
Dan benar saja yang Justin katakan, salju di luar sedang besar, Qilin yang sudah menggunakan mantel tebal saja tetap kedinginan.
" Kamu dingin, sayang?" Tanya Justin dan Qilin mengangguk sambil menggosok kedua tangannya.
Justin pun melepas syal miliknya dan memakaikannya di leher Qilin, sebagai penghangat tambahan.
" Kamu nakal, tidak pakai sarung tangan." Ujar Justin.
Justin meraih kedua tangan Qilin dan mendekatkannya ke mulutnya, kemudian dia menghangatkan tangan Qilin dengan mulutnya.
" Aku tidak tahu kalau akan hujan salju selebat ini." Ujar Qilin.
Justin memasukan tangan kiri Qilin ke saku mantel Qilin dan tangan kanan Qilin di masukan kedalam sakunya sambil ia genggam.
" Ayo kita ke mobil, sebelum salju makin lebat." Ujar Justin dan Qilin mengangguk.
Akhir nya keduanya pun berjalan menuju mobil dengan tangan kanan Qilin yang berada di dalam saku mantel Justin.
" Brak" Suara pintu mobil tertutup.
Justin terlihat memutari mobil dan duduk di balik kemudi, lalu menyalakan mesin mobil, dan menyalakan penghangat.
" Masih dingin?" Tanya Justin dan Qilin mengangguk.
Saking dinginnya, Qilin sampai tidak bisa berkata apa apa. Justin pun kembali meniup tangan Qilin dengan mulutmya untuk memberi rasa hangat, lalu beberapa kali Justin menggosok tangan Qilin.
Qilin hanya bisa tersenyum melihat betapa manisnya Justin memperlakukan dirinya, Justin sangat menyayangi dirinya.
" Kita pulang, hum?" Tanya Justin dan Qilin mengangguk.
Justin pun mengecup kedua tangan Qilin lalu mulai serius mengendalikan mobilnya untuk jalan menuju ke kediaman Qilin.
Qilin meringkukan kakinya, sembari melihat pemandangan luar yang indah, tapi juga membuatnya kedinginan. Pohon pohon yang sudah tertutup salju membuatnya teringat dengan pohon Natal.
Tiba tiba tangan Justin meraih satu tangan Qilin, dan menggenggamnya erat.
" Jika kamu tidak kuat di sini, kita pulamg saja ke tanah air, sayang. Cio juga sudah sadar." Ujar Justin.
" Hm, sepertinya aku memang tidak cocok dengan negara ini." Ujar Qilin sembari terkekeh.
" Bukan tidak cocok, kamu hanya belum terbiasa. Kelak jika kamu sering datang menikmati salju, kamu juga akan terbiasa dengan musim seperti ini." Ujar Justin.
" Bagaimana jika kita rayakan Natal di sini?" Ujar Qilin tiba tiba memberi usulan.
" Kamu mau?" Tanya Justin.
" Hmm.. sepertinya seru. " Ujar Qilin mengangguk.
" Baiklah, setelah kita menikah kita akan bulan madu di sini." Ujar Justin dan Qilin langsung menengok kearah Justin.
__ADS_1
" Jangan menatapku begitu, sayang.. Kamu tahu aku paling tidak kuat dengan wajah menggemaskanmu itu." Ujar Justin.
" Cih, bicaramu manis sekali." Ujar Qilin sembari menahan senyum.
Dan akhirnya mereka pun sampai di rumah, Qilin langsung berlari dan menjatuhkan dirinya di sofa dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
'' Ya Tuhan.. dingin seklai.'' Gumam Qilin.
Justin yang baru sampai sampai menggelengkan kepalaya sambil terkekeh melihat Qilin yang bergerak gerak di bawah selimut.
'' Sayang.'' Panggil Justin.
'' Ya, aku di bawah selimut, di sofa.'' Ujar Qilin yang mengira Justin tidak tahu dimana dirinya berada.
Setelah Justin menyalakan penghangat ruangan ,Justin pun akhirnya ikut merebahkan dirinya di sofa dan memeluk tubuh Qilin yang masih terbungkus selimut.
'' Kita pulang saja, ya?'' Ujar Justin.
'' Ke Indo?'' Tanya Qilin.
'' Hm, kamu bisa terkena Hipotermia jika terus memaksakan diri. '' Ujar Justin.
'' Jika kamu berat meninggalkan mamamu, kamu bisa pastikan sekali lagi dengan bertanya pada mama tentang keputusannya. Aku tidak mau sesuatu terjadi padamu, sayang.'' Ujar Justin lagi.
'' Baiklah.. besok kita pamitan pada mama dan yang lainnya.'' Ujar Qilin dan Justin tersenyum mendengarnya.
'' Tidurlah, aku akan memelukmu seperti ini agar tubuhmu hangat.'' Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.
Qilin sedang berada di dalam mobil untuk menuju ke kediaman Agra, rumah satu memang hancur, tapi Agra masihlah memiliki banyak aset dan bahkan di satu kota itu saja Agra memiliki setidaknya lima atau empat rumah.
'' Pria itu pandai memilih kediaman, rumahnya berada di titik titik yang bagus dan strategis.'' Ujar Justin.
