Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 79 - Kemunculan Zaylee Wiyata


__ADS_3

Di Lapangan parkir sekolah~


"Ehh! Tunggu-tunggu." Ujar Ryan.


"Ada apa kak?" Tutur Niesha.


"Kita anterin pulang ya, udah mau malam. Takut ada apa-apa di jalan." Ucap Rafa di setujui Ryan.


"Emm... kakak bukannya mau ke markas ya nemenin kak Alden?" Ujar Kila.


"Nggak. Kita langsung pulang kok, gak harus ke markas. Urusan Alden mah gampang." Sahut Rafa.


"Beneran nggak ngerepotin ya kak." Tanya Niesha.


"Nggak kok, santai aja. Yuk?" Ajak Ryan.


Saat Niesha Kila sudah masuk mobil Ryan Rafa tos an senang. Sementara itu di markas Nugraha~


"Kak bisa ceritain gak kenapa aku bisa begini?" Tanya Olive.


"Aku nggak tau gimana kejadian persis nya dek. Kamu bisa tanya sama Zet, Robert ataupun Alden." Sahut Phia.


"Robert? Bukannya--- Kalian udah tau?" Ujar Olive di angguki Phia.


"Ya Ampun, sepertinya aku banyak melewatkan sesuatu." Ucap Olive.


"Tidak masalah. Sekarang semua sudah berkumpul kembali kamu bisa bertanya pada mereka bertiga. Yang aku tahu setelah kejadian ledakan mobil semakin kesini respon tubuh kamu tidak secepat sebelum kejadian. Selalu terluka, padahal kamu sangat lincah menghindar." Jelas Phia.


"Aku mengerti. Aku akan bertanya pada mereka besok. Ah! Besok apakah promnight?" Tanya Olive.


"Iya. Oma opa sudah memperketat penjagaan di acara promnight. Tidak akan ada penyusup masuk untuk mencelakai kita." Sahut Phia.


"Kakak yakin itu? Maksud aku, kalian belum kenal musuh kalian sedetail aku mengenal mereka." Ucap Olive.


"Jadi kamu gak yakin sama insting oma nih?" Ujar oma tiba-tiba memasuki kamar rawat Olive.


"Oma bukan begitu, tapi musuh kali ini gak akan menyerah dan diam gitu aja. Oma lihat efeknya padaku." Jawab Olive.


"Oma tahu. Oma gak akan tinggal diam juga karena kamu sudah jadi korban. Maafkan oma belum bisa lindungin kalian dengan benar." Kata Oma sambil mengucap kedua kepala cucu kembarnya.


"Oma jangan bilang begitu. Oma gak bisa melindungi kita sempurna, pasti ada yang terlewat. Aku juga nggak bisa melindungi kalian, terutama kejadian Robert dan Kak phia." Ucap Olive menunduk.


"Ish! Oma, dek jangan salahin diri kalian gitu dong. Sekarang kita udah berkumpul semua jadi lupain kecelakaan yang sudah lalu. Dari kejadian masa lalu dan sekarang ini harusnya kita lebih teliti lagi bukan malah saling menyalahkan diri begini. Okay?" Kata Phia.


Oma pun memeluk kedua cucu kembar nya.


"Oma. Kok kakak doang yang di peluk aku gak nih? Oma gak kangen sama aku?" Kesal Robert.


"Iya, Aku juga mau di peluk oma." Kesal Belden.


"Aduh duh... sini-sini sayang. Ya Ampun... cucu ku berkumpul kembali... Terima kasih." Ucap Oma sambil mencium pucuk kepala ke 4 cucu nya.


"Sayang oma, Love you!" Ujar Olive di sertai mencium pipi oma diikuti yang lain.


"Hahaha... aduh tangan oma udah gak cukup buat peluk kalian. Kalian cepat sekali besarnya." Kata oma gemetar menahan tangis haru.


"Kalo gitu biar kita yang peluk." Tawa Belden.

__ADS_1


Gantian Belden, Phia, Olive dan Robert yang memeluk Oma. Oma tertawa nangis haru di peluk oleh cucu-cucunya.


"Jadi Oma doang nih yang di peluk? Opa gak ya... awas kalian minta bonus jajan sama opa." Cemburu Opa.


Mereka pun tersenyum kemudian tertawa. Opa memeluk dan menciumi cucu-cucunya juga.


"Terima Kasih kalian sudah bertahan hidup sampai sekarang. Jika bukan karena oma dan opa kalian berlatar belakang Mafia... kalian tidak akan begini. Maafkan kami." Ucap Opa.


