Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 24. Mencoba bangkit.


__ADS_3

Qilin masuk ke dalam rumah, dan yang terjadi adalah hatinya kembali merasa sesak. Biasanya setiap dia pulang, Justin akan berlari menyambutnya lalu memeluknya.


Kini rumah itu kosong, dan terasa dingin. Tidak ada lagi tawa Justin, kekonyolannya dan semua tingkahnya.


" Kamu sedang apa Justin." Gumam Qilin.


Qilin menghela nafasnya berusaha untuk tidak menangis, itu adalah kali keduanya ia di tinggal oleh orang yang dia sayangi. Pertama dia di tinggalkan oleh ayah angkatnya, dan kini Justin.


Qilin duduk di sofa dan menengadah ke atas, ia melihat langit langit rumahnya.


" Kamu bisa Qilin, bukankah dulu saat papa meninggal juga kamu bisa bangkit dan baik baik saja? Justin dan kamu adalah dua orang yang sangat berbeda jauh, dunia kalian tidak sama." Gumam Qilin.


" Kamu hanya harus membiasakan dirimu tanpa Justin, dan kembali hidup sendirian lagi seperti dulu." Gumam Qilin lagi.


Tapi apa yang dia ucapkan nyatanya tak seperti apa yang dia rasa, hatinya sesak. Tidak seperti saat dia kehilangan ayah angkatnya, kali ini ada rasa aneh dan seakan lebih menyesakan.


Qilin bangun dan naik ke atas, ke kamar Justin. Ia menyentuh buku buku yang sebelumnya akan dia baca dengan Justin, kini buku buku itu hanya akan menjadi pajangan lemari saja.


Qilin menyingsingkan lengan bajunya, dan mengikat rambutnya secara asal, lalu ia mulai membenahi kamar Justin. Qilin menata semua buku buku Justin, dan menaruhnya di rak, dan berlanjut membersihkan yang lainnya.


Hingga Qilin akhirnya kembali menangis, ketika ia hendak melipat selimut justin. Qilin memeluk selimut itu sambil menangis, karena lelah, Qilin merebahkan dirinya di ranjang Justin, dan tertidur.


Ke esokan harinya..


Qilin bangun ketika ia mendengar suara hujan yang begitu derasnya. Pagi pagi, Jakarta di guyur hujan besar dan berpetir.


" JDER!!"


" Kya!!!!" Qilin berteriak dan menyembunyikan dirinya.


Satu yang tidak pernah orang tahu, bahkan Justin.. Qilin takut petir. Justin tidak tahu karena selama satu bulan Justin tinggal dengan Qilin, tidak pernah turun hujan berpetir.


" Hiks.. Hiks.. Hiks.." Tangis Qilin.


Setiap ada hujan petir, Qilin akan menyembunyikan dirinya di bawah selimut sambil menangis.


Qilin takut petir, karena dulu saat dia kecil pernah di tinggalkan di luar rumah oleh ibu angkatnya. Saat itu Qilin masih berusia 4 tahun, dan dia di tinggalkan di teras rumah sendirian karena anak kandung ibu angkatnya menangis.


Gigi berkata pada ibunya bahwa Qilin mencubitnya, ibu angkat Qilin langsung marah dan menyeret Qilin keluar rumah di tengah malam saat hujan besar berpetir, lalu menguncinya di luar.


Saat itulah, Qilin takut dengan hujan berpetir, juga tidak pernah berani berbuat hal yang menyinggung Gigi dan ibunya.


Qilin menyentuh kalung pemberian Justin di lehernya, lalu memejamkan matanya untuk mengusir rasa takutnya.


Hingga akhirnya hujan reda, Qilin baru berani membuka selimutnya. Qilin bangun dan turun ke bawah sambil membawa selimut Justin.


" Reda, sukurlah." Gumam Qilin.


Di cafe, Rena sedang melayani pelanggan, juga ada Fendy di sana yang selalu berdiri di balik mesin kopi sebagai barista.

__ADS_1


" Aku akan mengunjungi Qilin." Ujar Rena pada Fendy sambil menggebrak meja.


" Aku ikut." Ujar Fendy.


" Ck! Kau ini tidak bisa sedikit lebih berani, apa? Kau menyukai Qilin, kan?" Ujar Rena.


" Aku suka dia juga belum tentu dia menyukaiku, kan?? Aku tidak mau memaksakan sebuah hubungan, aku akan mendekatinya secara pelan pelan." Ujar Fendy.


" Fen, dengarkan aku, Qilin menyukaimu." Ujar Rena.


Fendy sampai tersedak ludahnya sendiri mebdengar apa yang Rena katakan.


" Jangan sembarangan bicara, Ren.." Ujar Fendy.


" Kamu tidak percaya? Aku pernah bertanya padanya, apakah dia menyukaimu atau tidak, dan dia tersenyum padaku." Ujar Rena.


Entah mengapa wajah Fendy menjadi merah saat ini, Rena yang melihatnya pun tertawa.


