Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 81. Kasih sayang tidak terucap.


__ADS_3

Dan setelah mengunjungi Cio yang masih belum memiliki sedikit pun kemajuan, Qilin dan Justin pun kembali pulang. Sementara Luca, dia membawa Dewi untuk datang ke markasnya dimana saat ini Agra sedang di rawat.


Luca mengandeng tangan ibunya itu dengan perasaan senang, karena akhirnya ibunya itu kini kembali dan bisa tersenyum begitu lepas, tidak seperti senyum Dewi yang sebelumnya.


Mungkin karena senyum Dewi kali ini adalah senyum ketulusan, jadi terlihat begitu cerah, karena yang sebelum sebelumnya adalah senyum ancaman dari Agra.


'' Papa di ruangan ini, ma.'' Ujar Luca ketika sudah sampai di ruang perawatan Agra Khan.


Luca membuka pintunya, dan terlihatlah seorang dokter yang sedang mengecek monitor, Dewi masuk dan melihat suaminya yang sedang terbaring tidak sadarkan diri, ada rasa takut yang kembali mucul.. tapi juga Dewi menjadi begitu kasihan ketika melihat pria yang sudah menikahinya dengan paksa itu terbaring tidak berdaya.


'' Tuan.'' Sapa dokter yang menangani Agra.


'' Apakah ayahku sudah sempat sadar?'' Tanya Luca.


'' Sekitar satu jam yang lalu beliau sadar, tuan. Tapi beliau menjadi histeris karena tidak bisa mendengar apapun, beliau marah dan memukuli dirinya sendiri.. jadi saya terpaksa menyuntikan obat tidur pada tuan.'' Ujar dokter itu.


'' Dia tidak bisa mendengar?'' Ujar Dewi.


'' Papa berada di tengah tengah ledakan bom yang Justin pasang di kediaman kita, ma.. meski papa berlindung di ruang tersembunyi dan selamat dari maut, tapi tidak dengan pendengarannya.'' Ujar Luca menjelaskan kepada Dewi dan Dewi menutup mulutnya.


Dewi perlahan mengulurkan tangan nya dan kemudian mengusap dan menggenggam tangan Agra, Dewi merasa sangat prihatin.


Luca pun melihat sebuah ketulusan di sana.. Dewi dengan tulus menunjukan keprihatinannya pada Agra yang terkena musibah, tanpa harus Agra paksa pun Dewi bisa menunjukan kasih sayangnya dan bahkan kali ini adalah yang sebenarnya, tanpa kepura puraan.


' Adik benar.. mama tidak pernah pilih kasih, mama menyayangi kita semua. Bahkan setelah apa yang papa lakukan pada mama pun.. mama masih peduli dengan papa.' Batin Luca.


Luca jadi merasa bersalah dengan apa yang sudah dia lakukan pada Mia dulu, Dia selalu mencurigai Mia, cemburu dengan apapun yang sedang Mia lakukan bahkan ketika Mia sedang bermain piano, Luca akan cemburu dengan piano itu dan langsung merusaknya  begitu saja.


Luca mengurung Mia di dalam kamar tanpa boleh melakukan hal apapun hingga Mia depresi dan akhirnya memutuskan bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri.


'' Ma, aku tunggu mama di luar.'' Ujar Luca dan keluar dari ruangan Agra.


Luca menangis ketika mengingat betapa jahatnya dia pada Mia.. dia tidak hanya membunuh orang tua kandung Mia, tapi juga merampas kebebasan Mia, sedangkan sebelumnya Mia adalah gadis yang periang dan berprestasi, dia di kurung oleh Luca hingga depresi.


'' Mia..'' Gumam Luca dan menghapus air matanya.


Sementara Dewi, di dalam ruangan Agra.. Dewi meneteskan air matanya ketika ia menatap sebuah foto keluarga yang di pajang di sana.


' Seandainya saja caramu tidak seperti itu.. maka aku tidak akan melawanmu begitu keras. Aku sangat menyayangi kedua putra kita, juga menyayangi dirimu. Aku mungkin tidak mencintaimu, karena cintaku hanya untuk ayah kandung Qilin.' Batin Dewi.


Dewi berbalik menatap Agra yang masih tidak sadarkan diri lalu duduk di sisi brankar Agra dan menggenggam tangannya.


''Agra.. tidak bisakah kamu menerima kehadiran Qilin dalam keluarga kita? kamu sudah begitu tega memisahkan aku dengannya selama itu.. '' Ujar Dewi.

__ADS_1


'' Demi anak anak kita.. aku akan bertahan denganmu.'' Ujar Dewi lagi, lalu merebahkan kepalanya di sisi ranjang Agra.


Sementara itu, di rumah Qilin.. Justin sedang merebahkan dirinya di pangkuan Qilin dan memejamkan matanya, Justin sudah menceritakan semuanya kepda Qilin dan Qilin sudah tahu semuanya.


Qilin membelai rambut Justin dan memandangi wajah yang sangat dia rindukan itu. Bahkan saat ia hampir mati tenggelam di laut, yang dia ingat adalah sosok yang sedang berda di pangkuannya itu.


" Aku pikir aku tidak akan pernah bisa lagi bertemu denganmu.." Gumam Qilin.


Justin pun membuka matanya dan tatapannya bertemu dengan Qilin yang saat ini sedang sendu.


" Aku selalu memanggil namamu saat sesuatu terjadi kepdaku, aku takut aku.. aku takut aku tidak bis bertemu lagi denganmu." Ujar Qilin menahan tangisnya.


