Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 114 - Kelompok Tato Ular


__ADS_3

Di tempat Robert...


Saat keluar dari Bar Prass sudah menahan Robert untuk tidak pergi, tapi Prass tahu jika tuan muda kecilnya tidak suka di tahan. Alhasil, Prass menawarkan untuk menemani Robert agar tidak ada yang terjadi dan meminta sebagian bawahannya untuk berjaga di sekitar demi keselamatan tuan muda kecilnya.


Tak sampai 30 menit mereka sudah sampai dan berhenti tak jauh dari toko tempat Reina berjualan. Namun di protes oleh Robert karena terlalu jauh berhentinya.


"Maju sedikit lagi." Pinta Robert.


"Cukup disini tuan, ini jarak paling aman. Biar para bawahan yang mengawasi dari dekat, kita masih belum tahu bagaimana keadaan disana." Tolak Prass.


"Hanya maju sampai pohon ketiga, itu masih termasuk jarak teraman kita untuk memata-matai Reina, kalo jarak segini aku tidak tahu apa yang terjadi nanti." Perintah Robert.


"Baiklah tuan, tapi jika nyonya besar tahu..."


"Aku yang akan menanggung nya, kalian tidak perlu khawatir. Kalian sudah berusaha melakukan tugas kalian untuk menahanku dan aku yang memaksakan hal ini jadi aku yang akan menanggung hukuman yang akan oma opa berikan padaku nanti." Ucap Robert.


Prass terdiam lalu memajukan mobil hingga 3 pohon. Tak lama itu, tiba-tiba ada beberapa orang berbaju hitam keluar dari tempat Reina. Terlihat juga disana, kedua orang tua Reina berlutut di depan pintu tak lama itu seperti bos nya keluar dari tempat Reina. Robert menempelkan wajahnya ke kaca untuk mengenali siapa orang itu.


"Tato Ular?" Gumam Robert.


Robert fokus mengamati lagi bos itu kemudian memperjelas benarkah tadi tato ular yang dirinya lihat. Tiba-tiba bos itu menengok mengarah ke tempat mobil Robert berhenti. Segera Robert memundurkan wajahnya hingga menabrak kursi di belakang karena kaget. Prass hanya menggelengkan kepala dan bersyukur karena untung kaca mobil gelap tidak akan tembus bisa terlihat dari jarak jauh maupun dekat sekalipun.


Bos itu seperti berbisik ke salah satu bawahannya untuk mengecek isi mobil yang terparkir tak jauh dari tempat Reina yaitu mobil yang sedang Robert naiki. Seseorang suruhannya berjalan mendekati mobil Robert untuk mengecek apakah ada orang di dalamnya. Orang itu mengetuk jendela mobil Robert dan mengintip namun tidak terlihat apapun. Kemudian pergi kembali untuk memberitahu ke bos itu bahwa tidak ada orang di dalam mobil itu.


"Apakah mobil itu pernah terparkir disana sebelumnya?" Tanya Bos itu kepada kedua orang tua Reina dan Reina yang baru muncul.


Rena menyipitkan mata nya dan berusaha untuk tidak tahu menahu jika itu mobil yang pernah Robert gunakan saat pertama kali bertemu dengannya setelah 8 tahun di kabarkan meninggal dunia. Reina terlihat menggelengkan kepala nya.


"Tidak tahu. Tapi, memang suka ada yang menumpang untuk parkir di pesisir jalan ini. Itu sudah hal yang biasa, ini bukan wilayah kekuasaan anda jadi anda juga tidak berhak memprotes tentang mobil itu. Sebaiknya anda pergi sebelum ada yang benar-benar melihat kalian datang." Ketus Reina.


"Walaupun kalian berada di wilayah Nugraha, lihat kan? Mereka bahkan tidak tahu jika ada salah satu orang terdekatnya yang sudah mengkhianati kepercayaannya. Mereka tidak akan bisa melindungi kalian semua." Sahut Bos itu.


"Bisakah kalian membawa bos kalian ini pergi sekarang juga? Mereka memang tidak melindungi karena kami tidak memintanya, jika kami memintanya maka habis lah kalian sejak awal. Saya ingatkan sekali lagi, Saya tidak pernah takut pada anda ataupun ketua kalian. Jika kalian memang berani lawan lah Nugraha dengan benar jangan melalui perantara seperti pengecut." Kesal Reina.


