
Sejak pergi dari tanah air, Dustin kian menjadi dingin dan pendiam. Dia tidak banyak berucap dan hanya fokus pada pekerjaan nya saja.
Jika dia tidak sibuk dengan pekerjaan nya maka dia hanya akan menatap kosong luar jendela di ruangannya tanpa berkata apapun.
' Jika terus begini, TITANES muda akan kehilangan kekuatannya. Aku khawatir musuh akan sadar bahwa saat ini TITANES sedang lengah.' Batin Ben.
" Tuan muda, jika anda terus begini.. bagaimana dengan TITANES muda?" Tanya Ben akhirnya.
" TITANES tentu saja akan terus bertumbuh, kenapa kau pertanyakan." Uajr Dustin dan mengalihkan tatapannya pada Ben.
" Anda begini, tuan muda pertama juga sedang tidak bisa memimpin, saya khawatir musuh akan menyadarinya." Ujar Ben.
" Untuk apa aku membuat ratusan TITANES jika kalian tidak bisa melindungi kami semua." Ujar Dustin.
" Ke khawatiranmu berlebihan, Ben. Kau bahkan lebih dari mampu memusnahkan sebuah kelompok besar, dan jika di gabung dengan anghota lainmu, maka TITANES muda akan baik baik saja." Ujar Dustin.
" Kami butuh pemimpin, tuan." Ujar Ben.
" Aku pemimpin kalian." Ujar Dustin.
" Ya, tapi anda sudah tidak seperti dulu lagi. Anda sudah bukan tuan muda Dustin yang kejam dan bengis, lihatlah.. anda hanya duduk menatap jendela yang kosong." Ujar Ben.
" Kau berani memprotesku?" Ujar Dustin.
" Saya hanya ingin anda bangkit, tuan. Dia sudah tidak mungkin bisa tuan miliki, satu - satunya jalan yang terbaik adalah melupakannya." Ujar Ben.
Namun Dustin justru membuang mukanya dan kembali menatap luar jendela.
" Jika tuan hanya begini, seribu tahunpun tuan tidak akan bisa melupakannya, dan hanya akan tenggelam dalam bayangan dan kenangan yang ada di pikiran tuan." Ujar Ben lagi.
" Diam, Ben!! Kau tidak akan tahu apa yang aku rasakan." Ujar Dustin, marah.
" Tuan, saya hanya bisa berkata begini, maaf jika saya lancang, saya permisi." Ujar Ben dan pergi.
Dustin begitu menderita merasakan perasaan cinta yang tidak terbalas, dan parahnya lagi gadis yang di cintainya itu menikah dengan kakaknya sendiri dan kini menjadi iparnya.
Dustin sudah bersumpah pada Sierra dan Arthur untuk melupakan Qilin, tapi hatinya menolak lupa dengan Qilin. Dan semakin hari, dia justru semakin teringat dengan Qilin.
" AARGHH!!!" Teriak Dustin.
" BUGH! PRANG!"
" BUGH! PRANG!"
" BUGH! PRANG!!"
Dustin meninju kaca besar di hadapannya dengan tangan kosong, dan kini tangannya berdarah darah. Kaca besar itu juga pecah berantakan dan berserakan di lantai.
" ARRGH!!!" Teriak Dustin, dengan mata berkaca kaca menahan tangis.
Dia menahan tangis bukan karena sakit tangannya berdarah, tapi dia berkaca kaca karena saat ini hatinya yang berdarah - darah.
' Qilin..' Batin Dustin.
Ben yang tadi keluar langsung masuk kembali dan terkejut melihat Dustin yang saat ini duduk menjatuhkan dirinya di atas pecahan kaca yang berserakan.
__ADS_1
" Tuan muda!" Ujar Ben, dengan panik.
Ben langsung mendekat kearah Dustin, tapi Dustin langsung mengangkat tangannya.
" Keluar." Ujar Dustin.
" Tapi anda terluka.."
" KELUAR!!" Teriak Dustin, tapi Ben tetap maju mendekat.
Dustin kemudian mengeluarkan senjata api dari balik bajunya dan menodongkannya kearah Ben.
" Keras kepala sekali, kau! Aku bilang keluar, apa kau tuli?" Ujar Dustin.
" Tembaklah, tuan.. saya lebih baik mati di tangan anda dari pada di tangan musuh. Anda yang menyelamatkan nyawa saya, jadi nyawa saya milik anda. " Ujar Ben.
" Tapi ijinkan saya lebih dulu mengurus anda." Ujar Ben dengan kukuh.
Ben mendekat dan membantu Dustin bangun, akhirnya Dustin tetap bangun dan kini dia di papah menuju sofa yang tidak terkena pecahan kaca.
Dustin hanya diam dengan tatapan kosong, sementara Ben mengobati tangannya yang berdarah darah. Dustin bahkan tidak bereaksi kesakitan sama sekali ketika Ben menyiramkan alkohol di atas lukanya.
' Kenapa jadi begini, Tuhan.' Batin Ben.
