Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 150. Jalan terbaik.


__ADS_3

Justin melumpuhkan Clins dengan setruman, lalu kemudian dia menyuruh beberapa pria berbadan besar masuk kedalam.


"Buat dia hidup segan mati tak mau." Ujar Justin, lalu menutup dinding putih itu dan pergi dari sana.


"Justin!!! Apakah kau tahu bahwa adikmu mencintai istrimu??" Teriak Clins dan Justin menghentikan langkah kakinya.


"Hahahaha! Poor Justin, di khianati adiknya sendiri tapi dia tidak tahu." Teriak Clins lagi.


"Lepaskan aku!! Beraninya kalian menyentuhku! AARGH!! APA YANG AKAN KALIAN LAKUKAN! HEI LEPASKAN AKU, SIALAN! AAAGGRRGG!!! " Teriak Clins yang berakhir kesakitan.


Justin yang uratnya semakin mengeras langsung pergi begitu saja dari sana.


"Kerumah sakit." Ujar Justin pada Ian.


Ian melihat kemarahan di wajah Justin, Ian tentu mendengar apa yang di teriakkan oleh Clins sebelumnya.


"Kak, jangan anggap ucapan Clins itu nyata, kakak tau sendiri Clins itu seperti wabah virus, bukan? Kata - katanya beracun. Bisa saja dia mengatakan itu supaya kakak dan kak Dustin jadi bertengkar dan saling menyakiti." Ujar Ian, ia berusaha membuat agar Justin tidak memiliki pikiran negativ.


"Aku tahu." Ucap Justin singkat.


Dan sementara itu di rumah sakit..


Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit, Dustin pun sudah menunjukan kondisi yang baik - baik saja.


Dan juga, J yang selalu berada di sekeliling Dustin, sudah membuat Dustin menjadi terbiasa, di tambah lagi J sangat mendominasi hingga Dustin sedikit mati kutu saat J mendekatinya.


"Aku sudah menyiapkan semuanya, kita hanya tinggal pulang saja." Ucap J yang sudah selesai memasukan semua barang dustin kedalam koper.


J sangat totalitas dalam bekerja, jika dia menjadi apa, maka dia akan totalitas menjadi peran itu. Itu adalah pekerjaan nya, dan dia tidak mau atasannya yaitu Cio, kecewa.


"Di mana Ben?" Tanya Dustin. Dan itu berhasil membuat J menatap Dustin.


"Ada istrimu bersamamu, kenapa harus mencari Ben?" Ucap J.


"Jangan gila, ini belum ada siapapun." Ujar Dustin. J langsung mendekat kearah Dustin, dan Dustin langsung beringsut.


J tiba - tiba mebdekat kearah Dustin sampai Dustin langsung memundurkan kepalanya, kemudian J berbisik.


"Totalitaslah dalam bersandiwara, sayang.. dinding juga punya telinga." Bisik J, sangat dekat.


Dan saat itu, Justin membuka pintu ruangan Dustin sampai ketiganya terkejut, empat termasuk Ian.


"Oh, halo kakak ipar." Sapa J pada Justin.


"Kenapa setiap pertemuan kita kau memanggilku dengan sebutan yang berbeda, beberapa hari lalu kau panggil aku kakak, dan sekarang kakak ipar?" Tanya Justin.


"Aku sudah tidak mau menyembunyikan hubunganku dengan Dustin, kami sebenarnya sudah menikah, kakak ipar." Ujar J dan semua terkejut, termasuk Dustin sendiri.

__ADS_1


"Kamu!"


"Sshh.. Kamu tidak perlu takut, sayang. Aku akan menjelaskannya baik - baik pada keluargamu." Sergah J.


"Dustin, apa - apaan sebenarnya ini?" Tanya Justin.


"Begini kakak ipar, Dustin mungkin agak sulit menjelaskannya, jadi biar aku saja. Kami sudah menikah, di negara asalku. Kami sepakat menyembunyikan pernikahan kami karena kami tidak mau pernikahan kami di ketahui orang tuaku."


( jeda )


"Tapi sekarang aku mau berjuang, aku tidak mau hanya Dustin saja yang berjuang sendirian untukku. Aku tidak mau lagi menyembunyikan pernikahan kami, bisakah kakak ipar menerimaku?" Ujar J dengan penuh penghayatan.


Justin tentu tidak bisa berkata apa - apa sekarang. Ucapan Clins masih terngiang jelas di kepalanya, tapi pemandangan di hadapannya itu membuatnya berpikir berulang kali.


'Apa - apaan ini, apa mereka sungguh sudah menikah?' Batin Justin.


Justin melirik tangan J dan tangan Dustin, memang melingkar sebuah cincin di jari manis mereka.


'Hampir saja kamu jatuh pada ucapan Clins, Justin. Bodoh, seharusnya aku tahu Clins hanya ingin merusak persaudaraanku dengan Dustin.' Batin Justin lagi.