Justin pun bangun dan duduk menatap Qilin lalu tangannya mengusap pipi Qilin.


" Semua sudah berakhir sayang, terimakasih kamu sudah menjadi kuat untuk terus bertahan hidup dan selalu mengingatku." Ujar Justin.


" Kamu gadis yang luar biasa." Ujar Justin dan memeluk Qilin.


" Mommy dan Daddy juga selalu menanyakan kabar kemajuan pencarianmu, mereka lhawatir padamu. Mau menghubungi mereka??" Tanya Justin.


" Ya.." Ujar Qilin dan tersenyum.


Justin mengeluarkan ponselnya lalu mencari nama Sierra di dalamnya kemudian memanggil.


" AStaga, mommy lupa bahwa anak mommy adalah aku dan Dustin?'' Ujar Justin.


'' Aish, tentu mommy ingat.. dimana Qilin, nak??'' Ujar Sierra. Justin pun mengarahkan kamera ponselnya kearah Qilin yang sedang tersenyum senyum.


'' Halo Mommy..'' Ujar Qilin, dan terlihat Sierra menutup mulutnya.


'' Sayang.. apa kabarmu nak, apa kamu baik baik saja?'' Tanya Sierra berentet.


'' Qilin baik baik saja, mommy..'' Ujar Qilin. Terlihat Sierra yang menghapus air matanya karena senang Qilin sudah di temukan.


'' Kamu kurus sekali.. kapan pulang ke Indo, nak?'' Tanya Sierra.


'' Jika semuanya sudah terkendali, Qilin akan pulang ke tanah air, mom.'' Ujar Qilin.


'' Mommy sangat merindukan kalian.. '' Ujar Sierra.


'' Mommy jangan menangis, nanti cantiknya ikut luntur.'' Ujar Qilin dan Sierra terkekeh mendengar nya.


'' Mom, aku akhiri dulu panggilan nya.. aku mau melepaskan rinduku dulu pada Qiilin.'' Ujar Justin, dan Qilin langsung melotot tidak percaya.

__ADS_1


'' Tapi mommy belum selesai bicara dengan Qilin..'' Ujar Sierra.


'' Kita akan pulang, jadi mommy bisa menyita Qilin nanti, sekarang Qilin miliku.'' Ujar Justin dan Qilin terkekeh.


'' Ck! iya.. iya.. Qilin sayang, sampai bertemu di rumah, nak..'' Ujar Sierra berteriak.


'' Iya, mom..'' Sahut Qilin dengan antusias juga. Panggilan pun di akhiri, dan Justin langsung kembali memeluk Qilin dengan begitu erat.


'' Kenapa??'' Tanya Qilin.


'' Aku ingin segera menikah denganmu, sayang. Agar tidak akan ada lagi yang memisahkan kita.'' Ujar Justin.


'' Jika semuanya sudah baik baik saja, mari menikah.'' Ujar Qilin dan Justin langsung menatap Qilin tidak percaya.


Karena biasanya Qilin akan mengulur dan mengatakan ingin menjalani masa masa pacaran lebih dulu, dan kini Qilin sendiri yang mengajak nya menikah.


'' Kamu serius, sayang?'' Tanya Justin, dan Q ilin mengangguk.


Justin pun langsung tersenyum lebar hingga wajahnya merona karena terlalu bahagia, Justin mengecup kening, hidung, kedua pipi Qilin dan lalu bibir Qilin. Qilin hanya bisa terkekeh karena geli.


'' Aku mencintaimu, sayang.'' Ujar Justin.


'' Aku mencintaimu juga..'' Ujar Qilin, lalu berakhir dengan ciuman manis yang sangat Justin rindukan dari Qilin.


Bibir Qilin adalah candu tersendiri bagi Justin, dan setiap kali mencium Qilin.. Justin seakan tidak mau lepas jika bukan Qilin yang mendorongnya.


'' Tidurlah..'' Ujar Justin dan membawa Qilin ke pelukannya.


''Ini siang, Justin..'' Ujar Qilin.


'' Aku tahu, tapi kamu pasti sangat lelah selama ini, sayang.. jadi tidurlah dengan nyenyak, tidak erlu khawatir dengan hal apapun.'' Ujar Justin.


Qilin tersenyum mendengarnya, Justin seakan tahu bahwa dirinya selama ini sangat jarang bisa tidur, bahkan tidur pun Qilin sambil menggenggam senjata api.


'' Terimakasih..'' Ujar Qilin, lalu masuk kedalam pelukan Justin dan memejamkan matanya.


Justin mengusap dan menciumi kepala Qilin penuh dengan sayang, banyak rasa sesal di hati Justin pada Qilin. Dia menyesal karena tidak bisa menjaga dan memastikan Qilin nya baik baik saja.


' Aku pernah berjanji banyak hal padamu, sayang.. tapi aku bahkan tidak bisa menjagamu tetap aman.. maafkan aku, sayang. Dan terimakasih karena kamu tetap mencintaiku, meski aku terlambat menemukanmu. ' Batin Justin.


Justin pun memejamkan matanya sambil memeluk Qilin dengan erat, dan ikut pergi kealam mimpi, Sejujurnya Justin bahkan tidak pernah tidur, dia hanya tidur jika tubuhnya sudah benar benar kelelahan, itupun hanya satu jam, karena dia terus mencari keberadaan Qilin.


TO BE CONTINUED...

__ADS_1


__ADS_2