
Qilin bangun ketika Niklaus membangunkannya, rupanya mereka sudah sampai di sebuah tempat yang terlihat seperti rumah.
'' Ayo..'' Ujar Niklaus dan Qilin pun mengangguk.
Qilin masuk dan di dalamnya rupanya seperti rumah yang sangat nyaman. Terdapat perapian yang besar dan sofa yang nyaman untuk duduk, benar benar rumah yang hangat.
'' J.. '' teriak Niklaus, sepertinya memanggil hewan peliharaan.
Tapi yang muncul bukan hewan peliharaan, melainkan seorang gadis yang sangat cantik yang memiliki wajah cerah bagai matahari.
'' Kakak..'' Teriak gadis bernama J itu dengan suara manja yang menggemaskan.
Tapi jangan remehkan manja dan menggemaskannya, J.. Dia lebih dari mampu membantai sebuah kelompok gangster sendirian. Dia imut.. namun mematikan.
'' Bawa kak Qilin dan ubah penampilannya.'' Ujar Niklaus.
'' Okay.'' Ujar J..
'' Kak Qilin, ayo.'' Ujar J ramah, dan Qilin mengangguk.
Qilin di bawa masuk kedalam kamar J, lalu Qilin di suruh untuk lebih dulu membersihkan seluruh tubuhnya yang bau air laut itu. Dan malam itu.. Qilin di rubah total. Dari namanya, warna rambutnya dan penampilannya.
Nama Qilin menjadi Mia dan warna rambutnya di ubah menjadi hitam. Lalu gaya berpakaian Qilin juga di samakan dengan gaya berpakaian orang sana.
'' Uh.. kakak sangat cantik dengan penampilan baru kakak.'' Ujar J.
'' Terimakasih, kamu fasih sekali berbicara dengan bahasaku?'' Tanya Qilin.
'' Hehe, aku menguasai beberapa bahasa asing.'' Ujar J. J membuka pintu kamarnya dan masuklah Niklaus membawa sebuah koper hitam besar.
'' Qilin, lihat kemari aku akan memotretmu untuk kartu identitas barumu.'' Ujar Niklaus, dan Qilin mengangguk.
Niklaus memotret Qilin, dan ajaibnya.. kartu identitas Qilin langsung jadi saat itu juga dengan alat yang berada didalam koper besar itu.
'' Welcome to our family, Mia..'' Ujar Niklaus, sembari memberikan kartu identitas baru pada Qilin.
'' Tolong tetap panggil aku Qilin, karena itu nama asliku.'' Ujar Qilin.
'' Aku tahu.. istirahatlah, ini sudah larut malam.'' Ujar Niklaus.
'' Terimakasih, Nik.. '' Ujar Qilin dan Niklaus mengagguk.
'' Antar Qilin ke kamarnya.'' Ujar Niklaus pada J dan J mengangguk.
J pun mengantar Qilin untuk beristirahat di kamar lainnya, sementara Niklaus menghubungi seseorang.
'' Dia sudah di ubah, jangan khwatir.. tidak akan ada yang mengenali bahwa itu adalah dia.'' Ujar Niklaus.
'' ... ''
__ADS_1
'' Hmm.. aku tahu, tapi kau memberinya rumah yang terlalu besar untuk dia tinggali sendiri.'' Ujar Niklaus.
''.....''
'' Iya aku tahu, bye.'' Ujar Niklaus dan mematikan panggilan itu sepihak.
'' Cerewet.'' Gumam Niklaus, dan melihat J yang datang setelah mengantar Qilin ke kamarnya yang berada di lantai dua.
'' Ayo berkemas.'' Ujar Niklaus dan J mengangguk.
Sementara pria yang baru saja di hubungi oleh Niklaus saat ini sedang duduk di sebuah ruangan dan menatap foto Justin, pria itu adalah Lucio.
' Maaf aku membuatmu terlibat dengan ini semua Qilin, tapi hanya kamu yang bisa mengakhiri semua kebodohan ini.' Batin Cio.
'' Dan Lucifer.. atau aku harus memanggilmu tuan Justin, aku pinjam kekasihmu sebentar. Aku pastikan dia akan baik baik saja, jangan khawatir.. " Gumam Cio.
" Dan selama itu, aku juga akan melibatkanmu untuk membuat semua berakhir dengan tuntas.'' Gumam Cio sembari menatap foto Justin.
'' Tapi untuk sementara, aku tidak akan mempertemukan kalian.'' Ujar Cio lagi
Cio adalah seorang yang pandai menggambar sketsa wajah, dengan sekali pandang Cio bisa mengingat dengan jelas wajah seseorang. Dan dia akan mencari identitas orang dengan mudah menggunakan petunjuk dari sketsa yang dia buat sendiri.
Di tempat lain..
Sementara Justin sendiri saat ini masih menunggu kabar dari anak buahnya yang mencoba menyusup ke markas Luca, hingga ia mendapatkan notifikasi pesan masuk dari anak buahnya.
'' Beraninya mereka membuat Qilinku menjadi buronan.'' Gumam Justin.
Tapi satu yang Justin sukuri, adalah karena Qilin tidak berada di markas itu, yang artinya Qilin sudah melarikan diri dan tidak di tahan. Hanya saja..