Dustin melihat ekspresi keraguan dan kebingunan pada Justin, Seakan Justin tidak mempercayai pengakuan J. Dustin pun hendak angkat bicara.


"Kak, aku.."


"Aku mengerti." Sergah Justin memotong ucapan Dustin.


Dustin menjadi pias karena Justin menatapnya sangat tajam saat ini.


"Ha?!" Dustin justru salah fokus.


"Jangan salahkan Dustin kakak, dia tidak bersalah. Itu semua adalah kemauanku, maafkan aku." Ujar J.


Justin pun menghela nafas melihat itu, dia kemudian ingat dengan alasan Dustin saat Dustin akan menyelamatkan kekasihnya dari perjodohan, mungkin saat itu juga Dustin menikah.


'Sudahlah, mungkin memang situasi mereka saat itu benar - benar genting sampai harus menyembunyikan pernikahan mereka.' Batin Justin.


"Sudahlah.. Sebagai kakak, aku minta maaf padamu atas nama Dustin." Ujar Justin.


"Kalau begitu, selamat untuk pernikahan kalian." Ujar Justin lagi.


"Terimakasih kak." Ucap J dengan terharu. Sungguh tidak akan ada yang bisa membedakan apakah J berbohong atau tidak, dia sangat lihai mengendalikan ekspresi di wajahnya.


Justin mengangguk, dan dia merasa bodoh karena hampir mempercayai Clins, walau nyatanya Dustin memang mencintai Qilin.


"Kalian sudah mau pulang?" Tanya Justin.


"Ya, kak. Aku tidak betah berlama - lama di sini." Sahut Dustin.

__ADS_1


"Diam kau! Kau masih berhutang banyak penjelasan nanti pada mommy dan daddy. Seenaknya saja menikahi anak orang tanpa memberi tahu mereka." Ucap Justin. Ian hampir terbahak melihat Dustin di semprot.


"Kak, barusan.. Apa kakak membentakku??" Ucap Dustin tidak percaya.


"Sejak kecil kamu menjadi anak yang penurut dan baik, kenapa setelah dewasa malah menjadi baj¡ngan? Mengecewakan." Ujar Justin.


Dustin bisa melihat kekecewaan di wajah Justin meskipun tidak di perlihatkan secara langsung. Tapi setidaknya dia bernafas lega karena Justin tidak sampai mengetahui bahwa dirinya benar - benar mencintai Qilin.


'Mungkin akan terjadi pertumpahan darah jika sampai itu terjadi.' Batin Dustin.


"Bersiaplah untuk memberi penjelasan pada mommy dan daddy, aku akan membawa mereka pulang ke tanah air." Ujar Justin.


"Ha? Tapi Clins masih hidup." Ujar Dustin.


"Aku sudah mengurusnya, dia sudah tidak akan bisa berbuat apapun." Sahut Justin.


"Pulanglah, dan beristirahat baik - baik." Ucap Justin lagi.


Justin pun pergi meninggalkan Dustin dan J di ruangan itu. Dan sepeninggal Justin, Dustin menatap J seakan ada yang ingin dia sampaikan.


"Tidak perlu berterimakasih, semakin meyakinkan sandiwara kita, maka akan semakin terkubur rahasiamu." Ujar J ketika bertemu tatap dengan Dustin.


"Ayo pulang." Ajak J, dan Dustin mengangguk.


Ke esokan harinya..


Justin sedang duduk di sebuah kamar di penthouse, ya.. kini dia tinggal di penthouse. Dengan keamanan yang tinggi, Justin memutuskan untuk sementara tinggal di sana sampai rumahnya selesai di bangun ulang setelah insiden pengeboman.


"Sebentar lagi aku akan melakukan penerbangan untuk menjemputmu, aku sudah sangat merindukanmu, sayang." Ujar Justin.


Saat ini dia sedang melakukan panggilan video dengan Qilin. Terlihat Qilin beruraian air mata saat sedang berbicara dengan Justin.


"Aku sangat merindukanmu." Ujar Qilin.


"Iya, sayang.. Aku juga." Sahut Justin.


"Si bulatnya papa, terimakasih sudah selalu baik - baik saja di perut mama, oke? Papa akan datang untuk menyusul kalian." Ujar Justin.


"Jangan lama - lama." Ujar Qilin.


"Tergantung penerbangannya, sayang." Ujar Justin.


"Baiklah.." Sahut Qilin.


Singkatnya, setelah panggilan itu berakhir, Justin pun memutuskan untuk pergi ke markasnya. Hari ini, Clins harus di singkirkan.


"Ke markas." Ujar Justin pada Ian yang sedang mengotak - atik laptopnya.

__ADS_1


"Baik, penerbangan tinggal dua jam lagi, kak." Ujar Ian, Justin pun mengangguk.


TO BE CONTINUED..


__ADS_2