"Ssut! Berhentilah minta maaf. Aku bangga jadi anak Mafia yang baik. Selalu membela kebenaran. Terimakasih sudah menjadi Oma Opa yang hebat buat kita." Ujar Olive.


"Ouh! Kakak berhentilah berkata manis. Itu tidak cocok untukmu." Ledek Robert.


"Ya!" Kesal Olive berteriak.


"Ehhh... belum juga 5 menit pelukan udah kucing-kucingan aja kalian. Sudah-sudah." Ucap Oma melerai pertengkaran.


Mereka terdiam sejenak kemudian kamar itu penuh dengan tawa kembali. Mama, papa, bunda, ayah dan Alden tersenyum melihat kebahagiaan itu dari balik jendela.


Sementara itu...


"Bos kami sudah siap di posisi." Kata seorang bawahan.


"Bagus. Pastikan kau menembaknya dan membuat salah satu dari mereka benar-benar mati." Tukas Pria itu.


"Tentu saja. Saya sudah menunggu untuk waktu yang lama melakukan hal ini. Kali ini tidak akan meleset." Sahut Bawahan itu.


"Aku percayakan semua padamu. Aku hanya butuh mayat nya, tidak. Bukti foto bahwa dia benar-benar meninggal dan tidak mengusik kita lagi. Itu terbaik." Ujar Pria itu.


"Siap. Laksanakan perintah." Jawab Bawahan itu dengan tegas.


"Om kapan berhenti melakukan semua ini?" Suara gadis berusia 12th.


"Sudah aku duga bahwa kakak Olive dan keluarga adalah korban om Vino. Apakah om vino akan membalaskan dendam kepada orang yang tidak bersalah seperti ini? Coba diingat kembali siapa yang menyuruh untuk menuangkan minyak itu di sekitar pohon rumah?" Ucap Zaylee.


"Mereka." Tegas Vino.


"Please! Jangan menyalahkan orang lain atas permintaan sendiri." Teriak Zaylee gemetar.


"Kak ada ap-- Lee duh canti---"


"Jangan sentuh aku dengan tangan pembunuh itu!" Teriak Zaylee.


"Apa maksud kamu mengatakan itu?" Ujar Sam.


"Wah! Ternyata selama ini om vino kerja sama bareng keluarga Clarke. Kebetulan sekali, kedatanganku kali ini ingin melepas nama Wiyata. Aku muak dengan kelakuan kalian. Keluarga Wiyata yang aku kenal tidak akan bekerja sama dengan musuhnya." Kata Zaylee.


"Kamu keterlaluan. Kamu itu keluarga Wiyata sampai kapanpun tidak akan bisa lepaskan nama itu." Ucap Quira.


"Lihatlah siapa yang berbicara. Atas dasar apa anda berbicara? Hei, keluarga Clarke hanya bawahan wiyata. Kalian harus tahu derajat kita berbeda. Jangan sama kan itu, menjijikan!" Sahut Zaylee.


"Zaylee!" Teriak Vino.


"Apa aku mengatakan hal yang salah? Itu adalah kenyataan! Sudah aku ingin pergi jangan ada yang menghalangi ku." Ujar Zaylee.


Saat Zaylee mau keluar dari markas Kevino, langsung di tahan oleh Quira. Dengan gerak cepat Zaylee bisa menghindari itu. Dengan tatapan tajam,


"Jangan pernah meremehkan aku!" Tegas Zaylee pergi meninggalkan Markas.

__ADS_1


"Kak, kenapa biarin Lee pergi? Kejar kak. Kakak rela dia jadi milik lawan hah?" Kesal Quira.


"Kita nggak bisa debat sekarang. Biarkan dulu saja, jangan meremehkan Lee... kau saja tadi tidak bisa menangkapnya." Ujar Kevino.


"Tapi kak... "


"Kembali ketempat kalian. Besok tetap kita jalankan sesuai rencana." Ucap Kevino.


Zaylee mendengar itu dan langsung pergi. Dia benar-benar tidak menyangka jika keluarga nya akan melakukan hal seperti ini.


"Aku harus kasih tau kak Olive." Tekat Zaylee.


Zaylee pergi ke rumah besar keluarga Nugraha. Kebetulan yang membuka pintu adalah Alden.


"Kamu... Zaylee Wiyata?" Tebak Alden.


"Ada kak Via gak? Penting." Ucap Zaylee.


Alden ragu mempersilahkan Zaylee masuk.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


BERSAMBUNG....


__ADS_2