
Setelah matahari sudah mulai menyingsing, Qilin sadar. Dan yang pertama dia lihat adalah ibunya yang sedang menangis di pelukan Luca.
"Mama." Gumam Qilin, dan Dewi langsung menghampiri Qilin.
"Sayang, akhirnya kamu sadar juga." Ujar Dewi dengan wajah khawatir.
"Ma, bagaimana dengan kandunganku?" Tanya Qilin dengan takut.
"Kandunganmu baik - baik saja, sayang." Ujar Dewi. Qilin pun bernafas lega mendengarnya. Tapi Qilin tidak melihat Sierra dan Arthur di sana.
"Sayang, ayo kita pergi saja dari sini dan tinggal dengan mama dan papa di Swiss." Ujar Dewi tiba - tiba. Qilin pun mengernyit bingung.
"Qilin punya suami, ma. Kita tidak bisa begitu saja membawanya, apalagi Justin masih belum sadar." Ujar Luca.
"Ada apa? Kenapa mama tiba - tiba memintaku untuk tinggal di Swiss?" Tanya Qilin.
Luca menatap ibunya, dia enggan memberi tahu Qilin, tapi bagaimana pun juga mereka tidak bisa menutupinya.
"Kak, semalam tiga rumah keluarga Edward yaitu rumah kakak, paman Arthur dan kak Dustin mengalami ledakan yang sama." Ujar Luca, Qilin langsung terkejut mendengarnya, dan dia langsung menangis.
"Lalu bagaimana? Apakah mereka baik - baik saja?" Tanya Qilin sembari menangis, Dewi pun langsung memeluk Qilin dan ikut menangis.
"Mereka selamat, tapi semuanya mengalami luka - luka." Ujar Luca. Dewi mengusap - usap kepala Qilin.
"Bagaimana dengan Justin? Dia menahan reruntuhan yang menimpa kami." Ujar Qilin dengan cemas.
"Kak Justin.. "
"Dia baik - baik saja, kak." Ujar Dustin yang tiba - tiba masuk. Luca tertegun dan memberi tatapan seolah bertanya, tapi Cio yang datang dengan Dustin memberi kode pada Luca untuk diam.
"Dustin, kamu baik - baik saja?" Tanya Qilin, dan Dustin mengangguk.
"Aku di luar rumah saat ledakan itu terjadi." Sahut Dustin.
"Sukurlah." Ujar Qilin. Cio menghampiri Qilin dan memeluknya. Dia merasa bersalah karena tidak bisa melindungi kakak perempuannya itu.
"Semua akan baik - baik saja, kak." Ujar Cio, sembari mengusap - usap punggung Qilin.
Kabar ledakan itu pun menjadi pemberitaan heboh di berbagai stasiun tv, bahkan ada video amatir dari rekaman cctv yang sempat menangkap seberapa mengerikannya kedakan itu.
"Beberapa ledakan yang belum di ketahui penyebabnya telah meluluhlantakkan kediaman konglomerat kota, yakni Arthur Edward, Justin Edward, dan Dustin Edward."
__ADS_1
( Jeda )
"Tiga kediaman itu meledak di saat yang bersamaan, di detik yang sama. Polisi menduga itu adalah teror dari ******* yang belum di ketahui identitasnya."
( Jeda )
"Sementara para pemilik rumah itu di kabarkan mengalami luka - luka parah hingga ada yang di operasi." Ujar seorang pembawa berita di stasiun TV.
Kemudian Tv pun menunjukan video amatir dimana kediaman Justin meledak tiga kali berturut - turut dengan jeda waktu satu menit sebelum ledakan kedua dan ketiga menyusul.
"Pada pukul sebelas tadi malam, tiga ledakan terjadi, di rumah milik pengusaha muda yang sukses yakni Justin Xander Edward. Justin Xander Edward sendiri di larikan ke rumah sakit bersama istrinya yakni Qin Lian Nehemia dengan luka parah." Ujar reporter.
"Tidak ada saksi mata yang melihat kejadian ini, beberapa pekerja di rumah Justin mengalami luka - luka dan banyak diantaranya yang tewas akibat ledakan itu." Ujar Reporter lagi.
Qilin melihat berita itu dari tv yang berada di ruangannya, dia masih berkaca - kaca ketika mengingat betapa mengerikannya dia berada di antara ledakan - ledakan itu.
"Justin.." Gumam Qilin, sembari mengusap perutnya.
"Sayang, jangan begini. Kasihan anakmu, dia akan merasakan kesedihanmu juga." Ujar Dewi, dan Qilin mengangguk.
Sementara di ruangan Justin, Justin masih belum sadar setelah operasi. Cidera di kepalanya benar - benar buruk, apalagi Justin memiliki riwayat hilang ingatan.
Seorang perawat pria membuka pintu, dan terlihat Arthur yang duduk di kursi roda yang tengah di dorong oleh Mlavin. Malvin selamat karena saat kejadian, dia sudah pulang.
