
#Post Satpam
"Pak pinjem kunci gudang dong sama ruang-ruang yang terkunci." Ucap Alden yang masih berusaha mengatur nafasnya.
"Hah? Buat apa den? Ada yang belum ke ambil ya den? Soalnya tadi non Gitta juga minta kunci." Jawab pak satpam.
"Gitta?" Tanya Alden.
"Iya den, katanya kekurangan meja gitu." Sahut Pak satpam.
'Benar kan dugaan gue. Liat nanti lu gitta, gue bakal beri lu perhitungan.' Bathin.
Entah kenapa sakit ketika tahu ternyata benar dugaannya Olive di jebak oleh Gitta.
"Ini den kunci nya." Ujar Pak satpam.
"Oke pak. Makasih." Jawab Alden lalu langsung lari menuju rooftop.
#Rooftop
Olive perlahan mulai sadar dari pingsan nya. Di dalam gudang cukup gelap di tambah dengan hari sudah mulai semakin gelap dan tidak ada ventilasi udara di tambah lagi tempatnya berdebu.
Olive mengeluarkan ponselnya untuk memberitahu shakila atau niesha bahwa dia terjebak di gudang rooftop. Namun tenaga nya tak ada, karena badan nya semakin menggigil dan demam nya semakin tinggi. Namun ia yakin sebentar lagi ada orang yang mencari nya.
#Rumah Keluarga Nugraha
"Pah, kok olive belum pulang ya?" Tanya mama gelisah.
"Belum pulang? Acara selesai jam set5 lho mah. Harusnya udah pulang dong. Apa mama nggak liat kali olive masuk kamar." Jawab papa.
"Nggak pah, kan mama disini terus." Ucap mama yang sedari tadi siang asyik menonton TV.
"Mah, belden pulang. Lho, olive belum pulang? Tadi Belden mampir sekolah buat jemput udah sepi. Kirain udah pulang." Ujar Belden yang baru saja sampai rumah.
"Duh, coba di tlpn dong. Mama khawatir." Panik mama.
#Rooftop
Ponsel Olive sudah berdering tiga kali namun dirinya tidak ada tenaga. Udara juga semakin menipis, bahkan Olive sampai batuk-batuk. Hingga terdengar gedoran pintu.
"Olive! Lu di dalam kan? Bertahan ya, gue buka gembok nya." Ucap suara itu.
Olive merasa pandangnya mulai kabur. Tapi ia harus menahan nya. Dia harus melihat siapa yang menyelamatkannya. Alden masih sibuk mencari kunci yang pas dengan gembok nya, namun karena sudah di selimuti emosi dan panik jadi tidak ketemu.
"****!" Umpat Alden sambil lempar kumpulan kunci di sembarang tempat.
Alden melihat ada besi panjang langsung mengambil nya untuk menghancurkan engsel kaitan pintu. Hingga ke empat orang itu kembali ke Rooftop Alden masih berusaha memukulnya dan akhirnya terlepas.
__ADS_1
Alden langsung membuka pintu menampakkan Olive bersender pada kaki meja. Olive melihat orang itu, dia adalah kak Alden. Seketika kesadaran Olive hilang. Alden langsung membawa Olive keluar dari ruangan itu.
"Olive! Olive bangun." Teriak Alden sambil mengguncang tubuh Olive.
Tanpa berfikir panjang, Alden langsung menggotong Olive menuju mobil nya di parkiran.
"Kita ketemu di rumah sakit. Satu lagi, jangan ada yang kasih tau orang tua nya. Kasih tau kakak nya aja. ponsel nya di tas." Ucap Alden sambil memberikan tas ke shakila dan mereka setuju.
Mereka segera membawa Olive ke rumah sakit milik keluarga Alden. Dokter pun terkejut dengan kedatangan tuan muda nya segera memberi tahu dokter tomi.
"Dokter, periksa dia sekarang." Perintah Alden.
"Baik tuan." Sahut Dokter Tomi.
Setelah 5 menit berlalu, Olive sudah di pasangkan infus dan di kamar bangsal rumah sakit.
"Gimana dok?" Tanya Alden.
"Dia hanya butuh istirahat tuan. Demam nya sudah mencapai 39.5 derajat. Lalu ada luka lebam di bagian leher pundak sepertinya dia di pukul hingga pingsan. Saya akan segera memberika resep supaya di tembus." Jelas dokter Tomi.
"Syukurlah." Ucap Rafa dan yang lain lega mendengar penjelasan dokter Tomi.
"Tapi, siapa gadis ini tuan. Apa dia pacar tuan?" Tanya Dokter Tomi.
"Jangan ikut campur Tom, kembalilah ke ruangan mu." Jawab Alden.
Di rumah keluarga Nugraha, Belden mendapat pesan dari ponsel adiknya.
[Sore kak, ini Shakila teman sekelas Olive. Sekarang olive sedang di rumah sakit, dia demam. Ada seseorang yang sepertinya menjebak Olive mengatas nama kan kak Alden. Tapi kakak tenang aja, Olive sudah di tangani dokter sekarang. Jangan sampai om dan tante tahu, mereka pasti khawatir. Rumah sakit Fausta.]
Belden panik membaca pesan dari Shakila. Tapi dia tenang karena adik nya sudah aman sekarang.
"Mah pah. Adek baru ngirim pesan katanya mau bermalam di rumah teman nya. Karena ada tugas kelompok, untuk memastikan aku mau coba check ya. Kan siapa tau dia bohong." Ucap Belden.
