
Sementara itu...
Perbatasan memasuki wilayah Nugrah~
"Menurutmu kakak akan baik-baik saja kan?" Tanya Quira.
"Mereka akan baik-baik saja. Selama perempuan itu tidak ikut turun dalam perang dan merencanakan rencana yang gila. Disini perbatasannya, apakah kita bener bisa masuk?" Gumam Yumi.
"Tentu saja. Aku sudah mengurus hal itu, kita pasti akan segera bertemu kakak di bandara dengan nona Viera juga." Sahut Quira.
Tak lama itu pemeriksaan untuk memasuki wilayah Nugrahha yang super ketat.
"Wah kita lolos pemeriksaan begitu saja? Ini mudah sekali." Kata Yumi.
"Dasar bodoh. Jika bukan karena Audreymayna mana mungkin kita bisa lolos." Tutur Quira.
"Siapa itu?" Tanya Yumi.
"Aku juga tidak tahu. Tapi, dia yang menawarkan bantuan dengar-dengar sih dia juga sedang melakukan sesuatu disini." Sahut Quira.
"Berarti secara tidak langsung, dia sudah menyusup Nugraha sejak lama? Lalu dia juga berada di pihak kita kan?" Tanya Yumi.
"Harusnya sih begitu. Tapi jangan percaya dengan orang asing, tidak ada yang tahu jika ini adalah jebakan dari perempuan itu atau mungkin keluarga Fausta atau Wiyata yang menyamarkannya." Waspada Quira.
Tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi berhenti mendadak.
"Ada apa?" Tanya Quira.
"Itu nona---"
Didepan sudah ada pemeriksaan yang di pimpin oleh Ryan dan Rafa yang akan menggeledah semua beserta tanda pengenal seisi mobil.
"Kok lu tiba-tiba mau periksa jalanan gini sih? Gimana kalo bos dalam bahaya?" Tanya Ryan.
"Bos pasti bakal aman. Banyak kakaknya Olive disana, gua cuman curiga aja mereka bagi dua kubu gitu." Curiga Rafa.
"Benar juga sih. Tapi, gimana kalo ternyata kita yang dalam bahaya?" Gumam Ryan.
"Terima aja. Yang penting kita gak perang malam-malam itu aja." Sahut Rafa yang di angguki Ryan.
Giliran mobil yang di tumapangi Quira Yumi.
"Permisi, boleh minta tanda pengenal pengemudi dan seisi mobil?" Tanya Ryan.
"Silahkan. Ini tanda pengenal pengemudi." Sahut pengemudi.
"Permisi tolong turunkan kaca dan perlihatkan tanda pengenalnya." Ucap Rafa mengetuk kaca penumpang beelakang supir.
Tak ada sahutan.
"Pak boleh turunkan kaca jendela belakang, sepertinya penumpang belakang kesulitan menurunkan kaca jendela sendiri." Tutur Rafa.
"Itu... maaf pak. Tapi, tidak nyaman dan nyonya saya menolaknya." Sahut pengemudi.
"Kalau begitu silahkan pinggirkan mobilnya ke sebelah sana. Kami akan menggeledah paksa seluruh mobil anda." Tegas Rafa.
__ADS_1
"Tapi tuan---"
Tiba-tiba kaca jendela terbuka dan hampir saja Rafa terkena belati yang di julurkan Oleh Quira. Dengan cepat Rafa memukul tangan Quira hingga belati itu jatuh. Tidak berhenti sampai disitu, tiba-tiba Yumi juga menyemprotkan sesuatu ke arah Rafa namun Rafa berhasil menghindar sehingga sedikit mengenai Quira.
"Aaaaa! Yumi!" Teriak Quira.
"Kena kalian." Kata Ryan.
"Turun kalian sekarang." Perintah Rafa yang berhasil membuka paksa pintu dengan cara di bobol.
"Lepas! Kok kasar banget sih jadi cowok." Kesal Yumi berontak dari tarikan Ryan.
"Lu yang di suruh baik-baik turun malah melunjak nyerang teman gua pake semprotan. Syukurin kan tuh teman lu yang kena." Balas Ryan.
"Eh, kok cuman kalian berdua sama 25 orang? Bos kalian mana yang pengecut itu? Bisanya nyerang lewat perantara doang." Tanya Rafa.
"Heh! Masih ngurusin pesawat." Jawab Quira asal.
"Oh ada di dalam hutan. Berarti udah jadi daging busuk dimakan sama peliharaan Olive." Ucap Ryan.
"Wah! Bener banget tuh. Gua denger-denger itu binatang bener-bener buas banget dan cuman nurut sama Olive, kebayang gak sih gimana jadinya mereka di dalam hutan begitu. Mana bentar lagi gelap lagi, eh gua denger juga gak cuman satu doang binatang nya." Lanjut Rafa.
"Iya, kalo gak salah beranak pinak deh terus penurut semua sama Olive. Ih, gua nggak ngebayangin gimana 3 orang pengecut ngelawan binatang buas sebanyak itu." Sahut Ryan.
"Maksud kalian apa ngomong gitu? Kalo sampai terjadi apa-apa sama..."
"Ah, jadi beneran di hutan. Bagus deh penyerangan bos gak sia-sia buat lindungin bu bos." Potong Rafa terus tos-an sama Ryan karena jebakannya berhasil.
"Sial!" Kesal Quira.
"Lu sih ngomong gak kira-kira. Ketahuan deh jadinya yang lainnya." Tutur Yumi.
Olive sedang menuruni tangga menuju ruang tahanan.
"Ada apalagi kamu kesini?" Tanya Xaviera.
