Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 45. CURHAT.


__ADS_3

Qilin masuk ke dalam rumahnya dan terkejut dengan banyaknya kantong belanjaan yang ada di atas meja, sementara Rena tidak terlihat ada di sana.


'' Ren..'' Panggil Qilin.


'' Hm.'' Sahut Rena di belakang Qilin, Qilin sampai berjingkat kaget karenanya.


'' Astaga, kamu membuatku kag.. HUA!!!'' Teriak Qilin terkejut dua kali.


Bagaimana dia tidak terkejut, dia melihat Rena yang terlihat seperti hantu. Wajah Rena putih dengan mulutnya yang memakai masker bibir berwarna merah yang sangat besar. Rena sendiri saat ini menahan tawanya karena wajah Qilin saat terkejut begitu lucu.


'' Rennaa...'' Ujar Qilin sembari mengusap usap dadanya.


Rena pun melepas masker bibirnya dan terbahak, dan akhirnya masker yang sudah dia pasang di wajahnya malah menjadi retak.


'' Astaga Qilin, perutku sakit karena dirimu.'' Ujar Rena sambil terbahak.


'' Kamu seperti hantu.'' Ujar  Qilin.


'' Maaf aku mengejutkanmu, aku sedang memakai masker, wajahku begitu kering sudah beberapa hari tidak perawatan.'' Ujar Rena.


Rena berlari kecil menuju e dapur dan mengambil segelas air untuk Qilin dan Qilin langsung meminumnya hingga tandas tak bersisa.


'' Kamu kenapa meninggalkan aku?'' Tanya Qilin akhirnya.


'' Ada tuan Justin, bagaimana aku tega mengganggu kalian?'' Ujar Rena.


'' Wah.. apa ini yang kamu pakai? koleksi terbatas yang akan menjadi trending musim ini?'' Ujar  Rena terpukau dengan dress yang Qilin pakai.


'' Wah Qilin, apa kamu tahu sepatu yang kamu pakai? Ini belum keluar di pasaran, kamu menjadi orang pertama yang memakai sepatu ini." Ujar Rena lagi.


" Kamu benar benar beruntung mendapatkan hati tuan Justin." Ujar Rena.


Tapi Qilin yang mendengar iti sama sekali tidak senang, bukan tidak senang dengan Justin, hanya dia menjadi kian tidak enak hati karena mendapat barang barang mewah dan mahal dari Justin.


" Kenapa wajahmu malah jadi cemberut begitu?" Ujar Rena.


" Aku.. apakah aku ini masuk kategori matrealistis?" Ujar Qilin, dan Rena langsung terbahak mendengarnya.


Rena bangun dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan wajahnya dari masker, Qilin bahkan masih bisa mendengar tawa Rena yang begitu renyahnya.

__ADS_1


'' Apa itu.. aku bertanya malah di tertawakan.'' Gumam Qilin.


Rena keluar dan masih saja tertawa sambil dia mengeringkan wajahnya menggunakan tisue, lalu duduk di sebelah Qilin.


'' Aku tanya padamu, kamu tahu apa yang di maksud dengan materialistis?'' Tanya Rena.


'' Menghamburkan uang pasangan kita.'' Ujar Qilin, dan Rena kembali tertawa terbahak bahak.


'' Ren.. aku serius.'' Ujar Qilin kesal, dan Rena menghentikan tawanya.


'' Ekhem, maaf.'' Ujar Rena sambil masih menahan tawanya.


'' Astaga, Qilin.. kamu memang gadis yang sangat lugu. yang kamu katakan benar, tapi kasusmu itu berbeda. Apa kamu yang meminta pada tuan Justin untuk membelikanmu barang barang ini?'' Tanya Rena dan Qilin menggeleng.


'' Dengar Qilin, kamu tidak materialistis.. kamu hanya mendapatkan tanda cinta dari kekasihmu. Tuan Justin sangat mencintaimu, dan dia akan melakukan apapun untuk dirimu, bahkan mungkin jika kamu meminta sebuah istana, dia pun pasti akan membangunkannya untukmu.'' Ujar Rena.


'' Aku bisa melihat betapa besarnya dia sangat mencintaimu dari tatapannya, dia menatapmu dengan penuh damba dan perasaan. Jangan lupakan dia bukan pria yang pernah dekat dengan siapapun sebelumnya, dia sangat dingin.'' Ujar Rena.


'' Jadi aku tidak matre?'' Tanya Qilin dan Rena menggeleng sambil terkekeh.


Rena menatap wajah Qilin dengan sangat serius hingga membuat Qilin mengernyitka keningnya karena heran.


'' Apa? kenapa kau menatapaku seperti itu, apa ada sesuatu di wajahku?'' Tanya Qilin.


'' Apakah kulit wjahku rusak?'' Tanya Qilin.


'' Tidak, justru kulit wajahmu selalu terlihat cerah, padahal aku tidak pernah melihat kamu menggunakan skincare.'' Ujar Rena.


