
Alden, Ryan dan Rafa menyadari bahwa Gitta baru saja masuk kekelas setelah bel lima menit yang lalu. Mereka menebak jika umpan nya berhasil, Gitta baru saja kembali dari ruang kepala sekolah.
Pelajaran berlangsung, terasa sangat lama untuk Alden. Mungkin karena tidak sabar ingin bertemu. Lagi dan Lagi Alden cepat mengusir fikiran bahwa dirinya mulai tertarik dengan Olive.
Sementara itu di rumah sakit, Olive sudah mandi dan rapi untuk pulang. Sebenarnya Olive bisa saja pulang dengan mobil online, ia tidak ingin merepotkan kak Alden. Tapi, ia tidak bisa melakukan apapun jika hati dan isi otaknya sudah tidak sinkron. Apa yang ingin di ucap dan terucapkan sangat tidak sama. Ada apa dengan Olive, ini adalah pertama kali nya.
Dia merasa nyaman dengan Alden, tapi ia sadar jika Alden tidak mungkin memiliki hubungan lebih dengan diri nya dari sahabat. Shakila dan Niesha juga sudah siap untuk pulang.
Waktu terus berjalan, sekarang sudah menunjukkan pukul 1 siang. Dokter Tomi melakukan pemeriksaan terakhir pada Olive.
"Bagaimana keadaan nona?" Tanya Dokter Tomi.
"Sudah lebih baik dokter, terimakasih." Jawab Olive.
"Tidak masalah Nona, apa lebam di sekitar leher sudah tidak nyeri? Jika masih terasa ngilu saya akan menambahkan resep." Ujar Dokter Tomi.
"Untuk sekarang belum terasa dokter, nanti jika memang ada keluhan aku akan datang untuk pemeriksaan lebih lanjut." Sahut Olive.
"Silahkan nona, karena nona di bawa oleh tuan muda jadi pasti akan kami layani utama." Ucap Dokter Tomi.
"Terimakasih dokter." Sahut Olive.
"Kalo begitu saya pamit kembali ke ruangan dan untuk obat habiskan dulu yang sudah di tembus. Nanti jika ada keluhan lain bisa datang kembali. Pamit nona." Ujar Dokter Tomi lalu pamit kembali ke ruangannya.
Tak lama dokter Tomi pamit Alden, ryan dan rafa masuk ke kamar.
"Sudah siap?" Tanya Alden.
"Em. Sudah kak, tadi juga udah konsultasi terakhir sama dokter Tomi." Jawab Olive.
"Kita kumpul dulu, ada yang perlu kita omongin. Soal Gitta." Ucap Alden serius.
"Kak Gitta kenapa kak?" Tanya Olive.
"Kita udah dapet bukti kuatnya kalo dia bikin kamu ke kurung di gudang, tadi saat istirahat dia datang ke rooftop mengira kamu masih di dalam sana. Kira-kira bagaimana reaksi dia besok saat kamu kembali masuk sekolah?" Ujar Alden.
"Yang pasti dia bakal rencanain sesuatu yang lebih baik lagi dan dipastikan tidak akan gagal. Selain respon pertama pasti nya kaget. Jadi benar pak firman yang mendukung kak Gitta?" Jawab Olive.
"100% Benar, soalnya kita juga lihat dia keluar dari ruang kepsek. Mereka akan memakai cara apapun untuk mengalihkan perhatian murid agar tidak membahas mengenai kejadian kamu itu." Jelas Alden.
"Terus apa rencana selanjutnya?" Tanya Olive.
"Pura-pura tidak tahu apa-apa. Karena dia tau kondisi kamu yang lemah saat itu tidak mungkin kamu bisa kabur sendiri dengan kondisi seperti itu." Usul Alden.
"Tapi bos, bagaimana jika dia menggila? Maksud gue, karena rencana rooftop gagal bisa mengakibatkan penyiksaan untuk siswa yang bantu dia." Ujar Rafa.
"Soal itu udah gue beresin, gue datangin orang-orang yang bantu rencana Gitta. Mereka mengakui itu terpaksa, tidak ada niatan. Jadi, mereka sengaja memukul Olive tidak sampai benar-benar langsung pingsan." Jawab Alden.
__ADS_1
"Jadi, kita sudah memegang kaki tangan nya sebagai saksi dan kak Alden melindungi nya?" Tanya Shakila.
"Kurang lebih seperti itu. Kita lihat dulu reaksi nya besok, setelah itu baru kita fikiran rencana kedepan jika sudah ada pergerakan dari Gitta. Yaudah, kita pulang." Jelas Alden.
Mereka pun menelusuri ramainya jalanan kota. Alden Olive sudah sampai di rumah Olive.
"Kakak mau mampir dulu nggak? Sekalian aku mau tau lebih detail ceritanya hari ini." Ucap Olive.
"Boleh deh." Sahut Alden.
Olive tidak menyangka jika Alden bakal menerima tawaran nya untuk mampir, untung orang tua dan kakak nya sedang tidak ada dirumah. Akhirnya mereka masuk ke rumah.
"Non olive sudah pulang, eh bawa tamu. Siang den." Ucap bibik.
"Siang bik." Sapa Alden sopan.