"Kamu harus bangun, nak. Kasihan istri dan anakmu." Gumam Arthur.
"Anak??" Tanya Malvin terkejut.
"Kemarin setelah kita makan siang bersama, Justin dan Qilin mengumumkan kehamilan Qilin, kami sedang sangat berbahagia, tapi tiba - tiba.." Ujar Arthur menggantung.
"Tuan, semua kejadian, ada hikmahnya. Saya yakin tuan muda akan baik - baik saja." Ujar Malvin dan Arthur mengangguk.
"Bagaimana dengan penyelidikan? Apakah polisi atau tim kita menemukan pelakunya?" Tanya Justin.
"Belum, tuan." Sahut Malvin dengan menyesal.
"Siapapun orangnya, dia akan mendapatkan lebih dari ini." Ujar Arthur dengan tatapan tajam.
"Saya curiga pelaku mengetahui identitas keluarga Edward, tuan. Karena sejauh ini semua orang hanya mengenal keluarga Edward adalah konglomerat, bukan mafia. Saya yakin pelaku adalah musuh TITANES." Ujar Malvin.
"Aku pun berpikir demikian, tapi sejauh ini tidak ada dari seorang musuh Titanes pun yang mengenali kami. Dan orang yang melihat atau mengetahui identitas kami, semuanya langsung di lenyapkan."Ujar Arthur, dan Malvin mengangguk - anggukan kepalanya.
__ADS_1
"Benar juga." Gumam Malvin.
"Ayo ke kamar istriku." Ujar Arthur, dan Malvin pun langsung memutar kursi roda Arthur, lalu pergi dari ruangan Justin.
Hingga dua hari kemudian, Qilin di bantu Luca dan Dewi berjalan dengan kursi roda, mereka hendak mengunjungi kamar Justin. Justin belum juga sadar, dan itu membuat semua orang khawatir.
Sierra sudah sadar, tapi dia masih berada di brankar rumah sakit dan belum boleh melakukan apapun karena operasi yang di jalaninya.
"Justin.." Gumam Qilin, ketika akhirnya dia sudah sampai di kamar rawat Justin. Qilin menggenggam tangan Justin yang masih belum sadarkan diri.
Tapi tiba - tiba tangan Justin bergerak, selaan dia menyadari kehadiran Qilin di sana. Dan tiba - tiba juga Justin membuka matanya.
"Justin, kamu sudah bangun, sukurlah." Ujar Qilin. Luca langsung menekan tombol bantuan agar dokter segera datang ke ruangan Justin.
"Sayang, kamu sudah bangun.." Ujar Qilin dengan senang dan bercampur tangis.
"Sayang.. kamu baik - baik saja?" Ujar Justin dengan lemah, dan Qilin mengangguk - anggukan kepalanya sembari menangis.
"Jangan menangis, aku baik - baik saja." Ujar Justin, dan tangannya yang masih lemah itu mencoba menghapus air mata Qilin.
"Kamu sudah tidak sadar selama tiga hari, bagaimana aku tidak menangis. Aku takut kehilanganmu." Ujar Qilin, dan Justin tersenyum mendengarnya.
"Aku tidak akan meninggalkan kamu sayang, tidak akan." Ujar Justin, dan Qilin mengangguk sembari menciumi tangan Justin.
"Bagaimana dengan anak kita?" Tanya Justin, Qilin pun mengusap perutnya dan tersenyum.
"Dia kuat sepertimu, dia baik baik saja." Ujar Qilin dan Justin tersenyum mendengar itu. Dokter pun masuk ke ruangan itu dan mengecek kondisi Justin.
Setelah di cek dan kondisi Justin baik - baik saja, Dokter pun kembali keluar. Dewi dan Luca pun ikut keluar untuk memberikan privasi kepada Qilin dan Justin.
"Aku merindukanmu." Ujar Qilin, Justin terkekeh lemah mendengarnya. Qilin kemudian menciumi tangan Justin berulang kali, dan Justin semakin terkekeh karena tingkah Qilin.
"Aku ingin memelukmu, sayang." Ujar Justin, tapi keadaan keduanya tidak memungkinkan. Kaki Qilin juga masih di gips, apalagi Justin yang masih parah.
"Aku juga.." Ujar Qilin lalu menangis, Qilin menjadi sangat cengeng setelah hamil.
"Jangan menangis, sayang.." Ujar Justin menghapus air mata Qilin.
"Yang terpenting kita berdua masih sama - sama selamat, kita masih bisa berkumpul. Kamu, aku dan anak kita." Ujar Justin. Dia belum tahu bahwa Sierra dan Arthur juga di rawat.
"Justin, bukan hanya rumah kita yang di ledakkan, tapi rumah mommy dan daddy juga Dustin, semuanya meledak di saat yang bersamaan." Ujar Qilin, dan Justin langsung terkejut mendengarnya.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..