang berada di rumah sakit, mereka akan memeriksakan kandungan Rena.
Fendy sedang ke toilet, jadi Rena menunggu sendiri di sana, hingga seorang perawat menghampiri Rena.
" Nyonya Wiliam, silahkan." Ucap perawat, dengan sangat ramah.
" Nyonya Wiliam??" Tanya Rena bingung.
" Ya, nyonya Rena Wiliam, benar?" Tanya perawat.
" Rena memang namaku, tapi nama belakangku bukan Wiliam, sus." Ujar Rena.
" Tapi yang tercatat di sini adalah nyonya Rena Wiliam, istri dari tuan Fendy Wiliam." Ucap perawat, menerangkan.
" Itu kamu, sayang.." Ujar Fendy yang datang dari arah belakang.
" Kamu adalah nyonya Wiliam, istriku. Ayo.." Ujar Fendy, mengulurkan tangannya.
Rwna pun tersenyum dan menerima uluran tangan Fendy, keduanya pun berjalan menuju ruang pemeriksaan.
" Selemat sore, tuan dan nyonya Wiliam." Sapa dokter kandungan.
" Sore, dok." Sahut Rena.
" Bagaimana? Apakah ada keluhan yang nyonya rasakan akhir - akhir ini?" Tanya Dokter kandungan.
" Mual seperti biasa, tapi sudah tidak terlalu. Paling berat badanku jadi semakin bertambah setiap harinya, dok. " Ujar Rena.
" Kalau begitu, mari kita periksa dulu." Ujar dokter, dan Rena pun mengangguk.
Rena pun merebahkan dirinya di brankar, dan dokter mulai menyiapkan alat alat USG untuk melihat tumbuh kembang janin di dalam perut Rena.
" Nyonya, janinnya sehat. Dia sudah bertambah besar sekarang." Ujar Dokter.
" Mau dengar detak jantungnya?" Tanya Dokter, dan Rena mengangguk.
Dokter pun menyalakan suara dari hasil detak jantung bayi Rena yang berdetak sangat kuat.
" Wahh.. dia sepertinya habis maraton, detak jantungnya kencang sekali." Ujar Dokter terkekeh.
Rena menangis haru, karena bisa mendengar detak jantung dari makhluk kecil yang belum dia lihat di dunia, yang saat ini berada di dalam perutnya.
Fendy pun memegang tangan Rena sembari tersenyum, karena dia juga bahagia bisa mendengarkan detak jantung calon anaknya itu.
" Apakah nyonya sudah merasakan pergerakannya?" Tanya Dokter.
" Sesekali saya merasa seperti ada yang bergerak di perutku dok, apakah saya cacingan?" Tanya Rena, dan dokter terkekeh.
" Bukan, nyonya.. itu adalah pergerakan dari bayi." Ujar Dokter dan Rena menutup mulutnya tidak percaya..
" Sungguh? jadi dia sudah bisa bergerak di dalam sana?" Tanya Rena.
" Ya, nyonya. Pada usia kehamilan empat bulan, janin sudah bisa bergerak di dalam sana. Semakin besar janin, pergerakannya juga akan semakin besar." Sahut Dokter.
__ADS_1
" Akan ada masanya anda melihat telapak kakinya yang menonjol di permukaan perut, nanti." Ujar Dokter.
" Lucu sekali." Ujar Fendy.
" Benar, tuan. Sering mengajak janin bicara juga bisa meningkatkan keaktifan janin di dalam perut. Usahakan suasana hati sang ibu selalu bahagia, jauh dari stres, dan banyak pikiran, agar janin selalu sehat." Ujar Dokter.
Dokter pun menyudahi pemeriksaan nya, kemudian membersihkan perut Rena yang terdapat Gel.
" Saya akan berikan vitamin penguat kandungan dan obat anti mual, nyonya juga bisa meminum susu kehamilan yang sesuai untuk mencukupi gizi janin." Ujar Dokter.
" Terimakasih, dok." Ujar Rena.
" Sama - sama, nyonya. Usahakan setiap bulan datang memeriksakan kandungan, nyonya. Karena pada fase fase tertentu, pergerakan bayi kadang di luar prediksi." Ujar Dokter.
" Baik." Sahut Rena.
Akhirnya keduanya pun keluar dari ruang pemeriksaan. Rena tak henti hentinya mengusap perutnya yang sekarang sedikit menonjol itu.
" Aku tidak sabar melihat dia keluar nanti." Ujar Rena, setelah kini mereka berada di mobil.
" Anak papa, kamu dengar mamamu bilang apa? Dia ingin sekali melihatmu keluar. Jadi baik baiklah kamu di dalam, oke? Dan cepatlah besar." Ujar Fendy mengusap perut Rena.
" Terimakasih Fendy." Ujar Rena.
" Terimakasih untuk apa?" Tanya Fendy.
" Terimakasih karena kamu telah menaruh makhluk kecil ini di dalam sana." Ujar Rena, dan Fendy terkekeh.
" Jangan bahas itu sayang, aku yang seharusnya berterimakasih karena kamu tidak menggugurkannya." Ujar Fendy.
Fendy menciumi perut Rena berulang kali, hingga Rena terkekeh karena kegelian.
" Papa sayang kamu, dan mamamu. Papa sayang kalian, jadi jangan sampai terjadi sesuatu pada kalian, oke?" Ujar Fendy.
" Oke, papa." Sahut Rena menirukan suara anak kecil.
" Aku mencintaimu, sayang." Ujar Fendy, dan mencium kening Rena.
" Aku juga mencintaimu." ujar Rena.
Siapa yang sangka, persahabatan yang dulu hampir rusak karena kesalahan semalam, kini berubah menjadi cinta yang manis.
" Mau ke suatu tempat, sebelum kita pulang?" Tanya Fendy.
" Kita ke toko buah, aku ingin beli buah." Ujar Rena.
" Oke, lets go..." Ujar Fendy, dan Rena terkekeh.
Berkat kehadiran sosok malaikat kecil di perut Rena, mereka akhirnya bersama. Atau mungkin sebenarnya mereka bersama karena Qilin??
Intinya kisah Fendy dan Rena berakhir happy ending, karena akhirnya mereka di persatukan dengan pernikahan. Siapa yang tahu cinta akan datang lewat mana, bisa lewat tatapan, fisik, kebersamaan, dan lainnya.
Yang jelas mereka bersama karena cinta di hati mereka telah tumbuh.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1