
Justin telah sampai di markasnya dan dia bisa mendengar teriakan kesakitan Clins dari sebelum ia sampai di ruangan penyiksaan. Tubuh yang penuh sayatan, bahkan tangannya sudah tidak berbentuk tangan setelah di kuliti oleh anak buah Justin, merah ban berdarah darah..
"AAARGGH!!!" Teriak Clins. Terdengar sangat memilukan dan menyakitkan.
"Bawa dia ke kandang Lucia." Perintah Justin kepada anak buahnya.
Clins pun di seret menuju ke kendang Lucia, dia tidak lagi bisa melakukan perlawanan sama sekali. Kesombongannya sudah benar - benar di sayat - sayat sampai habis.
"Justin, aku tidak akan mati dengan damai. Nahkan jika aku harus menjadi hantu sekalipun, aku akan tetap membayangi dirimu." Ujar Clins, dia tahu bahwa itu adalah akhir dari hidiupnya.
"Sebenarnya aku masih ingin menyiksamu sampai kau yang memohon untuk mati padaku, tapi aku tidak memiliki banyak waktu untuk hanya mengurusi sampah sepertimu. Jadi hantu atau jadi apapun, aku tidak akan peduli." Ujar Justin.
"Tidak adil sekali kau! mengambil semuanya dariku. Aku tidak rela hanya mati begini saja, aku aku mengutukmu Justin, aku mengutukmu untuk tidak kaan pernah merasakan kebahagiaan dalah hidupmu." Ujar Clins.
"Tuhan tidak tidur, jika kamu tidak tahu. Dia maha tahu siapa penjahatnya di sini, dan aku yakin Tuhan tidak akan salah memihak." Ujar Justin dengan yakin.
"Aku mengutuk anak - anakmu, mereka harus dan akan merasakan apa yang aku alami. Kehilangan kedua orang tua mereka, hidup terlantar dan tidak memiliki siapapun yang bisa membantu mereka!!!" Ucap Clins penuh dendam.
"DOR!"
"AARGH!!" Clins kesakitan.
"Asal kau tahu, Clins.. Aku bukan ayahmu yang bren*sek itu, aku akan membuat mereka hidup bahagia dan selalu berkecukupan, tidak sepertimu." Ujar Justi sambil menekan luka yang baru saja dia buat melalui tembakan.
Clins terlihat menahan kesakitan, tapi dia masih saja menunjukan wajah menjengkelkannya itu dan tersenyum mengerikan. Anak buah Justin langsung memasukan Clins kedalam kandang besi berukuran sekitar 2x2 meter.
"Siapa yang tahu, mungkin besok akan ada perang sudara karena dua saudara yang berebut satu wanita." Ujar Clins, kembali memprovokasi Justin. Tapi Justin justru terkekeh mendengarnya.
"Hanya orang bodoh yang percaya dengan perkataanmu." Ujar Justin. Clins pun terlihat sangat emosi karena dia tidak berhasil membuat Justin terprovokasi.
"Clins wijaya, selamat menikmati detik - detik kematianmu. kau tahu peluru yang aku tembakan kepadamu, sebelumnya? itu adalah belati beracun yang kau gunakan untuk menusukku."
(Jeda )
"Sudah aku ubah menjadi peluru, khusus untuk membunuhmu." Ujar Justin dan Clins terkejut mendengarnya.
"Di sini, di kandang ini.. kau akan memiliki akhir hidupmu. Setiap detiknya, menitnya.. Kau akan merasakan betapa tersiksanya dirimu." Ucap Justin lagi.
"Anak - anak Lucia akan menemanimu di sini, mereka akan menunggu ajalmu untuk menjadi makanan mereka." Ujar Justin lagi, lalu berjalan pergi.
"Tidak! Tidak mungkin aku akan terkena racun yang aku buat sendiri. Aku yang membuatnya, aku tidak akan mati karena aku yang membuatnya." Ujar Clins.
Kandang di tutup dan di kunci, lalu kemudian semua anak buah Justin kembali masuk ke dalam. Mereka menutup pagar besi dan memastikan bahwa semua pintu sudah aman, baru mereka menekan remot pintu kandang para harimau besar yang sedang kelaparan.
__ADS_1
"GGROAR!!"
"GGGRRRRRR!!!"
Harimau itu mulai berjalan keluar dari kandang dengan suara yang sangat menggelegar. Clins di kelilingi empat ekor harimau yang menatap lapar padanya.
"GRROAR!!"
"KLANG!!"
"AARGH!!" Teriak Clins kesakitan ketika kandang yang mengurung dirinya menggelinding akibat terkaman Harimau.
Bagai dadu yang sedang di kocok, Clins terlempar kesana kemari karena empat harimau itu sedang berusaha untuk mendapatkan Clins.
