Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 55 - Robert?


__ADS_3

Olive berdiri dan menengok ke sumber suara. Olive kaget, jika tidak Alden di belakangnya mungkin dia sudah terjatuh tadi. Olive menggeleng, mungkin dia berhalusinasi.


"Ayo pulang, sepertinya aku mulai berhalusinasi." Ucap Olive kepada Alden.


"Jika kamu berhalusinasi, apakah aku juga bisa mendengar dan melihatnya?" Ujar Alden.


"Kak Via, ini aku Robert Nathan Nugraha. Aku masih hidup kak." Kata Robert.


"Adikku sudah meninggal delapan tahun yang lalu. Kamu siapa?" Tanya Olive.


Robert menunjukkan gelang tali merah yang pernah Olive berikan pada Robert. Robert juga menunjukkan gantungan kunci yang berbentuk kepala lumba-lumba.


"Apa kakak masih menyimpan ini?" Tanya Robert.


Olive mengeluarkan ponselnya dan membuka case ponselnya lalu mengeluarkan ekor lumba-lumba.


"Hai kak, maaf membutuhkan waktu yang lama untuk kembali." Ujar Robert sambil tersenyum.


Olive berlari memeluk Robert. Olive masih tidak mengerti, sebenarnya apa yang terjadi? Tapi Olive tidak peduli. Robert nya telah kembali.


"Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu bisa disini? Kakak sangat melihat jelas kamu tertabrak dan mental cukup jauh." Ucap Olive.


"Kak, stop it. Oke aku akan menjelaskan nya. Tapi tidak disini. Ayo ke tempatku tidak jauh dari sini atau kakak ada tempat lain?" Ujar Robert.


"Rumah. Kita pulang ke rumah. Kamu harus menjelaskan semua nya kepada oma dan yang lain juga." Sahut Olive.


"Tidak kak, belum waktu nya aku kembali ke rumah. Ikutlah ke tempatku saja. Kakak juga ikut." Ajak Robert.


Robert berjalan menggandeng tangan Olive dan Alden. Mereka tiba di sebuah rumah yang sangat sederhana dari depan. Tetapi saat masuk sangat luas sekali.


"Kamu tinggal disini? Sendiri? Beli? Dapat uang darimana?" Tanya Olive.


"Kak, aku akan jawab semua pertanyaan kakak setelah kita duduk. Kakak ipar tidak pusing di tanyai seperti itu setelah pulang kerja?" Celetuk Robert.


Alden terbatuk.


"Robert... " Ucap Olive.


"Baiklah, aku salah. Hahaha, maaf kak aku bercanda." Kata Robert.


Akhirnya mereka sampai di ruang tengah. Para pelayan menyuguhkan minuman untuk mereka bertiga.

__ADS_1


"Kosongkan ruangan ini. Jangan ada yang masuk." Perintah Robert.


"Baik tuan." Sahut Anak buah Robert.


"Oke. Jadi, dari mana aku akan bercerita?Awal?" Tanya Robert dan Olive mengangguk.


"Semua. Dari awal hingga sekarang lalu kenapa kamu tidak kembali ke rumah." Ucap Olive.


"Kak, kenalkan aku dulu pada kakak itu." Pinta Robert.


"Ini Alden, dia kakak kelas ku di sekolah dan dia sudah tau tentangmu." Sahut Olive dan Alden mengangguk.


"Wah! Kak Alden Camilo Fausta? Sungguh? Aku sangat ngefans pada kakak. Kak nan---"


"Hem, Nathan." Panggil Olive yang mulai kesal.


"Ah, baiklah. Singkat cerita, aku memang tertabrak dan terpental seperti yang kakak lihat. Aku juga sempat melihat kakak membantai mereka semua tanpa ampun. Setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi, aku hanya dengar tangisan dari kalian. Aku bekerjasama dengan dokter Frankie, sebelum aku di keluarkan dari ruang ICU dan di nyatakan meninggal. Aku bilang pada beliau untuk mengatakan dengan sungguh-sungguh agar kalian benar percaya. Wait! Aku tau kakak pasti bakal marah, kakak salah. Aku yang lebih marah saat dapat berita bahwa kakak dan kak Phia di culik lalu kak Phia koma selama tiga tahun. Aku menyesal telah melakukan ini saat itu. Tapi sejak saat itu juga aku bertekad melindungi kakak-kakak dari jarak jauh. Kejadian yang di rumah sakit, saat kakak kecelakaan kemarin. Aku sempat menyamar sebagai perawat disana. Aku sangat senang kakak selamat dari kecelakaan itu. Walaupun jujur, aku merutuki kakak yang memiliki rencana bodoh mengorbankan dirinya disituasi seperti itu." Cerita Robert yang sesekali ingin sekali Olive melempar bantal pada adiknya itu.


"Kamu juga menyamar menjadi asisten jualan di kantin?" Tebak Alden.


"Benar! Aku sempat menyapa kakak waktu di kantin. Karena wajahku ada perubahan tidak seperti dulu jadi semua aman untukku. Tidak ada yang mengenaliku, hanya pernah hampir ketahuan dengan Opa saat aku menemaninya main Golf. Ouh, kak apa opa akan terus main golf, kenapa selalu aku yang terpilih untuk menemaninya." Kesal Robert.


"Kok nanya kakak, ya mungkin Opa milih kamu karena dia emang ngebayangin kamu pasti tinggi nya akan sama jikalau masih hidup. Kan opa mana tau kamu hidup." Sahut Olive.


