
Rena pias, wajahnya yang sedang pucat itu kini semakin bertambah pucat. Qilin menatap bingung dengan Rena yang hanya diam saja.
" Rena, kamu baik baik saja?" Tanya Qilin.
" Ak- aku baik baik saja." Ujar Rena gugup.
" Minumlah, air hangat bisa meredakan perut bergejolak." Ujar Qilin.
Rena meminun air itu sampai tandas tak tersisa, otaknya saat ini memikirkan satu hal..
' Apa aku hamil?' Batin Rena.
" Ayo aku bantu kamu kerokan." Ujar Qilin, dan Rena mengangguk.
Sementara itu di tempat lain.. Justin mendatangi sebuah restoran dengan bintang lima dan sangat terkenal di Jakarta. Terlihat Ian sudah berdiri di loby, menunggu kedatangan Justin.
Justin turun dan menghampiri Ian, dan Ian pun mengantar Justin masuk ke dalam restoran yang menjadi tempat pertemuannya dengan seseorang.
" Tuan, dia hanya sendirian.." Ujar Ian, dan Justin hanya mengangguk.
Justin masuk ke sebuah ruangan privat yang sudah di pesan oleh Ian, dan terlihat seorang wanita paruh baya yang jika Justin lihat sekilas tampak seperti Qilin.
" Apakah kamu yang meminta bertemu denganku?" Tanya wanita itu pada Justin.
" Ya." Sahut Justin singkat, lalu duduk.
Justin duduk dan sejenak menatap kearah wanita paruh baya itu, tanpa melakukan tes DNA pun bisa langsung terlihat bahwa wanita di hadapannya itu adalah ibu kandung Qilin.
Rambutnya.. sama sama berwarna perak. Rupanya rambut Qilin turunan dari ibunya.
" Maaf, apakah saya mengenalmu, nak?" Tanya wanita itu, dengan senyum ramah.
Wanita itu sangat kebingungan sejak pertama Ian mendatanginya dan meminta untuk membuat janji temu dengan Justin, wanita itu tidak merasa pernah mengenal Justin sebelumnya.
" Tidak, tapi saya mengenal sosok seperti anda." Ujar Justin, dan senyum wanita itu pudar.
" Sosok seperti saya? Tapi saya tidak memiliki saudari kembar. Bisakah kamu beritahu saya sebenarnya ada apa?" Ujar wanita itu.
" Kenapa anda sepertinya sangat terburu - buru?" Tanya Justin.
Karena sejak tadi wanita itu terlihat seperti gelisah dan takut jika dirinya akan tertangkap oleh seseorang.
" Jangan khawatir, tidak akan ada yang masuk kemari tanpa izin dariku." Ujar Justin menenangkan.
" Sungguh, apa saya mengenalmu??" Tanya wanita itu masih heran.
__ADS_1
" Qilin.." Ujar Justin, dan wanita itu berkaca kaca.
" Kamu mengenal Qilin?? Apakah kamu tahu dimana dia, nak?" Tanya wanita itu senang namun berkaca kaca.
" Sebelum itu, bisakah anda jawab beberapa pertanyaan dariku?" Tanya Justin.
" Ya, silahkan.." Ujar wanita itu.
" Apakah anda adik dari Carol?" Tanya Justin.
Wanita itu sejenak diam tapi kemudian menganggukan kepalanya, namun tangannya mengepal. Begitu juga dengan Justin yang mengepalkan tangannya ketika mengetahui jawaban dari wanita itu.
" Tapi kami beda ibu, dia bukan kakak kandungku." Ujar wanita itu, terlihat api kebencian di balik tatapan matanya.
" Lalu bagaimana dengan kelahiran Qilin? Kenapa anda menitipkannya di panti asuhan?" Tanya Justin, dan wanita itu terkejut.
Tidak ada yang tahu bahwa Qilin di titipkan selain suster panti asuhan, semua orang mengira bahwa Qilin adalah anak yang di buang.
" Bolehkah saya bertanya dulu? Apakah putriku baik baik saja??" Tanya wanita itu dengan tatapan sedih.
" Dia baik baik saja, setidaknya setelah dia pindah ke Jakarta." Ujar Justin.
Wanita itu kemudian meneteskan air matanya, dan langsung mengusapnya kembali. Seperti ada penyesalan di dalam hatinya yang tidak bisa tersampaikan.
" Ayahnya di bunuh seseorang, dan saya tidak mau Qilin juga di bunuh olehnya. Saya tidak memiliki siapa pun yang bisa saya percaya untuk memastikan Qilin hidup dengan baik baik saja."
" Jadi saya memilih untuk menitipkannya di panti asuhan. Dengan tanpa identitas dan latar belakang, tidak mungkin orang akan tahu dia putriku." Ujar wanita itu kemudian menangis dengan emosional.
" Saya pikir saya akan bisa menemuinya ketika saya merindukannya, nyatanya saya.."
