
"Wah! Benar-benar dia... "
Tiba-tiba Alden mendekatkan wajahnya pada Olive membuat Olive kaget. Mata mereka saling menatap satu sama lain.
"Ke--kenapa?" Ujar Olive gugup.
"Kamu tidak suka jika Robert memanggilku kakak ipar hem?" Tanya Alden to the point.
"Bu---bukan begitu. Aku... "
"Kamu masih meragukan aku? Kamu masih takut jika aku meninggalkanmu karena El? Benar begitu?" Ucap Alden menebak membuat Olive menunduk.
Alden kembali ke posisi awal dan berhenti di semua restorant mewah tak jauh dari Bar kak Belden. Alden mengajak Olive untuk masuk ke dalam membicarakan semua nya agar tidak ada keraguan satu sama lain lagi.
Alden memilih satu meja dengan bangku setengah lingkaran. Alden selalu menggenggam tangan Olive tidak pernah di lepas, bahkan menaruhnya di atas meja tanpa malu.
"Olive." Panggil Alden buat Olive mengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk.
Mata mereka saling bertemu lagi. Lurus menatap manik mata satu sama lain.
"Ada apa?" Tanya Olive.
"Aku mencintaimu." Ucap Tulus Alden.
Olive membulatkan mata nya dan ingin menunduk lagi namun Alden memegang dagu Olive agar tidak menunduk.
"Aku benar-benar Cinta dan sayang sama kamu. Aku tahu semua ini terlalu cepat, bukan buat kamu aja tapi untuk aku juga. Aku mohon percayalah, di hati dan pikiran aku cuman ada kamu. Bukan El ataupun orang lain. Hanya kamu. Kalo aku bohong aku tidak akan bicara dengan menatap matamu seperti ini. Kamu sudah cukup baik mengenalku selama sebulan ini dan kamu pasti tahu aku berbohong seperti apa." Jelas Alden membuat hati Olive meluluh.
Olive berkaca-kaca, tersenyum haru mendengar tutur kata Alden. Kemudian Olive mengangguk. Lalu, Alden menariknya ke dalam pelukan. Tiba-tiba Alden mengeluarkan sebuah kotak kecil dari kantong celana nya dan menaruhnya di atas meja. Olive menatap Alden seperti bertanya 'Apa ini?'
Alden sambil tetap memeluk Olive membuka kotak itu. Olive terkejut, di dalam kotak itu ada kalung dengan gantungan kunci.
"Ini buat aku...?" Ujar Olive.
"Tentu saja dan kamu tidak boleh menolak. Kamu menyukai nya?" Tanya Alden dan Olive mengangguk.
"Ini sangat cantik. Aku sangat menyukainya." Sahut Olive.
"Izinkan aku udah memasangkannya pada mu." Ucap Alden dan Olive mengangguk.
Alden melepas pelukannya, mengambil kalung itu. Olive mengangkat rambutnya agar mempermudah Alden memasang pengkait kalung nya. Tiba-tiba saja, Alden mencium leher Olive membuat Olive terkejut dan langsung memutar badannya ingin marah. Namun Alden malah mencium bibir lembut milik Olive.
Olive tidak berontak. Tak lama Alden menyudahi ciuman nya.
"Apakah cantik?" Tanya Olive dan Alden mengangguk.
Alden mendekat ke telinga Olive kemudian berbisik.
"Sangat cantik, cocok untukmu sampai membuatku khilaf." Bisik Alden yang mendapat cubitan kecil dari Olive.
"Mesum." Balas Olive tersenyum malu.
"Ouh! Pipi kamu merah." Goda Alden.
"Nggak." Sahut Olive menutup muka nya.
__ADS_1
"Telinga kamu... "
"Alden henti... "
Olive membuka muka nya yang di tutupi tangan dan akan membalas Alden. Namun, kalah cepat karena Alden mencium kening Olive cukup lama. Olive merasa kehangatan yang diberikan oleh Alden memejamkan mata nya sampai Alden melepas cium kening itu.
"Jangan pernah meragukan Cinta ku sayang, hem?" Ucap Alden dan Olive mengangguk sambil tersenyum.
Tiba-tiba ada telepon masuk dari Zet.
Nona, apa nona baik-baik saja?
Ada apa zet? Aku baik-baik saja.
Orang yang menelpon nona mengatakan bahwa tuan robert di belakang bar tuan Belden ada jebakan dari Clarke. Aku sudah melacak nomor yang nona terima dan aku juga sedang mengintai mereka di sekitar bar tuan Belden.
Clarke? Apakah itu berarti mereka tahu jika Robert masih hidup?
Kakak, tenanglah. Mereka tidak mungkin mengetahui nya. Ah, maksudnya hampir saja ketahuan jika kakak benar-benar datang.
Hei! Kau kembalilah ke rumah. Apa yang kau lakukan di tempat berbahaya itu.
Apa kakak lupa aku siapa? Hem.
Aku tidak akan lupa. Kamu adalah adikku yang paling menyebalkan.
Tapi, kamu menangisi ku jika aku tidak ada kak. Benar bukan? Hahaha.
Dasar, awas kamu kalau ketemu.
Perjalanan bisnis? Aku? Tidak perlu sebentar lagi aku akan ke bar kak Belden.
Tidak kak, mereka menyamar di dalam juga. Bahaya buat kakak tahu.
Bagaimana dengan kak Kevan? Apa dia baik-baik saja?
