
Qilin masih menatap Justin dengan tidak percaya, pria yang pernah menjadi seorang idiot rupanya adalah seorang pemimpin Mafia, siapa yang menyangka itu..
" K- kamu serius?" Tanya Qilin, dan Justin mengangguk sambil tersenyum.
" Aku serius, sayang." Ujar Justin dan mengecup bibir Qilin singkat.
" Jadi.. Jangan terbebani dengan perubahanmu, aku selalu mendukung apapun yang terbaik untukmu, kamu hanya harus menjadi dirimu sendiri, dan aku akan selalu siap di sisimu, hum?" Ujar Justin, dan kembali memeluk Qilin.
" Hum.." Sahut Qilin mengangguk.
" Sudah malam, ayo kita tidur.. Tunjukan padaku dimana kamarmu." Ujar Justin dan langsung menggendong Qilin seperti koala.
Qilin tentu tersenyum mendengarnya, dia bahagia karena sudah bisa kembali bertemu dengan Justin, di tambah rupanya Justin juga seorang sepertinya yang berkecimpung di dunia gelap, bahkan Justin adalah seorang pemimpin.
Seharusnya seperti itulah cara seorang pria mencintai pasangannya, dia seharusnya melindungi, menyayangi, mendukung dan menerima apapun yang terjadi pada wanitanya.
Tidak seperti Agra Khan dan Luca.. yang akhirnya membuat wanita mereka lebih memilih lari, bahkan Mia lebih memilih bunuh diri dari pada dia hidup tertahan oleh Luca, dulu.
Justin merebahkan Qilin di ranjang, lalu memeluk Qilin kedalam pelukannya.
" Tidurlah, kamu pasti lelah.." Ujar Justin.
Tapi Qilin yang nakal itu justru tidak mau tidur dan terus memandangi wajah Justin, hingga membuat Justin sulit menahan senyumnya.
" Kamu tersenyum? Aku pikir kamu sudah tidur." Ujar Qilin terkejut.
" Bagaimana aku bisa tidur jika kamu terus menatapku dengan tatapanmu itu?" Ujar Justin sambil terkekeh kecil.
" Wah.. curang." Ujar Qilin.
" Kenapa tidak tidur, hum? Kamu minta di hukum?" Ujar Justin.
" Kok di hukum, aku tidak salah apa apa.." Ujar Qilin lucu, dan Justin tertawa.
" Justin, sejak kapan kamu menjadi ketua mafia??" Akhirnya Qilin mengutarakan rasa penasarannya.
" Kamu tidak bisa tidur karena penasaran?" Tanya Justin, dan Qilin mengangguk.
Justin menghela nafasnya dan kembali bangun, kini Justin duduk bersandar di sandaran sofa, dan Qilin duduk dengan manis di hadapan Justin sambil bersila. Persis seperti anak kecil yang sedang menunggu ibunya bercerita.
" Aku terlahir, dan sudah di nobatkan sebagai calon pemimpin Mafia yang daddy bangun." Ujar Justin, dan Qilin terperanga mendengarnya.
" Daddy seorang pemimpin mafia, dulunya?" Tanya Qilin tidak percaya, dan Justin mengangguk.
" Dan asal kamu tahu, mommy.. Juga adalah seorang anggota mafia dulunya." Ujar Justin dan kini Qilin meranga.
" M- mo- mo- mommy?? Mommy seorang anggota mafia?" Tanya Qilin lebih terkejut.
" Dia peretas, petarung, penembak, pelatih binatang yang sangat hebat." Ujar Justin.
" Wooah..." Ujar Qilin spontan.
Justin terkekeh melihat betapa menggemaskannya ekspresi Qilin saat ini.
__ADS_1
" Tutup mulutmu, sayang.. Nanti masuk lalat." Ujar Justin.
" Jadi kalian keluarga Mafia?" Ujar Qilin, dan Justin mengangguk.
" Orang orang menyebut kami, Edward Family. Dan selamat datang di keluarga Edward yang sebenarnya, sayang." Ujar Justin.
Dan wajah lucu Qilin semakin membuat Justin gemas, akhirnya Justin menarik Qilin dan merebahkannya lalu memeluknya.
" Sudah penasarannya, kamu bisa bertanya tanya lagi besok, kita tidak akan berpisah lagi." Ujar Justin dan mengecup kening Qilin.
" Hum.." Ujar Qilin dan akhirnya memejamkan matanya.
Dua insan yang saling merindukan itu pun kini bisa sama sama tertidur dengan nyenyak, Justin bisa kembali bernafas lega ketika dia sudah menemukan Qilinnya.
Bahkan dalam tidurpun, Justin tidak sedikitpun melonggarkan pelukannya dari Qilin, seakan dia tidak mau Qilin lepas lagi darinya dan kehilangan lagi.
Ke esokan harinya..
Dustin dan semua kelompoknya pun sedang bersiap untuk terbang kembali ke tanah air. Dustin ikut senang karena mendengar bahwa Qilin baik baik saja, tapi dia tidak mau mengganggu kebahagiaan kakaknya jadi dia memilih pulang saja.
" Sudah siap?" Tanya Dustin.
