
Di rumah sakit~
Olive hanya menghabiskan setengah mangkuk. Olive tidak tahan dengan rasa hambar itu. Tak lama itu, seorang bawahan masuk dan memberikan obat di mangkuk kepada Olive.
"Ini obat nya?" Tanya Olive.
"Iya nona, itu obat yang diberikan dokter tomi. Saya sudah sedikit mencicipi dan rasanya memang sangat pahit dan bau nya kuat. Nona yakin ingin minum obat ini?" Ucap Bawahan itu.
"Aku lebih nggak bisa minum yang tablet dan Kapsul. Sudah tinggal saja, aku akan minum itu." Pinta Olive.
"Baik Nona, saya permisi." Pamit bawahan itu.
Olive menaruh mangkuk obat di meja nya dan mulai menyendok. Bau obatnya sangat kuat membuat Olive merasa mual. Tapi dia harus meminumnya. Akhirnya, Olive dengan berat hati minum sesendok demi sesendok dengan menutup hidung nya.
"Aakkhhh! Hufft!" Keluh Olive.
Olive berjanji pada dirinya untuk tidak masuk ke rumah sakit lagi. Olive sudah kapok, tidak akan sembarangan mengorbankan diri lagi.
Di rumah Fausta~
Tiba-tiba ponsel Alden berdering, telepon masuk dari nomor tak di kenal. Berbentuk video call. Alden pun langsung angkat telepon itu. Alden sangat kaget ketika ada Olive disana tiduran di sebuah kasur hotel.
"Olive! Olive bangun!" Panggil Alden.
"Olive!" Teriak Alden yang langsung terbangun dari tidur nya.
Nafas Alden langsung memburu dan segera menelepon Zet untuk memastikan Olive baik-baik aja.
Iya tuan.
Olive aman kan?
Aman tuan, nona lagi tidur. Tadi baru minum obat.
Syukur deh, saya nanti ke sana jam 5 ya. Seperti biasa.
Baik tuan, saya mengerti.
Alden mematikan teleponnya dan menyiapkan apa saja yang perlu dibawa. Alden siap-siap berangkat menuju rumah sakit. Saat sampai di ruang bawah Alden bertemu dengan Ryan dan Rafa.
"Mau ke mana Bos" Tanya Ryan.
"Mau ke rumah sakit nemenin Olive. gua mimpi Olive dibawa ke hotel sama orang. gue takut ada apa-apa dan Zet lagi lengah." Ujar Alden.
"Yaudah kalo gitu kita perlu ikut gak? Takut ada apa-apa di jalan." Tawar Rafa.
"Nggak apa, gua sendiri aja." Sahut Alden.
Alden pun keluar dari rumah kemudian menaiki mobil sport nya menuju rumah sakit. sampai di rumah sakit Alden langsung menuju lift untuk ke lantai 10 yaitu kamar Olive berada.
saat Alden ingin masuk ke kamar Olive, Alden melihat dari kaca pintu Olive sedang tidur. Alden pun mengurung niat untuk masuk ke kamar Olive. Tak lama kemudian zet datang menghampiri Alden.
"Tuan datang lebih awal? Apa aja yang terjadi?" Tanya Zet.
"aku hanya bermimpi buruk dan ingin memastikan bahwa Olive baik-baik saja. apa Olive sudah diperiksa oleh Tomi?" Kata Alden.
"Sudah tuan. Tadi nona diminta untuk minum obat yang berbentuk Tablet atau kapsul namun Nona menolak dan meminta agar mengganti obatnya menjadi yang mudah untuk diminum lalu dokter memberinya obat herbal yang cukup pahit." Jelas Zet.
" Apakah Olive benar-benar meminumnya? Dia tidak mengeluh pahit?" Tanya Alden.
"Tidak tuan. Nona meminumnya sambil menutup hidung dan makanan nya hanya separuh mangkuk tidak habis." Sahut Zet.