'' Memang aku tidak pakai skincare.'' Ujar Qilin polos, dan Rena langsung menjatuhkan dagunya meranga.


'' Apa kamu ini bukan manusia, apa kamu Vampir?'' Ujar Rena, dan Qilin langsung menoyor kening Rena hingga Rena terbahak.


'' Kepalamu.. mana ada Vampir.'' Ujar Qilin dan Rena  terkekeh.


'' Serius, kamu memiliki kulit yang halaus, wajahmu cantik, bibirmu seperti ceri, dan rambutmu.. rambutmu ini sangat indah bahkan tanpa kamu harus ke salon untuk mewarnainya, kamu itu seperti makhluk yang tidak nyata.'' Ujar Rena.


Qilin hanya bisa memutar bola matanya mendengar pujian dari Rena yang terdengar sangat di lebih lebihkan, walau memang sebenarnya yang Rena katakan benar, Qilin seperti makhluk yang tidak nyata, seperti peri.


'' Baiklah, demi menjaga dan melestarikan kecantikan alamimu ini.. mari aku bantu pakaikan kamu masker, agar kulitmu lebih sehat lagi.'' Ujar Rena.

__ADS_1


Qilin pun menurut saja di pakaikan masker oleh Rena, Qilin duduk dengan patuh dan Rena langsung mengaplikasikan masker di wajah Qilin. Tiba tiba Qilin menjadi ingat dengan perkataan Justin yang memintanya berhenti bekerja.


" Rena, bagaimana jika aku berhenti bekerja?" Tanya Qilin, mendengar itu membuat tangan Rena berhenti sejenak dan Rena pun menatap Qilin.


" Tuan Justin yang memintamu?" Tanya Rena sambil tersenyum, dan Qilin mengangguk.


" Dengar ya, kamu hanya boleh mendengarkan dan menyimak baik - baik, dilarang bicara atau menjawab." Ujar Rena dan Qilin mengangguk lucu.


" Kau tahu, nasibmu sungguh beruntung, mungkin itu adalah jawaban dari Tuhan atas apa yang kamu alami selama ini. " Ujar Rena sambil kembali mengaplikasikan masker di wajah Qilin.


" Memang bagus jika wanita memiliki pekerjaan dan penghasilan sendiri, agar jika suatu hari kalian tidak lagi saling suka atau.. mengalami hal yang sama sepertiku, kita masih memilik penghasilan dan tidak akan mati kesulitan." Ujar Rena dengan sendu.


" Tapi kasusmu itu berbeda, kau tahu.. Aku bisa melihat bagaimana tuan Justin sangat memperioritaskan kamu. Aku yakin dia sangat serius denganmu dan ingin menjadikan dirimu sebagai pasangannya, istrinya, teman hidupnya."


" Dia tidak ingin kamu lelah, tidak ingin kamu bekerja keras, karena dia sangat menyayangimu, itu bagus Qilin. Jangan buat dia merasa bahwa kamu tidak menganggapnya lho.. nanti dia bisa bersedih." Ujar Rena sambil terkekeh.


" Saranku, ada baiknya kamu melakukan apa yang tuan Justin minta, karena itu juga demi kebaikanmu. Dan aku yakin seyakin - yakinnya seratus persen, tuan Justin tidak akan meninggalkanmu. Yang harus kamu lakukan hanya.. berdiri di sisinya sebagai pasangannya." Ujar Rena.


Rena memberi pencerahan pada Qilin, agar dia bisa memilih jalannya sendiri, Rena tidak hanya memberikan contoh manisnya, tapi pahitnya juga, seperti yang dia alami.


Dan setelah mendengarkan ucapan Rena, Qilin menjadi banyak berpikir sejak sore itu hingga malam. Akhirnya Qilin benar benar tidak masuk kerja lagi, dan saat ini masih merebahkan dirinya dirinya di kamar.


" Qilin, kamu tidur?" Teriak Rena dari luar.


" Tidak, ada apa?" Teriak Qilin.


Qilin bangun dan membuka pintu kamarnya, terlihat Rena yang sudah rapi dengan pakaian yang baru dia beli, lebih tertutup dan sopan di lihat.


" Kamu mau kemana?" Tanya Qilin.


" Aku ada janji temu dengan orang yang membantuku masuk ke tempat kerja baruku." Ujar Rena.


" Oh.. " Sahut Qilin.


" Mungkin aku pulang agak malam, jika kamu mau makan malam duluan tidak apa apa, jangan tunggu aku." Ujar Rena.


" Oke, hati hati di jalan, Ren." Ujar Qilin dan rena mengangguk dan pergi dari sana.


Qilin juga ikut turun dan mengantar Rena sampai depan, lalu melambaikan tangan ketika Rena menaiki taksi.

__ADS_1


" Apa Justin tidak jadi datang kemari?" Gumam Qilin..


TO BE CONTINUED ..


__ADS_2