
Cup!
Tanpa aba-aba Alden langsung menempelkan bibirnya ke bibir Olive membuat Olive terkejut langsung mencekram baju Alden ingin berontak namun Alden menahan tengkuk leher Olive. Awalnya Alden hanya ingin menempelkan namun hati nya menginginkan lebih. Alden menghisap bibir Olive hingga membuat Olive membuka mulutnya.
Alden memanfaatkan kesempatan itu untuk ******* bibir lebih dalam lagi membuat Olive lebih mencekram baju milik Alden. Tak lama itu, pintu lift terbuka di lantai 25.
*Lantai 25*
Ucap operator membuat Olive dan Alden tersadar dan menyudahinya. Olive langsung keluar dari lift lalu naik satu lantai tangga untuk menuju pintu rooftop. Alden masih terdiam di dalam lift kemudian tersadar lalu menyusul Olive menuju rooftop tapi Alden tidak menemukan keberadaan Olive disana.
Alden merutuki dirinya, mengapa dia menjadi agresif seperti ini. Apa yang salah dengan dirinya. Olive bersembunyi di sisi belakang tembok sambil merutuki dirinya mengapa tidak berontak atau melawan tindakkan Alden tadi, malah ikut terhanyut. Tidak seharusnya ini terjadi.
Rasa pegal di kaki dan tangan nya yang sebenarnya belum benar-benar sembuh dan tidak boleh melepas gips. Olive memutuskan untuk duduk menyender dahulu sampai rasa pegal tangan dan kaki nya berkurang. Sedangkan Alden masih panik mencari keberadaan Olive yang tidak ada jejak keberadaan sama sekali.
Alden meminta untuk melihat dari cctv kemana Olive pergi setelah keluar dari lift.
"Kau yakin olive mengarah ke rooftop? Tapi dia tidak ada disini. Apa dia menuju tangga darurat?" Ujar Alden.
"Tidak tuan, sepertinya nona tadi sekalian mempelajari letak cctv. Mungkin dia sudah kembali ke kamarnya." Sahut Dokter Tomi.
"Maksudmu, Olive turun ke lantai 10 melewati tangga darurat?" Tanya Dokter Tomi.
"Tuan, sebenarnya apa yang terjadi? Tadi bukankah kalian baik-baik saja tidak ada konflik? Apa yang tuan katakan hingga membuat nona menghilang begini?" Ujar Dokter.
"Yasudahlah, aku turun menuju kamar nya." Kata Alden memasuki lift dan turun ke lantai 10 kamar Olive berada.
Sementara Olive meluruskan kakinya, Olive tidak ingin kembali ke kamar itu. Rasa Cinta nya pada Alden semakin besar bukan berupa harapan lagi. Namun ia sangat tahu bahwa Alden tidak menganggapnya lebih dari itu. Tapi, dengan apa yang Alden lakukan di lift sangat bertolak belakang dengan ucapan nya.
Olive menyaksikan sunset dari tempat nya disisi rooftop.
__ADS_1
"Bahkan langit pun sangat cantik sekarang." Gumam Olive kagum.
Olive meninggalkan ponsel, gelang, cincin yang di pasang pelacak oleh keluarga nya di kamar. Mereka merasa tenang jika posisi Olive sudah di kamar. Earphone Olive pun ada di kantong Alden. Olive di rooftop hanya dengan baju pasien dan sendal yang masih cukup Bagus karena tadi di pakai bertarung.
Alden membuka pintu berharap Olive ada di dalamnya.
"Olive---"
Kamar terlihat kosong dan masih berantakan karena pertarungan antara Zet dan Yumi tadi. Alden semakin frustasi bingung harus mencari Olive kemana. Saat ingin mengambil ponselnya ia mengingat bahwa Earphone Olive ada di kantong nya. Apa Olive marah padanya dan kabur keluar dari rumah sakit?
"Sampai dia kabur dengan keadaan belum sembuh seperti itu, apakah mungkin?" Gumam Alden.
"Tuan." Panggil Zet dan Dokter Tomi.
"Gimana? Sudah menemukan keberadaan Olive?" Tanya Alden dan kedua nya menggelengkan kepala.
