Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 44 - Dikepung


__ADS_3

"Berarti besok udah boleh sekolah kan mah?" Harap Olive.


"Sayang, kenapa kamu masih tanya walaupun dilarang kamu juga tetap bakal pergi kan?" Ujar mama.


"Yang penting kamu waspada aja. Papa curiga sama anak nya Firman masih menargetkan kamu untuk kamu celaka." Pesan papa.


"Ya Ampun, nona saya ada yang mau di laporkan sampai lupa. Nona lihat lah video ini, apakah seperti tidak asing untuk kita?" Ucap Zet menunjukkan sebuah video.


"Tuhkan papa bilang apa, dia bahkan bersekongkol dengan Wiyata. Sayang, kalo papa larang kamu sekolah---"


Olive genggam tangan papa nya.


"Aku akan baik-baik saja pah. Aku sudah punya rencana untuk ini." Yakin Olive.


"Kamu yakin?" Tanya Oma.


"Sangat yakin. Kalian lihat saja besok di sekolah apa yang akan terjadi. Ah, Oma aku izin bawa pisau belati ke sekolah. Hanya untuk berjaga-jaga saja." Ucap Olive.


"Bukankah kamu memang selalu membawanya. Memang nya oma tidak tahu itu hem?" Sindir Oma dan Olive hanya unjuk gigi.


"Jangan di pakai jika tidak terpojok. Masih ingat kan teknik melawan tanpa senjata?" Tanya Opa.


"Tentu saja. Pokoknya kalian tenang saja dan untuk kak Phia. Kakak Homeschooling aja. Aku nggak mau kebobolan seperti terakhir kali. Kali ini biarkan Mrs. Gress yang mengajar kakak." Sahut ku.


"Baiklah. Asalkan kamu benar bisa jaga diri, kita harus selesaikan dendam kita. Siap?" Ucap Phia.


"Tentu sangat siap sekali. Yaudah, sekarang kita pulang." Ajak Olive.


Mereka pun beberes dan mengucapkan terimakasih kepada Dokter Tomi karena sudah membantunya. Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba saja mereka di halangi.


"Ada apa?" Tanya Olive.


"Kita di kepung nona oleh pasukan Clarke." Sahut Supir yang melihat di kejauhan.


"Pak, putar balik. pastikan Oma, opa, mama dan papa aman. Biar aku yang menghadapi nya." Ucap Olive.


Olive duduk dengan supir. Sedangkan keluarga nya duduk di dalam limosin.


"Kita tidak bisa mutar balik nona." Tolak Supir.


"Kalo begitu aku, Zet dan yang lain akan membuka jalan. Kalian pergilah. Pastikan sampai dirumah fausta dengan aman." Perintah Olive.


"Nona berhati-hatilah. Itu Sam dan Quira Clarke lagi." Ujar supir.

__ADS_1


Olive pun turun dari mobil. Alden yang melihat Olive turun ikut meminggirkan mobilnya.


"Pak, ikutin mobil limosin milik keluarga Nugraha. Biar aku yang menangani nya." Perintah Alden.


Oma Nugraha merasa aneh karena mobil berhenti menelepon Yovi.


Ada apa di depan?


Kita di kepung nyonya besar. Nona kedua sudah turun untuk membuka jalan. Sedangkan tuan muda fausta juga sudah ikut turun.


Baiklah, lindungi mereka. Jangan sampai terjadi apa-apa lagi.


Baik nyonya besar, saya mengerti.


Oma mematikan teleponnya. Saat Olive ingin menyusul Zet untuk kebarisan awal di tahan oleh Alden.


"Kak Alden?" Ucap Olive.


"Tunggulah disini. Kita akan maju saat waktu yang tepat. Jangan menghabiskan tenagamu untuk sekarang." Ujar Alden dan Olive mengangguk.


Melalui earphone Zet, Yovi, nel dan rud saling komunikasi dengan Oma Nugraha (Yovi), Opa Fausta (Rud), Olive (Zet) dan Nel (Alden).


"Kalian bukalah jalan untuk mobil tetap jalan. Aku dan Olive akan melindungi dari belakang." Perintah Alden.


"Wah! Lihatlah perempuan itu belum sembuh juga. Kemana majikan mu itu?" Ucap Quira.


"Dimana dia sekarang yang pasti sudah di tempat aman. Sebut saja negara S disana." Ujar Zet.