Tiba-tiba terdengar Olive minta tolong, Alden langsung masuk. Saat cek suhu badan, Alden terkejut ternyata Olive demam. Alden meminta Zet memanggil tomi untuk segera datang.
"Dingin... Tolong... Dingin... " Ngigo Olive.
Alden menggenggam tangan Olive. Tak lama itu, dokter tomi datang dan memeriksa keadaan Olive.
"Gimana?" Tanya Alden khawatir.
"Demam tuan, 38.7° suhu badannya. Tapi ini adalah efek dari obat herbal itu tuan." Jelas Dokter.
"Apakah tidak apa-apa untuk Olive?" Tanya Alden.
"Tidak apa tuan. Ini malah akan cepat membantu kesembuhan nona seutuhnya. Tidak perlu harus minum setiap makan, hanya sehari sekali saat makan siang di rumah sakit saja." Tutur Dokter.
__ADS_1
"Yasudah, boleh kembali. Biar aku yang kompres Olive sendiri." Tawar Alden.
Suster dan Dokter pergi, Zet menunggu di depan pintu. Alden mengompres Olive dengan telaten. Hatinya sangat sakit ketikan kening Olive mengkerut seperti ketakutan dan sesekali langsung mencekram tangan Alden kuat.
"Apa yang membuat kamu seperti ini sayang?" Gumam Alden sambil mengelus kening Olive agar Olive tenang.
Satu jam berlalu, Olive bangun dari tidurnya dan bingung kenapa di keningnya ada handuk kecil. Kemudian kapan Alden datang dan menidurkan kepalanya di pinggir kasur sambil menggenggam tangan Olive. Olive melepas tangannya perlahan agar Alden tidak terbangun.
'Apa gua beneran demam? Tangan Alden sampai memerah gitu. Apa yang terjadi?'' Bathin Olive.
Alden pun terbangun.
"Kamu lanjut tidur di kamar aja. Nanti leher kamu sakit." Ucap Olive.
"Aku gak apa, kamu gimana rasanya? Udah enakkan?" Tanya Alden.
"Memang aku kenapa? Bukannya hanya tidur saja." Sahut Olive.
"Kamu demam. Itu efek samping dari obatnya, lain kali kalo mau minum obat yang pahit panggil aku." Ujar Alden.
"Buat apa?" Tanya Olive.
"Biar kamu nggak ngerasa pahit banget obatnya." Kata Alden.
"Emang kamu mau ikutan minum juga?" Tanya Olive.
"Ngurain rasa pahit aja. Sekarang masih pahit?" Ucap Alden.
"Masih. Emang gimana ngurangin rasa pahit nya?" Tutur Olive.
Alden mendekatkan wajahnya kemudian mencium bibir lembut Olive. Olive ikut hanyut di dalam nya. Setelah merasa kehabisan Oksigen, Alden menyudahi ciuman itu. Olive menunduk malu karena perlakuan Alden.
"Bener pahit. Tapi udah agak manis tadi." Ujar Alden.
"Alden... " Rengek Olive.
Alden mengapit wajah Olive dengan kedua tangannya.
"Kamu nggak perlu malu, sayang. Kamu cuman milik aku seutuhnya, paham?" Bisik. Alden menoel hidung Olive dan Olive mengangguk.
"Nggak apa, tadi pas kamu ngigo kamu kayak ketakutan dan cekram tangan aku. Tapi gapapa, kamu tenang aja." Ucap Alden sambil mengelus pipi Olive.
"Maaf ya, aku bener-bener gak sadar udah genggam kamu sampe kayak gitu." Kata Olive.
"Nggak apa, aku malah senang. Kamu bisa menyalurkan rasa takut kamu, kamu bisa lakukan apapun ke aku. Aku akan terima, mau itu suka ataupun duka." Sahut Alden.