Raut wajah Alden berubah ketika Olive menyebut nama *Kevan* dan Olive menyadari hal itu. Olive langsung mengalungkan tangan nya ke lengan Alden dan Menyender manja.
Kak kevan pergi kak, lapor ke kak Belden minta pengamanan buat Bar nya. Kalo bisa malah di usir orang-orang itu.
Hufft! Syukurlah. Tapi aku tetap akan kesana sebentar lagi. Pastikan mereka sudah pergi ya dan Robert kembalilah ke rumah dan temui aku di halaman belakang di rumah rahasia belakang.
Baiklah kak. Aku akan serahkan semua pada Zet dan Nel. Kakak ipar, aku serahkan kakak ku yang ini untukmu. Jaga dia dengan baik.
Aku mengerti.
Alden mematikan telepon nya. Alden masih agak ngambek.
"Ada apa? Kamu cemburu dengan kak kevan?" Ujar Olive.
Alden diam tidak merespon apapun.
"Kan sudah aku bilang semua teman kak Belden aku anggap sebagai kakak ku juga begitupun sebaliknya. Hem... baiklah. Terserah kamu aja deh." Ucap Olive.
Menelepon Kak Kevan.
__ADS_1
Yoit!
Kakak dimana? Aku sama temen-temen aku mau main. Ada di bar kan?
Aku baru sampe di bar, masih tahap pemberesan. Tadi kayaknya aku ketemu Vina deh sama pacarnya.
Oh ya? Yaudah nanti juga pasti nelepon sih. Jadi, aman kan kalo aku kesana?
Aman dek. Kesini aja udah di urus semua sama pengawal aku dan Belden. Dibelakang bar juga ternyata ada jebakan. Ah! Aku dengar tadi cerita dari Belden kamu udah punya pacar. Bawa sekalian dong. Kan perjanjiannya siapapun yang dapat pacar harus ketemu dulu sama kita berlima. Mumpung pada ngumpul nih.
Iya kak, Aku ajak kalo dia mau.
Butuh bantuan narik paksa nggak? Masa nggak mau nemenin pacar sendiri ke bar kalo ada apa-apa di bar gimana?
Emm...
Ah! Aku paham maksud kamu. Tenang aja Bro, gua sama temen-temen gua yang lain anggap Via kayak adek sendiri. Berhubung kita berlima ini anak semata wayang dan cuman Belden yang punya adik jadi kita berbagi adik hahaha! Nggak usah cemburu, santai aja. Kan bisa berbagi cerita tentang Via ke lu kalo beneran serius sama Via.
Ish! Aku lagi aja yang kena. Nggak ada ya di perjanjian ada buka aib. Yaudah, aku kesana. Bye jelek wle!
Bye betutu!
Olive berdiri dari duduknya, Alden sebenernya mau ikut berdiri juga tapi gengsi. Alden mendengar semua pembicaraan Olive dengan Kevan yang memang murni seperti kakak adik.
"Bener nih nggak mau ikut? Yaudah deh aku sendiri aja." Ujar Olive yang menuju kasir untuk bayar.
"Semua udah di bayar Nona." Sahut pelayan membuat Olive tersenyum kecil.
"Makasih." Tutur Olive saat berbalik badan sudah tidak ada Alden di meja.
Olive menebak bajwa Alden udah di mobil nya. Olive segera keluar namun tidak masuk ke mobil tapi jalan di trotoar pejalan kaki. Alden yang melihat Olive tidak masuk mobil pun menyesal. Alden mengikuti Olive dengan mobilnya, mensejajarkan mobil dengan Olive.
"Liv, masuk. Aku minta maaf." Ucap Alden.
Olive menghentikan jalannya. Alden menghentikan Mobilnya dan keluar dari mobil berdiri di depan Olive.
"Kenapa kamu minta maaf?" Ujar Olive.
"Aku curiga atau cemburu atau protektif sama kamu. Aku janji nggak akan ngulangin kayak gitu lagi." Jelas Alden tepat berdiri di depan Olive.
Olive tersenyum.
"Aku nggak marah. Tapi, aku biarin kamu berpikir jernih kalo apa yang aku bilang ini beneran. Mereka murni sebagai kakak yang melindungi adiknya. Seperti yang udah di dengar tadi di telepon." Tutur Olive.
Alden tersenyum, dirinya beruntung di pertemukan dengan Olive yang sangat dewasa dalam berpikir. Olive bingung melihat Alden tersenyum.
"Kamu kenapa senyum gitu?" Tanya Olive.
"Nggak apa, aku merasa beruntung aja pertemukan sama kamu. Aku bahkan merasa malu karena kurang dewasa hadapin persoalan sepele begini." Ujar Alden.
"Nggak apa. Setiap orang punya cara untuk cemburu yang berbeda-beda. Menurut aku hal yang wajar kamu cemburu ke kak kevan. Karena dia bukan kakak kandung aku. Tapi, kamu tenang aja. Dari awal aku dan mereka udah bikin perjanjian nggak ada yang namanya jatuh Cinta. Fix semua kakak adik. Syukur sampai sekarang mereka masih menanggapi itu. Aku juga merasa punya orang yang bener-bener bisa jagain aku." Jelas Olive.
Tiba-tiba ada suara klakson mobil, ternyata itu mobil Rafa. Mempersingkat waktu Alden membukakan pintu untuk Olive masuk ke dalam mobil. Kemudian disusul Alden masuk di pintu kemudi. Mereka menuju Bar milik Belden.
Bersambung...
__ADS_1