
Paginya, Justin dan Qilin langsung ke rumah sakit dan memeriksakan Qilin ke dokter kandungan.
Dokter terlihat sedang melakukan USG pada Qilin, dan dia tersenyum. " Wah, selamat tuan dan nyonya, kalian akan segera menjadi orang tua." Ujar Dokter.
Justin menangis haru mendengar apa yang dokter katakan, dia tak henti hentinya mencium kepala Qilin.
" Dia masih sangat kecil, lebih kecil dari kepalan tangan." Ujar dokter.
Justin mencium tangan Qilin. "Sayang, kita akan jadi orang tua." Ujar Justin, dan Qilin mengangguk sembari menghapus air matanya.
Setelah pemeriksaan selesai, dokter pun memberika beberapa vitamin dan obat mual untuk meminimalisir efek mual yang Qilin alami.
" Ini adalah vitamin untuk penguat kandungan nyonya, dan ini adalah obat anti mual, agar nyonya tidak tersiksa karena mual." Ujar Dokter.
" Terimakasih, dok. Tapi sejujurnya suami saya yang lebih sering mual dan tersiksa." Ujar Qilin, dan Dokter terkekeh.
" Sepertinya calon bayinya lebih sayang pada ibunya, jadi dia membuat ayahnya yang sengsara karena mual." Ujar Doter.
" Tidak apa - apa, nyonya. Hal itu wajar terjadi kepada para suami yang istrinya sedang mengidam. Jadi mungkin tuan yang merasakan ngidamnya." Ucap Dokter lagi.
" Jadi apakah tidak apa apa jika suami saya seperti itu, dok?" Tanya Qilin.
" Tidak apa - apa." Sahut Dokter.
Dokter juga menerangkan banyak hal, apa yang boleh dan tidak boleh di konsumsi Qilin, juga kapan waktu terbaik bagi Qilin dan Justin jika ingin melakukan hubungan.
Dan akhirnya setelah mereka memeriksakan kandungan, saat ini Qilin dan Justin sudah berada di dalam mobil.
Justin mengusap - usap perut Qilin yang masih rata itu. "Tidak heran papa mual dan pusing, ternyata calon anak papa sudah ada di dalam perut mama, ya?" Ujarnya mengajak calon bayinya bicara.
"Aku masih tidak bisa percaya bahwa aku akhirnya hamil." Ucap Qilin, Justin pun mengecup kening Qilin.
" Kita beri semua orang kejutan dengan kehamilanmu sayang." Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.
" Hey nak, terimakasih karena kamu sangat menyayangi mamamu, papa tidak masalah jika kamu membuat papa sengsara, asal jangan buat mamamu sakit, oke?" Ujar Justin.
" Iya, papa." Ujar Qilin menirukan suara anak kecil.
" Tapi bagaimana dengan rencana kita yag akan terbang? jelas aku tidak boleh naik pesawat dulu." Tanya Qilin.
" Kita rayakan Natal di sini saja, aku akan urus semuanya nanti." Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.
Justin kembali mengecup perut Qilin.
" Best Christmas present ever." Ujar Justin.
__ADS_1
Dan akhirnya Justin dan Qilin pun pergi dari rumah sakit. Justin langsung pulang dan memutuskan untuk bekerja dari rumah untuk menemani Qilin lebih lama.
Herannya, saat di rumah bersama Qilin, Justin tidak merasakan pusing yang teramat sangat. Mual mungkin masih, tapi juga tidak terlalu.
Sementara Qilin, dia masih menikmati makan buah yang Justin siapkan untuknya sembari dia membaca buku panduan kehamilan.
" Serius sekali.." Ujar Justin tiba tiba, sambil mengecup pundak Qilin.
" Aku sedang belajar bagaimana menghadapi situasi situasi yang mungkin akan terjadi padaku selama kehamilan."Ujar Qilin.
" Semangat belajarnya mama." Ujar Justin, dan Qilin terkekeh.
Justin pergi, dan dia menghubungi kembarannya, Dustin. Dustin selalu mengatakan dirinya baik - baik saja bersama kekasihnya, tapi tidak pernah pulang ke tanah air.
" Halo." Ujar suara Dustin dari sana.
" Kau kapan akan pulang, ini sudah hampir tiga bulan lamanya dan kau masih saja belum pulang." Ujar Justin.
Terdengar suara kekehan Dustin dari seberang sana." Haha, bagaimana lagi aku juga sibuk di sini." Ujar Dustin.
" Bawalah kekasihmu itu pulang ke tanah air, pertemukan dengan mommy dan daddy lalu nikahi dia, apakah sesulit itu keadaanmu di sana?" Tanya Justin.
" Akan aku urus itu nanti." Ujar Dustin.