Gerbang terbuka dan pengawal itu langsung mempersilahkan Justin dan Qilin masuk, seakan sudah di beri tahu oleh Agra tentang kedatangan mereka. Rumahnya besar, tapi tak sebesar ru,ah agra di kediaman utamanya.
'' Qilin sayang..'' Ujar Dewi yang menyambut kedatangan Qilin di pintu depan.
'' Kenapa mama di luar, di luar dingin.'' Ujar Qilin.
'' Mama terbiasa dengan musim di sini, sayang.'' Ujar Dewi. Benar, duapuluh tahun lebih Dewi tinggal di sana.. tentu sudah terbiasa dan akrab dengan musim dingin.
Mereka pun masuk kedalam rumah dan terlihat Agra yang sedang duduk di sofa sambil tersenyum kearah Qilin. Luca terlihat baru saja turun dari atas dengan pakaian rapi.
'' Kamu mau pergi?'' Tanya Qilin pada Luca.
'' Kakak, kakak datang kemari? Aku ada janji bertemu klien.'' Ujar Luca.
'' Aku mau berpamitan.'' Ujar Qilin.
'' Kamu mau kemana, sayang?'' Tanya Dewi.
__ADS_1
'' Aku akan pulang ke tanah air, ma.'' Ujar Qilin.
'' Secepat itu?? Aku bahkan belum melewatkan hari bersama denganmu.'' Ujar Luca.
'' Kalian bisa datang ke sana nanti, saat aku akan menikah.'' Ujar Qilin. Dewi pun mengangguk.
'' Pulanglah nak.. kita akan datang kesana saat kamu akan menikah nanti.'' Ujar Dewi, dan Qilin mengangguk.
'' Maaf, kak, aku harus pergi karena klien ku menunggu, hati hatilah di jalan dan aku pasti akan datang kesana menyusulmu, nanti.'' Ujar Luca dan Qilin mengangguk.
Luca terlihat sangat buru buru, Agra yang tidak bisa mendengar apapun pun hanya bisa diam mengamati pergerakan orang orang di hadapannya itu. Qilin duduk di sebelah Dewi dan menatap Dewi seakan ada yang ingin dia sampaikan kepada Dewi.
'' Ada apa, nak?'' Tanya Dewi yang melihat keanehan pada Qilin.
''Apakah mama sungguh akan bertahan di sini?'' Tanya Qilin, dan Dewi tersenyum.
'' Dia sudah menerimamu dan tidak lagi melarang larang mama bertemu denganmu, itu saja mama sudah merasa senang.'' Ujar Dewi.
'' Bagaimana dengan mama sendiri?'' Tanya Qilin.
'' Mama tidak bisa menjadi egois, sayang.. Kamu tahu sendiri Luca dan Cio juga membutuhkan mama, mama juga adalah ibu mereka. Mama juga menyayangi mereka, seperti mama juga menyayangi kamu.'' Ujar Dewi.
'' Maksudku.. apa mama bahagia?'' Ujar Qilin, dan Dewi terdiam. Tapi kemudian Dewi tersenyum dan mengangguk.
'' Mama bahagia, karena mama bisa melihat ketiga anak anak mama hidup saling menyayangi.'' Ujar Dewi, karena hanya anak anak nya saja yang dia pikirkan.
'' Mama mungkin hanya mencintai mendiang papa kandungmu, tapi mama akan mencoba menerima kenyataan. Mama sudah menjadi istri orang dan bahkan sudah melahirkan dua putra darinya. '' Ujar Dewi.
'' Sudah bukan masanya mama memikirkan tentang cinta, jadi mama akan menerima Agra Khan.. sebagai suami mama.'' Ujar Dewi.
Qilin langsung memeluk Dewi, sungguh besar pengorbanan yang Dewi lakukan. Dia mengesampingkan perasaan dan hatinya demi kebahagiaan semua orang, sungguh wanita yang luar biasa.
'' Pulanglah.. mama akan baik baik saja di sini, dan akan datang ke sana saat kamu akan menikahn nanti.'' Ujar Dewi, dan Qilin mengangguk.
'' Aku sayang mama.'' Ujar Qilin.
'' Mama juga sangat menyeyengimu, nak.'' Ujar Dewi.
Qilin melerai pelukannya, dan akhirnya dia berjalan kearah Agra, Agra tersenyum melihat Qilin menghampirinya. Terlihat Qilin mengeluarkan kertas catatan dan menuliskan sesuatu dan memberikannya pada Agra, Agra membacanya dan terkejut.
'' Kmau mau pulang ke indonesia?'' Tanya Agra dan Qilin mengangguk. Qilin kembali menuliskan sesuatu dan Agra kembali membacanya, kali ini Agra tersenyum.
'' Pasti, nak.. papa akan datang kesana saat kamu menikah nanti.'' Ujar Agra. Qilin tertegun mendengar Agra menyebut dirinya sendiri papa.
'' E.. Apakah kamu keberatan saya menganggapmu putriku?'' Tanya Agra ketika melihat wajah terkejut Qilin.
Agra takut Qilin akan marah, karena bagaimanapun dia sudah sangat menyakiti Qilin dan memperlakukan Qilin dengan sangat buruk. Tapi rupanya respon Qilin di luar dugaan Agra, Qilin memeluk Agra dan Agra pun terharu karenanya sampai berkaca kaca.
'' Putriku..'' Gumam Agra.
__ADS_1
TO BE CONTINUED...