
Justin berhasil masuk kedalam rumah Agra, karena efek tembakan yang Justin lakukan, kediaman Agra itu kini menjadi porak porandah, terutama bagian pintunya.
" Sopan sekali, kau?? Masuk kedalam rumah orang dengan cara seperti itu." Ujar Agra pada Justin, menyindir.
" Dimana Qilin.." Ujar Justin.
Agra mengernyitkan keningnya, dia pikir Qilin hanya seorang gadis yatim yang di buang ibunya di panti dan tidak memiliki seorangpun kerabat, tapi apa ini.. seseorang bahkan datang dari seberang lautan untuk mencari Qilin.
" Siapa kau?" Tanya Agra.
" Sebaiknya jawab pertanyaanku, dimana Qilin." Ujar Justin lagi.
Tiba tiba muncul anak buah Agra dan langsung mengepung Justin dan Dustin, anak buah Agra langsung menodongkan senjatanya kearah Justin.
" Tahan." Ujar Agra pada anak buahnya.
Mungkin ada sekitar puluhan anak buah Agra yang berdiri di belakang Agra dan sisanya mengepung Justin dan Dustin.
" Kau datang jauh jauh kemari hanya untuk mencari Qilin?" Tanya Agra.
" Dimana dia?" Tanya Justin.
" Entah.. Siapa yang tahu dia dimana, dia hidup atau tidak juga tidak ada yang tahu." Ujar Agra sepele.
Justin mengepalkan tangan nya lalu menodong Agra dengan senapannya, tapi anak buah Agra juga langsung sigap menodongkan kembali senjata mereka kearah Justin.
" Segores saja.. jika sampai aku melihat segores saja tubuh Qilin terluka, aku pastikan kediaman ini akan rata dengan tanah dan menjadi kuburanmu." Ujar Justin.
" Nyali yang besar, tapi apa kau mampu melakukannya? Sebaiknya tahu dirilah sedikit, kalian hanya berempat dan aku.. banyak yang melindungiku." Ujar Agra, sombong.
" Terakhir kali aku melihatnya, dia bukan hanya tergores, tapi dia berdarah darah dan.."
" BUGH!!" Sebuah bogeman mentah mendarat di wajah Agra Khan, tidak ada yang melihat dan mengira Justin bisa bergerak secepat itu.
" Tuan!!" Anak buah Agra panik.
" Hmmm.. sudah lama aku tidak bertemu lawan yang sebanding, bisa membuatku terhuyung ke belakang, kau pasti seorang yang hebat.." Ujar Agra menghapus darah yang keluar dari mulutnya.
Tiba tiba, anak buah Justin berkata lewat earpiece di telinga Justin bahwa dia telah menemukan Dewi, ibu kandung Qilin, namun Qilin tidak di ketahui berada dimana.
__ADS_1
Justin memberi kode pada anak buahnya yang lain, dan tiba tiba saja dari belakang anak buah Agra, muncul anak buah Justin dan menodongkan senjata kearah mereka.
" Rupanya kau datang dengan persiapan yang matang." Ujar Agra. Agra sebenarnya bingung, karena tiba tiba saja anak buah Justin sudah berada di dalam rumahnya.
" Aku tanya, dimana Qilin.." Ujar Justin.
" Mungkin sekarang sudah mati." Ujar Agra dan Justin langsung menyerang Agra.
Dua kubu itu kini berperang, mereka saling menembak, memukul dan saling membunuh. Justin melawan Agra dengan begitu buasnya, sementara Dustin melawan anak buah Agra yang lain.
" Aku sudah katakan kepadamu bahwa aku akan meratakan kediaman ini untuk menjadi kuburanmu jika sampai terjadi sesuatu kepada Qilinku, jadi terimalah." Ujar Justin.
Tapi rupanya Agra juga adalah seorang petarung yang hebat, meski usianya tidak lagi muda, dia masih sangat kuat. Agra terluka, tapi masih bisa melawan Justin sambil tertawa.
" Hahaha, aku senang menemukan lawan yang seimbang." Ujar Agra.
Perkelahian pun tidak bisa di hindarkan, Justin tidak memberi ampun pada Agra, begitu juga sebaliknya. Hingga Agra terkecoh ketika melihat Dewi yang di bawa anak buah Justin berlari keluar.
'' Berhenti, mau kalian bawa kemana istriku!'' Teriak Agra, dan Justin maenggunakan kesempatan itu untuk menyerang Agra.
'' Bagh!! Bugh!! '' Justin meninju berkali kali wajah Agra.
