Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 89. Welcome home Qilin


__ADS_3

Qilin bangun dari tidurnya dan terkejut karena hari rupanya sudah siang, dia pun langsung bergegas turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.


Sementara Justin, dia berada di ruangan kerjanya yang berada di belakang ranjang, dia sedang sangat sibuk berkutat dengan pekerjaan nya.


" Ring.. Ring.. Ring.." Ponsel Justin berdering.


" Hmm.. ada apa?" Tanya Justin.


" Kak, kau kapan datang ke rumah utama? Mommy mempertanyakan Qilin terus." Ujar suara Dustin.


" Kami akan kesana, nanti. Untuk makan siang bersama." Ujar Jistin.


" Baiklah.." Ujar Dustin dan panggilan di akhiri.


Justin melihat kearah ranjang, dan rupanya Qilin sudah tidak ada di sana. Dia pun bangun dan keluar dari tuang kerja nya, dan duduk di ranjang sembari menunggu Qilin.


Dan setelah beberapa saat, Qilin pun keluar dengan handuk yang membungkus kepalanya.


" Sudah selesai, sayang?" Ujar Justin, dan Qilin tersenyum.


" Hm, sudah." Ujar Qilin.


Justin bangun dan meletakan ponselnya, kemudian menghampiri Qilin dan membantu Qilin mengeringkan rambutnya.


" Kemari, biar aku keringkan." Ujar Justin, dan Qilin patuh.


Qilin pun duduk dengan patuh, dan Justin mulai mengeringkan rambut Qilin yang sekarang masih berwarna hitam. Qilin tampak tersenyum senyum sambil melihat Justin dari kaca.


Justin yang gemas pun berulang kali mencium kepala Qilin.


" Nakal.." Gumam Justin.


" Aku tidak melakukan apapun.." Ujar Qilin.


" Kita makan siang di rumah mommy, ya.. tadi Dustin menghubungiku, mommy mencarimu." Ujar Justin.


" Oke." Ujar Qilin dan mengacungkan jempolnya.


Hingga akhirnya Justin pun selesai dan rambut Qilin kini sudah kering sempurna.


" Bersiaplah, aku tunggu di bawah." Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.


Justin pun keluar, dan Qilin pun bersiap. Di bawah, Justin menuju ke dapur bersih, dimana disana adalah dapur khusus untuk Justin jika ingin memasak apapun.


Dapur itu lebih seperti meja bar sebenarnya, karena di sekelilingnya tersusun banyak minuman dengan rapi seperti anggur, wishkey, beer dan sejenisnya yang mengandung alkohol.


Sementara dapur untuk chef kepercayaan nya berada di sisi lain rumah itu. Justin membuka kulkas dan mengambil botol jus lalu menuangkannya di gelas.


" Kak, apa kamu mau ke perusahaan?" Tanya Ian tidak formal.


" Tidak untuk hari ini, mommy mencari Qilin jadi kita akan ke sana." Ujar Justin.


" Baiklah, kau butuh aku atau alu ke perusahaan?" Tanya Ian.


" Kau ke perusahaan saja, aku bisa mengemudi sendiri." Ujar Justin, dan Ian mengacungkan jempolnya.


" Ngomong ngomong, aku jadi haus." Ujar Ian, dan mengambil jus yang baru di tuang Justin.


" Plak!" Justin memukul tangan Ian.

__ADS_1


" Aduh! Galaknya, aku haus kak." Ujar Ian.


" Ambil sendiri, ini untuk Qilin." Ujar Justin, dan berjalan pergi.


" Ck, bucin." Gumam Ian.


Ian pun mengambil gelas dan menuang jus nya sendiri, lalu meneguknya.


"Uwek! Jus apa ini, aneh sekali." Gumam Ian dengan wajah lucu.


Tapi Ian justru tampak tersenyum ketika melihat banyaknya minuman di sana, dan keluarlah ide jahilnya.


" Bagi satu, kak.. jangan pelit pelit." Gumam Ian, dan mengambil sebotol Champagne lalu langsung pergi dari sana.


Yang di bawa Ian adalah salah satu jenis campagne termahal yang mendunia, tapi Ian tahu dia berbuat begitu juga karena Justin bukan orang yang perhitungan, jadi dia tidak khawatir.


Sementara itu, Justin di kamar juga sedang bersiap setelah Qilin dudah siap, dan saat ini Qilin sedang meminum jus yang Justin bawa.


" Akh.. enaknya." Ujar Qilin.


Kenapa menurut Qilin enak, tapi menurut Ian tidak enak? Karena rupanya jus yang berada di botol merupakan jamu kunyit asam.


Justin tahu Qilin suka minuman itu jadi dia meminta chef membuatkannya selagi dirinya dan Qilin berada dalam penerbangan kemarin.


" Sudah siap?" Tanya Justin.


" Uhum." Ujar Qilin sembari menelan keseluruhan jamu di gelas.


Akhirnya mereka berdua pun turun ke bawah dan pergi dari sana. Qilin melihat jalanan yang di laluinya, dia mungkin tidak tahu nama nama nya tapi dia rindu dengan jalanan itu.