" Maaf, saya.. " Ujar wanita itu, menangis hingga tidak bisa berkata apa apa.
" Lalu siapa Zheri Arawan?" Tanya Justin, dan wanita itu melotot terkejut.
Justin mengernyitkan keningnya melihat ekspresi wanita itu, seperti tatapan ketidaktahuan.
" Anda tidak tahu??" Tanya Justin.
" Qilin di adopsi dia, dua tahun setelah anda menitipkannya di panti asuhan. Tapi suster panti berkata Zheri memperlakukan Qilin dengan sangat baik." Ujar Justin.
Wanita itu menutup mulutnya dengan terkejut dan dengan tatapan tidak percaya.
" Saya tidak mau ikut campur dengan urusan pribadi anda, di sini saya hanya ingin tahu alasan anda menitipkan Qilin di panti asuhan, dan mengapa anda baru mencarinya sekarang."
" Saya adalah orang yang paling tidak mau dan tidak akan membiarkan Qilin terluka untuk yang ke sekian kalinya. Lebih baik saya tidak memberitahu dia bahwa keluarga kandungnya masih ada, jika.."
__ADS_1
" Saya di tahan.." Ujar wanita itu memotong ucapan Justin.
" Saya di tahan selama bertahun tahun dan menjadi boneka keluargaku untuk menjalani pernikahan paksa dengan pria yang tidak saya cintai." Ujar wanita itu.
" Saya tidak bisa menemui Qilin, karena jika saya melakukannya, nyawa Qilin pasri akan dalam bahaya. Tapi saya tidak menyangka Zheri mengadopsinya." Ujar wanita itu.
" Saya mengumpulkan keberanian dan kekuatan diam diam selama ini, lalu saya keluar dari penjara yang keluargaku buat itu, untuk mencari putriku.." Ujar wanita itu.
" Dan Zheri, Zheri adalah orang kepercayaan ayahku." Ujar wanita itu.
Justin geram mendengarnya, wanita bernama Desi yang adalah istri Zheri itu mungkin tahu juga tentang identitas Qilin, tapi dia tetap menyiksa Qilin dan menjadikan Qilin sebagai objek samsak untuk Gigi.
" Saya beri tahu anda, selama Qilin tinggal dengan Zheri, dia selalu di perlakukan tidak manusiawi oleh istri Zheri. Dan Qilin baru mendapatkan kebebasannya setelah dia pindah ke Jakarta beberapa bulan yang lalu." Ujar Justin memberi tahu ibu Qilin.
Wanita itu menangis sedih, Justin bisa melihat betapa sesaknya tangisan wanita itu, Justin juga melihat bekas bekas luka di pergelangan tangan wanita itu meski wanita itu mengenakan pakaian berlengan panjang.
" Putriku.." Gumam wanita itu.
" Bisakah saya bertemu dengannya?" Tanya wanita itu.
Justin tidak pernah suka melihat seorang ibu menangis, walau dia tidak suka di dekati wanita selain ibunya, neneknya dan Qilin.
" Bisa, hanya saja sayangnya anda adalah adik dari musuh ayahku." Ujar Justin, dan wanita itu terdiam.
" Saya bukan bagian dari keluarga itu, Carol, Joe, dan semua keluarga Simons.. saya hanya anak luar nikah ayahku yang akhirnya di jadikan boneka hidup oleh keluarga Simons untuk kepentingan mereka." Ujar wanita itu.
Beda sisi beda cerita.. kita memang tidak bisa mengambil kesimpulan hanya dari satu sisi, kita harus mendengarkan dari sisi lainnya.
" Saya tidak ada kaitannya dengan keluarga Simons, tolong jangan pisahkan saya dari putriku. Saya sangat merindukan dia, hanya dia keluargaku satu satunya." Ujar wanita itu.
" Lalu kenapa anda tidak mencarinya, anda sudah berada di tanah air selama tiga tahun." Ujar Justin.
" Karena saya masih takut jika orang orang dari keluarga Simons menemukan saya, tidak mudah untuk bisa pergi daei penjara itu." Ujar wanita itu.
Terjawab sudah alasan mengapa wanita itu seperti ketakutan dan panik, seperti orang yang takut tehauan setelah mencuri.
" Bisakah saya bertemu Qilin? " Tanya wanita itu lagi, dengan tatapan penuh harap.
Justin sejenak merenung, jika yang di katakan wanita itu benar, maka wanita itu sungguh tidak bersalah, dan tidak ada kaitannya dengan Carol. Tapi Justin juga tidak mengiyakan begitu saja, segala sesuatunya harus di selidiki dengan jelas.
" Saya akan pertemukan anda dengan Qilin, tapi.. setelah saya menyelidiki kebenaran dari identitas anda. Karena saya tidak mau Qilin terluka untuk lagi dan lagi." Ujar Justin.
" Baiklah.. terimakasih, nak." Ujar wanita itu dengan senyum senang.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1