Namun Agra tidak menghiraukannya dan terus berusaha mengejar Dewi yang di bawa oleh anak buah Justin, Justin pun terus menghajar Agra, dan dari situ Justin tahu bahwa..
' Kelemahannya adalah ibu kandung Qilin.' Batin Justin.
Setelah Dewi sudah tidak terlihat dari pandangan Agra, Agra baru kembali fokus dan menghajar Justin dengan membabi buta. Justin sempat terpental, namun dia bangun lagi dan kembali menyerang Agra.
'' Mati kau!'' Ujar Agra dan hendak mengarahkan senjata apinya, tapi dengan sigap Justin menendang pistol itu hingga jatuh.
Justin menendang Agra berkali kali hingga Agra terpental dan menabrak kaca hingga pecah, justin pun menghajarnya berulang kali, hingga Agra tidak lagi bergerak. Justin baru menghentikan pukulannya ketika tubuh Agra sudah terkulai lemas.
'' Tidak akan aku biarkan.. seorangpun yang pernah menyakiti Qilinku hidup.'' Gumam Justin sambil nafasnya terengah engah.
'' Kak, semuanya sudah kalah.'' Ujar Dustin yang muncul menghampiti Justin.
'' Bagus, ayo kita pergi.'' Ujar Justin.
'' Dimana Agra?'' Tanya Dustin, Justin berbalik untuk memperlihatkan Agra yang sudah tewas tapi ternyata..
__ADS_1
'' Si*l! dia mengelabuhiku.'' Ujar Justin ketika melihat Agra yang sudah tidak ada di tempatnya.
'' Sudahlah, kita akan awasi dia.. sekarang ayo kita pergi dari sini, ibu Qilin sudah menunggu.'' Ujar Dustin dan Justin mengangguk.
Justin dan Dustin pun keluar dari kediaman itu, tapi Justin tidak pergi begitu saja, dia menempelkan bom di beberapa titik bagian rumah itu, lalu...
'' DUM! DUM! DUM! DUM! DUM! '' Bom yang Justin pasang menghancurkan seluruh kediaman itu.
Jikapun ada yang selamat, maka mustahil keadaan nya akan baik baik saja. Kekuatan bom itu bahkan menggetarkan tanah yang mereka pijak, jadi mustahil jika ada yang selamat di dalam rumah itu. Justin pun mengendarai motornya dan pergi dari sana bersama Dustin dan sisa anak buahnya.
'' Dimana ibu Qilin?'' Tanya Justin pada Dustin.
'' Anak anak ( anak buah) membawanya dengan mobil ke tempat kita, kita akan bertemu di sana.'' Ujar Dustin, Justin pun mengangguk.
Semuanya pergi dari kediaman Arga yang kini rata dengan tanah. Dan setelah Justin dan semua anak buahnya pergi dari sana, sebuah helikopter mendarat.
Seorang pria muda tampak berlari dan terkejut melihat kondisi rumah itu terbakar dan hancur.
" Papa, mama." Gumamnya dan langsung lari kedalam.
Pria itu tidak peduli dengan kobaran api dan menerjang masuk kedalam. Dia melihat jasad jasad anak buah Agra yang tergeletak dan tertimbun dengan reruntuhan bangunan itu.
" Papa! Mama! " Teriak pria itu.
Adalah putra Agra Khan dengan Dewi, yang berarti adik Qilin, yang bernama Luca Khan. Pria itu berbadan tinggi tegap dengan rambut berwarna pirang, seperti seorang militer.
Luca berlari mencari ke tempat persembinyian yang di bangun ayahnya itu, dia menyingkirkan semua denda yang menutupi jalannya dan akhirnya dia berhasil sampai di sebuah pintu besi.
Dengan sandi, akhirnya Luca berhasil membuka pintu, dan rupanya benar.. Agra bersembunyi di sana.
" Luca.. Mamamu di bawa pergi kelompok pria yang mencari gadis itu, lakukan sesuatu.. nak.." Ujar Agra, lalu hilang kesadaran.
" Papa.. Papa.. Papa! " Teriak Luca khawatir.
Tapi kekhawatirannya itu berubah menjadi tatapan kebencian saat ini, tatapannya menatap jauh dengan urat urat di wajahnya yang terlihat menegang.
' Beraninya mereka membuat papaku begini, aku akan menangkapmu, siapapun kau..' Batin Luca, sambil berusaha menggendong tubuh Agra.
" Darah.. di bayar dengan darah. Nyawa.. di bayar dengan nyawa.." Gumam Luca, dengan tatapan setajam elang.
__ADS_1
TO BE CONTINUED...