" Lihat, belum apa apa wajahmu sudah merah begitu. Cepatlah bertindak, wanita tidak suka bertindak duluan, harus laki laki yang bertindak duluan." Ujar Rena.


" Ck, pergilah.." Ujar Fendy.


" Lho, kau bilang mau ikut juga." Ujar Rena.


" Tidak jadi." Ujar Fendy, dan Rena menyengir.


" Ck! Ck! Baru kali ini aku melihat pohon tua sepertimu bisa malu." Ujar Rena.


" Aku pergi, bye.." Teriak Rena dan lari keluar.


Fendy benar benar tidak bisa menahan senyumnya, ia sampai berdehem berkali kali untuk menetralkan perasaan nya.


' Qilin menyukaiku?' Batin Fendy.


Sementara itu, Rena mengetuk pagar rumah Qilin berkali kali, barulah Qilin keluar dari dalam.


" Qilin, aku mengunjungimu." Ujar Rena.


" Rena.." Ujar Qilin tersenyum.


Qilin membuka pagar rumahnya dan mempersilahkan Rena masuk. Rena pun memeluk Qilin, sebagai tanda penyemangat.


" Kamu sudah makan?" Tanya Rena.


" Belum, tadi hujan jadi aku tidak sempat beli." Ujar Qilin.


" Nah, kebetulan, ini aku bawa makanan untukmu, makanlah." Ujar Rena.


" Terimakasih, maaf sudah merepotkanmu." Ujar Qilin.

__ADS_1


" Aku yang bawa, mana mungkin aku repot, makanlah." Ujar Rena, dan Qilin mengangguk.


Rena melihat lihat rumah lamanya itu, tampaknya Qilin adalah pribadi yang rapi, karena rumah itu terlihat sangat rapi, berbeda dengan saat dia dan ibunya yang menempati, dulu.


" Aku numpang kamar mandi." Ujar Ren dan Qilin mengangguk.


Rena masuk dan membuang air kecil, setelah selesai dan hendak mencuci tangan, Rena baru sadar bahwa di sana ada dua gelas dengan dua sikat gigi.


' Qilin punya dua sikat gigi?' Batin Rena. Rena melihat gantungan handuk, dan terdapat handuk dengan dua warna berbeda, Rena pun menutup mulutnya.


Rena keluar, dan melihat Qilin yang sedang makan, Rena pun kembali duduk bersama Qilin.


" Qilin, kamu tinggal dengan siapa?" Tanya Rena, dan itu mengalihkan perhatian Qilin.


" Aku tinggal sendirian." Ujar Qilin.


Rena pun menatap Qilin, padahal di dalam kamar mandi jelas jelas ada dua handuk dan dua sikat gigi yang berbeda warna. Tapi Rena tidak berani bertanya lebih lanjut lagi, dia menghormati privasi Qilin.


' Mungkin dia memiliki saudara yang emnginap di sini.' Batin Rena mencoba berpikir positif.


" Rena, kamu kapan menikahnya? Katamu kamu mau menikah?" Tanya Qilin setelah menyelesaikan makanannya.


" Oh, mmm.. calon suamiku belum mendapat jatah cuti dari perusahaan, jadi aku menunggu dia mendapatkan jatah cuti." Ujar Rena, dan Qilin mengangguk angguk.


" Rena, terimakasih makanannya." Ujar Qilin, dan Rena terkekeh.


" Kita teman, bukan?? Kamu selalu sungkan dengan temanmu sendiri." Ujar Rena.


" Sejujurnya aku tidak pernah memiliki teman, kamu adalah orang kedua yang menganggapku teman." Ujar Qilin.


" Kedua? Wah.. Aku agak kecewa mendengarnya." Ujar Rena dengan nada sedih yang di buat buat.


" Siapa yang pertama?" Ujar Rena dan Qilin menjadi diam.


" Ekhem! jangan bilang bahwa itu Fendy." Ujar Rena, dan Qilin tersenyum. Qilin tidak mungkin mengatakan bahwa Justin adalah orang kedua yang menganggapnya teman, saudara, dan miliknya.


" Ah, tidak seru.." Ujar Rena, dan Qilin terkekeh.


" Nah.. begitu, kamu cantik saat kamu tersenyum." Ujar Rena.


" Kamu tidak bekerja?" Tanya Qilin, dan seketika Rena menepuk keningnya.


"Ya Tuhanku, aku lupa. Bye Qilin, besok aku akan datang lagi." Ujar Rena langsung berlari keluar.


Qilin menggelengkan kepalanya melihat aksi Rena yang konyol. Qilin bangun dan masuk ke kamar mandi, dan dia melihat sikat gigi milik Justin yang masih berada di wastafel.


Qilin hendak mengambil sikat gigi itu san membuangnya, tetapi dia mengurungkan niatnya. Akhirnya dia biarkan saja sikat gigi Justin berada di sana.


' Kamu hanya akan menjadi kenangan, yang tidak akan pernah bisa lagi aku temui, Justin..' Batin Qilin lalu menyentuh bandul kalungnya yang brtuliskan nama Justin itu.

__ADS_1


TO BE CONTINUED..


__ADS_2