Bos itu dan bawahannya tertawa mendengar kekesalan Reina. Tiba-tiba semak di  depan tempat Reina berjualan bergerak, Bawahan bos itu langsung serentak mengarahkan pistol ke arah semak-semak itu. Bukannya takut Reina malah tersenyum Smirk dan berjalan ke arah semak-semak.


"Cebol, apa yang kamu lakukan disana. Kamu menakuti bawahan mafia negara hitam tato ular saja." Ledek Reina tertawa kecil membuat bos dan bawahan itu menahan malu.


Mereka akhirnya pergi dengan menahan malu, setelah semua sudah pergi kedua orang tua Reina baru berdiri kembali.


"Ibu sama Bapak kenapa berlutut seperti itu. Mereka bukan apa-apa di bandingkan dengan kekuasaan Nugraha. Aku akan sangat menjamin bahwa kita aman, percayalah padaku." Ujar Reina tersenyum sendu.

__ADS_1


Prangggg!!!


Tiba-tiba terdengar suara piring pecah karena di banting seseorang. Membuat Ayah Ibu dan Reina terkejut lalu merubah raut wajah nya kesal.


"Reno." Gumam Robert yang hanya bisa menyaksikan dari dalam mobil.


Reno adalah kakak laki-laki Reina beda 5 tahun dengan Reina, seumuran dengan Kak Belden. Reno keluar dari tempat toko jualan itu.


"Apa-apaan sih! Ngancurin barang gitu?" Kesal Reina.


"Kamu yang apa-apaan. Masih aja belain orang mati, kamu berharap apa ke keluarga Nugraha? Hidup tentram? Damai? Haha! Mereka aja nggak bisa ngelindungin anak kecil itu. Bagaimana bisa keluarga Nugraha melindungi kita dek?!!" Marah Reno.


"Tau apa soal keluarga Nugraha? Tau apa? Semenjak kepulangan kakak ke sini keluarga kita makin ancur tau nggak? Kakak cuman bisa buang-buang uang hasil jerih payah yang Aku Ayah dan Ibu dapetin! Lanjutin aja sana foya-foya traveling! Kenapa balik kesini? Asal kakak tau aja, selama ini kalo bukan karena keluarga Nugraha yang masih peduli dengan kita kakak nggak akan pernah lihat kita bertiga lagi! Kakak balik kesini udah nggak ada orang kak! Toko dan rumah bahkan hampir di jual karena kakak mikirin kenikmatan kehidupan sendiri!" Marah Reina.


"Jaga ucapan kamu!" Bentak Reno sambil menunjuk Reina.


"Apa! Emang itu kenyataannya! Soal Robert, iya dia memang udah meninggal dan aku masih mengusut diam-diam kenapa itu bisa terjadi. Aku emang sempet berhenti karena ancaman para pengecut tadi bahkan entah siapa ketua nya itu. Aku mulai sekarang nggak peduli lagi dan aku akan berontak, bahkan aku rela kehilangan nyawa aku. Kenapa? Karena tanpa Robert dan Keluarga Nugraha aku nggak mungkin masih ada sampai sekarang kak. Aku capek, ngerti?" Marah Reina melotot ke arah Reno yang terdiam.


"Reina sayang, jangan teriak-teriak. Dia kakak kamu sayang, bapak nggak pernah ngajarin kamu bicara begitu." Tegur Bapak Reina.


"Kakak masih ingat kan? Saat Robert meninggal beberapa bulan kemudian kita dapat ancaman untuk menghancurkan Nugraha dari dalam berkali-kali bahkan sampai sekarang pun mereka masih kekeuh buat bujuk aku khianatin Nugraha dan kakak ingat? Kakak kabur begitu saja bawa uang di toko tidak meninggalkan sepersen pun untuk aku Bapak dan Ibu hidup memang nya siapa yang bantu kak? Itu Nugraha kak, tanpa mereka kami nggak akan bisa kakak temui sekarang. Satu hal lagi, Robert masih teman kakak juga bahkan kakak dulu yang susah untuk biarin Robert pulang setelah kita main bareng. Kakak lupa? Amnesia ternyata haha!" Kesal Ketus marah Reina lalu pergi begitu saja.


