Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 121. Justin kekanak- kanakan.


__ADS_3

Qilin sedang membaca buku kehamilan, dan tiba - tiba pelayan masuk dan mengatakan bahwa ada seseorang yang datang.


" Siapa??" Tanya Qilin.


" Wanita itu menyebut dirinya Rena, nyonya." Ujar sang pelayan.


" Rena? Astaga, akhirnya dia datang kemari juga." Ujar Qilin dan bangun dengan antusias.


" Nyonya, hati - hati." Ujar pelayan itu takut terjadi sesuatu pada Qilin.


" Tidak apa - apa." Uajr Qilin menenangkan pelayan itu.


Qilin pun berjalan keluar dan melihat Rena dengan perut besarnya yang sedang duduk.


" Halo calon mama." Ujar Qilin dengan sumringah.


Rena bangun dan merentangkan kedua tangannya" Qilin.. astaga, akhirnya bisa bertemu denganmu lagi." Ujar Rena.


Qilin pun memeluk sahabatnya itu, mereka saling melepas rindu.


" Astaga, sudah lama sekali rasanya." Ujar Rena.


" Setelah menikah, kita jadi jarang bertemu. Astaga perutmu, besar sekali." Ujar Qilin sembark mengusap perut Rena.


"Hehehe, Sebentar lagi dia akan melihat dunia." Ujar Rena terkekeh.


" Ayo, kita ke halaman belakang saja, disini panas. " Ujar Qilin, dan Rena mengangguk.


Itu adalah pertama kalinya Rena mengunjungi rumah Justin dan Qilin, Rena benar benar terkesima melibat besarnya rumah itu.


" Wah, kamu memiliki kolam renang." Ujar Rena.


"Ayo duduk." Ujar Qilin.


Melihat perut Rena yang besar Qilin merasa itu sangat lucu, sampai tatapannya selalu kearah perut Rena. Dia jadi tidak sabar ingin segera merasakan perut yang besar itu.


" Hei, kamu kenapa .elihat perutku terus?" Tanya Rena terkekeh.


" Apakah berat?" Tanya Qilin.


" Ini masih kategori berat tapi sedang, sebentar lagi aku akan memasuki fase paling menyulitkan." Ujar Rena.


Rena menarik tangan Qilin, dan menaruhnya di perutnya.


" Merasakan sesuatu??" Tanya Rena, dan Qilin terkejut karena dia merasakan perut Rena yang bergerak.


" Astaga Rena, perutmu bergerak - gerak." Ujar Qilin.


" Aku sangat aktif kan, tante Qi??" Tanya Rena dengan suara seperti anak kecil.


Qilin sampai terbahak karena merasa lucu dengan gerakan di perut Rena.


" Aku jadi tidak sabar merasakan perutku bergerak." Ujar Qilin kelepasan.


Rena langsung membuka mulutnya, antara dia terkejut dan senang mendengar apa yang Qilin ucapkan.


" Kamu hamil?" Tanya Rena, dan Qilin menutup mulutnya.

__ADS_1


" Yah.. aku kelepasan." Ujar Qilin, dan Rena terkekeh.


" Astaga Qilin sayang.. akhirnya kamu juga hamil. Aku tidak sabar melihat mereka bermain bersama nanti." Ujar Rena.


Rena memeluk Qilin dengan sangat erat. " Selamat." Ujarnya.


" Terimakasih.." Sahut Qilin.


" Tapi jangan beri tahu siapapun, aku akan menjadikan ini sebagai hadiah untuk semua orang nanti." Ujar Qilin.


" Tentu saja, jangan khawatir." Ujar Rena.


Pelayan datang dan membawakan buah - buahan untuk Qilin dan Rena, mereka berdua pun duduk - duduk santai di sana menikmati suasana sore hari di sana.


" Apa jenis kelaminnya?" Tanya Qilin, sembari mengunyah buah mangga.


" Aku dan Fendy sepakat untuk tidak mengetahui jenis kelaminnya, agar bisa jadi kejutan untuk kami nanti." Sahut Rena, yang juga mengunyah buah mangga.


" Wahhh.. aku tidak sabar bertemu keponakan kecilku." Ujar Qilin.


" Aku juga tidak sabar bertemu dengan keponakanku." Ujar Rena terkekeh, keduanya tertawa bersama.


Tiba tiba Justin datang, dan Qilin langsung bangun menyambut Justin.


" Rupanya ada tamu." Ujar Justin


" Selamat sore, tuan justin." Sapa Rena dan Justin mengangguk, tetap dingin bagai balok es.


" Qilin, kalau begitu aku pulang dulu." Ujar Rena.


" Yah.. aku belum puas mengobrol denganmu." Ujar Qilin sedih.


" Ah, baik." Sahut Rena. Dia masih saja merasa tidak enak dan takut dengan Justin, bagaimanapun Justin orang yang berpengaruh.


" Sayang, BBQ sepertinya enak malam ini." Ujar Qilin.


" Kamu ingin BBQ?" Tanya Justin, dan Qilin langsung mengangguk antusias.


" Rena, kita BBQ di sini, oke?" Tanya Qilin pada Rena.


" Aku bilang Fendy lebih dulu, sebentar." Ujar Rena, dan dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Fendy.


