
Aku tidak tahu. Mungkin aku akan diam dan bergelut di fikiranku. Tidak berani meminta maaf karena apa yang terucap dengan sikap ku kepadanya sangat tidak sinkron. Hati dan fikiranku selalu berlawanan. Apa yang aku lakukan pada berdasarkan kata hati sedangkan yang aku ucapkan selalu dari otak. Aku selalu menolak apa yang di katakan hati ku untuk di utarakan. Entahlah.
Apa tuan baik-baik saja? Tuan sepertinya frustasi.
Em, aku sedang merutuki perbuatan ku sendiri di dalam otak sampai rasanya kepala ku ingin pecah. Sudahlah.
Alden mengakhiri panggilannya. Zet sengaja menanyakan itu akan masalah Nona dan Tuan muda Alden dapat terselesaikan. Zet menunggu respon dari Nona muda kedua Nugraha.
"Bawa aku ke kamarmu saja. Aku akan tidur di kamar tamu. Aku akan menemuinya besok setelah situasi membaik." Pinta Olive.
"Baiklah nona. Tapi bagaimana dengan cctv?" Ujar Zet.
"Pinjam ponselmu." Ucap Olive.
Zet memberikan ponsel nya dan memanggil Dokter Tomi.
Apa nona sudah ketemu?
Ini aku dokter. Tapi, aku mau minta tolong hanya malam ini saja padamu. Jangan beritahu kak Alden.
Tapi nona---
Zet akan menceritakan alasan kenapa aku tidak ingin menemui kak Alden. Aku minta tolong hanya untuk malam ini saja.
Baiklah, apa yang bisa saya bantu nona.
Apa kak Alden tertidur?
Ya sepertinya dia tertidur. Dari cctv sih tertidur di kasur nona.
Matikan cctv. Hanya butuh 10 menit. Aku akan ke kamar Zet malam ini. Aku tidak akan kabur keluar dari rumah sakit.
Baiklah. Hanya 10 menit ya nona.
Terimakasih banyak dokter. Ah, tolong jangan mematikan semua. Hanya untuk lantai 25 selama 5 menit kemudian aku akan mengirim pesan lagi saat ingin masuk kamar. Oke.
Olive mematikan sambungan nya dan bergegas. Zet memastikan bahwa cctv mati. Saat Olive Zet sudah memasuki lift Olive mengirim pesan untuk menyalakan cctv lantai 25 kembali dan bersiap mematikan cctv lantai 10 hingga akhirnya Olive zet tidak ketahuan sampai kamar Zet. Untung nya Zet tidak meminta kamar yang persis di samping kamar Olive ada jeda 2 kamar.
__ADS_1
Olive mandi bebersih diri di kamar tamu. Tadi Olive sudah minta di antarkan baju pasien ke kamar Zet oleh dokter Tomi. Setelah mandi Olive langsung tidur tidak lupa mengunci pintu kamar tamu nya. Untung nya di kamar tamu tidak ada cctv jadi aman.
Saat zet dan Olive memasuki kamar zet juga cctv kamar zet di matikan. Jadi Zet seperti benar-benar sendiri saat memasuki kamarnya itu.
Esok paginya, pintu tamu kamar zet sudah terbuka. Zet panik karena takut Nona nya akan kabur. Namun, sebenarnya semalam Olive diam-diam pindah ke kamar tamu yang ada di kamar rawatnya. Entah apa yang di fikirkan.
Olive masih tertidur, padahal jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi hari. Sedangkan Alden hanya tidur menghadap luar jendela sambil meringkukkan tubuhnya.
Zet mengketuk pintu kamar rawat Olive, lalu masuk.
"Apa Olive sudah ketemu? Dia tidur dimana semalam pun aku tidak tau. Dia tidak mungkin pulang, karena ponsel dan barang miliknya ada disini. Apa kamu memiliki petunjuk Zet?" ujar Alden.
"Tidak ada tuan. Saya kira Nona akan kembali ke kamarnya. Apa tuan yakin nona tidak akan kabur?" Curiga Zet.
"Tidak akan. Aku sangat yakin tentang itu." Sahut Alden.
Olive merasa badan nya menggigil tetapi kaki kanan nya mulai memanas terbakar seperti kemarin. Ada apa dengan tubuh nya akhir-akhir ini, tubuh Olive gemetar.
"Kak... " Panggil Olive pelan.
"Apa kau mendengar sesuatu? Suara rintihan?" Tanya Alden namun Zet menggeleng.