" Sudah, tuan." Ujar anak buahnya.
" Ayo.." Ujar Dustin dan semua orang pun naik mobil untuk pergi ke bandara.
Sementara itu di tempat lain..
Justin bangun dari tidurnya dan mendapati Qilin tidak berada di sisinya, Justin pun bangun dengan panik dan langsung keluar dari kamar untuk mencari Qilin.
Tapi Qilin tidak berada dimanapun, Justin bahkan sampai lari lari dengan bertelanjang kaki tanpa menggunakan sandal rumah. Justin membuka pintu utama dan mencari Qilin di sekitar rumah, tapi juga tidak ada.
' Kemana dia.. apa dia di culik lagi?' Batin Justin panik.
" Sayang.. Qilin." Panggil Justin, tapi tidak ada siapapun, Justin jadi kian panik.
" Justin, apa yang kamu lakukan di sana?" Teriak Qilin dari atas balkoni kamarnya.
" Sayang, kamu dari mana?"Ujar Justin.
" Aku? Aku dari wc." Ujar Qilin polos.
Justin menghela nafasnya, dia pikir dia akan kehilangan Qilinnya lagi, tapi rupanya dia terlalu banyak berpikir. Justin pun tersenyum dan kembali naik ke atas menuju kamar Qilin.
Tanpa aba aba, Justin langsung memeluk Qilin dengan perasaan lega.
" Aku pikir aku akan kehilangan kamu lagi." Ujar Justin.
" Astaga.. aku hanya buang air kecil." Ujar Qilin, sambil terkekeh.
" Aku akan ke rumah sakit." Ujar Qilin tiba tiba.
" Rumah sakit? Apa kamu sakit?" Tanya Justin.
__ADS_1
" Bukan aku, tapi Cio.. dia tertusuk." Ujar Qilin.
" Siapa yang melakukannya?" Tanya Jistin.
" Luca.." Ujar Qilin.
" Pria itu memang sama seperti ayahnya, b*jingan. Seharusnya dia mati saja seperti ayahnya." Ujar Justin.
" Tahu dari mana, kamu.. kalau Agra Khan meninggal?" Tanya Qilin.
" Karena aku yang meratakan rumahnya menjadi kuburan untuknya." Ujar Justin, dan Qilin melongo mendengarnya.
Justin membuat sebuah bangunan rumah yang besar seperti istana itu ambruk begitu saja, Qilin yakin seribu persen, Justin lebih kuat dari Agra Khan.
" Tapi dia belum meninggal, Luca bilang dia selamat, hanya saja dia menjadi tuli dan belum sadar dari koma." Ujar Qilin.
" Oh, beruntung sekali dia. Punya berapa nyawa, dia.. bisa selamat dari situasi itu. " Gumam Justin.
" Justin.. kami semua sudah berbaikan.. Luca menerimaku sebagai kakaknya, dan dia sudah minta maaf kepadaku. Aku memiliki keluargaku sendiri, sekarang." Ujar Qilin tersenyum.
Justin sedikit terkejut, Qilin memaafkan begitu saja orang yang hampir menghilangkan nyawanya..
" Kamu memaafkan dia begitu saja??" Tanya Justin.
" Hum, pada dasarnya kami saudara. Dia hanya tenggelam dengan rasa cemburu, iri dan keposesifannya terhadap mama, seperti Agra Khan. Dia sudah sadar dia salah." Ujar Qilin.
" Qilinku memang gadis yang baik hati.." Ujar Justin dan mencium kening Qilin.
" Baiklah.. lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan, aku akan berada di setiap sisimu, dan mendukungmu." Ujar Justin lagi.
" Terimakasih.." Ujar Qilin .
" Aku alan bersiap untuk ke rumah sakit." Ujar Qilin lagi.
Justin mengangguk, dan akhirnya dia keluar dari kamar Qilin dan turun ke dapur untuk membuat setidaknya sarapan.
Tiba tiba Justin mengernyitkan keningnya ketika melihat seorang pria yang masuk begitu saja ke rumah yang Qilin tempati, pria itu belum sadar bahwa Justin sedang menatap dirinya dengan dingin saat ini.
" Apa Qilin belum bangun, tumben.." Gumam pria itu yang adalah Niklaus.
' Tumben?' Batin Justin.
" Lebih baik aku.. OH MY GOD!!!" Teriak Niklaus terkejut karena saat dia berbalik menghadap dapur dia melihat Justin yang sedang menatapnya dengan tatapan setajam elang.
" Siapa kau! Kenapa kau ada di sini?!" Teriak Niklaus mengarahkan senjatanya kearah Justin dengan nafas memburu karena terkejut.
" Siapa kau? Kenapa kau ada di rumah ini?! " Ujar Justin balik bertanya.
" Niklaus, kau sudah datang?" Teriak Qilin dari atas.
" Ya, nona.. Tapi ada pria asing di sini, jangan khawatir aku akan mengurusnya." Teriak Niklaus.
" Jangan khawatir, dia Justin, kekasihku." Teriak Qilin.
__ADS_1
" Heh???" Ujar Niklaus tidak percaya.
TO BE CONTINUED..