
Sementara itu di kediaman Qilin, Rena dan Fendy saat ini sedang duduk berdua. Ya, karena Justin membawa Qilin pergi, jadi hanya mereka berdua di rumah.
Terlihat Rena memakan makanan yang Fendy belikan, sesuai dengan keinginan Rena yaitu makanan asam. Jadi Fendy membelikan rujak mangga di penjual keliling yang Fendy temui di jalan.
Tapi terlihat Rena yang makan sambil menangis, entah apa sebabnya.
" Kenapa kamu menangis? apakah rujaknya tidak enak?" Tanya Fendy, dan Rena menggeleng.
" Enak." Gumam Rena sambil menghapus air matanya.
"Semalam Qilin datang menemuiku, dan dia memberitahukan kabar kehamilanmu." Ujar Fendy, dan Rena menatap Fendy.
" Aku pernah mengirimimu pesan bahwa aku akan bertanggung jawab jika sampai kamu hamil, tapi kamu hilang bagai di telan bumi." Ujar Fendy.
" Karena aku tahu di hatimu ada Qilin, dan aku yakin sampai sekarang juga masih." Ujar Rena.
" Ya, kamu benar." Ujar Fendy jujur.
Entah mengapa, mendengarnya membuat hati Rena sakit. Padahal Rena dulu hanya menganggap Fendy sebagai teman.
" Tapi ada anakku di perutmu, yang artinya aku sudah semakin mustahil untuk berjuang mendapatkan Qilin. Apalagi tuan Justin begitu mencintai Qilin, pintu untuk mencapai hati Qilin.. sudah tidak ada untukku." Ujar Fendy.
" Sejujurnya semalam aku menjadi laki - laki bren*sek yang tidak peduli dengan perasaanmu dan anak kita, lalu mengutarakan isi hatiku pada Qilin. Tapi respon Qilin sangat membunuh hatiku." Ujar Fendy.
Terbesit rasa senang di hati rena ketika mendengar Fendy mengatakan bahwa anak di perutnya adalah anak mereka, perasaannya menjadi kacau balau setelah hamil.
" Anak.. kita??" Ujar Rena menatap Fendy.
" Ya, bukankah anak di perutmu adalah anak kita, anakku?" Ujar Fendy, dan Rena tersenyum.
Fendy bangun lalu menghampiri Rena, dia berjongkok di depan Rena lalu tiba tiba mencium perut Rena. Rena tentu terkejut melihatnya, Fendy mencium perutnya.
" Mari kita lupakan apa yang pernah terjadi dulu, kita mulai hidup baru kita dengan membesarkan anak ini." Ujar Fendy pada Rena.
Rena berkaca kaca mendengarnya, dia senang tapi juga sedih di saat yang bersamaan.
" Bagaimana dengan isi hatimu??" Ujar Rena.
" Untuk sekarang, aku tidak bisa menjadi egois, bukan?" Ujar Fendy dan mengusap perut rata Rena.
" Perasaan itu.. jangan di pikirkan. Aku akan berusaha menjadi lelakimu yang baik, dan menjadi ayah yang baik untuknya." Ujar Fendy menatap perut Rena.
Mungkin itu adalah ikatan ayah dan anak yang terjalin, ketika sudah mengusap perut Rena entah mengapa ada rasa aneh di hati Fendy yang tidak bisa di ucapkan.
__ADS_1
" Lelakiku??" Tanya Rena.
" Kenapa setelah hamil kamu malah menjadi bodoh?" Ujar Fendy dan mencubit hidung Rena, hingga Rena mengaduh.
" Kita akan menikah.." Ujar Fendy, dan rena melotot mendengarnya.
" Apa??" Tanya Rena memastikan pendengarannya.
" Kita akan menikah Rena.. saat ini mungkin aku masih belum memiliki rasa cinta untukmu, tapi aku akan berusaha untuk mencintaimu, mencintai kalian berdua." Ujar Fendy, lalu mencium kening Rena.
" Maaf kan papa ya, sayang.. papa sempat menjadi egois dan tidak peduli padamu. Papa mungkin masih labil, tapi papa akan berusaha menjadi ayah yang baik untukmu, dan suami yang baik untuk mamamu." Ujar Fendy.
" Tumbuhlah dengan baik di dalam sana, sampai kita bisa bertemu saat kamu lahir nanti." Ujar Fendy lagi.
Mendengar itu, Rena justru menangis karena terharu. Ketakutannya tidak terjadi, dan dia juga bahagia saat ini. Walau hati Fendy masih milik Qilin, tapi dia akan membuat Fendy mencintainya juga nanti, walau dirinya juga belum mencintai Fendy.
" Terimakasih.." Ujar Rena.
" Aku yang berterimakasih kepadamu, kamu memikirkan perasaanku. Terimakasih." Ujar Fendy dan keduanya pun berpelukan.
