
Oma pun ingin keluar dari ruangan di ikuti yang lain namun terhenti.
"Ada apa mah?" Tanya Adlan.
"Ada satu masalah lagi yang harus dibahas. Ini sangatlah penting." Ujar Oma.
"Katakan Oma." Jawab Belden.
"Aku dengar kalian berdua di jodohkan oleh orang tua kalian, betul? Bagaimana kelanjutannya?" Tanya Oma membuat semua terdiam.
"Oma, bukankah ini bukan waktu yang tepat untuk bahas ini? Lagi pula adek masih sekolah dan ada mimpi-mimpi mereka yang perlu di capai juga." Sahut Belden.
"Apa kamu yang akan menikah? Oma hanya menanyakan pendapat Olive dan nak Alden saja. Lagi pula Oma juga tidak mengharuskan mereka untuk menikah. Oma sangat paham rasanya di jodohkan oleh orang yang tidak kita sukai/ketahui sebelumnya. Oma pernah mengalami hal itu. Orang tua kalian saja yang menikah terlalu tua sehingga sekarang ribut menginginkan cucu." Ujar Oma.
Cup!
"Sayang Oma hehe... " Ucap Olive setelah mencium pipi sang Oma.
"Tapi, Oma berharap bisa menjadi besanan dengan Fausta." Harap Oma membuat Olive meletakkan kedua tangannya di pinggang cemberut.
"Aish! Oma ini pintar banget sih, udah bikin pujian tiba-tiba di jatuhkan gitu saja. Ah, Olive mau pulang aja sama supir." Kesal Olive berlalu keluar ruangan.
Para orang tua tersenyum mendapat dukungan, sedangkan Alden memilih diam. Olive kembali ke kelas mengambil tas kemudian turun menuju gerbang sekolah ternyata banyak pengawal Oma disana. Belden keluar untuk mengejar Olive.
"Nona, maaf Nyonya besar meminta saya untuk menahan Nona pergi." Ucap pengawal itu.
"Mau bagian mana yang patah? Tangan atau kaki? Leher?" Tanya Olive.
Pengawal itu takut lalu melaporkan pada Nyonya besar. Saat pengawal lengah, Olive ingin pergi namun langkah nya tertahan.
"Kak Alden?" Panggil Olive.
"Naik. Kita ke rumah sakit dulu." Ucap Alden.
Dari kejauhan para orang tua tersenyum melihat putra Putri mereka akur.
"Nggak kak, aku sama supir aja." Tolak Olive.
"Kamu mau kabur kemana pun mereka akan lacak kamu. Aku tau kamu bukan pulang ke rumah. Periksa dulu leher mu yang tadi sempat di pukul Oma. Cepat naik." Ajak Alden memberi helm yang sengaja dia bawa dua.
"Oke." Sahut Olive menurut.
Olive pun nurut memakai helm dan naik motor Alden, lalu.
"Pegangan." Ucap Alden.
"Nggak kak. Jalan aja." Tolak Olive.
"Nanti jatuh gimana? Pegangan." Ujar Alden.
Olive pun dengan segenap hati memegang jaket Alden. Kemudian Alden melajukan motornya menuju rumah sakit.
"Eh, mereka mau kemana?" Tanya Belden.
"Biarkan saja, paling ke rumah sakit Fausta buat ngecheck lehernya Olive. Kalian harus mulai lebih serius menjaga sekolah ini." Jawab Oma.
"Oma, serius ingin tetap menjodohkan mereka?" Tanya Belden.
"Itu terserah mereka. Oma tidak akan memaksa, yang terbaik aja untuk mereka. Tadi, Oma cuman goda mereka aja." Sahut Oma.
"Soalnya mereka udah komitmen bakal sampai sebatas teman aja, nggak lebih dari itu. Tapi, lihat kedekatan mereka barusan aku lihatnya lebih dari teman." Ujar Belden.
"Kita lihat nanti kedepan nya." Jawab Oma.
__ADS_1
Sementara itu di rumah sakit Fausta. Alden langsung menuju ruangan Dokter Tomi.
"Tuan muda." Sapa Dokter Tomi.
"Tolong periksa lebam nya, kalo perlu lakukan ronsen." Ucap Alden.
"Nggak perlu kak, luka nya nggak serius kok." Tolak Olive.
"Nurut ya, biar cepet sembuh. Nggak doyan obat kan?" Ujar Alden.
"Iyaya. Kakak tunggu di sini aja, biar aku sama dokter tomi yang ke ruang ronsen." Sahut Olive.
"Aku mau ikut." Tolak Alden.
"Kak, kakak sadar sepenuhnya apa yang kakak lakuin sekarang ke aku? Setelah kakak bilang di bar tempo hari? Jangan bikin bingung dan canggung kak." Ucap Olive membuat Alden terdiam.
Olive dan dokter tomi menuju ruang ronsen untuk mengscan organ tubuh Olive secara keseluruhan. Setelah 10 menit pemeriksaan, Olive menghampiri dokter tomi untuk melihat hasil.
"Nona, ada yang perlu di perhatikan." Ucap Dokter Tomi.
"Ada apa dok? Semua baik-baik aja kan?" Tanya Olive.
"Nona, tulang nona retak akibat pukulan beda itu. Ini memerlukan waktu lebih lama untuk sembuh." Sahut dokter Tomi membuat Olive terdiam.
"Dokter yakin ini hasilnya?" Tanya Olive meyakinkan diri.
"Iya non, ada baik nya setiap tiga kali seminggu non datang kesini untuk terapi agar sembuh lebih cepat. Misal nya
ang seharusnya sembuh enam bulan lagi bisa jadi tiga bulan jika rutin seminggu tiga kali." Jelas Dokter Tomi.
