
"Oma, Opa, Mah, Pah, kakak." Sapa Phia.
Oma dan mama berjalan menghampiri Phia yang duduk di kursi roda.
"Kenapa kamu bisa disini? Kamu di culik lagi? Bukankah kamu ada di negara S perawatan disana?" Tanya Oma.
"Oma, adek yang bawa aku kembali kesini 3th lalu. Dia khawatir karena aku satu negara dengan anak keluarga Clarke yang menculik kami dulu. Walaupun disana selalu ada pengawal tapi pasti ada satu kesempatan buat dia bunuh aku kapan saja." Cerita Phia.
Olive menundukkan kepala nya.
"Via, kamu... "
"Jangan marahin Via mah, dia nggak salah. Dia merawat aku seorang diri selama 3th ini. Bahkan, dia meminta rumah ini juga untuk merawat aku. Semua alat-alat ini Via beli dengan uang tabungan jajan nya sendiri. Lihat, Via sudah dewasa kan mah?" Ujar Phia.
Oma memeluk Olive.
"Oma bangga sama kamu, kamu bisa teliti seperti oma masih muda dulu. Terima kasih ya sayang sudah jagain kembaran kamu dengan baik." Puji Oma tersenyum sambil memeluk Olive.
"Maaf oma, aku lancang bawa kakak phia kesini tanpa izin. Tapi, aku beneran nggak bisa tidur nyenyak kalo kak Phia disana. Aku nggak mau kehilangan kak Phia." Sesal Olive.
"Tidak sayang, kamu sudah melakukan dengan benar. Opa mu saja yang terlalu bodoh membiarkan kembaran mu di rawat di satu negara dengan musuh. Oma juga baru tahu dari kamu kalo anak dari keluarga itu ada disana hari ini." Ucap oma menatap Opa dan Yovi bergantian.
Kak Belden berjalan menghampiri Phia.
"Hai kak, apa kabar?" Tanya Phia.
Belden tidak menjawab tapi memeluk Phia dan dibalas peluk oleh Phia.
"Oit! Siapa ini kok usah besar nangis? Aku mau lihat wajah kakak. Coba mana wajahnya?" Ujar Phia.
Belden melepas pelukan nya. Phia mengusap airmata di pipi Belden. Phia memangku wajak Belden dengan kedua tangannya. Tiba-tiba ada yang menutup mata Belden.
"Jangan liat-liat kak Phia." Ucap Olive cemburu.
Belden langsung menarik Olive dan mereka pelukan bertiga. Bukan hanya keluarga yang menangis haru tapi ada teman-teman dan para pengawal ikut menitikkan airmata nya. Terlebih pengawal bawahan Olive yang sudah sejak awal membantu Nona muda nya selama 3th ini. Akhirnya perjuangan Nona nya tidak sia-sia.
Opa dan papa menghampiri Phia dan mereka berpelukan secara bergantian. Akhirnya keluarga Nugraha kembali berkumpul.
"Pah, sekarang keselamatan kak Phia aku serahkan lagi ke kalian. Aku bakal kasih tau kalian jika ada usul karena penjahat itu sudah tau rumah ini. Kekuatan aku tidak cukup kuat buat sembunyikan kakak dan lindungin kak Phia lagi." Ucap Olive.
"Tidak sayang, kami butuh kamu juga. Kamu boleh bergabung dengan kami, Tapi kamu tidak boleh turun tangan. Hanya bermain strategi dari jauh. Sepakat?" Ujar Papa.
"Papa serius? Aku boleh gabung?" Tanya Olive tidak percaya.
"Setelah kami lihat kamu bisa melindungi kembaranmu, kami memutuskan untuk memperbolehkan kamu untuk gabung. Tapi, hanya sebatas strategi dan memberi usulan. Mengerti?" Kata Oma dan Olive mengangguk.
"Wah! Senang banget kamu ya. Aku nggak mau ya sampai kehilangan kamu. Ingat jaga diri baik-baik." Pesan Phia.
__ADS_1
"Siap laksanakan kak, aku akan sebisa mungkin buat tepatin janji aku." Janji Olive.
Entah kenapa perasaan Olive tidak enak. Namun, dia tetap tersenyum. Alden yang merasa ada gerak-gerik Olive yang berbeda pun ingin menanyakannya nanti.
"Jadi gimana? Phia sudah bisa di bawa pulang?" Tanya mama.
"Sekarang keadaan nona muda pertama sudah stabil nyonya. Sudah bisa pulang ke rumah. Tapi, nanti kami akan tetap meminta izin untuk ruangan khusus jika tiba-tiba hal yang tidak di inginkan terjadi kepada nona muda satu yang bisa kambuh kapan pun." Jelas dokter Ritter.
"Pasti akan kami siapkan, bawa saja alat-alat ini ke rumah utama. Kita bisa mengaturnya segera untuk mengantisipasi." Perintah Oma.
"Baik Nyonya besar." Sahut Dokter Ritter.
"Sebelum itu, kita harus mengalihkan perhatian anak buah penjahat yang masih tersisa." Ucap Olive.