"Jangan sok peduli dengan ku! Sudah lama aku memutuskan untuk beranggapan bahwa aku tidak memiliki saudara kandung! Aku juga akan menjadi target musuh dan cepat atau lambat akan terbunuh. Pikirkan saja cara melindungi diri kalian! Aku sudah muak tinggal di tempat dengan ada penyadap seperti itu!" Balas Teriak Reina tepat di samping mobil Robert.


"Sayang! Jangan malam-malam pulangnya!" Teriak Ibu Reina.


Reina tetap berjalan tanpa menggubris teriakan dari ibunya. Reina berjalan ke arah taman yang tidak jauh dari toko tempat berjualannya. Reina terduduk di salah satu bangku di taman dan menangis sambil menundukkan kepala nya. Saat akan keluar dari mobil lagi-lagi Prass menahan Robert takut jika kelompok orang itu masih memantau entah darimana.


"Reina tidak akan mengkhianati aku. Aku percaya pada nya Prass, aku sangat ingin melindungi dia dari orang-orang itu." Ucap Robert.


Akhirnya Prass mengizinkan Robert untuk menemui Reina. Prass tetap meminta pengawal bayangan untuk waspada di sekitar taman takut ada terjadi apa-apa terhadap tuan muda kecilnya. Saat Robert sampai di taman ia melihat Reina menangis dengan menundukkan kepala nya. Robert mengeluarkan sebuah topi dan memasangkan di kepala Reina. Reina tahu jika itu adalah Robert, tangis Reina semakin menjadi saja hingga Reina berdiri dan lari memeluk Robert membuat Robert diam memaku di tempat.


"Maafkan aku Robert. Hiks.... Hiks... maaf." Bisik Reina.


Robert yang merasa bersalah karena meninggalkan beban untuk Reina pun membalas pelukannya. Setelah merasa jika Reina sudah cukup tenang, Robert melepas pelukannya dan mengajak Reina untuk duduk kembali di bangku taman. Kemudian Robert mengeluarkan buku kecil dan pulpen.


(Maafkan aku karena datang terlambat.) Tulis Robert membuat Reina tersenyum haru dan menggelengkan kepala.


(Jangan salahkan dirimu. Kita sama-sama tidak tahu jika mereka akan datang untuk mengancamku agar keluargamu hancur. Aku yang seharusnya meminta maaf karena tidak jujur kepada kak Olive atau hanya sekedar melewati rumahmu tanpa meminta bantuan.) Tulis Reina, Robert menggelengkan kepala dan tersenyum sendu sambil mengelus lembut rambut Reina.


(Kamu nyaman berbicara seperti ini denganku? Apakah ada yang tahu jika aku datang?) Tanya Robert di tulisannya.

__ADS_1


(Aku tidak tahu. Maaf aku bersikap kasar padamu saat pertama kali kamu datang kembali, aku terlalu takut. Karena walaupun ini  wilayah mu tapi sebagian dari tempat ini sudah di pasangan kamera dan penyadap. Aku nyaman berbicara denganmu dan hatiku menjadi sedikit tenang setelah melihatmu) Tulis Reina sambil tersenyum.


(Padahal aku sudah mengawasi mu selama 4 tahun secara diam-diam. Aku mengira mereka sama sepertiku datang mengajak kakak-kakak ku dan pasukannya untuk makan disana. Aku tidak melihat ada hal yang mencurigakan, semua terlihat normal.) Tulis Robert dan Reina mengangguk.


(Semua memang terlihat normal saja jika ada di luar. Jika kamu datang malam hari mereka akan memasang peredam suara agar tidak terdengar dengan orang yang lewat di malam hari.) Tulis Reina.


(Mereka di tempat mu seharian hanya untuk mengawasimu? Bukankah itu namanya menjadikan kamu dan keluarga seperti tawanan mereka? Tapi mereka tidak menyakiti kalian kan? Katakan dengan jujur padaku.) Tulis Robert.


(Aku tidak masalah jika mereka menyakitiku tapi aku merasa malu karena tidak bisa melindungi nama baik keluarga Nugraha selama mereka menjadikan aku sebagai tawanan untuk menghancurkan keluargamu. Kalian selalu membantu kami tapi kami tidak bisa melakukan pembelaan ketika kami harus melakukan pengkhianatan seperti ini.) Tulis Reina.


