
#Kantin
Olive sedang tertawa karena melihat bercandaan Ryan, Rafa, Shakila dan Niesha. Bahkan Alden yang jarang terlihat tersenyum pun sesekali tersenyum kadang ikut tertawa karena melihat kelakuan sahabatnya.
Gitta yang melihat kebahagiaan itu sangat marah. Hati nya sangat sakit melihat mereka terutama Olive bahagia. Gitta pun menghampiri meja mereka, mengambil gelas yang berisi teh di atas meja dan sengaja menuangnya dari atas kepala Olive membuat suasana keruh.
Olive langsung berdiri begitu tahu ada air mengalir dari atas kepala nya. Hampir seluruh baju nya basah. Alden melihat itu kaget sama dengan yang lainnya.
"Kak Gitta!" Teriak Shakila menarik Olive untuk berada di tengah antara dirinya dan Niesha.
"Eh, lu apa-apaan sih?" Kesal Rafa.
"Lu diam aja, ini urusan gue sama perempuan genit ini! Ngapain lu datang ke ruang kepala sekolah hah? Sampe ikut ngantar segala ke parkiran." Marah Gitta.
Olive cuman tersenyum smirk karena mendengar perkataan Gitta yang menurut dia hanya buang-buang waktu.
"Lu gila ya? Di bilang perempuan genit malah senyum gitu." Teriak Ilona.
Alden yang sudah kehilangan kesabaran menggebrak meja menatap tajam ke arah Gitta dan Ilona. Membuat mereka takut dan kaget karena gebrakan nya.
"Lu berdua yang gila nggak ada otak!" Teriak Alden.
"Alden, aku nggak terima ngeliat kamu yang tersenyum bahkan sesekali tertawa bahagia bareng terutama sama perempuan genit itu. Alden, biasanya kamu juga bakal usilin semua anak baru kan? Kenapa kamu malah berteman sama dia? Aku nggak suka baby." Jelas Gitta.
"Gue ke kantor kepala sekolah karena bokap gue dan... "
"Dan om kak Alden kenal sama aku kak." Potong Olive yang langsung menatap Alden.
Alden melihat Olive menggelengkan kepala nya yang mengartikan 'Jangan katakan apapun.' Alden pun terdiam.
"Benar itu Alden?" Tanya Gitta.
Alden hanya diam namun dia tau jika Olive berharap dirinya tidak mengatakan apapun.
"Atau lu yang jadi simpanan om-om?" Ucap Gitta.
"Jaga ya setiap kata lu. Olive orang baik, bukan kayak lu. Yang senang di atas penderitaan orang!" Tegas Ryan.
"Lu lupa udah berapa murid yang lu perlakukan kayak gitu hah?" Ujar Ilona.
"Tapi gue dan dua sahabat gue masih punya hati. Nggak kayak lu, sampe bikin orang masuk rumah sakit." Ucap Alden dingin dengan tatapan tajam.
Olive merasa sudah menggigil seluruh tubuhnya karena itu es teh. Jika dia tidak pergi untuk ganti baju bisa sakit nantinya.
"Ya, Bokap gue sama om gue datang ke sekolah. Kebetulan juga kenal sama Olive." Lanjut Alden.
"Kamu bohong kan? Jangan ngelindungin dia Alden. Mana kamu yang kemarin dingin setiap ada anak baru." Ucap Gitta.
"Gue udah tobat. Tadi bokap gue datang buat narik semua fasilitas gue karena ketahuan ngusilin anak baru. Bokap gue pasang cctv yang gue aja bahkan nggak tau." Bohong Alden.
__ADS_1
Olive sudah mengusap ke dua tangan nya, rasanya seluruh tubuhnya semakin menggigil. Alden melihat itu melepas jaket nya dan melampirkan pada pundak olive.
"Lu berdua bawa Olive ke ruang UKS, suruh dia ganti baju. Nanti masuk angin dikira gue yang ngusilin anak baru." Ucap Alden.
Shakila dan Niesha pun segera membawa Olive meninggalkan kantin yang sudah ramai menjadi tontonan Siswa/i dari kelas X sampai kelas XII ada di situ.
"Eh tunggu! Urusan kita belum kelar mau kemana lu ******!" Teriak Gitta yang ingin menyusul Olive namun di tahan oleh Rafa dan Ryan.
"Urusan lu sama gue. Dia cuman datang ke ruang kepsek karena kebetulan kenal sama bokap gue. Lu nggak tau dia ngadu ke bokap gue masalah ini atau lu nggak takut yang ternyata ada cctv disini? Secara kalo bokap gue tau, lu bakal di keluarin dari sekolah karena udah ganggu anak teman nya bokap gue." Jelas Alden memperjelas setiap tutur katanya.
Ting!
Alden mendapat sebuah pesan.
[Makasih kak, maaf bikin kakak harus bohong. Tapi, aku nggak mau ada yang tau sampai acara promnight sesuai yang di omong tadi di ruang kepsek. Sekali lagi makasih.]
Entah kenapa Alden senang mendapat pesan itu, bahkan tanpa ia sadari dirinya tersenyum.
"Kamu bohong kan? Aku nggak akan percaya semua kata-kata kamu. Sebelum aku bisa tahu dengan kepala mata aku sendiri." Ucap Gitta.
"Terserah. Barusan gue senyum karena dapet pesan dari bokap kalo dia lihat semua nya dari kantor perusahaan. Gue bakal ucapin selamat tinggal buat lu karena nggak lama lagi lu bakal di panggil pak Firman ke ruangan nya. Cabut!" Ujar Alden meninggalkan kantin dan posisi Gitta shock karena perkataan Alden.