" Pulanglah saat Natal, itu perintah bukan permohonan." Ujar Justin, dan langsung mengakhiri panggilannya.
" Hampir tga bulan lamanya, dan aku masih saja belum bisa melupakan dia. Aku tidak yakin jika aku pulang aku bisa memegang sumpahku pada daddy dan mommy."
( jeda )
"Lebih baik aku di sini, melindungi kalian semua orang orang yangbaku kasihi, dari jauh." Ujar Dustin dan pandangannya menerawang jauh.
Padahal saat ini dia sedang bermain Ski di pegunungan bersalju, hati yang tadinya baik baik saja, kini menjadi rusak lagi.
Ben muncul dengan alat ski nya, dan berhenti di sisi Dustin." Tuan, markas The Wolf yang mencuri senjata di markas tanah air sudah di singkirkan." Ujar Ben.
Dustin mengantongi ponselnya, dan mengangguk." Bagus, apakah ada kabar terbaru dari orang - orang di rumah?" Tanya Dustin.
" Tidak ada, tuan. Semua masih baik baik saja, dan tidak ada kabar yang lain." Sahut Ben.
" Tapi tuan, pemimpin The Wolf masih belum di temukan, saya takut dia akan melakukan pembalasan kembali." ujar Ben.
Dustin mengangguk, lalu menggerakan alat skinya kembali. " Ayo pulang, kita bahas di rumah. " Ujar Dustin, dan Ben mengikuti Dustin dari belakang.
TITANES dan TITANES muda dalam pengawasan Dustin, dia patah hati tapi justru menjadi lebih bengis. Saat dia mendapat kabar bahwa The Wolf mencuri semua senjata, dia langsung mencari keberadaan The Wolf.
__ADS_1
Mereka menghancurkan tiap markas the Wolf, dan mengambil kembali persenjataan mereka.
Beberpaa hari kemudian.
Qilin dengan dress berwarna putihnya saat ini sedang duduk di taman belakang, dia sedang melihat kearah dimana ada Justin yang sedang berjuang memanjat pohon kelapa.
" Semangat, sayang." Teriak Qilin, dari bawah.
Justin melihat ke bawah, dan mengacungkan jempolnya." Iya sayang." Sahut Justin.
Tapi di bawah pohon kelapa yang Justin panjat saat ini ada lebih dari 10 pengawal Justin yang berjaga jaga dengan wajah yang penuh khawatir. Bagaimanapun Justin tidak menggunakan alat pengaman sama sekali.
Mereka bergerak kekanan dan kekiri dengan panik untuk bersiap apabila Justin jatuh.
" Tuan, jangan lepas tangan, nanti anda jatuh." Ujar salah satu anak buah Justin.
" Aku tidak akan jatuh." Ujar Justin, tapi baru mengatakan begitu, kakinya meleset dan anak buahnya langsung panik ketakutan.
" Tuan, saya mohon turun saja, biar kami yang mengambilkannya." Ujar anak buah Justin.
" Tidak, ini kemauan calon anakku, sebagai ayah yang baik aku alan melakukan apa yang dia minta." Ujar Justin.
" Lagi pula aku sudah terbiasa memanjat, kalian tidak perlu khawatir berlrbihan begitu." Ujar Justin lagi.
Justin kembali memanjat pohon itu, dan akhirnya sampai di ujung, dimana buah kelapa yang akan dia ambil kini berada di tangannya.
Tiba tiba angin bertiup lumayan kencang, dan pohon kelapa itu bergoyang kesana kemari.
" Weleh! Weleh! Tuan, pegangan yang erat." Teriak anak buah Justin.
" Sayang, pegangan yang kuat, hati hati." Teriak Qilin, khawatir.
" Aku dapat, sayang." Teriak Justin, dan Qilin langsung bertepuk tangan kegirangan.
Justin turun tanpa melemparkan kelapa yang sudah dia petik di tangannya, hingga akhirnya dia berhasil mendarat di tanah dengan selamat.
" Akhirnya." Ujar Justin. Semua anak buahnya juga menghela nafas lega.
Justin langsung membuka kelapa itu menggunakan belati di tangannya, saking tajamnya belati itu, dia bisa menembus kulit kelapa yang keras.
" Nak, ini pesananmu." Ujar Justin, mengusap perut Qilin.
" Terimakasih, papa." Ujar Qilin menirukan suara anak kecil. Qilin meneguk air kelapa hasil petikan Justin, dan dia merasa sangat bahagia.
Sebenarnya bisa saja mereka membelinya di toko buah, tapi Qilin mau yang langsung dari pohon, dan Justin yang memetiknya sendiri. Qilin sedang mengidam.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..