
Justin mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Qilin. Tidak menyerah, Justin mencurigai musuh musuhnya yang selalu bersinggungan dengannya, dan menyelidiki mereka satu persatu.
Namun masih nihil, Qilin masih belum di temukan. Dan tidak terasa Qilin sudah hilang seminggu lamanya, dan belum ada sedikitpun kabar yang Justin dapatkan dari hasil pencarian anak buahnya.
" Apa belum ada kabar tentang Qilin, nak?" Tanya Arthur.
Arthur dan Sierra sampai langsung pulang dari luar negeri ketika mendengar Qilin di culik, mereka begitu khawatir dengan keadaan Qilin, juga Justin.
" Belum, dad.. semua musuhku dan semua orang yang aku curigai sudah aku selidiki, namun tidak satupun dari mereka menculik Qilin. Aku bahkan menyelidiki keluarga Carol Simons, namun mereka tampaknya bahkan tidak mengenal Qilin." Ujar Justin frustasi.
Bagaimana Justin tidak frustasi, Qilin hilang begitu saja bagai di telan bumi, padahal sebelumnya mereka sudah membahas tentang pertunangan yang akan di selenggarakan tidak lama lagi. Khawatir dan takut akan terjadi sesuatu pada Qilin begitu menghantui Justin selama seminggu ini.
" Ini yang aku takutkan, dad.. ketika aku mencintai seseorang dan menempatkan dia di sisiku, dia hanya akan menjadi sasaran dari musuhku." Ujar Justin.
Arthur mengerti ketakutan putranya itu, apalagi Qilin bukan gadis tangguh seperti Sierra yang memiliki banyak kelebihan, Qilin hanya gadis biasa.
" Jangan menyalahkan dirimu seperti itu, kak.. Jika kakak mencintainya, maka seharusnya kakak yakin bisa melindungi dia, sebanyak apapun musuh kakak." Ujar Dustin, yang tiba tiba masuk dari luar.
" Daddy bahkan tidak mengizinkan mommy sedikitpun terjun dalam Titanes setelah ada kita, tapi daddy tetap bisa melindungi mommy, dan keluarga kita. Yakin saja pada kemampuan kakak, dan kakak tidak berjuang sendirian, aku juga akan membantu kakak mencari Qilin." Ujar Dustin lagi.
" Dustin benar, yakinlah pada kemampuanmu, nak." Ujar Arthur, dan Justin mengangguk.
Sementara itu di tempat lain..
Di sebuah rumah yang besar, yang hampir seluruhnya terbuat dari kaca, Qilin sedang duduk sendirian di ruangan yang begitu luas dan besar.
Tidak ada satu orang pun yang menemaninya, dan suasana yang terdengar dari sana adalah suara deru ombak. Ya.. Qilin di kurung di sebuah pulau terpencil, sendirian.
'' Justin, apa kamu mencariku.. aku ada di sini.'' Gumam Qilin. Qilin terlihat semakin kurus, matanya sembab, mungkin karena dia sering menangis, bibirnya bagkan sangat kering bagai orang yang tinggal di gurun pasir.
''Mama..'' Gumam Qilin lalu meneteskan air matanya.
Baru saja dia menemukan ibu kandungnya, dia harus kembali di pisahkan bahkan sebelum mereka menghabiskan waktu bersama, Qilin merasa hidupnya itu bagai lelucon. Bagaimana Tuhan telah mengombang ambingkan hati dan perasaannya, juga hidupnya.
__ADS_1
Ibu Qilin yaitu Dewi, di bawa pergi oleh ayah tiri Qilin yaitu Agra Khan dan hanya meninggalkan Qilin seorang di tempat itu. Qilin di situ untuk menunggu ajalnya, apabila Dewi tidak patuh, maka Qilin tidak akan di beri makan.
Jika Dewi berulah dan membangkang sedikit saja, Qilin akan kehilangan semua fasilitas di pulau itu, bahkan setetes air yang bisa Qilin minum, tergantung dari sikap Dewi pada Agra.
Bisa bayangkan betapa menderitanya Qilin selama satu minggu ini? Dewi menangis pun.. Qilin yang akan merasakan akibatnya.
Qilin bahkan baru mendapatkan makanan nya setelah dia tiga hari di kurung di tempat itu, setelah sebelumnya dia hanya mendapatkan air minum saja dari Agra.
