Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 53 - Cerita Malam


__ADS_3

Belden datang ke markas Fausta. Belden tak kalah terkejut.


"Kak, Via diam lagi hiks.. hiks.... dia tidak berbicara sepatah kata pun sejak kembali. Kak, buat dia berbicara. Ini sangat menakutkan, aku tidak mau dia terdiam hampir sebulan lebih seperti dulu. Hiks... hiks... " Tangis Phia.


Belden memeluk Phia menenangkannya.


"Kamu pulang dan beristirahatlah. Gino sudah menunggumu di depan. Ini bukan salah kamu, kakak yakin omongan musuh membuat Via terdiam begini. Kamu nggak perlu khawatir. Pulanglah." Ujar Belden.


Phia pun menurut. Setelah Phia pergi Belden mencoba mengambil bantal yang menutupi wajah Olive. Olive diam tidak merespon.


"Kamu benar ingin mogok bicara lagi? Mogok bicara tidak akan membuat amarahmu menurun. Kakak tahu kamu tidak menyalahkan Phia karena datang ke sekolah seorang diri tanpa Gino. Semua dia lakukan karena bosan dirumah terus, dia koma tiga tahun. Saat kembali malah harus tetap di rumah. Kakak juga yakin kamu marah karena perkataan orang itu, ceritakan apa yang dia bilang dek. Apa yang dia katakan sampai membuatmu sangat marah bahkan mendiamkan kami yang tak bersalah." Ucap Belden.


Olive masih memilih diam. Hati nya masih memanas, dia membutuhkan tempat untuk meneriakkan isi hati nya yang penuh dengan amarah. Oma Opa dan Alden keluar dari ruangan.


"Belden, tinggalkan saja Olive sendiri dulu. Biarkan dia menenangkan hatinya nanti ketika semua sudah normal pasti dia akan bercerita." Ujar Oma.


"Oma yakin tidak akan lam? Apa oma lupa dengan kejadian waktu robert meninggal? Olive diam seperti ini hampir sebulan lebih. Kalian lupa?" Sahut Belden.


"Opa tidak akan lupa tentang itu, tapi sekarang kita hanya bisa menunggu sampai Olive bercerita apa yang di katakan Sam Clarke hingga membuat Olive berdiam begini. Opa juga sangat sedih Olive harus diam, tapi dia juga perlu waktu. Berilah dia waktu itu. Opa yakin tidak akan lama." Ucap Opa.


Belden akhirnya ikut pulang denga Oma Opa Nugraha. Shakila dan Niesha juga di antar pulang oleh Ryan Rafa. Hanya tersisa Alden Olive di dalam markas.


Markas fausta hanya untuk waktu bekerja saja ramai nya. Namun jika pasukan ingin beristirahat tepat di samping markas ada sebuah tempat tinggal. Markas Fausta sangat luas.


"Aku tidak akan mengganggu, jika butuh sesuatu aku ada di ruangan. Jangan sungkan untuk bercerita, agar sesak mu hilang. Mereka yang kamu diamkan tidak bersalah. Jika kamu butuh sesuatu untuk di pukul, aku siap menerima itu. Tidak akan aku balas." Kata Alden lalu memasuki ruangan.


Padahal hanya berkata seperti itu tapi mengapa Olive sangat marah? Olive pun tidak tahu, mungkin ada ikatan bathin. Olive tau, Phia sudah kehilangan memory tentang hari itu. Jika Phia mengingatnya mungkin dia akan histeris tadi.


Olive duduk, melihat sekitar. Pintu halaman belakang tidak terkunci. Olive memakai sendal yang tadi sempat di ambilkan oleh Alden lalu pergi ke halaman belakang.


Halaman belakang markas Fausta sangat luas sekali. Olive melihat ada sebuah bukit tak jauh dari tempat nya berdiri. Olive duduk di bawah pohon diatas bukit halaman belakang markas Fausta.

__ADS_1


Olive melihat ke langit, terdapat jutaan bahkan miliyar an Bintang bersinar dengan rembulan. Hari sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Alden keluar ruangan untuk mengantar Olive pulang. Namun, Alden terkejut Olive tidak ada di sofa. Alden melihat pintu menuju halaman belakang terbuka. Alden langsung berlari ke arah halaman belakang dan mengedarkan pandangan sampai ia melihat ada seseorang duduk di bawah pohon di atas bukit tidak jauh dari Markas.


Alden berjalan ke arah tempat Olive berada. Duduk di sisi pohon membelakangi Olive. Olive tidak menyadari jika ada Alden disana. Olive hanya fokus melihat Bintang.


"Nat, gimana disana? Apakah di sana juga ada perang seperti di sini? Bukankah seharusnya kau menenangkan kakak mu ini? Itu yang kau lakukan saat aku hanya diam? Kau kemana Nat, disaat aku membutuhkanmu? Sejujurnya, aku senang sempat melihatmu dan rasa ingin ikut denganmu cukup besar. Tapi, kalo kakak pergi apa yang terjadi dengan keluarga kita? Mereka akan semakin rapuh. Seharusnya kakak curiga dengan mobil yang berhenti berulang kali padahal sudah lampu hijau. Seharusnya kakak yang tertabrak bukan kamu dan bukankah seharusnya aku yang di posisi mu sekarang? Kakak salah, kakak memang diam-diam ikut perang darimu. Tapi, ini hukuman terlalu berat Nat. Bisakah kau hentikan? Dua orang itu muncul di depan ku dengan muka tanpa dosanya setelah menabrak dan memperkosa kak Phia. Bahkan, bah--bahkan dia masih bisa mengatakan Aku menyukai nya saat kakak mu dibawahku. Bagaimana jika kau selanjutnya Nona. Hiks... hiks... hiks... Kembalilah Nat, ku mohon." Tangis Olive pecah.