'' Dimana kamu, sayang..'' Gumam Justin.
Dimana Qilin saat ini, itu menjadi masalah besar bagi Justin sekarang. Jika dia tidak segera menemukan Qilin, maka Qilin akan di temukan oleh musuhnya. Dan berkeliaran di tengah kota di negara yang asing.. Justin tidak bisa bayangkan bingungnya Qilin saat ini.
'' Sebar semua anak buah untuk mencari Qilin, dan minta sebuah organisasi di sini untuk membantu kita, katakan Lucifer dari TITANES berada di sini. '' Ujar Justin pada anak buahnya lewat panggilan telepon.
Satu detik Justin berucap, detik berikutnya kabar itu menyebar luas. Para orang orang yang berkecimpung dalam dunia gelap saat ini menjadi bertanya tanya, siapa sosok Qilin ini.. yang di perebutkan oleh dua kubu mafia besar.
" Putra Agra Khan meminta untuk menangkap gadis bernama Qilin, dan sekarang Lucifer dari Titanes juga sedang mencari gadis bernama Qilin ini juga, pihak mana yang lebih menguntungkan?" Gumam seorang pria yang mendapat kabar itu.
" keduanya sama sama kuat." Ujar yang lain.
" Tapi TITANES lebih mendominasi, karena dia tersebar di beberapa negara lain. Dan jangan membuat masalah dengannya jika tidak mau berakhir tanpa jasad." Ujar yang lain.
Semua orang di organisasi gelap itu membandingkan antara Justin dan Luca, dan kabar itu juga sampai di telinga Luca yang saat ini sedang menunggu perkembangan ayahnya.
" Kapan ayahku bisa sadar?" Tanya Luca pada dokter yang menangani Agra Khan.
" S- segera tuan, tuan akan kembali bisa mendengar." Ujar dokter itu ketakutan.
__ADS_1
" Rawat dengan baik ayahku, atau anak dan istrimu yang akan aku habisi." Ujar Luca, dan dokter itu mengangguk angguk takut.
Luca keluar dan sudah ada anak buah nya yang menunggunya di depan pintu.
" Ada apa?" Tanya Luca dengan wajah bengis.
" Tuan, Lucifer dari TITANES juga mencari Qilin." Ujar anak buah Luca.
Luca tentu mengernyitkan keningnya, Qilin tidak tampak seperti agen atau seorang mata mata, tapi kenapa dia di cari kelompok mafia besar seperti TITANES, pikirnya.
" Kau bilang Lucifer mencari Qilin??" Tanya Luca, dan anak buahnya mengangguk.
" Sebuah kelompok besar seperti Titanes, kita jangan berurusan dengan mereka." Ujar Luca.
" Jadi, apakah kita lepaskan saja Qilin?" Tanya anak buah Luca.
Luca menjadi bimbang, dia tidak sekuat ayahnya, dan berurusan dengan TITANES bukan hal yang dia inginkan. Tapi Qilin.. adalah incarannya, untuk dia singkirkan, untuk membalas rasa sakit hatinya, karena ibunya tidak pernah menyayanginya dan ayahnya.
" Akan aku pikirkan dulu." Ujar Luca dan pergi meninggalkan anak buahnya.
Luca masuk kedalam ruangannya dan dia berpikir dengan sangat keras, hingga dia menemukan ide.
" Adik.." Gumam Luca terpikirkan dengan sosok adiknya.
Ke esokan harinya..
Qilin bangun dari tidurnya, padahal hari masih begitu pagi. Qilin bangun dan menatap luar jendela, rupanya di luar rumah itu memiliki pemandangan yang bagus, semalam karena dia tidur, dia tidak memperhatikan sekelilingnya.
Qilin mencuci wajahnya dan menatap pantulan dirinya sendiri di cermin, wajahnya kini tampak lain karena kini Qilin berambut hitam dan memiliki poni.
Qilin tidak memikirkannya lagi, dia langsung berganti pakaian yang tersedia di lemari. Anehnya.. saat foto kemarin, Qilin di pakaikan pakaian yang sedikit.. dewasa. Tapi yang terjejer di lemari, adalah pakaian biasa seperti yang sering Qilin kenakan.
Qilin keluar dan melihat rumah itu sangat sepi.
" Kemana semua orang? " Gumam Qilin.
" Niklaus.. J.." Panggil Qilin, tapi tidak ada yang menyahut.
Hingga Qilin menemukan sebuah catatan yang tergeletak di meja ruang tengah, Qilin mengambil dan membacanya.
' Tugasku sudah selesai untuk mengantarmu sampai sini dan mengubah identitasmu, kau harus berjuang sendiri untuk perangmu, Qilin.'
Itu yang Niklaus tuliskan, dan Qilin menjadi diam. Lagi lagi Cio membantunya dengan mengambang..
" Tapi hanya kartu identitas, tanpa paspor aku tidak akan bisa kembali ke tanah air dan menemui Justin.." Gumam Qilin sedikit kecewa.
" Tidak apa apa, aku akan selesaikan urusanku disini lebih dulu. Aku akan menyelamatkan mama dan pulang ketanah air bersama mama. " Gumam Qilin lagi.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1