"Sampai Zay kenapa-napa kalian harus mati di tanganku." Amarah Sam.


"Zay? Maksud kakak Zaylee ditangan mereka?" Tanya Quira.


"Sepertinya adik mu belum mengetahui itu. Kalian tenang saja, nona muda kedua sangat menyukai anak kecil yang menggemaskan. Saking gemesnya, ya kalian tau lah terlebih marga nya adalah Wiyata." Ucap Zet.


"Apa kak Vino tau ini?" Bisik Quira.


"Mungkin dia akan segera tau." Balas Sam.


"Kevino Bram Wiyata. Kena kau sekarang!" Gumam Olive.


"Kak, bagaimana jika kita langsung menyerang rumah sakit tempat perempuan itu berada. Lagi pula seharusnya, perempuan itu merasakan sakit pada kaki nya karena Yumi mengoleskan minyak Nikel Sulfat yang dulu sempat meledak dirumah kita." Ujar Quira.


"kau harus tau ini, nona muda kedua selalu mengajariku untuk menutup mulut saat menghadapi lawan agar tidak terlalu berisik membuat polusi." Kata Zet yang langsung menyerang diikuti Nel.

__ADS_1


Jalan pun semakin Terbuka. Pasukan Nugraha Fausta lebih banyak ketimbang dengan Clarke. Ternyata oma sudah menyiapkan pasukan juga di pinggir hutan yang lebih jauh. Mereka sudah menyerang.


Quira dan Sam pun teralihkan fokusnya karena kemampuan Nel Zet sangat jauh di atas mereka. Saat itu mobil pun lewat tanpa sepengetahuan Quira dan Sam. Quira telat saat menyadari mobil itu berhasil kabur dari kepungan mereka.


"Dimana tuan mu? Aku sangat ingin membunuhnya." Ucap Sam.


"Hah? Anda membunuh tuan muda? Mimpi di siang bolong yang sangat Bagus jika benar bisa mengalahkannya." Ujar Nel.


"Sialan! Majikan sama babu sama saja mulutnya tidak bisa di jaga!" Marah Sam.


"Ups!" Tawa Nel.


Sudah habis setengah pasukan Clarke dan Clarke bersaudara juga sudah kehabisan tenaga ini saat nya Alden Olive muncul. Walau tadi sesekali sempat ada yang menyerang mereka itu tidak seberapa.


Olive muncul lebih dulu, dengan berjalan pura-pura pincang. Quira melihat Olive datang pun tertawa.


"Lihatlah siapa yang datang. Pahlawan pincang." Tawa Quira dan Sam.


Olive itu tertawa bahkan lebih bahagia.


"Kemana bos besar, ketua asli kalian? Kenapa harus anak buah lemah seperti kalian yang di turunkan untuk menyerang seperti ini?" Ucap Olive.


"Jangan meremehkan Kak Vino! Lihatlah, kaki mu saja sudah tidak benar." Ujar Quira.


"Apakah ketua kalian tidak menceritakan kejadian memalukan 5 tahun yang lalu kepada kalian? Kalian beneran yakin, ketua kalian itu percaya sama orang-orang yang kayak kalian. Jika iya, harusnya kalian tahu kejadian 5 tahun lalu. Apa ya judul di koran yang paling tenar saat itu. Hem?" Kata Olive berpura-pura berfikir.


"Seorang anak kecil berusia 12 tahun menghabisi 50 lebih orang dalam hitungan menit." Ucap Alden yang tiba-tiba muncul.


Olive tepuk tangan.


"Wah! Benar itu dia. Itu berada di berita teratas hampir setengah tahun. Kalian tidak tahu? Ey, apa dirumah tidak ada TV?" Sindir Olive.


Quira dan Sam sudah sangat emosi.


"Aku sangat ngefans dengan perempuan itu. Dia sangat hebat." Puji Alden.


"Tentu saja. Kalian masih tidak tau? Aku akan memberikan kalian waktu untuk menanyakan itu pada ketua kalian. Cepat telepon dia, tanyakan padanya bagaimana keadaan kaki nya yang tergores cukup dalam oleh anak di bawah umur yang hanya bermodal pisau belati. Cepat!" Ucap Olive.


Quira dan Sam masih meragukan jika itu adalah perempuan yang sekarang menjadi lawannya.


"Tidak mungkin kau yang melakukan itu. Tapi, bagaimana kau tau jika kaki kak Vino---"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2