Alden langsung menuju kamar tamu dan membuka nya. Alden terkejut melihat Olive meringkuk kedinginan tapi kaki kanan nya harus keluar dari sana. Olive tau ada yang buka pintu tapi ia tidak bisa membuka mata nya. Alden langsung menyentuh kening Olive, kaget karena Olive demam sangat tinggi.
"Zet! Panggilkan Tomi sekarang." Perintah Alden.
"Kak dingin, tapi kaki ku sebelah panas hiks.. hiks... " Tangis Olive.
Tidak ada cara lain sambil menunggu Zet memanggil Tomi. Alden masuk ke dalam selimut dan memeluk Olive, Olive merasa hangat di pelukan itu.
"Apa sudah merasa hangat?" Tanya Alden dan Olive mengangguk.
Zet datang bersama dengan Tomi terkejut dengan apa yang mereka lihat.
"Dokter, obati kaki kanan nya. Apakah ada obat penurun panas? Apa ini efek samping dari obat kemarin?" Ucap Alden.
"Ya tuan, akan berlawanan karena secara tidak langsung suhu tubuh pasti akan bentrok." Jawab Dokter.
__ADS_1
"Apakah ada solusi yang lebih cepat untuk menyembuhkannya?" Tanya Alden.
"Ini akan berlangsung hingga besok. Rendam kaki nona dengan air hangat dan lima tetas obat ini. Kompres juga tidak apa." Jelas Dokter Tomi.
"Tuan, ini obat penurun demam nya." Ucap suster.
Alden mengecheck obat nya terlebih dahulu, lalu ia meminta agar Olive mau meminum obat.
"Liv, minum obat dulu ya? Nih obat nya." Kata Alden yang sudah menempelkan obatnya di depan bibir Olive.
Alden membantu Olive duduk kemudian membantu memasukan obat dan meminumkan segelas air. Olive merasa lebih tenang sekarang. Olive mulai tertidur kembali.
Tiba-tiba Belden dan Phia datang memasuki kamar rawat Olive, kaget melihat adiknya satu selimut dengan Alden lalu kaki nya sedang di obati okeh dokter.
"Apa yang terjadi? Apa kalian baik-baik saja?" Tanya Belden.
"Tuan saya akan menceritakan secara singkatnya. Jadi kemarin Yumi Clarke menyaman menjadi suster, tanpa sadar dia mengoleskan minyak yang dulu sempat membuat rumah nya meledak dan menewaskan beberapa anggota keluarga nya. Barusan, Nona muda kedua merasa suhu tubuhnya bentrok karena tubuhnya menggigil tetapi kaki kanan yang sempat kena oles minya terasa seperti terbakar kembali. Tadi sambil menunggu Dokter datang, Tuan Alden berinisiatif untuk membuat Nona muda kedua menjadi lebih hangat sementara. Sekarang nona muda kedua sudah merasa lebih baik, tubuh nya tidak segemetar tadi." Jelas Zet panjang lebar.
"Phia gantikan Alden, kakak harus berbicara dengan nya." Pinta Belden.
Alden melepas pelukannya dan bertukar Phia yang tidur memeluk Olive. Alden Belden keluar dari ruangan.
"Keadaannya sangat tidak kondusif kak. Nyawa Olive semakin terancam. Mereka akan terus menyamar sebagai kita atau petugas di sini. Apa kita bawa Olive rawat jalan saja?" Ujar Alden.
"Ceritakan pada ku secara perlahan, ya mereka memang akan terus berusaha sampai mendapatkan hasil. Papa dan om Gibran sedang berusaha untuk merentas perusahaan Clarke. Jadi, kemarin rencana melakukan perlawanan adalah ide Olive?" Tanya Belden.
"Iya kak, tadi nya aku memergoki dia akan turun tangan sendiri. Jadi, kami memutuskan untuk melawan." Jelas Alden.
"Sekarang kita lihat keadaan Olive dulu. Jika stabil mungkin bisa kita merawatnya di rumah dengan rawat jalan. Tetapi jika dia masih bereaksi seperti ini, kita membutuhkan rumah sakit agar Olive mendapat perawatan intensif." Ucap Belden.
"Oke kak." Sahut Alden.
Alden duduk sambil menyatukan kedua tangannya dan menempelkan pada dahinya seakan berdoa agar keadaan Olive membaik. Jika bisa, pindahkan rasa sakit itu pada dirinya. Jangan Olive yang merasakan ini.
Belden melihat kesungguhan dari Alden yang khawatir, panik, marah semua campur aduk terhadap keadaan ini sangatlah tulus. Belden berharap jika Alden memang yang terbaik untuk adik nya itu.
Bersambung...
__ADS_1