Alden meninggalkan kantin di ikuti Ryan dan Rafa. Mereka kembali ke kelas. Sedangkan Olive tadi menolak untuk ke UKS, Memilih untuk ke kelas saja. Lagi pula sudah ada jaket milik Alden, ia akan mengembalikan nya besok setelah mencuci nya.
Suasana di sekolah kembali seperti semula. Ada pertandingan sepak bola dan baca puisi. Di lapangan terlihat ramai sorak sorai dari pendukung para peserta lomba. Sebagian juga ada yang menyaksikan pertandingan dari koridor lantai kelas masing-masing.
Sampai pukul 3 sore, acara masih berlangsung. Olive hanya sendiri di kelas sampai seorang siswa masuk,
"Ouh, oke. Makasih ya." Sahut Olive.
Olive merasa senang karena mendapat balasan walaupun bukan pesan via ponsel. Ternyata Alden tidak sedingin yang dia kira. Alden? Itu bukan Alden.
Saat perlombaan dimulai Alden memutuskan untuk ke markas di belakang sekolah dan dia sama sekali tidak tertarik dengan perlombaan itu. Malah dia ingin mempersiapkan fisik untuk pertandingan nya minggu depan.
'Rasain lu! Berani-berani nya bikin Alden harus bohong sama gue. Kali ini lu nggak akan bisa lepas, gue pastikan lu juga bakal pindah dari sekolah ini.' Bathin Gitta.
"Git, udah belum. Ish! Gue ngeri ketahuan. Kalo perkataan Alden bener gimana? Bukan lu doang yang bakal di Drop Out gue juga." Bisik Ilona sambil mengamankan situasi kelas.
"Gue nggak akan mudah percaya itu sama kata-kata Alden. Dia pasti udah bohong sama gue. Sekarang kita siapin jebakan di atas." Ucap Gitta.
Gita dan Ilona sudah menyuruh orang untuk melakukan sesuai rencana nya di rooftop nanti. Waktu terus berjalan, Hingga sudah hampir jam 5 kurang 15 menit. Olive pun ingin cepat pulang karena merasa lemas banget. Namun ia harus temui Alden dulu di rooftop sebelum pulang.
"Eh, Liv. Mau kemana kok naik ke atas?" Tanya Shakila.
"Kak Alden ngajak ketemuan di rooftop. Mungkin dia minta penjelasan soal tadi di kantin yang tiba-tiba gue potong ucapan nya. Kalian tunggu gue di gerbang aja, gue nggak lama kok." Sahut Olive.
"Lu yakin nggak mau di temenin? Muka lu udah pucat banget lho. Kalo lu pingsan gimana?" Ujar Niesha khawatir.
"Iya lu juga demam tau." Sambung Shakila setelah menyentuh kening Olive hangat.
__ADS_1
"Gue bentaran aja. Kalian tunggu di gerbang ya." Ucap Olive menaiki tangga.
Akhirnya Shakila dan Niesha pun turun. Sementara itu, saat Olive membuka pintu rooftop kosong tidak ada siapapun.
"Kak Alden? Kakak dimana? Kak... Akh!" Ucap Olive lalu tiba-tiba ada yang memukul leher belakang hingga semua pandangan menjadi gelap sesaat.
"Cepat-cepat masukin ke gudang, buruan!" Perintah Gitta.
Setelah memasukkan Olive ke dalam gudang. Gitta langsung menggembok pintunya seperti semula. Seperti tidak terjadi apapun Gitta dan Ilona sudah membayar siswa itu untuk melakukan hal ini untuk tutup mulut. Mereka pun pulang tanpa merasa beban.
Di gerbang sekolah, Shakila dan Niesha sudah menunggu 15 menit namun belum ada tanda Olive keluar dari sekolah. Tiba-tiba Niesha melihat Alden, Ryan dan Rafa baru datang mungkin dari markas.
"Wait! Kalo itu kak Alden berarti Olive sama siapa di rooftop?" Ujar Niesha.
"Olive!" Terik Niesha dan Shakila berbarengan.
Shakila dan Niesha menghampiri Alden, ryan, rafa dengan panik.
"Weis! Kenapa-napa? Tenang, tarik nafas ngomong pelan-pelan." Ujar Rafa.
"Kak Alden abis dari markas?" Tanya Shakila.
"Iya, dari tadi gue di markas. Kenapa?" Jawab Alden.
"Gawat kak! Olive, dia dapet pesan dari siswa katanya kakak minta ketemu sama dia di rooftop." Ucap Niesha.
"Hah?" Sahut Rafa dan Ryan.
"Mana dia demam lagi tadi pucat banget muka nya juga." Ujar Shakila.
Alden pun langsung lari memasuki sekolah menuju rooftop di susul yang lain. Sampai di rooftop mereka meneriakkan nama Olive namun tidak ada jawaban.
"Kalian yakin Olive ke rooftop? Coba kita berpencar cari setiap kelas sama toilet. Setiap ruangan kalo perlu, gue mau nemuin satpam buat minta kunci-kunci siapa tau dia kekunci." Perintah Alden.
Mereka pun akhirnya berpencar meninggalkan rooftop. Alden merutuki dirinya karena terlalu berbaik hati dengan sikap Gitta. Dia tahu bahwa Gitta lah dalang dari semua ini. Alden sampai di post satpam.
Bersambung...
******************
**Hai semua,
Aku Min_Dhi :)
Terima kasih sudah membaca karya cerita ku ini.
Mau spoiler? Kemungkinan cerita ini akan berlansung sampai 100 episode.
Aku sudah menulisnya sebanyak 20 episode tinggal post sampai bulan ketiga tahun depan. Semoga ceritanya semakin menarik dan tidak membosankan.
__ADS_1
Aku minta support kalian dengan cara memberi *Like* & *Comment* pada setiap ceritaku**.
Terima kasih untuk support kalian ❣️