Olive menggeser badannya sedikit lalu menepuk sebelahnya, agar Alden naik ke kasur. Alden pun mengikuti keinginan Olive dan duduk berselonjor di samping Olive. Olive menyenderkan kepalanya ke bahu Alden.
"Mau tidur lagi?" Tanya Alden.
"Emm... efek obatnya masih ada." Sahut Olive sambil menguap.
Alden tiduran di bantal sedangkan Olive tiduran di lengan Alden sambil memeluk Alden. Alden sambil mengelus genggaman tangan Olive, tidak lama itu Olive tertidur. Alden pun ikut menyusul ke alam mimpi.
Waktu menunjukkan pukul 7 malam, Alden bangun dan tersenyum menatap wajah cantik disebelahnya. Alden mencium kening Olive lembut tanpa membangunkannya. Lalu ada suara ketuk pintu.
Alden mengeluarkan ponselnya dan meminta Zet untuk masuk sambil membawa kue.
"Tuan... " Bisik Zet.
"Masukan dalam kulkas." Pinta Alden.
Zet memasukkan kue ke dalam kulkas yang ada di kamar ruang tunggu. Zet tak lupa memberikan korek api dan kotak kecil berupa kado special untuk Olive. Besok adalah ulang tahun Olive, tapi Olive harus di rawat di rumah sakit dan tidak bisa merayakan bersama yang lainnya.
Olive bangun dari tidur jam 10 malam. Olive melihat secarik kertas dari Alden.
Aku keluar sebentar, ada urusan sama Ryan Rafa. Mereka nunggu di Bar kak Belden katanya ada sesuatu yang penting. Aku gak akan lama, jangan nakal. Kiss!
Olive membaca itu tersenyum-senyum.
"Dasar mesum! Hah! Tahun ini sendiri lagi, biasanya kakek sama nenek bakal ngajak ke villa. Ngerayain disana ber3, kak belden sibuk kak phia jalan sama temennya Robert? Jangan harapin dia lah." Gumam Olive.
Telpon kamar berdering. Olive mengangkatnya.
Halo?
__ADS_1
Beb! Apa kabar?
Hah? Ini siapa?
Vina hehe...
Ya ampun lu ternyata. Kok bisa tau nomor kamar gua?
Gua minta tolong sama resepsionis buat di sambung ke kamar lu. Dulu sempet kenal, yang gua cerita itu.
Ahhh, gua paham. Lu kapan balik. kangen.
Tunggu bentar lagi ya, cafe lagi rame-rame banget. Tau kan menjelang akhir tahun gimana rame *****nya*****.
Bener juga sih, secepatnya ya sumpah gua kangen banget.
Siap! Eh Btw, Happy Birthday sayang aku... sahabat terbaik aku... best for you. Tetap jadiin gua senderan buat lu kalo ada masalah apapun.
Masih 2 jam lagi ya... but, it's okay. Eh gua lupa disana lebih cepet 2 jam. Okay, gua akui lu tepat waktu. Hehe...
Ya dong, yaudah itu aja. Gua minta maaf beberapa tahun ini belum bisa nemenin di samping lu. Tapi tenang aja. kapan pun ku butuh gua bakal datang saat itu juga, jadi jangan sungkan ya?
Iya, gua paham kok. Tunggu, lu bisa tau gua dirumah sakit? Ahhh! Kak Belden.
Tetot! Gua nelpon ponsel lu tapi yang angkat oma. Terus oma yang ngasih tau.
Oalah, ya kalo gitu gua gak bisa lawan sih.
Dasar lu. Yaudah, gua gak mau ganggu waktu istirahat lu. Tidur lebih awal ya beb, Sekali lagi Happy Birthday... Bye!
Bye!
Olive pun menutup teleponnya, tidak terasa 30 menit lagi jam 12 malam. Olive berencana turun dari kasur namun ingat pesan Luna. Olive pun mengurungkan niat itu.
Lalu....
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...