Selesai sudah kekhawatiran Rena, dia bisa dengan tenang menjalani hari harinya tanpa khawatir perutnya akan semakin besar, karena dia akan menikah dengan ayah dari anak yang di kandungnya itu.
Waktu berlalu...
Di perusahaan Justin, Qilin sudah menggunakan pakaian baru yang di belikan oleh Ian dan saat ini sedang duduk di kursi di sebelah Justin bekarja sambil terkantuk kantuk.
' Astaga, kamu sampai mengantuk, sayang.' Batin Justin, merasa bersalah.
Justin menyudahi aktifitas kerjanya lalu menghubungi Ian untuk bersiap pergi. Justin pun menggendong Qilin lalu keluar dari ruang kerjanya.
" Tuan, lift CEO sedang dalam perawatan. " Uajr Ian.
" Jadi??" Ujar Justin.
" Kita pakai lift karyawan." Ujar Ian, dan Justin menghela nafasnya.
" Cepat buka." Ujar Justin, dan Ian mengangguk.
Akhirnya lift karyawan terbuka, terdapat beberapa karyawan yang ada di dalam lift dan menatap bingung Justin, karena tidak biasanya Justin berada di satu lift bersama karyawan.
" Selam.."
" Shhh.." Ujar Justin menyuruh semuanya diam, karena Justin takut suara mereka mengganggu tidur Qilinnya.
__ADS_1
" Jangan melihat." Ujar Justin, posesif.
Semua karyawan Justin pun mengangguk mengerti. Sepanjang lift berhenti di beberapa lantai, karyawan Justin semuanya terkejut melihat keberadaan Justin hingga tidak jadi masuk kedalam lift.
Dan yang lebih menghebohkannya lagi adalah, Justin menggendong seorang perempuan cantik yang sedang tertidur lelap di gendongan Justin, itu pemandangan langka.
Justin berjalan keluar dengan langkah lebar namun stabil untuk memastikan Qilin tidak akan bangun, tapi semua karyawan di loby, menatap pemandangan itu dengan tidak percaya.
" Woah astaga, apakah CEO balok es kita akhirnya mencair? Siapa yang di gendongnya tadi? Cantik sekali.." Gumam salah satu karyawan Justin.
" Sudah pasti dia adalah calon nyonya muda Edward." Ujar yang lain.
" Aku satu lift dengan CEO tadi, dan dia langsung menyuruh kami diam saat kami hendak menyapa CEO. Dan kalian tahu, CEO menyuruh kami yang satu lift dengannya unruk tidak melihat kekasihnya, posesif sekali." Ujar karyawan itu.
" Wah... gadis itu hebat sekali, mampu mencairkan balok es dari kutub utara yang beku itu." Ujar yang lain.
Sementara itu, Justin yang sedang di dalam mobil, kini pulang menuju kediamannya. Sepanjang Jalan itu juga Justin memangku Qilin yang masih setia dalam tidurnya.
Hingga akhirnya mereka sampai, dan Justin pun meletakan Qilin di ranjang dengan sangat pelan.
" Hmm.." Gumam Qilin dalam tidurnya, Justin pun tersenyum mendengarnya.
" Dasar anak kucing tukang tidur." Gumam Justin lalu mencium kening Qilin.
Justin menyelimuti Qilin, lalu dia membuka pakaian formalnya, terlihatlah tubuh besar berotot dan berurat milik Justin, tidak heran dia menggendong Qilin bagai menggendong kapas.
Justin menggantinya dengan pakaian rumahnya, lalu dia masuk kedalam ruang kerjanya untuk melanjutkan pekerjaan nya.
Saat Justin sedang fokus dengan pekerjaan nya, masuk notifikasi pesan di ponselnya, Justin pun langsung membukanya.
Terlihat di sana bahwa itu adalah pesan Email yang masuk dari Ian, yang memberi tahu tentang kebenaran kabar tentang ibu kandung Qilin, dan rupanya memang benar, ibu kandung Qilin bersembunyi dari keluarganya.
' Jadi dia tidak berbohong..' Batin Justin.
Justin menatap Qilin yang masih tidur di ranjangnya, dan entah mengapa ada perasaan lega di hatinya.. Justin pun tersenyum. Justin pun menghubungi Ian..
" Katakan padanya, aku akan mempertemukan dia dengan Qilin malam ini." Ujar Justin pada Ian dan panggilan pun di akhiri.
Justin bangun dari duduknya dan keluar lalu duduk di sisi ranjang dimana Qilin masih terlelap dalam tidurnya.
' Satu persatu yang hilang darimu, aku akan berusaha mengembalikannya kepadanu, sayang.. itu tanggung jawabku untuk membuat senyumu selalu terbit dengan indah.' Batin Justin.
Judtin merebahkan dirinya di samping Qilin, lalu memeluk Qilin.
__ADS_1
" Aku mencintaimu, Qilinku." Ujar Justin dan ikut memejamkan matanya sambil memeluk Qilin.
TO BE CONTINUED..