"JUSTIN EDWARD!!! AKU MEMBENCIMU SAMPAI KE TULANG - TULANGMU! AKU TIDAK AKAN PERNAH MELUPAKAN HARI INI, AKU AKAN MENJADI HANTU UNTUK MEMBUNUHMU!" Teriak Clins dalam ke putus asaan.
Justin sendiri hanya tersenyum miring, melihat pelaku yang sudah memporak porandakan tiga kediaman keluarga Edward itu berteriak putus asa dan kesakitan.
"Ayo ke bandara, istriku sudah menungguku." Ujar Justin pada Ian, dan Ian pun mengangguk.
Akhirnya Justin pun pergi dari sana menuju ke bandara, dan sementara itu di belahan negara lain..
Qilin sedang sangat bahagia, dia sampai tidak henti - hentinya tersenyum karena akhirnya sebentar lagi ia akan bertemu dengan Justin.
"Sayang, sudah malam, kamu masih belum juga tidur." Ujar Dewi yang masuk ke dalam kamar Qilin.
Wajah Qilin bahkan merona seperti anak perawan yang sedang menunggu kedatangan pacarnya.
"Jima dia sampai juga pasti langsung datang padamu, kamu butuh istirahat, nak.. kasihan juga anakmu di dalam, dia juga butuh istirahat." Ujar Dewi.
"Iya, ma. Aku akan tidur." Ucap Qilin, dan akhirnya memposisikan dirinya untuk tidur.
" Selamat malam, sayang." Ujar Dewi, dan Qilin mengangguk.
Ke esokan harinya..
Akhirnya waktu yang di tunggu - tunggu oleh Qilin pun datang, Qilin terpaku ketika melihat sesosok laki - laki yang sangat dia rindukan sedang berjalan menuju kearahnya.
"Justin.." Gumam Qilin dan berlari kecil mengahampiri suaminya.
"Jangan lari, sayang." Ujar Justin, dan langsung berlari menyambut Qilin dan memeluknya dengan erat.
"Justin, aku merindukanmu." Ujar Qilin ketika akhirnya sudah berada di dalam pelukan Justin.
__ADS_1
"Aku lebih merindukanmu, sayang." Sahut Justin, dan tidak henti - hentinya mengecupi pucuk kepala Qilin.
Sierra, Arthur, Dewi, Agra dan Luca pun menatap penuh haru pada sepasang suami istri itu. Bahkan Sierra dan Dewi sudah menangis sembari berpegangan tangan.
"Bagaimana kabarmu, hm?" Tanya Justin.
"Aku baik.. Terima kasih kamu sudah kembali dengan baik - baik saja." Ujar Qilin dengan air mata yang berlinang.
"Aku mencintaimu, Qilin." Ucap Justin.
Mereka akhirnya melepas rindu bersama keluarga yang sudah lama tidak bertemu. Sampai akhirnya kini Justin mengantar Qilin ke dalam kamsr untuk beristirahat.
"Jangan pergi." Ujar Qilin mulai manja.
" Tidak, sayang. Aku tidak akan pergi kemanapun, aku akan selalu di sini denganmu dan si bulat." Ujar Justin, sembari memeluk Qilin.
"Aku terlalu merindukanmu, sayang. Rasanya sangat sesak hatiku ketika tidak bersama denganmu." Ujar Justin.
"Aku pun begitu." Gumam Qilin.
Justin sangat ingin memakan istirnya itu, Qilin tampak semakin menggoda sekarang, mungkin karena bawaan kehamilan, tubuh Qilin menjadi lebih berisi dan mengembNg di beberapa bagian.
"Tidur, sayang.." Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.
'Oh, iya. Aku harus menanyakan tentang kehidupan kembaliku pada mommy.' Batin Justin.
"Aku harus menemui mommy dan daddy sebentar, apakah boleh?" Tanya Justin.
"Setelah aku tidur.." Ucap Qilin, dan memeluk erat Justin. Justin pun terkekeh.
" Iya sayang, tidurlah." Ujar Justin.
Dan setelah beberapa saat, akhirnya Qilin pun terlelap. Dia sangat mudah tidur dan sangat mudah lelah, ibu hamil memang selaku seperti itu, guys?
Justin menyelimuti istinya itu lalu mengecup keningnya sebelum akhirnya ia pergi keluar untuk menemui Sierra dan Arthur yang berada di ruang tengah, sementara Dewi dan Agra entah kemana.
"Qilin sudah tidur, nak?" Tanya Sierra.
"Sudah, mom." Sahut Justin.
"Mom, dad, ada yang harus aku sampaikan." Ujar Justin.
"Perihal apa, nak?" Tanya Sierra.
__ADS_1
"Kebangkitan dari kematian." Ujar Justin, Qilin dan Arthur tertegun seketika.
TO BE CONTINUED..