"Lalu apa alasanmu tidak kembali ke rumah?" Tanya Alden.


"Karena aku sama seperti kalian. Aku memilih jalan yang sama dengan kakak. Tidak lama setelah hari kematian ku tanggal ini pada saat itu selama setengah tahun aku berlatih berjalan, aku mulai seperti bayi lagi. Kaki tangan ku hampir mendekati lumpuh total. Aku berlatih seperti kakak, dari memakai senjata sampai tidak memakai senjata." Cerita Robert.


"Bagaimana dengan sekolahmu? Seharusnya kamu sudah kelas 123456 kelas 6?" Tanya Olive.


"Iya, aku kelas 6SD. Tapi aku excellent jadi sekarang kelas 2 SMP." Sahut Robert.


"Tunggu, tadi kamu bilang kamu memilih jalan yang sama denganku? No Robert." Protes Olive.


"Why? Ahhh... mengenai penembak jitu yang ternyata penabrak aku dan Sam Clarke yang memperkosa kak Phia kakak bisa serahkan padaku. Kakak jangan menyakiti diri kakak seperti ini lagi." Ucap Robert menunjuk lupa tangan kaki dan lengan terkena tembak kemarin.


"Cukup aku aja Robert, please. Kamu tidak akan bisa melawan mereka." Mohon Olive.


"Kak, lihatlah rumah ini. Penghargaan disana, aku sudah sabuk hitam. Aku sudah bukan Robert yang selalu melarang kakak berperang, sekarang aku akan menjadi pelindung kakak dari belakang. Bukan hanya kakak, tapi semua. Ah, satu lagi perang yang terjadi tiba-tiba kemarin saat kakak pulang dari rumah sakit juga aku ada disana." Jelas Robert.


Olive menyadari sesuatu, Robert sudah siap untuk berlari.

__ADS_1


"Kamu yang kemarin terdengar seperti tertawa saat Zet adu mulut dengan San dan Quira. Wah! Robert sini kau!" Teriak Olive.


"Aaa.... kakak ampun! Tidak aku sungguh tidak berniat menertawakan kakak! Sungguh! Hanya lucu saja, jika orang yang seperti kakak banyak bicara tapi protes ketika orang lain pun banyak bicara seperti kakak." Kabur Robert.


"Robert Nathan Nugraha!" Teriak Olive mengejar Robert.


Alden hanya tertawa melihat tingkah kakak adik ini. Alden pun berkeliling melihat lemari piala, ada sebuah buku Album disana. Alden mengambil itu dan melihatnya. Alden tersenyum melihat foto-foto itu. Alden melihat satu foto yang seperti tidak asing perempuan gadis, tertulis Vina disana.


Alden mengembalikan Album itu. Olive dan Robert sudah tergeletak di sofa.


"Kak, maafkan aku. Aku membuat kakak jadi pendiam setelah hari itu. Aku sungguh menyesal, aku tidak mengira bahwa kakak akan sangat terpukul dengan kabar itu. Maafkan aku kak." Ucap Robert tulus dan serius.


Olive menggelengkan kepala nya dan tersenyum.


"Setidaknya sekarang kamu tidak benar-benar ada di atas sana, sekarang kamu sudah nyata ada di depan kakak. Itu sudah cukup untukku. Terima kasih sudah selalu membantu kami dek." Sahut Olive.


"Aku janji, setelah urusanku selesai secepat mungkin aku akan kembali ke rumah. Aku akan tetap selalu di sekitar kalian sampai akhir nanti." Ujar Robert.


"Urusan apa?" Tanya Olive.


"Kakak jangan tau ini, bukan yang berhubungan dengan kita. Tapi hanya aku. Aku menjadi target seseorang sudah sekitar setengah tahun ini. Bukan tentang perang kak, ini mengenai bisnis. Untuk urusan pertarungan aku serahkan kepada orang kepercayaanku yaitu prass. Orang ini ingin bekerjasama untuk berjualan sesuatu di negara ini. Tapi, aku mendapat info jika dia masih satu keluarga dengan Clarke dan Wiyata. Kakak jangan fikirkan itu, kakak fokus aja ke sekolah dan acara Promnight. Tunggu, kakak berdandan? Wah ini pe---"


Robert mendapat lemparan tiga bantal berturut-turut. Olive langsung mengode untuk Robert menutup mulutnya. Robert tidak menyangka jika kakak nya menyukai idola nya. Robert mendekati Olive.


"Bayar aku untuk tutup mulut." Bisik Robert.


"Apa maumu?" Tanya Olive berbisik.


"Kak Alden, besok apakah kakak sibuk?" Ujar Robert.


"Tidak. Kenapa?" Tanya Robert.


"Besok ajak aku, kak Olive, kak Phia dan kak Belden untuk ke taman hiburan. Tentu saja aku akan menyamar jadi anak buah kak Alden. Boleh kak?" Ucap Robert.


"Baiklah. Apa aku perlu menyewa taman hiburan hanya untuk kita saja?" Tawar Alden.


"Tidak kak, alami saja. Jika menyewa nya akan terasa sepi. Aku hanya merasa sedih melihat kakakku hanya bisa diam di rumah tidak seperti anak-anak kebanyakan bisa pergi ke taman hiburan bersama keluarga nya." Sahut Robert.


Olive memeluk Robert.


"Awas kau ya kalau besok macam-macam." Bisik Olive.

__ADS_1


"Aku akan pastikan kakak akan bersama kakak ipar." Balas Bisik Robert yang mendapat cubitan kecil dari Olive.


Bersambung...


__ADS_2