"Iya bik, tolong siapin minum ya bik." Ujar Olive.
"Nggak usah repot-repot. Aku sebentar aja." Jawab Alden.
"Kakak kan mau cerita panjang lebar, ntar kalo seret gimana?" Ucap Olive.
"Bener juga sih, yaudah aku cerita mulai dari mana nih?" Tanya Alden.
"Dari awal tindakan kakak, kok bisa kak Gitta nggak curiga pintu nya di rusak sama kakak. Aku denger kakak bener-bener ngebobol engsel pintunya." Ucap Olive.
"Berarti pak satpam tau dong perbuatan kak Gitta?" Tanya Olive dan Alden mengangguk.
"Ini den minum nya, oiya non. Tadi ada pesan dari nyonya, katanya nyonya jalan sama nyonya dessy jadi nggak perlu di tunggu sedangkan tuan besar dan tuan muda lagi keluar kota buat rapat perusahaan penting. Nona kalo butuh apa-apa bilang sama bibik aja ya." Jelas Bibik.
"Oke bik, sekarang bibik bisa istirahat aja kalo udah nggak ada kerjaan lain nya." Sahut Olive.
"Baik non, kalo gitu bibik balik ke kamar ya tuan nona." Pamit bibik di angguki Alden dan Olive.
"Makasih bik minum nya." Ucap Alden.
"Lanjut." Ujar Olive.
"Iya, satpam tau. Soalnya Gitta sempet ke post satpam juga buat pinjem kunci. Bilangnya sih, kurang meja buat acara lomba." Jelas Alden.
"Terus, pas masuk kelas gimana?" Tanya Olive.
"Ya dia masuk kelas kayak tanpa dosa gitu cuman nggak lama itu jadi panik. Aku yakin sekarang dia lagi mikir gimana caranya bawa kamu yang di kira nya masih di gudang rooftop." Jelas Alden.
Mereka pun asik mengobrol seputar kejadian sekolah hingga tak terasa sudah hampir pukul 5 sore. Alden meminta izin untuk ke toilet.
"Wah! Nggak kerasa udah mau jam 5 aja. Toilet sebelah mana ya?" Ujar Alden.
__ADS_1
"Ya ampun, sampe nggak sadar waktu ngobrol nya. Toilet nya sebelah sana kak. Nanti kakak keliling dulu aja, aku sekalian mau ganti baju." Jawab Olive.
"Oke." Sahut Alden.
Setelah menunjukkan toilet, Olive ke lantai dua menuju kamarnya untuk berganti baju. Alden yang selesai lebih dulu berkeliling di ruang tamu, terdapat lemari yang memajang prestasi Olive dan Kak Belden. Disana juga terdapat foto dari Olive masih bayi hingga sekarang. Alden tanpa sadar tersenyum melihat tingkah pose lucu olive di frame.
Tak lama kemudian, Olive turun kembali. Diam-diam olive mengambil foto Alden sedang tersenyum. Seperti tidak terjadi apa-apa olive mengarah ke dapur mengambil segelas air putih dan menghampiri Alden.
"Kak, ini minum lagi. Aku sampe nggak sadar tadi minuman kakak habis." Ucap Olive.
"Nggak apa, kamu orang nya asik juga di ajak ngobrol. Aku minum ya." Ujar Alden menerima segelas air putih dan meminum nya.
"Kakak mau langsung pulang? Aku sampe lupa nawarin kakak makan siang." Ucap Olive.
"Nggak apa, santai aja. Aku juga sita waktu istirahat kamu jadinya tadi. Iya aku langsung pulang aja." Jawab Alden.
"Yaudah, aku antar sampe depan." Sahutku.
Setelah Alden masuk mobilnya, ia membuka jendela samping.
"Jangan lupa besok ya, pasang muka datar aja." Ucap Alden.
"Siap kak. Hati-hati di jalan." Jawab Olive sambil tanpa sadar melambaikan tangan dan di balas oleh Alden.
Setelah melihat mobil alden sudah menghilang di belokan, Olive langsung sadar apa yang baru saja ia lakukan.
"Olive! Bodoh. Kenapa lu lambaikan tangan dadah-dadah udah kayak sama pacar aja." Gumam Olive dan tersipu malu sendiri langsung berlari ke kamarnya tak lupa menutup pintu.
Alden yang juga baru tersadar kalo dirinya membalas lambaian dadah tangan Olive sambil tersenyum pun tersipu malu.
"Alden! Sadar. Lu lagi nunggu dia, lu harus Setia. Ingat janji lu. Gentle Alden, jangan jadi playboy." Gumam Alden menyadarkan dirinya.
Bersambung...
*******************
Hai semua,
Aku Min_Dhi :)
Terima kasih sudah membaca karya cerita ku ini.
Mau spoiler? Kemungkinan cerita ini akan berlansung sampai 100 episode.
Aku sudah menulisnya sebanyak 20 episode tinggal post sampai bulan ketiga tahun depan. Semoga ceritanya semakin menarik dan tidak membosankan.
Aku minta support kalian dengan cara memberi *Like* & *Comment* pada setiap ceritaku.
__ADS_1
Terima kasih untuk support kalian ❣️