"Emm, nanti saya akan fikirkan dokter. Ah, saya boleh minta tolong rahasiakan hasil yang sebenarnya kan? Walaupun saya bukan anggota keluarga Fausta tapi dokter bersedia membantu kan?" Mohon Olive.
"Tapi non---"
"Baik non, akan saya lakukan." Sahut Dokter Tomi menyanggupi.
"Terimakasih banyak dokter." Jawab Olive.
Olive dan Dokter Tomi kembali ke ruangan dimana Alden menunggu disana.
"Gimana dok?" Tanya Alden.
"Semua nya baik tuan. Tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi." Sahut dokter Tomi.
"Syukurlah. Tapi bunda tlpon meminta kita ikut makan di restoran. Kamu mau kesana atau mau aku antar pulang?" Anya Alden.
"Antar pulang aja kak. Aku mau istirahat." Ucap Olive lalu keluar ruangan lebih dulu.
Alden pun mengikuti Olive menuju parkiran. Alden tidak tau apa yang di fikirkan oleh Olive sekarang. Alden memilih diam. Waktu terus berjalan, mereka beraktifitas seperti biasa. Yang berbeda adalah mereka lebih menjaga jarak. Olive tetap datang lebih awal dan ke perpustakaan sebelum bel berbunyi sementara Alden kembali berangkat sekolah mepet jam bel masuk.
Olive masih belum memulai terapi nya karena jika ia tidak pulang ke rumah atau menyembunyikan sesuatu lagi mungkin akan berakhir seperti di kantor kepsek terakhir kali.
Bukan hanya Belden yang merasa sikap Olive berubah, tapi Shakila dan Niesha juga merasakan itu. Entah apa yang di fikirkan oleh Olive. Begitu pun juga Rafa dan Ryan, mereka bingung karena Alden menjadi sangat pendiam dan sering melamun bahkan tidak fokus.
Disekolah, Olive duduk di bawah pohon lapangan sekolahnya. Tiba-tiba saja ponselnya berdering ada telepon masuk. Tertera di layar 'Dokter Tomi' Olive pun mengangkat telepon itu.
Bagaimana keputusannya nona?
Aku masih belum memutuskan. Hari minggu akan aku kabari lagi.
Sebenarnya ada yang belum saya beritahu ke nona. Dikarenakan bagian tulang leher dekat pundak di pukuk dan mengakibatkan retak yang cukup parah ada satu hal lagi yang harus saya beritahu.
Apa itu?
__ADS_1
Ada tumor kecil di otak nona.
Olive bagai tersambar petir mendapat kabar itu.
Tumor itu masih stadium awal, hanya perlu operasi kecil untuk pengangkatan.
Apakah itu hidup?
Ya nona, itu hidup dan bisa sampai stadium empat lalu menjalar keseluruh tubuh yang berakhir komplikasi.
Untuk tindakan lebih lanjut akan aku kabarkan lagi.
Baik nona, kami akan siap membantu operasi dan terapi kapan saja nona siap melakukan itu.
Terima kasih banyak.
Sama-sama nona, saya tunggu kabar baik nya untuk tidak berikutnya.
Olive mengakhiri panggilan, tatapan mata Olive kosong.
"Hei!" Sapa Rafa.
"Oh ya kak, kenapa?" Tanya Olive.
"Seharusnya gue yang nanya, lu lagi ada masalah sama Alden?" Tebak Rafa dan Olive menggeleng.
"Nggak ada kak, cuman tetap jaga jarak aja. Lagian dia lagi nunggu seseorang. Aku nggak mau jadi perebut nya, orang yang lebih pantas bersanding dengan nya." Jawab Olive.
"Ouh temen kecil nya Alden? Nama nya El, iya sih Alden juga ngomong lagi nungguin tuh si El. Cuman bukankah beberapa hari kemarin itu bukan masalah buat kalian?" Tanya Rafa.
"Tadinya aku fikir begitu, sampai aku sadar kalo aku mulai menaruh harapan lebih yang tak seharusnya aku lakukan itu kak. Emm, yaudah aku mau ke perpus jam selanjutnya kosong. Duluan ya kak, bye!" Pamit Olive.
Di kelas, Alden hanya memutar-mutar ponselnya dengan tatapan kosong, meletakkan kepala nya di atas meja menghadap tembok.
"Bos, kenapa?" Tanya Ryan.
"Em, nggak apa. Otak gue lagi nggak berfungsi dengan benar aja." Jawab Alden.
"Lu ada masalah sama Olive? Kok kalian jarang bareng semenjak hari lusa kemarin?" Tanya Ryan.
"Nggak ada, tiba-tiba aja gue sadar sama omongan dia kalo gue terlalu protektif ke dia sampai gue tanpa sadar terlalu nyaman sama dia. Padahal gue lagi nunggu El pulang." Sahut Alden.
"Lu yakin hati lu masih milik El teman masa kecil lu? Bukannya udah berubah?" Tanya Ryan dan Alden mengangguk.
"Gue yakin." Sahut Alden yang aslinya ada rasa ragu di hatinya.
Bersambung...
********************
Hai semua,
Aku Min_Dhi :)
Terima kasih sudah membaca karya cerita ku ini.
Mau spoiler? Kemungkinan cerita ini akan berlansung sampai 100 episode.
Aku sudah menulisnya sebanyak 20 episode tinggal post sampai bulan ketiga tahun depan. Semoga ceritanya semakin menarik dan tidak membosankan.
Aku minta support kalian dengan cara memberi *Like* & *Comment* pada setiap ceritaku.
Terima kasih untuk support kalian ❣️
__ADS_1