Tak lama, Rena pun menghampiri Qilin lagi, dan menganggukan kepalanya.


" Dia mengizinkannya." Ujar Rena.


" Kita BBQ." Ucap Qilin dengan sangat antusias. Justin hanya bisa mengusap usap kepala istrinya yang sedang sangat antusias itu.


Singkat cerita, kini halaman belakang Qilin sudah di sulap menjadi perkemahan buatan yang di buat oleh para pelayan. Mengapa di buat perkemahan, karena Justin takut hujan akan turun saat Qilin sedang asing menikmati bakaran nya.


Fendy juga datang kesana dan dua pasangan muda itu kini menikmati pesta kecil kecilan mereka.


" Qilin, apa tidak apa - apa jika tuan Justin turun tangan memasak? Aku jadi merasa tidak enak." Ujar Rena.


Qilin mengibaskan tangannya sembari mengatakan, " Tidak apa - apa, dia sudah terbiasa." Ujar Qilin.


Rena tentu terkejut mendengarnya, seorang Justin memasak? "Apa seorang tuan muda juga bisa turun tangan memasak?" Tanya Rena.

__ADS_1


"Dia mungkin di besarkan dengan sendok emas, tapi dia tidak seperti yang semua orang pikirkan." Sahut Qilin.


Tapi rupanya pemandangan manis yang di lihat Qilin dan Rena itu tidak semanis kenyataan nya. Nyatanya Justin dan Qilin saat ini sedang perang dengan bahasa tubuh laki laki.


' Ck, paling dia hanya akan membakar keseluruhan dagingnya. Buatanku sudah pasti lebih enak. ' Batin Justin dengan tatapan sinis.


Entah setan mana yang merasukinya, saat ia melihat Fendy, ia jadi teringat dengan Fendy yang mendekati dan menyukai Qilin dulu, rasa cemburu butanya tiba tiba muncul begitu saja.


' Kenapa dengan tuan muda satu ini, sejak tadi dia menatapku dengan tatapan permusuhan.' Batin Fendy heran.


Justin bahkan menyingsing kedua lengannya hingga memperlihatkan urat urat otot lengannya, memang jika di bandingkan dengan Fendy, Justin tentu menang.


Tapi bukan itu poinnya, ada apa dengan justin?? Dia menjadi kekanak - kanakan saat ini. Fendy bahkan sampai heran sendiri melihat betapa perfect nya Justin dalam memasak.


' Oh... apa dia masih mengira aku masih mencintai istrinya? Hihi, lucu.' Batin Fendy.


Justin melihat Fendy yang tersenyum, dan dia menafsirkannya dengan salah. Dia pikir Fendy sedang meremehkan dirinya saat ini.


' Sial, beraninya dia menertawakan aku.' Batin Justin menjadi kesal.


" Aku seorang barista yang juga selalu memasakkan menu lain di cafe, tentu buatanku lebih enak, tuan muda Justin." Ujar Fendy terus terang.


" Ck! Percaya diri sekali kau. Aku sudah memasak sejak usiaku lima belas tahun, membuat makanan seperti ini, tidak ada apa - apanya bagiku." Sahut Justin.


' Padahal aku tidak mengajaknya berduel masak.' Batin Fendy tidak habis pikir.


Dan akhirnya terlihat Justin berjalan membawa sepiring daging yang sudah dia bakar untuk Qilin. " Ini sayang, punyamu." Ujar Justin.


" Wah.. kelihatannya enak." Ujar Qilin, dan Justin terkekeh.


" Makanlah." Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.


Tak lama, Fendy juga datang dengan sepiring daging untuk Rena. " Ini punyamu sayang." Ujar Fendy pada Rena.


" Terimakasih." Ucap Rena.


Qilin dan Rena pun memakan makanan mereka, dan keduanya merasa senang saat ini.


" Qilin, boleh cicipi punyamu?" Tanya Rena, dan Justin langsung menghalangi.


" Jangan! Itu aku buat spesial untuk istriku." Ujar Justin, Qilin pun langsung melotot tidak percaya.


" Sayang, Rena hanya ingin mencicipi sedikit." Ujar Qilin.


" Tapi sayang.." Ucap Justin.


" Sedikit, dan aku akan mencicipi punya Rena." Ujar Qilin dan akhirnya bertukar cicip makanan mereka.


Justin terlihat kesal, akhirnya dia masuk kedalam. Entah pergi kemana wibawa dan sikap tegas sekaligus dinginnya itu, dia menjadi begitu kekanak - kanakan saat ini.


" Qilin, tuan Justin marah?" Tanya Rena.


" Tidak, dia hanya sedang dalam mode manja. Menurut dokter, suami juga bisa merasakan ngidamnya, mungkin itu bawaan bayi." Ujar Qilin menenangkan Rena.


" Maafkan dia, ya.. Anggaplah dia sedang PMS." Ucap Qilin terkekeh.


" Aku jadi merasa bersalah." Ujar Rena.

__ADS_1


" Jangan di pikirkan, ayo kita lanjutkan saja, sebentar lagi paling dia keluar." Ujar Qilin, dan Rena mengangguk.


TO BE CONTINUED..


__ADS_2