"Serius? Hufft! Syukurlah. Yaudah, coba kamu susul deh. Bilang kalo mau nginep bilang dari awal jangan bikin khawatir." Ujar mama.
"Yaudah, belden siapin baju olive dulu yang di pesan. Pasti nanti Belden omelin mah." Sahut Belden.
Belden mempersiapkan beberapa pasang baju untuk adik nya. Kemudian dia langsung pergi ke rumah sakit.
Di rumah sakit, baik Alden Rafa Ryan Shakila dan Niesha menunggu untuk Olive siuman.
"Kalian cari makan gih. Udah hampir lewat jam makan malam lho. Gue titip samain aja kayak lu pada." Ucap Alden.
"Yaudah bos, kita pergi dulu bentar ya." Pamit Rafa.
Dilorong Belden bertemu dengan empat orang berseragam sama dengan Olive sudah dipastikan itu teman nya Olive.
__ADS_1
"Kalian... "
"Ah, kak belden ya? Aku shakila, ini niesha, rafa dan ryan kak. Olive udah di infus kak. Demam nya juga udah mulai turun. Ada kak Alden yang jaga di kamar. Kita mau cari makan, kakak mau titip apa?" Ucap Shakila.
"Alden? Ah, gitu. Nggak usah repot-repot. Aku cuman mau antar baju aja. Oiya, besok kalian berdua bisa izin nggak? Jagain Olive malam ini aja di rumah sakit. Soalnya aku bilang ke orang tua olive nginep di rumah temen nya." Jawab Belden yang dalam hatinya senang ada kemajuan antara hubungan adiknya dan Alden.
"Ouh bisa kak. Yaudah kakak langsung masuk aja. Kita pergi dulu ke kantin." Pamit Niesha.
Mereka pun pergi, Belden menunggu sampai teman-teman olive menghilang di belokan menuju kantin. Sementara di kamar, Olive sudah mulai siuman dan Alden masih mengompres kening Olive dengan handuk kecil milik rumah sakit.
"Emm... Kak Alden." Ucap Olive pelan.
"Udah siuman?" Ujar Alden dan Olive mengangguk.
Olive sedikit terkejut karena dia sudah berganti baju menjadi baju pasien. Sudah di pastikan jika suster atau kedua teman nya yang menggantikan.
"Boleh nanya nggak?" Tanya Alden.
"Tanya apa kak." Jawab Olive.
"Kenapa kamu nggak mau yang lain tau kalo kamu anak yayasan sama kayak aku?" Tanya Alden yang tanpa sadar mengganti Gue lu menjadi Aku kamu.
"Nggak ada alasan pasti kak, aku kurang suka aja kalo di mata mereka aku sombong. Mentang-mentang anak yayasan bisa bikin anak sekolah takut atau berfikir mentang-mentang ada kekuasaan jadi bisa ngelakuin apa aja. Tatapan anak-anak juga pasti langsung berubah kayak segan sama aku." Jelas Olive.
"Terus mau sampai kapan sembunyiin dari mereka? Kamu tau kan, kalo kamu lemah mereka akan semakin semena-mena melakukan apa aja terhadap kamu tanpa berfikir panjang. Contoh nya kayak hari ini aja. Kamu di jebak terus di kurung di tempat berdebu dan gelap kayak gitu." Ucap Alden.
"Sudah biasa kak. Bukan pertama kali buat aku di jebak kayak gini. Sampai acara promnight kak, sesuai rencana papa dan om gibran. Kakak tenang aja, aku akan lebih waspada lagi sama kak Gitta ataupun Kak Ilona." Jawab Olive yang membuat Alden sedikit terkejut.
"Kamu tahu ini ulah mereka? Kenapa diam aja, nggak berontak gitu?" Tanya Alden sedikit kesal.
Sebenarnya Alden merasa hatinya sedikit sakit pas tahu Olive di jebak di tempat gelap, berdebu bahkan nggak ada ventilasi di ruang itu. Kesal, marah, sakit hati campur aduk jadi satu dan ini kedua kalinya dia merasakan begini.
Tunggu, apa dia merasakan ini kembali dengan orang yang berbeda. Berarti, dia sudah jatuh hati pada orang ini. Tidak mungkin. Alden?
"Tahu kak, aku sempat masih sadar dan dengar suara kak Gitta dan Ilona menyuruh orang buat membawa ku masuk ke dalam ruang gudang itu. Bahkan dia membayar orang untuk melakukan ini." Jelas Olive.
"Terus sekarang gimana? Mau di diamkan saja sikap mereka begitu?" Tanya Alden mulai kesal dengan Olive yang terlalu sabar.
"Kalo aku bilang terserah kakak, apa kakak akan melaporkan ini pada pak Firman dan membuat kak Gitta beserta yang membantunya di drop out dari sekolah?" Tebak Olive.
"Sepertinya kamu memang sudah tau yang seharusnya kamu lakukan jika di posisi ku. Baiklah, aku hanya akan memberi perhitungan pada Gitta dan Ilona. Hanya sampai acara Promnight, tapi kalo sudah benar-benar kelewatan jangan menahanku untuk melakukan apa yang seharusnya di lakukan." Jawab Alden membuat Olive tersenyum.
Senyuman Olive membuat detak jantung Alden tidak beraturan. secepat mungkin Alden langsung melihat ke arah lain.
"Tenang aja kak, kalo emang udah kelewat batas aku nggak akan ikut campur lagi. Itu jadi urusan kakak sama kak Gitta. Mau kakak drop out atau apapun kakak bisa lakukan itu." Sahut Olive dan tanpa disadari Alden tersenyum kecil.
Alden?
__ADS_1
Bersambung...