"Ada yang ingin aku tanyakan penting kepadamu. Ini tentang kakak mu dan gebetanmu." Ucap Olive.
"Kamu tidak takut aku melakukan sesuatu yang menyakitimu jika mengobrol di dalam sel tahanan dalam keadaan pintu terbuka? Aku bisa saja kabur setelah menyakitimu." Ujar Xaviera.
"Hahaha... Kamu lucu sekali. Jika kamu ingin melakukan hal itu, Kamu tidak akan bicarakan hal itu kepadaku secara terang-terangan. Aku memang curiga padamu, tapi disini penjagaannya sangat ketat. Jadi kalaupun kamu berhasil lari dari tahanan dan menyakitiku belum tentu kamu bisa kabur dari Mansion Nugraha."Jelas Olive santai.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" Tanya Xaviera.
"Kamu tau siapa Audreymayna?" Kata Olive.
"Audreymayna? Yang aku tahu adalah mereka perusahaan ternama di Australia, mereka memiliki 2 bersaudara yang pertama laki-laki dan yang kedua adalah perempuan." Jelas Xaviera.
"Kamu sepertinya tidak ingin berbuat jahat padaku, apakah kamu memberikan informasi palsu?" Curiga Olive.
"Tidak, tentu saja tidak. Aku ingin meminta maaf padamu karena sudah mengatakan hal yang tidak benar-benar terjadi." Ucap Xaviera.
"Kamu menambah kecurigaanku." Tutur Olive.
"Mereka menceritakan semua padaku. Bahwa mereka tidak di perlakukan seperti yang aku ucapkan tadi. Sekarang anggap saja informasiku ini sebagai tanda permintaan maaf dariku. Apalagi yang ingin kamu ketahui tentang keluarga Audreymayna? Aku dengar saudari perempuannya bersekolah disini, jika benar yang bersama nya itu bukan ayah sungguhan tapi hanya pura-pura." Ucap Xaviera.
__ADS_1
"What? Ah, apakah dia orang yang kamu maksudkan?" Tanya Olive sambil menunjukkan foto Gitta dan pak Firman.
"Benar. Saat aku belum mengalami kecelakaan ledakan ini, perempuan ini sangat popular di Australia. Aku tidak begitu tahu tentang saudarinya, tapi aku tahu tentang kakak nya." Jawab Xaviera.
"Kamu beneran tidak bohong kan?" Tanya Olive.
"Tentu saja tidak. Oh, kamu harus tahu ini. Aku mendapatkan informasi tentang rencana cadangan mereka tadi sebelum menyamar. Mereka bisa meemasuki wilayah Nugraha selama ini atas bantuan Audreymayna." Ucap Xaviera.
"Jadi, maksud kamu selama ini kakak adik bersaudara itu berhasil masuk ke wilayah Nugraha?" Tanya Olive.
"Kamu benar. Aku dengar mereka mendirikan tempat kecil di satu tempat tapi aku tidak tahu dimana, yang pasti masih di daerahmu karena dengan begitu---"
"Mereka lebih mudah menghancurkan Nugraha dan pendukungnya yang lain. Bisakah kamu memberitahu siapa nama Kakak adik bersaudara Audreymayna?" Ujar Olive.
"Aku tidak tahu nama lengkapnya tapi aku tahu nama panggilannya. Yang anak pertama laki-laki itu di panggil Yudha dan adiknya perempuan di panggil---"
"Gitta." Ucap Xaviera dan Olive bersamaan.
"Bagaimana kamu tahu?" Tanya Xaviera.
"Dia satu sekolah denganku sekarang dan beberapa minggu yang lalu di keluarkan dari sekolah karena melakukan pembullyan bukan hanya ke adik kelas tapi tidak memiliki hormat kepada kakak kelas ataupun para guru." Jelas Olive.
"Sepertinya termasuk kamu kena bully. Karena aku tahu yang mereka incar untuk menjatuhkan Nugraha adalah Fausta dulu. Bukankahh kamu dan pria itu?" Tebak Xaviera dan Olive mengangguk.
"Tunggu. Jika mereka bisa dengan mudah keluar masuk seperti itu karena Audreymayna, apakah akan ada sesuatu yang terjadi? Oh tidak, Ah terimakasih informasinya aku memang tidak mempercayai informasi ini 100% tapi aku tahu kamu tidak seperti kakak mu yang memiliki niat buruk. Aku hanya mengurungmu beberapa jam saja sebagai jebakan mereka untuk datang tidak akan menyiksamu atau melakukan apapun walau dahulu kakak mu telah merusak kembaranku. Sampai jumpa." Pamit Olive menutup tahanan itu baru menaiki satu anak tangga.
"Olive!" Panggil Xaviera.
"Ya?" Sahut Olive menengok ke arah Xaviera.
"Ambil ini. Ini adalah alat pelacak yang kakak ku berikan untuk mengetahui dimana keberadaan kami satu sama lain. Aku sudah lama mematikannya dan sepertinya itu masih terhubung satu sama lain. Kamu bisa mencari Yudha dengan alat ini dan berhati-hatilah. Dia lebih licik dari kakak ku dan tidak akan membedakan mana perempuan dan laki-laki yang harus dibunuh. Semua yang dia anggap musuh atau pengkhianat harus di musnahkan." Jelas Xaviera.
"Terima kasih. Ini akan sangat membantu, Sebentar lagi waktunya makan malam. Setelah itu aku akan meminta bawahan untuk mengantarmu ke kamar tamu dan beristirahatlah dengan nyaman disini." Ucap Olive tersenyum menerima alat itu kemudian pergi.
Sementara di lorong rahasia~
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
.
.
.
__ADS_1
.
.