'' Tuhan.. aku tidak pernah meminta hal yang besar kepadamum bukan? selama ini aku hanya meminta agar aku setidaknya mendapatkan uang untuk aku makan setipa harinya, kenapa kau lakukan ini padaku Tuhan..'' Gumam Qilin.
'' Apa aku pernah berbuat kejahatan..'' Gumam Qilin dalam tangisnya.
'' Jika ingin berdoa, maka berdoalah dengan menyebut hal hal yang baik. Kau terdengar mengeluh seolah menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi kepadamu.'' Ujar sebuah suara laki laki yang membuat Qilin terkejut.
Qilin langsung bangun dan menghindar sejauh mungkin dari jangkauan pria itu dengan wajah panik dan pias.
'' Siapa kau?!'' Ujar Qilin.
Pria itu tampak tersenyum kepada Qilin dan melihat Qilin dari atas sampai ke bawah lalu tertawa remeh sambil menggelengkan kepalanya.
'' Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu. Aku membawakanmu makanan..'' Ujar pria itu.
Qilin tentu takut, karena biasanya yang mengirimkan makanan hanya helikopter dan makanan itu pun di letakan begitu saja di landasan helikopter dan Qilin harus mengambilnya sendiri.
Lalu kenapa pria ini datang mengantarkan makanan? itu membuat tanda tanya yang besar untuk Qilin.
'' Kemarilah.. '' Ujar pria itu, namun Qilin tidak bergeming dari tempatnya berdiri.
" Baiklah, aku pergi.. Ini makananmu, karena ibumu begitu patuh, jadi kamu dapat makanan, makanlah.." Ujar pria itu lalu pergi.
Qilin menatap pria itu hingga pria itu benar benar pergi dan tidak terlihat lagi, baru dia mendekati makanannya.
Rasa lapar Qilin membuatnya tidak siaga, Qilin langsung mengambil makanan itu dan memakannya.
__ADS_1
Sementara di balik tembok, pria tadi masih berdiri di sana memperhatikan Qilin makan sambil tersenyum.
" Lucunya.." Gumam pria itu, menatap Qilin.
Qilin selesai makan, lalu dia minum air dari botol air kemasan yang di bawa pria tadi, Qilin memastikan bahwa botol itu masih tersegel, baru meminumnya.
Setelah selesai makan, Qilin pun membuang bekas makanan nya itu ke tong sampah lalu berjalan kelyar dari rumah itu.
Pemandangan di sana begitu indah, lautan yang biru membentang luas di hadapan Qilin, ada karang karang yang membuat suara ombak begitu besar terdengar, karena ombak itu menabrak karang.
Pohon - pohon kelapa juga berderet rapi, dengan beberapa tanaman lainnya yang di susun dengan amat rapi membentuk sebuah taman.
" Sebenarnya aku dimana?" Gumam Qilin.
Qilin ingin kabur dari pulau itu, tapi tidak ada sampan dan tidak ada bambu atau bahan apapun yang bisa di buat menjadi perahu, Qilin menjadi frustasi sendiri tiap kali dia berkeliling.
Qilin melihat sebuah ranting, dia pun memiliki sebuah ide. Qilin mengambil ranting itu dan lemudian menuliskan kata HELP di bibir pantai.
" Semoga ada yang melihatnya." Gumam Qilin.
Tapi tiba - tiba dia teringat dengan ibunya, jika dia berulah.. apa ibunya juga akan di siksa?
" Apa mama akan di siksa juga jika aku membuat perlawanan?" Gumam Qilin.
" Tidak, aku tidak mau mama di sakiti pria itu." Ujar Qilin, dan langsung menghapus kembali tulisannya itu.
Qilin pun merebahkan dirinya di bibir pantai itu, dia memiringkan kepalanya dan menatap matahari yang hampir terbenam dengan air mata yang mengalir.
' Justin, aku merindukanmu.' Batin Qilin. Perlahan tapi pasti, mata Qilin terpejamkan..
Di tempat lain, Justin pun sama sedang berdiri di jendela kamarnya sambil menatap jauh.. Di pikirannya saat ini dia mengkhawatirkan Qilin.
' Kamu dimana, sayang.. aku merindukanmu.' Batin Justin, dan sebulir air mata lolos dari pelupuk matanya.
__ADS_1
TO BE CONTINUED...