(Jangan mengatakan seperti itu. Mereka menggunakan kalian untuk mengkhianati kami karena mereka sudah mempelajari siapa saja orang yang dekat dengan kami. Karena kami kalian menjadi dalam bahaya di tambah dengan aku yang harus menghilang di saat kamu membutuhkan bantuan dan perlindungan dariku.) Tulis Robert.


Reina menggenggam tangan Robert erat.


(Sebaiknya kamu pergi sekarang, jika mereka tahu aku tidak ada di rumah dalam 30 menit mereka akan menghampiri tempatku dan mungkin akan menghancurkannya dan mereka sedang mengincarmu. Tadi mereka mencurigai mobilmu, apakah tadi aku terlihat panik? Apakah mereka mencurigai tingkah anehku?) Tulis Reina.


(Kamu hebat. Bahkan mereka takut pada cebol, terimakasih sudah merawat cebol dengan baik. Tunggu, tadi katamu mereka memasang kamera pengawas juga? Apakah taman ini mereka pasang?) Tanya Robert dan Reina menggeleng.


(Mereka memasang penyadap suara disini tapi mungkin besok mereka akan mengintrogasi aku dan memasang kamera pengawas disini. Aku harap kamu tidak akan muncul lagi setelah ini, Kamu bisa benar-benar dalam bahaya Robert.) Khawatir Reina.


(Aku akan melindungi kamu dengan caraku. Ini ada beberapa penyadap suara milikku kamu bisa pasang di tempat biasa mereka mengobrolkan sesuatu. Ini akan sangat membantuku untuk tahu siapa orang di balik semua ini yang menginginkan Nugraha hancur. Bisakah kamu membantuku?) Tulis Robert.


(Baiklah. Aku akan memasang di tempat yang mungkin tidak terlalu mencurigakan untuk mereka. Satu hal lagi, aku akan meminta maaf padamu terlebih dahulu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, tapi sepertinya mereka akan menggunakan ku untuk membuat kamu masuk ke dalam perangkap mereka. Aku memang sudah bersabuk hitam dalam beladiri, tapi lawanku bersenjata seperti tadii. Aku akan meminta bantuan kak Olive agar bisa sehebat dia.) Tulis Reina tersenyum manis.


(Aku bisa mengajarkan kamu. Apakah kamu bersekolah?) Tanya Robert dan Reina mengangguk.


(Aku bersekolah lalu bekerja di tempat kak Luna. Ah, aku harus memberitahu mu di toko kak Luna mereka memintaku juga menaruh penyadap suara disana. Awalnya aku tidak ingin menaruhnya tapi keesokkan harinya mereka tahu jika penyadap suara itu belum aku taruh di toko kak Luna.) Tulis Reina.


(Aku mengerti. Mereka menggunakan penyadap suara sekaligus pelacak lokasi. Mungkin ponsel kamu sekarang juga di pasang itu tanpa kamu ketahui. Bisakah kamu percayakan masalah ini kepadaku? Beri aku satu kesempatan terakhir untuk benar-benar menjaga kamu dengan baik.) Tulis Robert dan Reina mengangguk.


(Sekarang pergilah. Aku akan menunggu 10 menit setelah itu baru aku kembali ke toko ku.) Tulis Reina.


(Berikan aku ponselmu, aku ingin memasang punya ku juga. Bolehkah?) Tulis Robert.


Reina mengeluarkan ponselnya dan berikan kepada Robert dengan cepar Robert membuka link untuk memasang pelacak lokasi di ponsel Reina. Kemudian dia juga menemukan link yang di gunakan kelompok ular itu untuk menyadap ponsel Reina dan mengirimkannya ke Prass untuk meminta yang di markas segera melacaknya. Setelah selesai Robert memberikannya kembali, sebelum benar-benar pergi mereka saling menatap satu sama lain cukup lama. Tidak lama itu,


"Reina! Dimana kamu?" Teriak Reno.


Dengan cepat Robert segera menghilang di balik pepohonan. Reina mencoba bersikap biasa seolah dirinya memang sendiri saja. Reno mendekati Reina yang terduduk sendiri di bangku taman. Apakah akan ketahuan? Bagaimana dengan topi milik Robert?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2