
Saat di Pertengahan Jalan kembali ke Markas...
Ada mobil hitam berhenti tepat di depan mobil Olive membuat sedikit terguncang.
"Ada apa? Kenapa berhenti mendadak?" Tanya Alden.
"Ada mobil yang menghadang tiba-tiba tuan. Tapi tidak ada yang keluar." Sahut Nel.
"Periksalah dengan baik." Pinta Olive.
Zet dan Nel waspada sekitar menjaga nona dan tuan dengan ketat. Sisa pengawal memeriksa mobil hitam yang tiba-tiba berhenti di depan. Tiba-tiba ada perempuan keluar dari pintu pengemudi.
"Reina." Gumam Olive lalu berlari keluar mobil membuat yang lain terkejut.
Olive memeluk Reina yang baru saja keluar dari pintu pengemudi.
"Kamu gak apa? Ada yang luka? Tangan kamu kenapa merah begini? Apakah sakit?" Timpa Olive dengan pertanyaan.
"Kak, aku baik-baik aja. Ini cuman memar biasa, nanti juga hilang sendiri. Oiya, paman dan bibi di dalam." Sahut Olive.
"Beneran..."
"Ya!" Teriak seseorang yang langsung memeluk Reina.
Robert langsung memeluk Reina setelah berteriak itu. Membuat Olive menggelengkan kepala nya melihat tingkah adik kecilnya. Paman dan bibi tetap di dalam mobil tidak keluar. Saat Olive buka pintu, ternyata mereka adalah jebakan. Olive dengan sigap mendorong Robert dan berdiri di depannya. Dengan cepat para bawahan melindungi majikannya.
Reina Palsu membuka topeng mirip. Alden langsung berdiri di depan Olive.
"Dimana mereka?" Tanya Olive.
"Tidak tahu." Sahut Perempuan itu.
"Tidak tahu? Kamu yakin nggak mau menjawab jujur? Ini peringatan terakhir." Tegas Olive.
Terdengar suara dari dalam bagasi. Alden memerintahkan untuk memeriksa bagasi. Benar, Reina ada disana. Paman dan Bibi dimana?
Reina keluar dari bagasi dengan muka pucat pasi nya. Robert langsung memeriksa keadaan Reina Asli.
"Paman dan Bibi dibawa kak... kesana..." Ujar Reina dengan lemas.
Robert memapah Reina ke dalam mobil milik Olive.
"Ouh, jadi bukan hanya Ibrano lawanku sekarang. Bagus, semakin banyak musuh yang keluar dengan sendirinya." Gumam Olive.
Olive dengan langkah berani mendekati perempuan palsu yang menyamar jadi Reina. Mambuat perempuan itu ketakutan hanya dengan tatapan Olive.
"Siapa yang nyuruh anda? Ini pertanyaan terakhir dan harus jawab jujur. Kalau tidak, anda tidak akan melihat matahari pagi besok. Jawab!" Gebrak Olive memukul mobil itu.
Perempuan itu menekuk kedua kakinya berlutut di depan Olive. Dengan senyum seringai olive menekuk satu kakinya.
"Saya tidak percaya bahwa anda perempuan lemah. Tunjukin jati diri anda." Ucap Olive sambil mengangkat tangan kanan yang sudah memegang senjata pisau mencari waktu untuk menusuk Olive.
Perempuan itu terkejut dan langsung di pukul oleh Olive tepat dileher hingga pingsan. Semua kaget melihat Olive yang langsung terjun menggertak musuhnya. Tak lama itu ponsel berbunyi dari kantong baju perempuan itu.
Tertulis "Rio" di layar. Tanpa menunggu lama, Olive mengangkatnya namun tidak bicara apapun.
Bagaimana? Apakah berhasil? Jangan sampai ketahuan jika aku yang menyuruhmu.
Belum cukup bidikan tembakan yang tadi? Wanitamu cantik juga, sayang yan punya adalah kelompok pengecut.
Ba--Bagaimana...
Siapapun anda ini peringatan terakhir dari Olivia Belinda Nugraha, Ingat baik-baik. Kalian tidak akan pernah bisa lepas dari ku. Pergilah yang jauh dan aku akan tetap bisa tahu dimana kalian berada. Ah, hai teman lama... Ibrano. Aku tidak menyangka kamu sepengecut ini. Jika kalian sadar aku menembakkan 3 peluru yang berbeda. Pertama memang mengenai mesin, kedua tempat keluar roda kalian, ketiga...