Alden benar-benar merutuki dirinya dan mengacak rambutnya. Membuat Zet dan Dokter Tomi bingung.
"Ya pergilah. Beritahu aku jika menemukannya." Sahut Alden yang berusaha berfikir apa yang akan ia lakukan di posisi Olive.
'Jika gua di posisi olive, apa yang bakal gua lakukan? Pertama, gua selalu bilang kalau gua nggak mau hubungannya lebih dari sahabat. Kedua, tiba-tiba gua meluk dia. Ouh ****! Alden apa yang lu fikirkan. Ketiga, lu khawatir bahkan sampai frustasi lalu lu cium dia di ruang opa dan lu bilang itu hukuman karena keras kepala. Alden lu bodoh sekali. Lanjut yang ke empat, gua mulai menginginkan lebih dari cium bibir seperti yang gua lakukan di lift. Yang akan gua lakukan jika diperlakukan seperti itu sudah pasti gua bakal benci banget sama tuh cowo.' Bathin Alden.
"Aaargghhh!" Kesal Alden.
Sementara Olive di rooftop masih menikmati sunset nya yang sudah hampir menghilang sepenuhnya hingga tidak menyadari kedatangan Zet yang menemukannya saat itu.
"Nona." Panggil Zet membuat Olive kaget.
"Zet, ah. Kau berhasil menemukanku, bisakah kau tidak melaporkan nya kepada kak Alden. Aku tidak ingin bertemu dengannya." Ucap Olive menundukkan kepala nya.
__ADS_1
"Boleh saya tahu apa yang membuat nona tidak ingin menemui tuan Alden?" Tanya Zet.
Olive menatap Zet dan meminta Zet untuk duduk di samping nya.
"Ini adalah rahasia besar. Kemarin saat aku bersembunyi di ruang opa fausta setelah kak Alden bertarung dengan om lapar. Kak Alden menyusulku ke ruang opa. Disana, tiba-tiba saja dia menempelkan bibirnya pada bibir ku." Cerita Olive.
"Wah! Bukankah itu kabar baik nona? Nona menanti itu selama ini." Ujar Zet.
"Aku menanti moment itu sangat mengharapkannya. Tapi, setelah itu aku teringat dengan perkataan nya di bar malam pertama kali kami berjumpa. Dia bilang tidak ingin memiliki hubungan lebih dari sahabat denganku. Bahkan dia juga menolak perjodohan tanpa berfikir panjang." Jelas Olive.
"Lalu setelah itu apa yang terjadi nona?" Tanya Zet.
"Setelah malam itu, dia malah bersikap seolah kami kenal sangat akrab. Dia selalu ada di saat aku dalam bahaya seperti yang kau ketahui. Aku tidak mengerti kenapa ucapannya dengan sikap nya sangat berbeda jauh. Bahkan tadi di lift, dia benar-benar mencuri ciuman pertamaku. Aku tidak ingin menemui nya zet, bisakah kau membantu ku pergi ke rumah sakit kita tanpa ketahuan?" Sahut Olive memohon.
"Nona yakin ingin pergi begitu saja? Bagaimana dengan tuan Alden, tadi dia seperti sangat frustasi tidak menemukan nona." Ucap Zet.
Ponsel milik Zet berdering tertera nama Alden di layar. Zet mengangkat dan menghidupkan loudspeaker, kali ini dia berada di tim nona nya.
Iya tuan.
Bagaimana apakah Olive ada disana?
Suara Alden terdengar seperti frustasi. Olive menggeleng ke arah zet.
Tidak ada tanda Nona muda kedua di rooftop tuan. Mungkin Nona sudah turun.
Baiklah. Aku mengerti, untuk sekarang biarkan dulu. Mungkin dia marah karena sikap ku tadi sudah terlalu agresif. Aku akan menunggu nya di kamar.
Tuan, jika saya tiba-tiba menemukan nona apa yang ingin tuan sampaikan supaya dia ingin turun.
__ADS_1
Alden diam sesaat, karena dirinya tidak tau apa yang akan dikatakan jika bertemu dengan Olive nanti.
Bersambung...