"Bagaimana caranya?" Tanya Opa.
"Aku jadi umpan. Kak Phia yakin bisa jalan? Ini berbahaya kak." Ujar Olive.
"Kalian akan tukar posisi?" Tanya Belden.
"Ya, Aku akan naik ambulance sedangkan kakak akan ikut kalian." Jelas Olive.
"Kamu yakin sayang dengan rencana ini, justru kamu yang dalam bahaya." Ucap Oma dan Olive mengangguk kemudian melirik Alden sekilas yang sempat menjadi eyes contact.
"Kalian tenang saja. Pengawalan tetap imbang hanya tukar posisi tempat saja." Kata Olive.
"Jika sesuatu terjadi padaku nanti. Tolong jadikan ini tetap rahasia, tentang perasaanku padanya ataupun yang kalian ketahui tentang ku lebih dari keluargaku. Aku mohon." Pinta Olive.
"Liv, jangan berbicara seperti itu. Kita akan ngawal kamu." Ucap Shakila.
"Jangan, mereka bisa curiga. Tetap jalankan sesuai rencana, aku percayakan sisa nya pada kalian." Sahut Olive.
"Tapi... "
"Kita ketemu di rumah utama keluarga Nugraha." Kata Olive kemudian Olive memerintahkan untuk membawanya keluar untuk memasukkannya ke dalam Ambulance.
Olive yang menyamar sebagai Phia sudah memasuki ambulance dan jalan lebih dulu dengan pengawalan. Di dalam ambulance, Olive terus merasa tidak enak. Sebenernya apa yang akan terjadi.
"Laporkan ke rumah sembunyikan mereka sudah terpancing. Mereka bisa pulang." Perintah Olive.
"Baik Nona." Sahut zet.
Keluarga Nugraha beserta teman-teman Olive sudah bisa meninggalkan rumah itu dengan aman. Jarak antara ambulance dan mobil-mobil keluarga Olive yang membawa Phia tak begitu jauh. Suara ambulance itu masih terdengar.
Di mobil Ryan dan Rafa tampak Shakila Niesha seperti sangat gelisah.
"Kamu kenapa?" Tanya Rafa.
__ADS_1
"Aku gugup aja." Jawab Shakila.
"Gugup? Kenapa kalo boleh tau?" Tanya Rafa.
Shakila yang ingin memberitahu kemudian mengurungkan niatnya kembali dan hanya menggelengkan kepala. Begitupun Niesha.
"Kamu kenapa seperti gelisah begitu?" Tanya Ryan.
"Em? Ah, nggak apa hehe... " Jawab Niesha gugup.
"Beneran?" Tanya Ryan.
Niesha yang sudah buka mulut ingin memberitahu kemudian mengurungkan niatnya kembali. Sementara Alden yang sendirian di mobil merasa gelisah, ia sangat khawatir dengan Olive. Alden berusaha untuk mendekat ke arah Ambulance. Tidak bisa, para pengawal bawahan olive sudah memerintahkan agar tidak ada yang bisa mendekati ambulance.
"****! Olive apa maksud senyum sendu kamu tadi!" Gumam Alden kesal.
Akhirnya Alden menelepon Olive.
Kenapa kamu memerintahkan mereka untuk jangan mendekati ambulance?
Karena....
BOOOM!!!
Alden yang masih bisa melihat sangat jelas. langsung mengerem dadakan dan turun dari mobil berlari ke mobil ambulan itu.
Saat baru ingin Olive menjawab pertanyaan Alden, tiba-tiba pandangannya buram karena mobil itu memutar 3 kali. Mobil ambulance berakhir terbalik. Alden berusaha membuka pintu tapi macet akhirnya dia mengambil batu dan menghancurkan kaca.
"Tuan mobil itu akan meledak lagi. Pergilah tuan muda." Pinta pengawalnya.
Alden memberontak dan tetap berusaha memecahkan jendela di bantu oleh kedua temannya.
"Olive! Olive jawab aku! Olive! Ya! Olive!" Teriak Alden sambil menghancurkan jendela pintu dan samping.
Saat mendengar itu mobil keluarga Nugraha juga berhenti bahkan mereka ingin turun untuk memastikan Olive. Tapi di tahan pengawal untuk mendekati TKP.
Olive sayup-sayup mendengar teriakan Alden. Olive kaki nya terjepit. Dia berusaha mengangkat tapi tenaga nya tidak ada. Saat Alden berhasil memecahkan kaca pintu langsung membuka pintu paksa dari dalam dan masuk tanpa rasa takut.
Olive masih berusaha dengan usaha nya sampai sadar bahwa Alden sudah di samping nya. Alden mengangkat benda itu dan membawa Olive keluar dari mobil.
"AWAS MOBIL MELEDAK! BERLINDUNG!" Teriak pengawal.
Alden sambil menggendong Olive berlindung dibalik mobil pengawal sambil memeluk Olive erat.
BOOOM!!!
Bersambung....
__ADS_1