" Bolehkah nanti malam aku pulang ke rumahku?" Tanya Qilin tiba tiba.


" Aku akan minta kak Fendy pulang ke rumahnya, dan hanya ada aku dan Rena di sana." Ujar Qilin.


Justin tampak berpikir, mungkin Qilin juga merindukan temannya, tapi dia tidak mau jika di rumah itu ada pria lain.


" Kak Fendy pasti tahu, dan tidak akan mengganggu kami." Ujar Qilin lagi.


" Baiklah.." Ujar Justin, dan Qilin langsung tersenyum senang.


Tak lama mobil pun sampai di kediaman utama keluarga Edward, terlihat Sierra yang muncul dari balik pintu dan tersenyum senang melihat kedatangan mobil Justin.


Qilin langsung membuka pintu ketika mobil berhenti, dan langdung berlari menghampiri Sierra yang saat ini justru mengernyitkan keningnya.


" Mommy." Ujar Qilin dan langsung memeluk Sierra yang tampak terkejut.


" Rambutmu.." Ujar Sierra.


" Oh, ini.. Qilin harus menyamar, jadi rambutnya di warnai." Ujar Qilin.


Sierra pun mengusap kepala Qilin, sudah mendengar semua cerita dari Dustin.


" Selamat datang di rumah, sayang." Ujar Sierra dan kembali memeluk Qilin.


" Terimakasih, mom." Ujar Qilin.


" Ayo masuk." Ajak Sierra, dan Qilin mengangguk.


Qilin, Sierra dan Justin pun masuk ke dalam rumah, yang rupanya sudah di tunggu juga oleh Arthur dan Dustin yang berdiri di sana.

__ADS_1


Senyum Dustin terukir ketika melihat Qilin datang, bagai di slow motion.. Qilin berjalan dengan sangat indah, senyum indah di wajah cantiknya terukir hingga tiba tiba tatapan nya dan Qilin bertemu saat Qilin menyapa, baru Dustin sadar.


" Halo, selamat datang di rumah lagi, Qilin. Kamu tampak keren dengan rambut hitam." Ujar Dustin.


" Terimakasih." Ujar Qilin dan tersenyum.


Mereka semua pun langsung duduk di meja makan karena memang sudah waktunya mereka makan siang. Seperti biasanya, urutan duduk mereka tertata.


Dustin duduk berseberangan pas dengan Qilin, jadi dia bisa menatap Qilin yang ada di hadapannya.


" Qilin, mommy buatkan kamu banyak cup cakes, lho." Ujar Dustin tiba tiba.


" Benarkah, mom??" Ujar Qilin berbinar.


" Anak ini, memberi tahu kejutan mommy." Ujar Sierra, dan Dustin terkekeh.


" Iya sayang, ada banyak varian rasa, kamu pasti suka." Ujar Sierra.


" Terimakasih, mom." Ujar Qilin terharu.


" Bagaimana keadaan di sana, nak? Apakah semuanya sudah benar benar baik baik saja?" Tanya Arthur.


" Sudah dad, semua sudah baik baik saja." Ujar Qilin.


" Itu bagus.." Ujar Arthur.


Makanan pun datang, Sierra seperti biasanya, langsung menyiapkan untuk Arthur. Tapi Qilin kebalikan dari Sierra, jusstru Qilin yang di siapkan oleh Justin.


" Makan sayang, agar kamu sehat dan berisi, kamu terlalu kurus." Ujar Justin penuh kasing sayang.


" Terimakasih." Ujar Qilin dengan manis.


Akhirnya mereka semua pun makan dengan fokus, meski sesekali Dustin mencuri pandang kearah Qilin.


" Uhuk! Ihuk!" Qilin terbatuk dan semua langsung panik.


Dustin bangun dan menyodorkan air untuk Qilin begitu juga dengan Justin, Justin pun menatap aksi saudara kembarnya itu.


" Minum, sayang." Ujar Justin, dan tentu saja Qilin mengambil gelas yang Justin sodorkan.


Dustin pun kembali duduk, Sierra dan Arthur juga menatap keanehan Dustin yang peduli dengan Qilin.


Qilin sudah baik baik saja, dan Justin mengelap air mata Qilin yang keluar karena tersedak.


" Kamu tidak apa - apa, sayang?" Tanya Sierra khawatir.


" Aku tidak apa - apa mom." Ujar Qilin sembari menahan batuk.


" Hati hati, sayang.." Ujar Justin, dan Qilin mengangguk, tapi Qilin justru semakin tersiksa.


" Justin, leherku sakit." Ujar Qilin, sembari mencba mengeluarkan sesuatu dari lehernya.


Qilin pun bangun dan langsung berlari menuju kamar mandi, dan di susul Justin. Dustin, Sierra dan Arthur juga menjadi ikut panik.


" Dustin! Tolong kemudikan mobil!" Teriak Justin tiba tiba sambil menggendong Qilin dengan panik.


Semua orang pun jadi ikut terkejut dan panik.


TO BE CONTINUED..

__ADS_1


__ADS_2