Alden merasa emosi setelah mengetahui apa yang katakan Sam pada Olive. Alden berdiri di depan Olive yang menyembunyikan wajahnya di antara kedua kaki. Alden mengelus kepala Olive, Olive mendongakkan kepala nya ke atas dan Alden mensejajarkan diri dengan Olive.


"Kamu akan melewati nya. Kamu pasti bisa. Ini hukuman bukan hanya itumu saja. Satu keluarga Nugraha, bahkan mereka yang ada di pihak Nugraha termasuk aku merasa kehilangan itu. Maka nya aku selalu protektif ke Delia untuk belajar bela diri sejak dini. Karena aku nggak selalu bisa di sisi nya, dia selalu menolak. Tapi, setelah dia tahu apa yang terjadi pada keluargamu dia bertekad untuk bisa bela diri. Dia tidak ingin keluarganya mengkhawatirkan dirinya. Dia tidak ingin merepotkan orang tua dan kakak nya untuk selalu menemaninya kemana pun dia pergi. Keluarga kamu juga memberi pelajaran untuk kami, terima kasih untuk itu." Ucap Alden tersenyum.


Kali ini Alden berinisiatif untuk memeluk Olive lebih dulu. Olive kembali menangis di pelukan Alden. Amarahnya sudah meluap, sakit di hati nya sudah sedikit hilang. Olive baru merasakan rasa perih di tangan dan kaki nya yang terluka. Olive sangat lelah.


Suara tangis Olive hilang, Olive pingsan. Alden yang mengetahui itu langsung menggotong nya menuju kamar tamu. Alden meletakkan Olive perlahan di atas kasur dan memakaikannya selimut. Raut wajah Olive pucat dan kelelahan. Apa yang di lalui Olive sangat sulit.


Alden mematikan lampu lalu menutup pintunya, membiarkan Olive untuk beristirahat. Alden memasuki kamarnya di markas tepat di samping kamar tamu yang Olive tempati. Alden memutuskan untuk mandi kemudian dia akan mengerjakan tugas karena besok sabtu. Alden berjanji untuk mengajak Olive ke makam Robert besok.


Jam menunjukkan pukul satu malam. Tiba-tiba Alden mendengar Olive teriak kemudian menangis. Alden langsung berlari ke kamar Tamu dan memeriksa keadaan Olive. Olive demam sampai mengigau, Alden segera mengambil air kompresan dan handuk kecil.


Pagi hari, matahari berhasil menerobos gorden dan membangunkan Olive dari tidur nya. Olive bingung, bagaimana dirinya bisa ada di sebuah kamar? Olive melihat di meja nakas terdapat air kompresan.


Olive pun mencuci muka dan menggosok giginya, kemudian Olive keluar dari kamar dan turun ke lantai dasar. Olive nasih bingung, dia sebenarnya ada dimana? Bukankah dia semalam ada di markas Fausta? Kenapa seperti dia berada di Mansion.


"Pagi nona kedua." Sapa bibik paruh baya.


"Pa-Pagi bik. Maaf bik, ini dimana? Semalam aku ada di markas keluarga Fausta." Ujar Olive.


"Ini masih di wilayah markas keluarga Fausta, ini tempat beristirahat nya Tuan muda jika sibuk di markas." Sahut Bibik dan Olive mengangguk mengerti.


"Kak Alden... " Ucap Olive.


"Ah, tuan muda masih tidur nona. Tadi tuan baru masuk kamar sekitar jam 3 pagi ini. Ah, nona mau sarapan apa? Biar bibik siapkan." Ujar Bibik.

__ADS_1


"Ouh, nanti aja bik. Aku biasanya kalo sabtu minggu agak siang sarapan nya. Aku keliling sebentar boleh kan bik?" Tanya Olive.


"Silahkan Nona, jika perlu apa-apa jangan sungkan untuk bertanya atau meminta pada pelayan disini." Jawab Bibik.


"Terima Kasih bik." Sahut Olive pamit berkeliling.


Olive memutuskan untuk ke halaman belakang, ternyata ada taman beraneka ragam bunganya. Olive tersenyum kepada pelayan atau pasukan yang menyapa nya. Olive benar-benar menikmati pagi nya, rasa penatnya semalam hilang begitu saja. Mood nya sudah lebih membaik.


Olive duduk di sebuah ayunan sambil melihat pemandangan taman halaman belakang markas Fausta. Olive bahkan sesekali tertawa melihat tingkah pelayan dan pasukan yang membuat lelucon. Olive merasa hidup seperti orang normal pada umum nya.


Waktu menunjukkan pukul 9 pagi, Alden bangun langsung ke kamar mandi mencuci muka dan menggosok gigi. Kemudian ia akan ke balkon untuk melihat aktifitas pelayan dan Anak buah nya. Namun, tatapannya tertuju pada senyum tawa Olive disana. Olive terlihat sangat senang bercanda tawa dengan pelayan dan Anak buahnya. Alden tersenyum, Olive sudah kembali.


Alden memutuskan untuk turun ke lantai dasar.


"Selamat pagi, Tuan muda." Sapa Bibik.


"Pagi bik, Olive udah sarapan?" Tanya Alden.


"Belum tuan, Nona ingin berkeliling dulu katanya." Jawab bibik.


"Siapkan saja sarapan seperti biasa ya bik, soalnya aku juga mau ajak pergi Olive." Pinta Alden.


"Baik tuan, nanti akan bibik panggil jika sarapan sudah siap." Sahut bibik.


"Ah, tolong antarkan kopi dan lemon tea ke teras belakang." Pinta Alden lagi.


"Baik tuan." Kata bibik.


"Makasih ya bik." Ucap Alden lalu pergi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2