Kembali ke tanah air..
Arthur menjadi serba salah sekarang, Sierra sedih karena tidak mendapatkan kepastian dimana keberadaan Dustin, tapi Arthur juga mencoba memahami putranya yang sedang belajar melupakan Qilin.
" Sayang, seharusnya kamu jangan begini. Jika kamu juga ikut down begini, lalu siapa yang akan memberikan dukungan pada Dustin?" Ujar Arthur.
" Dustin sudah melakukan itu, berarti itu adalah yang terbaik yang dia bisa. Jika dia sudah mulai terbiasa dan lupa dengan Qilin, dia pasti akan kembali. Yang terprnting kita tahu dia baik baik saja, itu sudah bagus." Ujar Arthur.
Dan Sierra justru menangis di pelukan Arthur.
" Kenapa nasibnya begitu menyedihkan, dad." Gumam Sierra.
" Tidak ada yang menyedihkan, sayang.. Dustin hanya belum menemukan jodohnya." Ujar Arthur.
Arthur mengusap - usap punggung Sierra dan mengecup kepala Sierra berkali kali. Di usia mereka yang sudah tua itu, mereka baru menemukan masalah yang sangat rumit itu.
Asmara kedua putranya yang mencintai satu gadis yang sama. Arthur hanya takut anak anaknya menjadi bermusuhan hanya karena seorang wanita.
Waktu berlalu, sementara itu di Bali..
Qilin bangun karena mendengar suara gemricik air, ia membuka matanya dan melihat rupanya hari di luar sudah sangat gelap yang berarti sudah malam.
" Astaga, jam berapa ini." Gumam Qilin.
Qilin bangun dan melihat jam di dinding yang rupanya sudah pukul tujuh malam.
Pintu kamar mandi terbuka dan terlihat Justin yang keluar dari sana, dan tersenyum ketika melihat Qilin yang sudah bangun.
" Malam istriku." Ujar Justin, dan Qilin tersenyum.
Justin mendekat dan mengecup pucuk kepala Qilin yang lalu berlanjut mengecup bibir Qilin.
__ADS_1
" Apakah masih sakit?" Tanya Justin.
" Tida begitu seperti kemarin malam." Ujar Qilin.
" Kalau begitu mandilah, kita akan makan malam setelah ini." Ujar Justin.
Justin tetap menggendong Qilin dan memasukan Qilin ke dalam kamar mandi.
" Kali ini aku bisa mandi sendiri." Ujar Qilin.
" Kamu yakin?" Tanya Justin memastikan.
" Ya, aku yakin.." Ujar Qilin dengan kekehan kecil.
" Baiklah, aku tunggu di luar." Ujar Justin dan Qilin mengangguk.
Justin pun menutup kamar mandi dan mulai menyiapkan pakaian untuk Qilin. Justin masih saja tersenyum senyum sendiri ketika mengingat apa yang dia lakukan bersama Qilin sebelumnya.
' Semoga cepat tumbuh Justin junior di dalam perut Qilin.' Batin Justin.
Setelah beberapa saat, Qilin keluar dari kamar mandi dan melihat Justin yang sudah rapi.
" Kenapa kamu rapih sekali?" Tanya Qilin.
" Kita akan makan malam, sayang." Ujar Justin, sembari menggiring Qilin duduk di sofa.
" Ya, tapi kenapa kamu seperti hendak ke kantor." Ujar Qilin dan Justin terkekeh mendengarnya.
" Ada kejutan untukmu, nanti." Ujar Justin.
Justin mulai membantu mengeringkan rambut Qilin, dan Qilin yang nakal terus menatap Justin tanpa berkedip. Justin pun terkekeh karena aksi Qilin.
" Kamu menggodaku, hum?" Tanya Justin.
" Aku hanya sedang mengagumi suamiku." Ujar Qilin.
Untuk pertama kalinya Qilin mengatakan suamiku pada Justin.
" Baiklah, bersiaplah.. gunakan gaun ini." Ujar Justin, dan Qilin tersenyum senyum sendiri.
" Kamu mau ganti pakaian, atau kita bermain di atas ranjang lagi, hum?" Ujar Justin dengan tatapan nakal.
" Ish, menyebalkan." Ujar Qilin, dan berlari masuk kedalam kamar mandi sembari terkekeh kecil.
" Nakal.." Gumam Justin.
Tidak lama Qilin keluar dengan gaun yang Justin pilihkan, gaun malam berwarna hitam yang elegan benar - benar pas dengan rambut perak Qilin yang cantik.
Justin benar benar tidak bisa memalingkan tatapannya sedikitpun dari Qilin, dia benar benar benar seperti terhipnotis.
" Apa kita di kamar saja, sayang? Tiba tiba aku tidak rela membawamu keluar." Ujar Justin.
" Tapi aku lapar." Ujar Qilin lucu.
" Ya sudah.. ayo." Ujar Justin, gemas. Dan akhirnya mereka keluar dari sarang madu mereka.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..