Kita akan jatuh di *****laut*****.
__ADS_1
Tepat sekali.
Olive langsung mematikan teleponnya kemudian melemparnya pada Zet.
"Kabari Markas pusat. Aku sudah kirim pelacak pesawat mereka, cari sampai ketemu. Perempuan itu... emm untuk flesia aja. Kasian belum makan enak 3th ini." Perintah Olive.
"Ba--Baik nona." Sahut Zet yang langsung mengabari pusat dan memerintahkan apa yang di perintah oleh Olive.
Sementara Barel, Kevan, Firo dan Luna hanya terdiam menyaksikan aksi Olive yang mengagumkan.
"Sepertinya kita terlalu khawatir yang berlebih." Gumam Firo.
"Lu benar. Gua gak nyangka Via bisa kayak gitu." Sambung Barel.
"Apa guna nya kita kalo Via udah sejago itu." Gumam Kevan.
"Wahhh! Adek gua udah benar-benar dewasa. Dengan begini, Via benar-benar nunjukin kalo dia baik-baik saja untuk jaga dirinya." Kagum Luna.
Reina dan Robert berada di mobil yang sama dengan Alden juga Olive. Olive memijat kening nya.
"Mau minum obat?" Tawar Alden.
"Ada di tas aku." Sahut Olive sambil mengangguk.
Alden mengambil obat dan berikan kepada Olive serta sebotol air putih. Olive meminum obatnya kemudian menaruh kepala nya di paha Alden berusaha untuk tidur.
"Kakak kenapa?" Tanya Robert.
"Terlalu banyak tekanan dan gerakan sentakan mendadak. Biarkan dia istirahat saja, sudah minum obat juga." Jawab Alden.
"Kamu mau minum obat juga?" Tanya Robert.
"Nggak. Aku tiduran aja cukup, kamu juga istirahat pasti capek mikirin aku." Sahut Reina.
Reina tersenyum kemudian menuruti perkataan Robert. Reina dan Olive sudah masuk dunia alam bawah sadarnya alias alam mimpi. Perjalanan mereka cukup memakan waktu yang lama.
Sedangkan di Markas Nugraha semua sudah berkumpul termasuk keluarga Fausta juga. Menanti cucu mereka tiba di markas Nugraha.
"Kenapa belum sampai? Dimana mereka?" Tanya Oma Nugraha.
"Sedang dalam perjalanan Nyonya." Sahut yogi.
"Perjalanan kemana? Ke markas atau menyusul ke pulau tempat landar Clarke darurat?" Tebak Opa Fausta.
"Oma Opa kalian tenanglah. Aku yakin Via dan yang lain sedang dalam perjalanan kesini. Lagi pula kan oma juga tau kalo pun di iringin polisi Via gak akan suka, terlalu manarik perhatian." Ujar Phia.
"Iya Mah, kita tunggu aja sesuai janji mereka. 5 jam kan? Aku akan memantau lewat Zet." Sahut Fadlan.
Ponsel Zet bergetar, segera memasang Headset dan mengangkat tlpn.
Ya Tuan.
Kalian dimana? Oma sudah menunggu.
Kami dalam perjalanan tuan. Tapi...
Ada apa?
Tuan Tio dan Nyonya Sera di culik dalam perjalanan. Kami hanya bertemu nona Reina. Ada jebakan dari Clarke yang tidak terduga... Tadi tuan muda kecil hampir terluka.
Oke. Kalian tidak perlu memikirkan mereka, markas yang akan mengurusnya. Seharusnya mereka tidak jauh jarak nya dari kalian sekarang.
Saya rasa juga begitu tuan. Tadinya Nona kedua mengusulkan untuk mengejar mobil yang membawa mereka. Tapi sekarang keadaan nona juga drop tuan karena tadi nona sempat membidik tembakan ke arah pesawat Clarke.
Aku tahu itu. Yasudah percepat kepulangan kalian dan tetaplah waspada masalah Tio dan Sera serahkan pada Markas.
__ADS_1
Baik tuan.
Selesai itu. Oma menanti penjelasan dari Fadlan, namun Fadlan Buru-buru meminta Belden untuk menerima surel dari Zet segera di tuntaskan. Oma menahan Fadlan untuk pergi ke pintu tembusan Markas...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1